101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 75



Waktu terus berlalu, hari terus berganti, tanpa terasa kini kontrak Quin hanya tinggal dua hari. Setelah berada di Singapura selama lima hari, Quin tak lupa menyempatkan waktunya untuk sekedar memberi kabar dan mengingatkan Damar.


Setelah pulang ke kota J, keduanya kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Tak ingin melewatkan kesempatan, sebelum kontraknya benar-benar berakhir, Quin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Damar dan sering menasehatinya.


Perlahan membuat Damar berubah dan mulai menghentikan kebiasaan buruknya mabuk-mabukan dan menyewa bed partner.


Namun satu hal yang Quin sesali adalah, nyonya Zahirah tak pernah menyukainya. Namun Quin tetap tak ingin ambil pusing. Hanya saja ia tetap merasa bersalah karena tak jarang Damar dan sang mama bersilat lidah hanya karena Damar membelanya.


Pun dengan Angga yang masih belum menyerah ingin mendapatkan kembali kepercayaan dan cinta Quin. Setelah kejadian tahu jika selama ini Quin tinggal bersama Damar, ia sempat mendatangi kantor Damar bahkan sempat adu jotos karena tak terima dan menganggap Damar adalah penyebab retaknya hubungannya dan Quin.


Menanggapi tuduhan Angga, Damar hanya bersikap santai dan balik menyerangnya dengan pengakuan yang pernah Quin ungkapkan padanya.


Namun tetap saja Angga tidak menerima dan tetap berusaha mengejar Quin.


**********


Kantor Damar , siang harinya pukul 12. 35 ...


Tok ... tok ... tok ...


Damar melirik sekilas ke arah sumber suara dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan kaca besar pembatas ruangannya.


Pikirannya larut memikirkan hubungannya dengan Quin. Tanpa ingin tahu siapa yang mengetuk pintu.


Sedih


Satu kata kini yang mulai menyelimuti dirinya karena besok adalah hari terakhir ia bersama dengan Quin.


Gadis yang kini benar-benar merubah hidupnya seratus delapan puluh derajat. Memberinya perhatian, melayaninya dengan sepenuh hati walaupun kadang gadis itu sedikit protes karena ia bersikeras memaksa.


Sikap Quin yang terkadang absurb dan membuatnya benar-benar baper. Semuanya akan terasa sulit jika gadis itu benar akan meninggalkannya.


Apalagi Quin mengatakan jika, kontraknya berakhir gadis itu akan menepi sejenak dari segala aktifitas dan kesibukannya sebagai designer.


Lamunannya membuyar seketika ketika merasa tubuhnya dipeluk dan punggungnya digigit.


"Quin," desisnya lalu semakin menarik kedua tangan yang melingkar di perutnya.


"Ada apa, hmm? Kok lamunannya jauh banget? Apa yang kamu pikirkan?" bisik Quin bertanya.


Damar hanya bergeming lalu memejamkan matanya sejenak meresapi hangatnya pelukan Quin dan seolah tak ingin melepasnya.


Perlahan ia berbalik berhadapan dengan Quin lalu menangkup wajahnya.


"You," balasnya lalu mengecup lama keningnya lalu menyatukannya. "You Quin," bisiknya lagi dan kembali mendekap erat tubuh gadis itu.


"Why me?" bisiknya lalu terkekeh dan sedikit melonggarkan dekapan Damar kemudian tersenyum.


"Karena kamu akan meninggalkan ku, Quin," sahut Damar dengan wajah sendu seraya mengelus pipinya.


"Kita masih bisa, Damar," timpal Quin dengan seulas senyum.


"Tapi itu akan terasa sangat berbeda. Aku sudah terbiasa bersama dirimu Quin, selama 100 hari," lirih Damar dengan mata berkaca-kaca menatapnya. "Sejak awal pertemuan kita, kamu nggak memandang fisikku yang berantakan. Kamu wanita tulus. Ini akan terasa berat bagiku tanpa dirimu." aku Damar.


"Damar," lirih Quin lalu mengelus rahangnya, menatap lekat wajah tampan pria yang kini berada tepat di hadapannya. "Hubungan ini akan tetap terjalin, so ... don't worry, kita masih akan sering-sering bertemu dan berkabar lewat ponsel," kata Quin lalu memeluknya.


Tak lama berselang pintu dibuka tanpa diketuk. Lagi-lagi dan lagi untuk yang kesekian kalinya nyonya Zahirah memergoki keduanya saling berpelukan.


"Damar!!!" panggil nyonya Zahirah dengan nada tinggi dan terlihat kesal. Sedetik kemudian tuan Alatas pun muncul di belakangnya dan hanya terlihat santai.


"I'ts Okay," balas tuan Alatas dengan santai bahkan tersenyum menatap Quin.


