101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 64



"Quin," sapa Al lalu menghampirinya kemudian duduk di kursi berhadapan dengannya.


"Hmmm," jawabnya dengan malas.


"Ada apa? Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Al.


"Nggak apa-apa," lirihnya lalu menegakkan badannya. "Ada apa Al?" lanjutnya bertanya.


"Dua jam lagi kita ada pertemuan dengan kak Altaf dan kak Karin di kantornya," jelas Al.


"Hmm ... baiklah, ingatkan aku nanti," pinta Quin.


"Baiklah, kalau begitu aku ke bawah lagi," izin Al lalu meninggalkannya di ruangan itu.


Sepeninggal Al, Quin memilih ke galery lalu memperhatikan satu persatu pakaian yang terdapat di galerynya.


Selang beberapa menit, ia berdiri tepat di depan kaca besar sambil menatap pantulan dirinya di kaca itu lalu tersenyum miris.


"Quin, miris banget hidupmu," lirihnya dengan senyum mengejek. Mengejek dirinya sendiri. "Tapi inilah kehidupan. Nikmati dan jalani saja," lirihnya lagi dengan hela nafas, entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja berubah sedih dan ingin menangis.


Sebelum benar-benar meninggalkan rumah tadi, Quin sempat mendengar perdebatan antara Damar dan nyonya Zahirah.


Quin tertunduk lesu bersamaan dengan jatuhnya dua kristal bening dari kedua matanya.


"Damar ... kenapa kamu harus membelaku sedemikian rupa? Aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku nggak mau kamu menjadi anak pembangkang hanya karena membelaku," lirihnya dengan suara bergetar.


Tap ... tap ... tap ... tap ...


Suara langkah kaki seseorang terdengar begitu jelas sedang melangkah menghampirinya. Seketika ia mengangkat wajahnya.


"Damar," lirihnya saat mengarahkan pandangannya ke depan kaca dan terlihat pantulan diri pria bertubuh tinggi nan atletis itu melangkah mendekatinya.


Quin membalikkan badan menghadapnya lalu menyeka air matanya. Tanpa sepatah kata pun Damar langsung merengkuh tubuhnya lalu membenamkan dagunya di puncak kepalanya


"Kenapa kamu kemari dan nggak langsung ke kantormu?"


Damar bergeming, hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku mengkhawatirkanmu. Aku tahu kamu mendengar semua perdebatanku dengan mama tadi," batin Damar.


Quin sedikit mendorong dada berotot itu lalu mendongak menatapnya.


"Damar."


"Ada apa?" sahutnya. "Ini masih pagi, Quin. Tapi kenapa wajah cantik ini malah terlihat murung," sahutnya sambil mengelus pipi gadis itu.


"Nggak apa-apa, aku hanya teringat almarhum mamaku," bohongnya.


Bukan itu alasannya, tapi kamu. Kenapa kamu membelaku dan malah menentang dan melawan mamamu? Jika tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik kita nggak saling mengenal.


Quin membatin sekaligus menyalahkan dirinya.


"Beneran?" tanya Damar meski ia tahu jika Quin sedang berbohong.


"Hmm ... kembalilah ke kantor, aku baik-baik saja," desisnya lalu mengulas senyum.


"Baiklah."


"Ayo aku antar sampai ke depan butik," tawar Quin sambil menggandeng lengannya dan mengajaknya meninggalkan galery itu.


Sesaat setelah berada di depan butik, Quin kembali merapikan jas yang membalut tubuh Damar.


"Aku berangkat ya," bisik Damar lalu mengecup pipi Quin kemudian terkekeh.


"Damar!!" kesalnya sekaligus protes.


Damar hanya terkekeh, mengabaikan wajah kesalnya lalu membuka pintu mobil kemudian mengedipkan sebelah matanya menggoda Quin.


"Dasar Casanova," ledeknya lalu mencebikkan bibirnya setelah Damar menutup pintu mobilnya.


Setelah itu, ia pun kembali masuk ke dalam butik.


Ia pun menghampiri Al, Gisha dan Jihan yang tampak masih sedang sibuk.


"Girls," sapanya lalu duduk di sofa.


"Ada apa?" tanya Al lalu meliriknya sekilas.


"Bagaimana jika malam ini, kita clubbing," cetus Quin.


Al, Gisha dan Jihan saling berpandangan.


"Tumben," sahut Jihan.


"Hmm ... lagian sudah lama kita nggak clubbing bareng," kata Quin.


"Benar juga ya," timpal Gisha lalu mencolek pinggang Al.


"Apaan sih?" protes Al. " Quin ... are you okay? Biasanya jika kamu mengajak clubbing, berarti pikiranmu sedang kacau," selidik Al. "Yang aku khawatirkan jika kamu minum sampai mabuk," pungkasnya.


