101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 40



Mendengar ucapan Damar, Quin hanya manggut-manggut lalu kembali meletakkan cup esnya di atas meja.


Terdengar helaan nafas panjangnya setelah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam.


"Damar, walaupun mamamu tidak menyukaiku, aku nggak masalah karena itu wajar. Apalagi aku ini orang asing. Namun ... mau sekesal dan semarah apapun kamu pada mamamu jangan sekali-kali sakiti hatinya apalagi membentaknya," nasehat Quin padanya.


Damar hanya bungkam mendengar kata nasehat dari gadis itu.


"Dengarkan saja jika dia mengomel dan turuti saja apa yang dia inginkan. Setidaknya buatlah


hatinya senang," sambung Quin sekaligus mengakhiri ucapannya.


Hening sejenak ....


Damar terus saja menatapnya yang masih memejamkan matanya.


"Are you sleep?" desisnya.


Ia menggeleng lalu membuka matanya.


"Quin ..."


"Hmm ..."


"Kamu ke mana saja kemarin?"


"Ke suatu tempat untuk menenangkan diri dan pikiran." Ia menoleh ke samping. "Kenapa? Kalian pasti uring uringan mencari keberadaan ku kan?" tebaknya lalu terkekeh.


"Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi kamu sama sekali nggak bisa dihubungi. Jujur saja aku panik banget," aku-nya.


"Buktinya aku baik-baik saja dan masih utuh," candanya. "Sudahlah nggak usah dibahas ayo kita makan," ajaknya lalu menata makanan di atas meja. "So ... ceritanya nih, kita dinner di butik ini?Kamu nggak romantis banget sih?!" kelakarnya.


Damar terkekeh mendengarnya hingga ekor matanya tak sengaja menangkap jemari Quin yang kini sudah tak dilingkari cincin tunangannya.


Tumben dia nggak memakai cincin tunangannya? Padahal cincin itu nggak pernah lepas dari jari manisnya.


"Sudah," desis Quin lalu mengajaknya menyantap makanan yang sudah ia tata di meja. "Selamat makan," ucapnya.


Damar mengulas senyum dan ikut menyantap makanan itu bersama hingga selesai.


*********


Sementara di club' malam ...


Mata Kinar sejak tadi terus memperhatikan Angga yang sedang duduk di kursi meja bartender bersama Dennis dan beberapa teman mereka yang lainnya.


"Nai, aku ke sana sebentar ya. Kamu lanjut saja," kata Kinar.


"Ok ..." balasnya.


Kinar menghampiri Angga lalu menepuk


bahunya.


Sontak saja ulah gadis itu membuatnya kaget lalu memutar kursinya. Saat tahu ternyata Kinara pelakunya, ia tersenyum sinis.


"Ada apa?" tanyanya lalu kembali memutar kursi menghadap meja.


"Nggak apa-apa, hanya ingin menemanimu minum," jawab Kinar lalu duduk di kursi satunya.


"Dennis ... sepertinya Kinar butuh kehangatan. Apa kamu ingin menemaninya malam ini?" tawar Angga dengan senyum mengejek.


Mendengar ucapan Angga, seketika membuat Kinar merasa jengkel lalu melotot tajam padanya.


"Kenapa? Aku benar kan. Jika kamu menginginkannya malam ini Dennis bisa jadi partner ranjangmu," kata Angga.


"Kamu pikir aku ini ....."


"Apa? Wanita murahan maksudmu?" sarkas Angga dengan senyum sinis. "Bukankah julukan itu tepat untukmu?"


Kinar terdiam mendengar kalimat itu. Seketika itu juga ia teringat ucapan saudara tirinya yang mengatakan dirinya wanita murahan dan ja*Lang.


Tangannya langsung mengepal dengan perasaan dongkol.


Angga menghela nafasnya dengan kasar lalu mengeluarkan black card-nya untuk melakukan transaksi.


Setelah itu ia berpamitan pada Dennis dan temannya yang lain lalu meninggalkan club' malam itu.


Sedangkan Kinara masih duduk di tempat lalu mendapat tatapan penuh selidik dari Dennis.


"Apa sih Den. Kok, kamu melihatku seperti seorang kriminal saja," ujarnya.


"Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Angga?" selidik Dennis lalu menyesap rokoknya.


Kinar bergeming dan tak ingin menjawab. Jika ia menjawab, itu sama saja ia mempermalukan dirinya sendiri. Apalagi Dennis teman dekat Angga dan otomatis jika pria itu bertanya hal yang sama pada Angga, sudah tentu Angga akan mengatakan semuanya.


"Ah sudahlah, jika kamu tidak ingin menjawab nggak apa-apa," lanjut Dennis. "Mau jadi partner ranjangku nggak malam ini?" tawar Dennis.


