
Setibanya di hotel bintang lima itu, Quin dan Al langsung menuju ballroom hotel.
"Quin," desis Al.
"Hmm, ada apa?" tanyanya.
"Gaunmu dan jas yang di kenakan Damar ..." ucapannya terpotong karena Quin langsung menyambung.
"Senada." Quin terkekeh. "Memang sepasang," jelas Quin. "Kenapa? Serasi bukan," ucapnya sekaligus meminta penilaian dari sahabatnya itu.
"Banget," sahut Al.
"Oh ya, Al. Yuk kita samperin kak Altaf dan kak Karina dulu," ajaknya dan mengarahkan dagunya. ke arah Altaf dan Karin beserta kedua anaknya.
Keduanya pun menghampiri Altaf dan Karin. Melihat Quin sedang menghampirinya senyum Altaf dan Karin langsung mengembang.
"Quin, Al, terima kasih karena sudah mau menghadiri peluncuran produk cosmetics terbaru kami," kata Karin seraya memeluknya pun begitu dengan Altaf.
"Apa kamu baik-baik saja, Quin," bisik Altaf dalam dekapannya dan Quin hanya menjawab dengan anggukan.
"Aunty Quin ..." panggil Cassie, Leon sambil menggoyang-goyangkan gaun Quin.
Quin berbalik lalu berjongkok memeluk kedua bocah cantik dan ganteng itu.
"Kangen ya sama aunty Quin," tanyanya sambil mengelus rambut keduanya. Seketika itu juga Quin teringat Ayumi sang ponakan yang hampir seumuran dengan keduanya yang hanya berbeda setahun.
"Aunty, kapan aunty mau mengajak Cassie dan Leon main ke taman hiburan lagi?" pertanyaan polos yang lolos dari bibir mungil Cassie langsung membuat Quin merasa gemas.
"Sayang, jika aunty nggak sibuk ya," bujuk Quin.
"Ummm ... tapi janji ya, aunty," kata Cassie dan Leon lalu menaikkan jari kelingkingnya.
"Ya, aunty janji," desis Quin lalu menautkan jari kelingkingnya ke kedua bocah itu.
Setelah itu Quin kembali berdiri lalu bertanya, "Kak, apa mama dan papa nggak hadir?"
"Mama dan papa tadi pagi berangkat ke Taiwan," jelas Karin. "Sebelum berangkat mereka titip salam padamu," sambung Karin lagi lalu mengelus lengan Quin.
Tak lama berselang, Damar dan Adrian menyapa mereka disusul Angga dan Dennis dari belakang.
"Altaf, Karin, selamat ya atas peluncuran produk kosmetik kalian. Semoga kedepannya sukses terus," kata Damar lalu menjabat tangan keduanya.
"Terima kasih," ucap Altaf dan Karin bergantian. "By the way, senang bisa melihat penampilanmu seperti ini lagi," puji Altaf.
Damar langsung melirik Quin lalu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Sedangkan yang dilirik hanya memutar bola matanya dengan malas sambil berdecak.
"Quin, sebaiknya kita cari minum dulu," cetus Al lalu sekalian berpamitan pada pemilik acara.
Setelah menjauh keduanya pun mengambil minuman yang kebetulan dibawa oleh pelayan.
"Al, sebenarnya aku khawatir jika minuman ini ..."
"Ada obat tidurnya?" sambung Al dengan cepat.
"Hmm."
"Ppppfffff ..." Al tertawa. "Quin, nggak mungkinlah apalagi ini acara penting," kata Al masih sambil tertawa.
"Aku hanya was-was saja," sahut Quin lalu meneguk minuman itu.
Dari arah tempat Angga dan Dennis berada, keduanya terus memperhatikan Quin dan Al.
Satu jam berlalu ...
Acara puncak pun segera dilaksanakan dengan acara pembukaan dengan pidato singkat dari Altaf dan Karin dengan memperkenalkan kosmetik baru mereka. Setelah itu peluncuran resmi produk itu dan siap dipasarkan.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit memperkenalkan produk itu, acara terus berjalan dengan hiburan selanjutnya karena mereka mengundang beberapa artis ibu kota untuk mengisi acara itu.
Mereka cukup terhibur selama acara itu berlangsung. Sedang asyik-asyiknya mendengar lagu yang dibawakan oleh penyanyi ibu kota Quin ditegur oleh Angga dan Dennis.
"Quin, Al," tegur keduanya.
Sedangkan dari arah meja yang berbeda sejak tadi Kinar terus saja memperhatikan Angga dan Damar.
Sebelum bergabung ia melirik Damar lalu Quin. Ada rasa iri dalam dirinya menatap keduanya yang terlihat begitu serasi dengan pakaian yang senada.
Lagi-lagi ia teringat, saat Quin masih menjadi miliknya. Gadis itu pasti akan mengenakan pakaian yang senada jika ada acara penting seperti ini.
"Apa benar Quin dan Damar benar-benar menjalin hubungan spesial?" tanyanya dalam batinnya.
Tak lama berselang seorang pelayan membawa wine untuk mereka.