Quin mengangkat bahunya dan alisnya bersamaan.


"By the way, bar apa yang akan kita masuki malam ini?" tanya Al.


"Bautista Club."


"Hmm ... Why not," ucapnya dengan santai.


Jihan, Al dan Gisha menatapnya seperti akan mengintrogasi dirinya.


"Kalian kenapa sih, menatapku seperti itu?" cecarnya. "Tenang saja, aku yang bayar nanti," lanjutnya lalu terkekeh.


Ketiganya hanya geleng-geleng kepala menatapnya.


"Al, mobilmu biar dibawa sama Jihan dan Gisha. Kamu sama aku saja," usul Quin.


"Ok ... no problem," sahut Al.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda. Hingga tak terasa dua jam telah berlalu.


"Quin, sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit," kata Al sambil menepuk jidatnya. "Astaga, kita hampir lupa jika ada janji dengan kak Altaf dan kak Karin," sambungnya.


"Ya sudah, kamu tunggu aku di mobil saja. Aku ke atas dulu ambil tas," perintahnya.


"Baiklah," kata Al lalu menyiapkan beberapa berkas.


Lima menit kemudian, Quin dan Al akhirnya meninggalkan butik dan menuju ke Altaf Grup.


Kurang lebih tiga puluh menit mengendara, akhirnya mereka berdua tiba juga di perusahaan itu.


Sesaat setelah berada di dalam lift, keduanya tampak mengobrol kecil dan sesekali tertawa sebelum akhirnya benda itu terbuka.


"Kita langsung ke ruang meeting saja. Soalnya kak Altaf meminta kita ke ruangan itu," kata Al.


"Ok," sahut Quin.


Begitu keduanya berada di ambang pintu, Quin terlebih dulu mengetuk pintu lalu membukanya.


"Kak," sapanya.


"Ah, Quin, Al kalian sudah datang," balasnya dengan seulas senyum lalu menghampirinya.


"Maaf ya, Kak, kami telat," ucap Quin. "Kak Karin, mana?" tanya Quin.


"Dia sudah ke kantor suaminya," jelas Altaf. "Tapi tenang saja, meeting kita tetap berlanjut," sambungnya lalu mempersilakan Quin dan Al duduk. "Apa kita bisa mulai meetingnya sekarang?"


"Ya," kata Quin dan Al bergantian.


"Quin, minggu depan sekitar sepuluh orang model yang bernaung di agensiku akan mengikuti fashion show di Singapura," kata Altaf membuka suara.


"Lalu?" tanya Quin.


"Aku ingin kamu yang menjadi designer busana untuk model-model itu nantinya," jelas Altaf.


"Berapa lama kita akan berada di sana nantinya?" tanya Quin.


"Sekitar lima harian. Tiga hari untuk pagelaran busana dan sisa dua harinya kita luangkan waktu untuk jalan-jalan di kota itu," jelas Altaf.


"Waaah ... kapan lagi kita bisa liburan gratis, Quin. Kebetulan banget Big Boss agensi model ini mau memboyong kita ke sana," celetuk Al dengan sembringah.


Altaf hanya terkekeh mendengar celetukkan Al.


"Ok baiklah, aku setuju," timpal Quin dengan seulas senyum. "Apa masih ada lagi selain itu?"


"Aku rasa sudah cukup," jawab Altaf.


Tak lama berselang, seorang OB mengantarkan mereka minuman lalu meletakkan cangkir berisi kopi hangat di atas meja.


"Silakan Tuan, Nona," kata OB itu lalu kembali meninggalkan ruangan meeting.


"Quin, Al ayo di minum kopinya," tawar Altaf lalu menyeruput kopinya.


"Thanks Kak," ucap Quin dan Al bergantian lalu ikut menyeruput kopinya.


"Oh ya, sebentar lagi jam makan siang. Gimana jika kita makan siang bareng saja," cetus Altaf.


"Boleh deh, Kak," sahut Al. Sedangkan Quin hanya mengangguk setuju.


"Kita makan siang di salah satu restoran Eropa saja, tepatnya di La Quartier," usul Altaf.


"Boleh juga," sahut Quin dan kembali menyeruput kopinya.


Setelah berada di ruang meeting itu selama kurang lebih satu jam lamanya, mereka pun meninggalkan ruang meeting itu menuju lift untuk membawa mereka turun ke loby perusahaan.


"Al, Quin kita satu mobil saja," cetus Altaf sesaat setelah ketiganya keluar dari lift.


"Baiklah," balas Quin dengan seulas senyum.


Begitu ketiganya duduk di kursi mobil, Altaf mulai menyalakan mesin mobilnya dan perlahan mulai meninggalkan kantornya, menuju restoran yang dimaksud.


*


*


*


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