101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 69



Kantor Damar ...


Sesaat setelah berada di ruang kerjanya, tak lama berselang, pintu diketuk. Dari balik pintu, terlihat Adrian dan Nadif.


"Selamat pagi, Tuan," ucap keduanya.


"Hmm ... pagi Rian, Nadif. Silakan duduk," pintanya.


Adrian dan Nadif pun duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerjanya.


"Adrian, Nadif ... apa ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Damar.


Adrian menoleh ke arah Nadif dan mengisyaratkan supaya ia lebih dulu menyampaikan sesuatu.


"Tuan, saya hanya ingin mengingatkan, senin mendatang Anda harus mengunjungi pabrik yang ada di kota M," kata Nadif.


"Nadif, masalah kunjungan itu, aku percayakan padamu saja," balas Damar dengan santainya.


"Tapi Tuan ...."


"Nggak ada tapi-tapi," tegas Damar seolah tak ingin di bantah sekaligus memotong kalimat asisten kepercayaannya itu.


Nadif hanya bisa menghela nafas sambil menggerutu kesal dalam hatinya.


"Baik Tuan," pasrah Nadif. "Oh ya, saya sekalian ingin menyerahkan ini pada Tuan," lanjut Nadif seraya memberikan sebuah fail laporan perusahaan.


"Hmm ..." sahut Damar sambil mengangguk. "Apa masih ada lagi?" tanya Damar sembari meraih fail itu dari tangan Nadif.


"Hanya itu, Tuan," jawab Nadif lalu berdiri sekaligus berpamitan meninggalkan sang empunya ruangan.


Lagi-lagi Damar hanya mengangguk. Sepeninggal Nadif, Damar membaca sambil meneliti hasil laporan perusahaannya tanpa ada satupun yang ia lewati.


Setelah beberapa menit, ia tersenyum puas membaca laporan perusahaannya.


"Good job, Nadif. Kamu memang selalu bisa diandalkan jika menyangkut masalah perusahaan," gumam Damar dengan seulas senyum lalu menutup fail itu kemudian meletakkannya di atas meja kerjanya.


"Well, Rian. Ada apa?" tanya Damar.


"Tuan, dua jam lagi Anda ada pertemuan dengan Tuan Angga di restoran xxx," jawab Adrian.


"Angga? Maksudmu ex tunangan Quin itu?" cecar Damar.


"Iya, Tuan," timpal Adrian.


"Hmm ... sepertinya dia nggak ingin melepas Quin begitu saja. Apalagi dia tahu jika Quin sedang menjalin kerjasama dengan kita," pungkas Damar sembari meraih sebatang rokok lalu membakarnya.


"Saya juga berpikir seperti itu," kata Adrian.


Damar hanya mengangguk, menyesap rokoknya sambil tersenyum membayangkan wajah Quin.


"Baiklah, ingatkan saja aku nanti jika sudah waktunya kita bertemu dengannya," pesan Damar.


"Baik, Tuan," balas Adrian lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruangan itu.


*


*


*


Kediaman Damar pukul 09.12 pagi ...


Sudah hampir beberapa menit Nyonya Zahirah menekan akses smart lock pintu rumah sang putra namun berulangkali pula hanya bunyi bip ... bip yang terdengar.


Tak sendiri ia di temani oleh Naira. Setelah berulangkali gagal mengakses password, Nyonya Zahirah tampak begitu kesalnya.


"Damar!! Anak itu benar-benar ya," geramnya lalu menekan bel pintu Dengan tidak sabaran.


Ting ... tong ... ting ... tong ...


Ting ... tong ... ting ... tong ...


Lagi-lagi pintu itu tak kunjung di buka. Dan tentu saja itu semakin membuat Nyonya Zahirah naik pitam.


Sedangkan Quin yang sedang tertidur di kamar Damar, sama sekali tak mendengar bunyi bel pintu karena tertidur dengan begitu nyenyaknya di kamar itu.


"Benar juga," sahut nyonya Zahirah. "Tapi kenapa Damar mengganti password pintunya. Ini pasti karena asisten pribadinya itu," kesalnya. "Ayo, sebaiknya kita kembali saja," ajak nyonya Zahirah dengan perasaan dongkol.