********


Sementara Quin dan Damar kini berada di galery butiknya tepatnya di lantai dua.


Mata Damar meneliti seluruh isi ruangan itu dan menatap kagum dengan hasil design Quin sendiri.


"Damar! Ayo kemari sebentar," pintanya dengan seulas senyum.


Damar hanya menurut lalu menghampiri gadis itu yang sedang berdiri berdampingan dengan manekin pria lengkap dengan jas-nya.


"Ada apa?" tanyanya dengan heran.


"Kemarilah dan berdiri di sini," pintanya lalu menarik lengan kekar pria itu menghadap kaca besar. "Sebentar," ucapnya lalu melepas jas yang ada di manekin.


"Kamu mau apa?" tanya Damar.


"Sudah ... diam saja, nggak usah protes," balas Quin lalu terkekeh. "Aku ingin menjadikanmu model untuk jas pengantin ini."


"What?!"


"Hmm ... ayo aku bantu," ujarnya lalu melepas kaos yang dikenakan Damar lalu menggantinya dengan kemeja berwarna blue sky.


Entah mengapa Damar hanya menuruti saja permintaan gadis itu.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia terus menatap wajah Quin yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengannya sambil memasang kancing kemeja satu persatu.


Setelah selesai, Quin meraih jas yang berwarna senada lalu memakaikan ke tubuh Damar dan tak lupa ia melengkapinya dengan sebuah bros naga rantai.


"Sudah ... hmm ... perfect," ucap Quin sambil mengelus dada bidang berotot pria itu. "Tapi hanya bagian atas saja," sambungnya lalu terkekeh.


Damar tersenyum lalu menatap dirinya di depan kaca besar. "Quin benar ... perfect. Bahkan aku suka dengan warna dan detail jas ini," gumamnya dalam hati.


"Ayo aku foto dulu, tapi hanya setengah badan saja," pinta Quin lalu mengarahkan Damar ke salah satu sudut ruangan tempat biasa ia mengambil gambar kliennya.


"Ternyata dia bisa jadi fotografer juga. Benar-benar gadis multitalenta banget," gumamnya lalu mengikuti instruksi gadis itu dan beberapa kali mengambil fotonya.


"Sudah selesai?" tanya Damar dan dijawab dengan anggukan kepala Quin. "Kemarilah," pintanya dengan seulas senyum.


Quin menghampirinya yang sedang duduk di kursi itu. "Kenapa? apa kamu ingin lihat hasil fotonya? tanya Quin lalu terkekeh menatapnya.


"Bersandarlah ... aku ingin mengabadikan foto kita berdua, sayangnya kamu nggak mengenakan gaun pengantinnya," bisik Damar.


"Ck ... modus," decak Quin namun tetap menurut.


"Jangan protes, soalnya aku juga nggak protes saat kamu memintaku jadi model," imbuhnya.


"Baiklah, Mr. Brewok," ucapnya lalu bersandar di dada Damar seperti permintaan pria itu.


Setelah mengambil foto mereka berdua, Damar tersenyum puas.


"Damar ..."


"Hmm ..."


"Jika kamu akan menikah, jangan lupa hubungi aku. Aku yang akan mendesign pakaian pengantinmu seperti keinginanmu dan calon istrimu nantinya. Masalah harga, bisa di atur," usul Quin sambil membantunya melepas jas yang di kenakannya.


"Calonnya kamu," batinnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Hmm ... nggak masalah," kata Damar.


"Oh ya, nggak apa-apa ya, fotomu bakal aku masukkan ke album model pengantin pria dengan jas ini," izin Quin.


"Nggak masalah," ucapnya dengan seulas senyum.


Tak terasa sudah hampir tiga jam Quin dan Damar berada di butik itu. Saat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, Damar mengarahkan pandangannya ke arah Quin.


Gadis itu masih saja mengutak atik laptopnya. Ia pun menegurnya lalu mengajaknya pulang.


"Quin, ini sudah larut. Sebaiknya kita pulang saja," cetus Damar.


"Masa sih?!"


"Sudah jam 23.00 Quin," jelas Damar.


"What?!!!" ia tidak menyangka jika ia dan Damar cukup lama berada di butiknya. "Ya sudah, ayo. Aku takut kamu terlambat ngantor besok jika aku kesiangan," celetuknya lalu mematikan laptopnya.


Damar hanya tersenyum melihatnya yang sedikit panik. "Aku boss-nya, mau terlambat sekalipun masuk kantor nggak masalah," kata Damar dalam hatinya.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers terkasih. Dengan vote, like komen dan gift jika berkenan.


Setiap dukungan dari kalian setidaknya telah membantu author mempromosikan karya ini.


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya. Terima kasih. 🥰😘🙏