
Melihat Quin dengan santainya keluar dari kamar Damar, ia semakin menatap benci gadis itu. Belum habis rasa keterkejutannya pada Quin, ia semakin di buat terkejut ketika menatap Damar yang sedang duduk di sisi ranjang.
Bagaimana tidak terkejut, Damar hanya melilitkan handuk di area pribadinya bahkan rambut gondrong nya masih terlihat basah.
Otaknya langsung berselancar membayangkan jika Quin dan Damar pasti habis making love. Ia terus menatap Damar lalu menggigit bibirnya.
"Naira!" tegur Damar dengan alis yang saling bertaut.
Naira langsung salah tingkah. "Maaf, apa kamu sudah siap terapi?" tanyanya dengan sedikit canggung.
"Maaf Naira, tapi hari ini aku nggak akan terapi," tolaknya. "Sebaiknya besok saja," kata Damar lalu memintanya meninggalkannya.
Penolakan Damar membuatnya sangat kecewa apalagi ketika pria itu seolah mengusirnya. Dengan perasaan kesal ia kembali menutup pintu kamar itu.
Tiga puluh menit kemudian ...
Quin menghubungi Al dan meminta sahabatnya itu menjemputnya. Selesai menghubungi Al, ia kembali ke kamar Damar.
"Mr. Brewok," tegurnya seraya menghampirinya dengan seulas senyum. "Sebentar ... masih ada yang kurang," bisik Quin lalu ke walk in closet memilih salah satu koleksi bros Damar. Hari ini ia memilih bros gold daun ganja.
Ia pun menghampiri Damar dengan seulas senyum lalu berjongkok.
"Kemarin aku memilih bros tapal kuda, hari ini aku memilih bros gold daun ganja," bisiknya lalu menyematkan bros itu di jas Damar.
"Sudah," ucapnya lalu mengulas senyum menatap wajah Damar.
"Thanks ... apa bisa aku memelukmu sebelum kamu meninggalkan ku?" tanya Damar dengan berharap.
"Tentu saja bisa," sahut Quin lalu memberinya pelukan sambil tersenyum.
Damar mendekapnya erat lalu menghirup dalam-dalam aroma parfum Quin di ceruk lehernya.
"Jangan lama-lama, takutnya kamu susah melupakan pelukan ini," kelakar Quin. "Damar sudah dong ... geli sama brewok kamu," bisiknya lalu tertawa.
Damar terkekeh lalu mengelus punggung Quin.
"Jika itu terjadi kamu harus bertanggungjawab," balasnya lalu mengurai dekapannya.
"Nggak mau," jawab Quin dengan gemas.
Lagi-lagi gelagat keduanya menjadi tontonan gratis Naira. Ia mengepalkan kedua tangannya dan semakin membenci Quin.
Tak lama berselang ponsel Quin bergetar, ia pun menatap layar ponselnya lalu membaca pesan. Setelahnya ia menatap Damar.
"Al, sudah menungguku di bawah. Aku berangkat sekarang ya. Jaga kesehatanmu dan jangan lupa rajin ikuti terapi," pesan Quin. Setelah itu ia pun meninggalkan Damar.
Sesaat setelah berada di lantai bawah, Bi Yuni menawarinya sarapan namun ia menolak dan terus melangkah ke arah mobilnya.
Begitu ia duduk di kursi mobil, ia langsung meminta Al menuju bandara.
"Al, langsung ke bandara," pintanya.
"Beneran?!! Kamu nggak sedang bercanda kan, Quin?"
"Nggak," jawab Quin.
"Baiklah. Apa kamu akan ke Jepang lagi?" tanya Al, sambil melajukan kendaraannya ke arah bandara.
"Hmmm."
Al hanya manggut-manggut dan kembali fokus menyetir.
Satu jam kemudian mereka pun tiba di bandara.
"Al, selama seminggu ke depan, urusan butik aku percayakan padamu. Jika Angga datang mencariku bilang saja, aku ada urusan di KL," pesannya.
"Ok ... hati-hati ya, Quin. Salam buat kak Juna dan kak Yura," kata Al lalu memeluk sahabatnya itu.
Apartemen Angga ....
Setelah membersihkan dirinya, ia kembali ke kamar lalu melangkahkan kakinya ke walk in closet.
