101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 89



Waktu terus berlalu dari detik berganti menit dari menit berganti jam dari jam berganti hari dari hari berganti Minggu dari Minggu berganti bulan.


Tanpa terasa kini usia kandungan Quin sudah berusia tujuh bulan. Tak ada hal yang paling membahagiakan bagi Damar melainkan bisa hidup tenang bersama istrinya.


Setelah menempati rumahnya yang tak terlalu jauh dari kantornya, ia merasa sedikit merasa lega karena bisa memantau Quin jika terjadi sesuatu.


Aktifitas keduanya tetap berjalan lancar, meski Damar harus beberapa kali meninggalkan Quin karena urusan pekerjaan di kota J.


Pun begitu, Quin tetap bekerja dan tetap memantau butiknya dari jauh meski via zoom ketika harus berbicara langsung dengan kliennya.


**********


Bertepatan dengan hari ini, sudah tiba waktunya Quin harus check up kandungan. Setelah melewati trisemester, akhirnya Damar bisa bernafas lega karena sudah bisa melewati masa-masa morning sicknes.


"Honey," sapa Damar yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Quin yang sejak tadi menunggunya di ruang tamu, langsung mengarahkan pandangannya ke depan sambil tersenyum.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu soalnya aku baru selesai meeting," ucapnya sembari berjongkok lalu mengecup dan menempelkan kepalanya ke perut buncit istrinya.


"Nggak apa-apa, Honey," balas Quin sambil mengelus rambut suaminya.


Janin yang sedang tumbuh di rahim istrinya itu diketahui berjenis kelamin laki-laki. Sebelumnya Quin dan Damar telah mengetahui lewat USG saat usia kehamilan Quin berusia empat bulan saat memeriksakan kandungannya.


Senyum Damar dan Quin kembali menghiasi wajah keduanya saat sang jabang bayi menendang perutnya. Damar terus mengikuti arah gerakan calon bayinya itu menendang wajahnya.


"My baby boy, sehat-sehat ya di dalam sana. Daddy dan momy sudah nggak sabar ingin bertemu denganmu," bisik Damar lalu mengecup perut Quin berulang-ulang.


"Honey ... sudah. Ayo berangkat," ajak Quin, masih sambil mengelus rambut suaminya.


"Baiklah," kata Damar seraya berdiri lalu membantu Quin beranjak dari tempat duduknya.


Ia pun merengkuh tubuh Quin lalu membenamkan bibirnya yang lama ke keningnya.


Perlakuan lembut Damar bahkan terkesan posesif, membuat Quin selalu merasa nyaman.


Ia sudah tak memikirkan tentang di terima atau tidaknya dirinya oleh nyonya Zahirah. Yang jelas ia hanya ingin menikmati hari-harinya dengan bahagia bersama suami dan anaknya kelak.


"Honey ... makasih untuk segalanya," bisik Quin merasa terharu.


"Apapun itu, aku akan selalu ada untukmu," sahut Damar sambil mengelus punggung istrinya dengan sayang. "Yuk ... kita berangkat sekarang," ajak Damar.


.


.


.


Setibanya di rumah sakit, kini keduanya sudah berada di ruangan praktek dokter Akari Nara. Spesialis kandungan yang sejak awal menangani Quin.


"Selamat siang, Tuan, Nyonya," sapa dokter Akari dengan ramah seraya menghampirinya lalu mengajaknya ke bed pasien.


"Siang juga Dok," balas Quin.


"Bagaimana dengan baby-nya? Apa aktif bergerak?" tanya dokter Akari.


Quin mengulas senyum sambil mengangguk. Tangannya tak lepas dari genggaman suaminya yang setia berada di sampingnya.


Karena ia tak bisa berbahasa Jepang, Damar hanya menjadi pendengar saja sambil senyum-senyum.


Sama seperti author yang nggak bisa berbahasa Jepang so, dialognya udah di translate ke bahasa Indonesia. πŸ˜‚βœŒοΈ


Kedua-nya kini sedang menatap layar monitor, saat dokter Akari menempelkan alat khusus ke perut Quin. Melihat perkembangan janinnya yang tampak sehat.


"Honey, lihatlah bayi kita," bisiknya merasa terharu bisa menatap wajah putranya walau masih belum berapa jelas dan belum bisa bertemu langsung. Ia kembali mengecup kening istrinya sambil mengelus kepalanya.