Sesaat setelah dalam perjalanan, Naira tampak berpikir lalu menggerutu kesal. "Sialan!! Pasti Damar sengaja mengganti password pintunya. Selama bertahun-tahun, dia malah cuek dengan urusan seperti itu. Tapi setelah Quin hadir di tengah-tengah kami, dia langsung berubah total!"


"Nyonya, aku turun di sini saja," pinta Naira.


"Loh kenapa? Biar supirku sekalian mengantarmu ke rumah sakit," kata nyonya Zahirah.


"Nggak apa-apa nyonya, aku ada janji dengan seseorang," sahut Naira.


"Baiklah," balas nyonya Zahirah lalu meminta sopirnya menghentikan mobil di bahu jalan.


Begitu mobil berhenti, Naira segera turun dari kendaraan itu setelah berpamitan pada nyonya Zahirah tentunya.


Setelah mobil majikannya itu mulai menjauh, ia pun menahan salah satu taksi.


"Pak, tolong antar saya ke QA Boutique di jalan xxx ya," pinta Naira.


"Baik Mbak," kata sopir.


Karena merasa penasaran akan sosok Quin sebenarnya ia pun mencari tahu dengan mengetik nama Quin di mesin Google.


Setelah mendapat apa yang ia inginkan, ia mulai berselancar mencari tahu siapa sebenarnya Quin.


Tak lama berselang, matanya membulat sempurna ketika tahu jika Quin merupakan putri bungsu pak Pranata, yang tak lain adalah saudara tiri Kinara.


Dan yang lebih membuatnya tercengang adalah, Quin merupakan tunangan Angga. Ralat tunangan tapi sudah ex tunangan.


"Kenapa dia mau menjadi asisten pribadi Damar? Sedangkan dia nggak kekurangan uang bahkan merupakan seorang anak pengusaha sukses di kota ini," gumamnya. "Dia juga sudah memiliki tunangan lalu apa alasannya? Apa dia sengaja mengincar Damar, saat pria itu masih duduk di kursi roda beberapa waktu yang lalu?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Selang tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawanya akhirnya tiba di butik Quin. Setelah membayar ongkos taksi, ia pun turun dari mobil itu.


Naira melangkah kecil menghampiri butik Quin, namun seketika membuat alisnya bertaut karena butik itu tidak tampak tanda-tanda aktivitas, melainkan hanya terlihat papan besi bertuliskan closed.


"Pasti dia dan Damar menginap di salah satu hotel terdekat di dekat club' malam tersebut," tebaknya. Namun tebakannya salah. "Gadis murahan," desisnya dengan perasaan geram.


Jika saja Quin mendengar ucapan Naira, maka ia pun tak segan membalas perkataan sang perawat.


Gadis yang begitu terobsesi dengan Damar. Sekaligus penuh dengan iri dengki dengan Quin.


Lagi-lagi bisa hanya bisa menggerutu kesal membayangkan, betapa Damar sangat peduli pada gadis itu.


*


*


*


Sementara Damar yang masih berada di kantornya, tampak sibuk mengutak-atik laptopnya dengan serius.


Hingga suara pintu yang dibuka oleh seseorang tampak sedikit mengalihkan fokusnya.


Keningnya mengerut seketika saat mendapati siapa yang memasuki ruangannya tanpa mengetuk terlebih dulu.


Ia menaikkan kedua alisnya lalu mengulas senyum dengan santainya.


"Kimberly," sapanya lalu menutup laptopnya.


"Hello, Honey ... long time no see," balas Kimberly lalu menghampirinya.


Damar hanya mengulas senyum mendengar sapaan sang mantan kekasih. Wanita yang begitu ia cintai, namun dengan tega meninggalkannya saat Damar dalam keadaan yang terpuruk.


Lagi-lagi terbersit di pikirannya untuk membalas perbuatan wanita blasteran Jerman itu.


"How are you?" tanya Kimberly.


"Seperti yang kamu lihat, i'm fine," jawab Damar. "Ada apa mencariku? Apa kamu merindukanku?" tanyanya balik dengan seringai tipis lalu menyesap rokoknya, memperhatikan lekuk tubuh sang mantan.


"Come on, Kim. Tubuhmu akan aku jadikan mainanku untuk memuaskan hasratku saja. Setelah aku puas, maka aku akan mencampakkan dirimu seperti yang pernah kamu lakukan padaku."


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