Sedangkan nyonya Zahirah tampak begitu kesal dan menatap tajam ke arah Quin.


Saking jengkelnya ia sudah tidak bisa menahan untuk mengatakan sesuatu pada Quin.


"Bukankah kamu ini tunangannya Angga dan akan menikah dalam waktu dekat? Apa seperti ini kelakuan seorang calon menantu dari pak Wibowo dan nyonya Meilan? Jika media tahu kelakuan burukmu, mereka pasti akan malu. Apa kamu nggak punya harga diri dengan menggoda putraku? Apa kamu kekurangan uang, hah?!!! bentak Nyonya Zahirah sekaligus memberondong Quin dengan pertanyaan.


"Jika kamu kekurangan uang, katakan berapa jumlahnya. Aku akan memberikan berapapun yang kamu inginkan," kata nyonya Zahirah seolah merendahkan Quin.


"Stop, Mah!!!!" bentak Damar dengan begitu kesalnya. Ia ingin melanjutkan kalimatnya namun tangan Quin terangkat sekaligus mengisyaratkan supaya Damar tetap tenang.


Bukan cuma Damar yang merasa jengkel tapi juga tuan Alatas. Ia tak menyangka jika istrinya bisa setega itu menuduh Quin tanpa sebab.


"Aku nggak percaya ini! Mah ... aku benar-benar kecewa padamu," kata tuan Alatas dengan perasaan kecewa lalu meninggalkanya begitu saja.


Sedangkan Quin dan Damar masih berada di tempat.


"Maaf sebelumnya Nyonya. Tadinya saya begitu menghormati Anda. Tapi tuduhan Anda membuat saya shock sekaligus kecewa," kata Quin membuka suara.


"Saya memang tunangan Angga dan calon menantu dari pak Wibowo dan nyonya Meilan. Tapi itu tiga bulan yang lalu sebelum saya memilih mengakhiri pertunangan saya dengannya. Alasannya karena saya memergokinya meniduri wanita lain," jelas Quin sambil menatap nyonya Zahirah. "Maaf Nyonya, saya nggak membutuhkan sepeserpun uang dari Anda. Penghasilan saya sebagai designer sudah lebih dari cukup," tegas Quin. "Tenang saja Nyonya, ini adalah hari terakhir saya menjadi asisten pribadi putra Anda sekaligus kontrak kami akan berakhir," tegas Quin lagi.


Setelah itu, ia menghampiri nyonya Zahirah lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Saya nggak tahu apa yang membuat Anda sangat membenci saya sedemikian rupa tanpa tahu alasannya," kata Quin menyelesaikan kalimatnya.


Begitu selesai berbicara ia menyambar tasnya yang berada di atas meja sofa lalu berlalu meninggalkan ruangan Damar dengan perasaan kecewa, sedih dan terluka.


Sesaat setelah berada di luar ruangan, ia melangkah gontai menghampiri lift.


"Quin ..." panggil tuan Alatas.


Quin menoleh lalu mengulas senyum meski kini kondisi hatinya tidak baik-baik saja. Tuan Alatas perlahan menghampirinya.


"Maafkan semua ucapan istri saya," ucap tuan Alatas.


Quin hanya mengangguk. "Tuan, wajar saja nyonya berkata seperti itu. Karena saya bukan siapa-siapa melainkan hanya orang asing yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan putra kalian berdua. Maafkan saya karena kehadiran saya sudah membuat Damar dan nyonya selalu terlibat adu mulut," lirih Quin sambil menunduk. "Saya permisi Tuan," pamit Quin setelah pintu lift terbuka.


Tuan Alatas hanya mengangguk dan menatap Quin yang sudah berada di dalam kotak besi itu sebelum akhirnya pintunya tertutup.


Sementara itu di ruangan kerja Damar ...


Sepeninggal Quin, nyonya Zahirah hanya terdiam dan terpaku di tempat mendengar semua ungkapan Quin barusan.


Sedetik kemudian ia mengarahkan pandangannya pada sang putra yang tampak begitu marah.


Ingin rasanya Damar menghambur semua benda yang ada di atas meja kerjanya dan ingin membentak sang mama, namun ia tetap masih bisa menahan emosinya karena mengingat kata nasehat Quin padanya.


Semarah apapun dirimu jangan pernah membentak atau melawan mamamu. Sebisa mungkin tahan amarahmu. Lebih baik diam dan tinggalkan daripada harus melukai dan menyakiti perasaannya. Walau bagaimana pun dia tetaplah ibu yang selalu peduli dan menyayangi dirimu.


Tanpa sepatah kata pun, Damar melangkah pelan dan tak sengaja ekor matanya terarah ke paper bag makanan di atas meja sofa.


Karena terlanjur kecewa, ia pun meninggalkan ruangan itu dan melewati sang mama begitu saja.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