"Quin," desisnya lalu menjambak rambutnya merasa frustasi. Lagi-lagi ia mengingkari janjinya.
Entah ia harus bagaimana, berkali-kali ia berjanji pada dirinya dan berkali-kali juga ia mengingkarinya.
Apalagi sikap Quin yang mulai berubah dan kembali menunda pernikahan mereka satu tahun ke depan. Keputusan Quin tentu saja membuatnya uring-uringan. Bahkan ia tidak mengerti kenapa Quin kembali menunda pernikahan mereka yang harusnya akan berlangsung pada bulan ini.
Sungguh sangat membingungkan dirinya dan membuatnya frustasi.
Di tengah kalut dan frustasinya seorang Angga, namun justru sebaliknya bagi Damar. Ia merasa seperti di sirami beribu-ribu kelopak bunga mawar, karena ia merasa hatinya tengah berbunga-bunga.
Sejak Quin meninggalkannya, senyumnya terus saja mengembang di bibirnya membayangkan gadis itu. Semua perlakuan lembut dan tulus dari gadis itu padanya seolah membuatnya semakin terobsesi ingin merebutnya dari Angga.
Bukan tanpa alasan, apalagi dia tahu jika Angga berselingkuh dengan Kinara. Obsesinya untuk mendekati dan memenangkan hati Quin semakin menggebu-gebu.
"Aku nggak akan melepaskan mu, Quin," desisnya lalu menggerakkan tuas kursi rodanya menuju lift untuk membawanya turun ke lantai bawah.
Sedangkan Naira dan Bu Yuni sudah menunggunya di meja makan.
Saat pintu lift terbuka Damar langsung mengarahkan kursi rodanya ke ruang tamu.
"Nak Damar, ini kopinya. Oh ya, Nak Damar sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor," tawar bi Yuni.
"Nanti saja di kantor, Bi," tolaknya, lalu menyeruput kopinya sedikit. Entah mengapa, ia pun seolah tidak nafsu makan jika Quin tidak menemaninya.
Bi Yuni dan Naira hanya bisa menghela nafas. Sejak Quin tinggal bersamanya, Damar sedikit berubah.
Tingggg ....
Satu notifikasi pesan masuk di aplikasi WhatsApp-nya. Ia pun merogoh kantong jasnya lalu membaca pesan yang barusan dikirim oleh Quin padanya.
βοΈ : Mr. Brewok, aku berangkat ya. Sampai bertemu minggu depan. Jaga kesehatanmu dan jangan lupa periksakan perkembangan kakimu ke dokter Fahry ya βΊοΈππͺ. Maaf aku memaksa π€.
Begitulah isi pesan dari Quin untuk Damar, di sertai dengan emoji yang membuat Damar semakin gemas dengan gadis berambut bob itu.
"Gemes banget sih? Hanya kamu yang bisa membuat hati ini menghangat dan hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat jantungku berdebar-debar," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.
Tak pelak gelagatnya menjadi perhatian Bi Yuni dan Naira. Ibu dan anak itu sama-sama merasa heran dengan sikap Damar apalagi mendapati wajahnya berbinar bahagia setelah menatap layar ponselnya.
"Naira, kamu harus berusaha mendapatkan hati Damar dan buat dia jatuh cinta padamu. Jangan mau kalah sama gadis itu. Jika kamu menjadi menantu keluarga Alatas, Mama tidak perlu lagi menjadi asisten rumah tangga mereka tapi menjadi besan," jelas Bi Yuni pada putri ya.
"Tenang saja, Mah. Aku punya cara tersendiri untuk menaklukkan hatinya," timpal Naira dengan senyum penuh arti.
Tak lama berselang, Adrian tampak menghampiri Damar lalu menyapanya.
"Tuan ... maaf sudah membuat Anda menunggu," sesalnya.
"Nggak apa-apa, Rian," kata Damar dengan seulas senyum
"Wah Tuan, dua hari ini saya perhatikan, Anda terlihat semakin berbeda apalagi dengan setelan jas yang Anda kenakan. Dan tidak biasanya Anda menyematkan bros di jas Anda," pungkas Adrian sambil mendorong kursi roda sang Tuan Muda.
"Ini semua karena Quin, Rian," aku-nya lalu terkekeh mengingat gadis itu.
...****************...
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°πππ