
Damar memejamkan matanya sembari mengelus punggung Quin lalu mengecup lama kening gadis itu
"Naughty Girl," bisiknya lalu tersenyum. "Saat ini aku masih bisa mengontrol untuk nggak menjamahmu Quin. Tapi entahlah, besok-besok apakah aku akan kuat jika kamu seperti ini lagi," desis Damar lalu membalikkan badan memperbaiki posisi tidur Quin ke atas kasur.
Dalam kungkungannya, Damar menatap lekat wajah Quin yang terlihat sangat tenang lalu mengulas senyum.
"Kamu nggak mungkin mau melakukan ciuman panas seperti tadi jika dalam keadaan sadar seratus persen," desisnya. "Impossible. Kenapa harus dalam keadaan nggak sadar ... hmm," desisnya lagi lalu kembali mengecup kening dan bibir gadis itu. "
Setelah itu, ia menghubungi Adrian. Kebetulan Adrian yang masih bersama Al di club' itu tampak masih mengobrol di salah satu meja Club'.
Saat ponselnya bergetar, ia pun melirik benda pipih itu.
"Tuan Damar," lirihnya lalu menatap Al.
"Ya sudah, jawab saja," cetus Al dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Hallo Tuan, ada apa?"
"Rian, tolong siapkan mobil," perintah Damar.
"Sekarang, Tuan?"
"Menurutmu?"
"Baik Tuan," jawabnya dengan patuh.
"Hmm ..." Damar memutuskan panggilan lalu merebahkan tubuhnya tepat di samping Quin.
"Al, kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku harus siapkan mobil untuk big boss," izin Adrian.
"Ok ..." jawab Al.
Adrian pun meninggalkanya di meja itu lalu mempercepat langkahnya menuju mobil Damar di parkir.
"Tumben dia minta disiapkan mobilnya," desis Adrian sesaat setelah menyalakan mesin mobil lalu memarkir tepat di depan pintu keluar club' malam itu.
Setelah itu, ia kembali menghubungi Damar jika mobilnya sudah diparkir di depan pintu club'.
"Tuan, mobilnya sudah saya parkir tepat di depan pintu masuk club'," kata Adrian.
"Hmm, tolong suruh Al ke kamar VIP 01, aku ingin meminta bantuannya supaya membawakan tas Quin," jelas Damar.
"Baik Tuan." Adrian mengakhiri panggilan lalu kembali ke dalam club' menemui Al.
"Al, boss memintamu ke kamar VIP 1. Dia butuh bantuanmu untuk mengambil tas Quin di sana," jelas Adrian.
"Pasti dia sudah keok," dumal Al. "Soalnya tadi dia minum banyak. Entah apa yang membuatnya seperti itu," lanjut Al lalu berdiri meninggalkan Adrian.
Saat melanjutkan langkahnya, ia berpapasan dengan Kinar dan Naira.
"Al, kok sendiri? Quin mana?" tanya Kinar.
Al hanya menggedikkan bahunya dengan cuek lalu berlalu begitu saja meninggalkan keduanya.
"Belagu banget sih?!" kesal Kinar.
"Siapa sih?!" tanya Naira.
"Dia asistennya Quin sekaligus sahabatnya," jelas Kinar sambil melangkah kecil.
"Asisten?" tanya Naira dengan alis bertaut. "Memangnya apa sih pekerjaan Quin?" sambungnya semakin penasaran.
"Quin itu seorang designer sekaligus owner di QA Boutique," jelas Kinar. "Sudahlah ngapain juga membahasnya," kesal Kinar.
"Apa?!! Designer?! Bukankah Nyonya Zahirah salah satu pelanggan tetap di QA Boutique? Sepertinya Nyonya Zahirah belum tahu jika Quin adalah owner butik itu."
Tak lama berselang mata keduanya membulat sempurna ketika melihat Damar sedang menggendong Quin yang tidak sadarkan diri. Disusul Al yang mengekor dari belakang sambil membawa tas gadis itu.
Lagi-lagi Naira merasa darahnya seolah mendidih. "Sial!! Kenapa sih harus dia yang mendapat perhatian Damar." Ia membatin kesal dengan tangan mengepal.
Sesaat setelah membaringkan Quin di kursi mobil yang sudah di setel, Damar meraih tas Quin dari Al, lalu menaruhnya di kursi belakang.
"Al, berikan card ini pada Adrian, minta dia untuk membayar semua tagihan minuman, makanan dan sewa kamar," pesan Damar lalu memberikan kartu kreditnya pada Al.