Seketika alis Quin bertaut, tapi ia tidak ingin berprasangka buruk pada ex tunangannya itu, apalagi wine itu bukan hanya disuguhkan pada mereka saja melainkan kepada para tamu undangan lainnya.
Ada kekhawatiran dalam hatinya ketika menatap sang adik. Ia takut jika Angga akan berbuat hal yang di luar batasnya.
"Yuk ... bersulang," kata Damar seraya mengangkat gelas berisi wine sekaligus mengajak mereka mencicipi minuman itu.
Awalnya Quin ragu namun mau tidak mau ia hanya pasrah. "Mudah-mudahan dia nggak nekat seperti kemaren, menjijikan," gerutu Quin dalam hatinya.
Sedetik kemudian ia memiringkan kepalanya ke arah Damar lalu berbisik, "Jika sampai aku bergelagat aneh tolong lakukan sesuatu padaku."
Damar terkekeh mendengar ucapan Quin.
"Quin, positif thinking saja. Lagian kamu apa-apaan sih? Kok sampai ke situ pikiranmu." Damar balik berbisik.
"Who knows?" bisik Quin lagi.
Al, dan Adrian hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan gelagat keduanya. Sedangkan Angga terlihat santai namun terlihat menyeringai.
Beberapa menit kemudian ...
Quin tampak mulai gelisah lalu mengusap tengkuknya lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasakan tubuhnya mulai panas dan membuat libidonya mulai bereaksi.
"Damn!!!! Brengsek!!! Again?!!! Angga, kamu benar-benar ya!" geram Quin sambil mengumpat dalam hatinya.
"Aku ke toilet dulu ya," izin Quin dengan seulas senyum.
"Hmm, jangan lama-lama, setelah ini kita akan segera pulang," pesan Damar.
Quin hanya mengangguk lalu segera meninggalkan tempat itu kemudian mempercepat langkahnya.
Tujuan sebenarnya bukanlah toilet melainkan ke rooftop untuk mendapat angin segar, karena merasakan tubuhnya mulai panas dan hasratnya yang tiba-tiba menggebu.
"Sial, Angga pasti sudah menaruh obat perangsang ke minuman itu tadi. Akhh ... jika sudah begini aku harus bagaimana. Pria brengsek," umpat Quin.
Sesaat setelah berada di rooftop, ia sedikit merasa tenang, namun tetap saja ia seolah ingin melepas gaun yang membalut tubuhnya karena merasa panas ditambah lagi hasrat yang kini semakin membara.
Quin mengepalkan kedua tangannya, geram bercampur amarah. "Aku butuh obat bius supaya aku nggak sampai melakukan hubungan terlarang," lirihnya.
Ia pun meraih ponselnya lalu menghubungi Al.
Hanya di deringan pertama, Al langsung menjawab panggilan darinya.
Al sedikit menjauh lalu menjawab panggilannya.
"Ya hallo, Quin. Ada apa?"
"Al, ayo kita pulang sekarang. Sebelumnya kita singgah dulu di salah satu apotik," perintah Quin.
"Tapi kenapa Quin?" tanya Al.
"Sepertinya Angga sudah menaruh obat perangsang di minumanku tadi," jelasnya dari seberang telepon.
Al langsung terkekeh dan ingin menggoda sahabatnya itu lagi namun tidak pada tempatnya karena Quin terdengar seperti memelas.
"Baiklah." Al memutuskan panggilan lalu kembali ke meja.
"Aku ke toilet dulu ya," izin Al lalu segera meninggalkan ballroom lalu menuju lift untuk mengantarnya turun ke loby hotel.
Sedangkan Quin yang saat ini sudah berada di parkiran terlihat mondar mandir gelisah dan terus mengusap tengkuknya sambil mengumpat kesal.
"Pria brengsek!! Kamu pikir aku wanita bodoh apa? Aku nggak sebodoh gadis dalam novel," gerutunya.
Padahal dia tokoh wanita dalam novel ini πβοΈ
Merasa ada yang tidak beres, Damar ikut menyusul Al. Setelah sebelumnya ia menemui Altaf dan izin pulang lebih awal dan mengajak Adrian sekaligus.
Sementara itu, Al yang kini sudah berada di parkiran langsung menemui Quin yang terlihat gelisah sambil mondar mandir.
"Quin!" panggil Al. Quin langsung menoleh.
"Al," lirihnya. "Ayo cepetan, Al," desaknya seperti sudah tidak sabaran.
Baru saja keduanya membuka pintu mobil, Damar memanggil mereka. Alisnya langsung bertaut menatap Quin lalu menghampirinya.
"Quin, kamu ..."
"Sebaiknya kita pulang sekarang," desak Quin sambil memeluk Damar. "Tolong singgah di apotik dan beli obat bius dosis tinggi," pinta Quin.
"Untuk apa Quin?" tanya Damar.
"Bius aku, jika kamu tidak ingin menodaiku. Aku yakin dalam keadaanku yang saat ini dalam pengaruh obat perangsang, kamu nggak akan kuat jika aku menjadi liar di hadapanmu," jelas Quin.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