Melihat Damar yang tampak begitu menyayangi istrinya, dokter Akari mengulas senyum ikut merasakan kebahagiaan dari keduanya.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit berkonsultasi dengan dokter Akari, keduanya kembali berpamitan.


.


.


.


Jauh dari kota Osaka, Adrian dan Al tampak sedang berada di salah satu restoran Jepang favorit Quin.


"Haaah ... rasanya aku kangen banget sama Quin," kata Al. "Semenjak menikah, dia sudah nggak pernah menginjakkan kakinya di kota ini," sambung Al dengan raut wajah sendu.


"Jika kamu mau, kita bisa ke Jepang menyambanginya," cetus Adrian. "Mau bagaimana lagi Al, seperti yang kita tahu nyonya besar belum bisa menerima kehadiran Quin sebagai menantu," jelas Adrian.


"Hmm," Al mengangguk namun merasa dongkol dengan wanita paruh baya itu. "Biarin sajalah, yang penting Quin dan Damar bahagia," kata Al.


Adrian mengangguk setuju. Tak lama berselang pesanan makanan mereka pun diantar oleh pelayan restoran.


Tak jauh dari meja tempat Al dan Adrian, sejak tadi Angga memperhatikan keduanya. Karena ingin tahu kabar dari ex tunangannya itu, Angga menghampiri keduanya lalu menyapa.


"Al, Rian, apa aku bisa bergabung?"


Sontak saja kehadiran Angga yang tiba-tiba membuat Al dan Adrian menatapnya.


"Boleh, ayo silakan," sahut Al.


"Jika kamu ingin pesan sesuatu pesan saja," tawar Adrian namun Angga menolak.


"Oh ya, bagaimana kabar Quin dan Damar? Sudah lama aku nggak bertemu dengan keduanya," tanya Angga to the poin.


Al terkekeh mendengar pertanyaan dari ex tunangan Quin itu.


"Kenapa? Apa kamu ingin memberinya kartu undangan?" kelakar Al lalu meliriknya.


Angga menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis mendengar jawaban dari Al.


"Al ada benarnya, Pak," sambung Adrian.


Lagi-lagi Angga hanya mengulas senyum tipis. Walaupun saat ini hubungannya dengan Gisha terbilang cukup dekat, namun ia tak bisa memungkiri jika ia masih saja mencintai Quin.


"Daripada nanya-nanya Quin yang saat ini sudah bahagia, mending kamu cepat-cepat melamar Gisha. Jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kalinya. Apalagi saat ini Dennis lagi gencar mengejarnya," celetuk Al.


What?!! Yang benar saja Dennis. Angga membatin dan tampak berpikir.


"Secara ... jika dibandingkan dengan dirimu, Dennis lebih baik di mata Gisha," celetuk Al lagi sekaligus meledeknya.


Sontak saja ledekan dari Al membuatnya berdecak kesal. Merasa jengah karena terus-terusan di ledek, akhirnya ia berpamitan dan meninggalkan restoran itu.


Sepeninggal Angga, Al langsung terbahak. Bagaimana tidak, seketika raut wajah pria berdarah Tionghoa itu langsung berubah kesal.


"Kamu apa-apaan sih, Al," tegur Adrian namun ikut terkekeh karena merasa lucu.


"Biarin, lagian aku benar kan. Meski Dennis terlihat seperti badboy, tapi dia nggak pernah tuh celap celup," jelas Al. "Honestly ... aku lebih suka jika Gisha jadian dengan Dennis," aku Al. "Aku nggak mau kejadian yang sama terulang lagi pada Gisha," sambungnya dengan hela nafas.


Mendengar ungkapan panjang lebar dari Al, Adrian mengangguk setuju. Lagian jika dipikir-pikir selama ini Dennis memang tak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita.


Bahkan pria itu terlihat cuek.


"Al, bagaimana jika besok kita ke Jepang saja. Hitung-hitung lepas kangen dengan Quin," cetus Adrian.


"Tapi kamu yang bayarin tiketnya," sahut Al lalu terkekeh.


"Nggak masalah," kata Adrian. "Sebelum berangkat, aku akan menghubungi tuan dulu," kata Adrian lagi. "Tuan pasti senang jika tahu kita akan menemui mereka," pungkasnya lalu mengulas senyum.


...****************...


Mumpung hari Senin jangan lupa vote ya readers ✌️☺️ .. ngarep banget. Mohon maaf karena jarang up berhubungan sangat sibuk di dunia nyata.


Salam hangat penuh cinta dari kota perbatasan KALTARA 😘πŸ₯°πŸ™