"Baiklah, sebaiknya bawa Quin pulang sekarang. Ingat, jangan macam-macam padanya. Jika kamu sampai berbuat hal nggak senonoh padanya, aku nggak akan pernah memaafkanmu," ancam Al.
Damar hanya terkekeh mendengar ancaman dari sahabat Quin itu.
Setelah memastikan mobil Damar menjauh, Al kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam club'. Menghampiri Adrian yang tampak sedang menyesap rokoknya.
"Rian ... nih," ia menyodorkan black card itu pada Adrian. "Damar meminta untuk membayar semua tagihan kita," kata Al.
"Hmm." Adrian meraih kartu itu lalu beranjak menghampiri kasir. "Sist, tagihan atas nama tuan Damar dan nona Quin sekalian digabung," kata Adrian lalu memberikan black card itu pada kasir.
"Baik," sahut kasir.
Selang beberapa menit kemudian, keduanya pun meningkat club' malam itu lalu menuju parkiran.
"Rian, aku duluan ya," kata Al.
"Hmm ... hati-hati ya, Al," pesan Adrian.
Al hanya mengangguk lalu membuka pintu mobil. Selang beberapa detik, ia mulai meninggalkan parkiran. Sementara Adrian, ia tampak masih bersandar di samping mobilnya sambil menyesap rokok.
Sedang asiknya ia menyesap rokoknya, tiba-tiba saja pundaknya di tepuk seseorang. Sontak saja ia langsung menoleh.
"Ah, Naira, ada apa?" tanyanya lalu kembali menyesap rokoknya.
"Sepertinya kalian sudah saling mengenal dekat," tanya Naira dengan gamblang.
Seketika Adrian menautkan alisnya dengan senyum sinis.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Quin, Damar dan asistennya," sebut Naira.
Adrian menghembus asap rokoknya lalu melirik gadis itu.
"Tepat sekali. Lalu apa masalahmu," sinis Adrian. "Why? Apa kamu akan melapor lagi jika Damar dan Quin bersenang-senang di club' ini?" cecarnya tanpa menoleh.
Naira bergeming namun terlihat geram menatap pria dingin di sampingnya itu.
Sedetik kemudian Adrian menyesap rokoknya lagi lalu membuang benda itu. Tanpa sepatah katapun ia membuka pintu mobilnya.
"Apa kamu masih ingin di situ?" tanya Adrian sesaat setelah duduk di kursi kemudi lalu membunyikan klakson mobilnya.
Sontak saja ulah Adrian membuatnya kaget lalu menyingkir dari bumper mobil pria dingin itu dengan perasaan dongkol.
Begitu Naira menyingkir, Adrian langsung melajukan kendaraannya meninggalkan club itu.
*
*
*
Kediaman Damar ...
Setibanya di rumahnya, Damar menghampiri pintu lalu menekan password. Karena tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, ia sekalian mengganti password pintunya.
Alasannya tentu saja ia tidak ingin mamanya, bi Yuni dan Naira bebas keluar masuk di rumah itu.
"Mulai malam ini passwordnya aku ganti dengan tanggal pertama kali aku bertemu dengan Quin," desisnya lalu tersenyum. "Pokoknya hanya aku Quin dan Rian saja yang tahu password ini."
Setelah mengganti password pintunya, ia kembali menghampiri mobil lalu membuka pintunya.
"Come on, Honey," bisiknya lalu perlahan menggendong tubuh Quin dan membawanya masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu dengan kakinya.
Damar hanya menggelengkan kepalanya menatap wajah Quin yang tampak begitu nyenyak dalam tidurnya
"Besok dia pasti akan mengeluhkan sakit kepala," kata Damar sambil menapaki anak tangga hingga ia sampai ke dalam kamarnya.
Dengan telaten ia membaringkan Quin di atas ranjang lalu melepas sepatunya.
"Have a nice dream, Honey," bisiknya seraya mengelus pipi Quin membenamkan bibirnya di kening lalu turun ke bibir gadis itu. "Quin ... suatu saat aku sangat berharap kamu mengatakan I LOVE YOU TOO padaku," lirih Damar.
Setelah itu, ia ke walk in closet untuk melepas semua pakaiannya. Beberapa menit kemudian ia kembali menghampiri ranjang lalu ikut berbaring di samping Quin.
"Quin ..." panggilnya sambil mengelus wajah gadis itu. "Quin ..." panggilnya lagi dengan senyum jahil mengganggu tidur gadis itu.
Namun Quin hanya berbalik lalu merubah posisinya menjadi tengkurap. Lagi-lagi Damar hanya mengulas senyum.
...****************...