101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 63



Pagi harinya ...


ketika Quin membuka matanya, alisnya langsung bertaut karena merasa seseorang memeluknya dari belakang bahkan hembusan nafasnya begitu terasa di puncak kepalanya.


"Damar," desisnya lalu perlahan menggeser tubuhnya dari dekapan pria itu. Setelah mendudukkan dirinya, ia menatapnya yang masih tampak terlelap lalu mengelus rambutnya.


"Kenapa nggak membangunkanku semalam?" ucapnya pelan masih sambil mengelus rambutnya.


Sedetik kemudian, ia pun akan beranjak dari tempat tidur dan akan meninggalkan Damar, namun tertahan ketika pria itu memegang erat pergelangan tangannya.


Sontak saja Quin langsung menoleh ke belakang dan kembali duduk di dekat kepalanya dan kembali mengelus rambutnya.


"Morning," bisiknya dengan seulas senyum.


"Morning too, Quin," balasnya lalu memindahkan kepalanya ke atas paha gadis itu.


"Come on, wake up," pinta Quin dengan nada lembut.


"Biarkan seperti ini sebentar," bisiknya dan tampak nyaman sambil memejamkan matanya.


"Damar."


"Hmm."


"Kenapa kamu nggak membangunkanku semalam?" tanya Quin lagi.


"Sudah, tapi kamu nggak merespon dan malah tertidur nyenyak," aku Damar lalu membuka matanya kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


Quin hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Sedetik kemudian Damar mendekapnya.


"Ada apa?" tanya Quin sambil mengelus punggung telanjangnya.


"Nggak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja," bisiknya. Tak lama kemudian ia pun melonggarkan dekapannya.


"Aku ke pantry dulu," izin Quin seraya mengelus rahang tegasnya lalu mengulas senyum.


"Baiklah," kata Damar lalu melepasnya.


****


Tiga puluh menit kemudian setelah membuat kopi dan sarapan, Quin kembali ke kamar Damar lalu merapikan tempat tidurnya. Setelah itu, ia lanjut ke walk in closet untuk menyiapkan pakaian kantornya.


Begitu selesai memilih setelan yang cocok untuk Damar, ia pun kembali ke kamarnya dan langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Di bawah guyuran shower, Quin tampak merenung. "Aku merasa seperti menjadi istri kontraknya saja," gumam Quin. "Oh Lord ... kenapa aku merasa hari dan waktu berjalan begitu lambat," gumamnya lagi.


Beberapa menit kemudian setelah membersihkan dirinya, ia pun kembali ke kamarnya lalu mengenakan dress kemudian berdandan ala kadarnya serta menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


"Selesai," ucapnya lalu meninggalkan kamarnya lalu menuju kamar sebelah.


"Damar," sapanya lalu menghampirinya yang terlihat sedang mengenakan celana. Seperti biasa dengan telaten Quin membantunya memakaikan setelan jas yang sudah dipilihnya, dan terakhir menyematkan sebuah bros di jas pria tampan itu.


"Sudah," bisiknya seraya mengelus dadanya kemudian mengulas senyum.


"Thanks, Quin," ucap Damar sambil menatapnya.


"Ada apa?" tanya Quin seraya menangkup rahang tegasnya lalu mengelus bulu-bulu halus di wajahnya. "Smiling ..." pinta Quin. "Wajah tampan ini semakin terpancar dengan senyummu, di tambah lagi dengan kedua lesung pipi ini." Quin menyentuh kedua lesung pipi Damar karena pria itu langsung tersenyum mendengar ucapan lembut gadis itu.


"Terserah kamu dan semuanya milikmu .... Honey," bisik Damar lalu memeluknya dan mencium aroma parfum di ceruk leher Quin dalam-dalam.


"Don't call me ... Honey," ia balik berbisik. "Panggilan spesial itu berlaku untuk kekasihmu nantinya," sambung Quin.


"Bagaimana jika kekasihku nantinya itu adalah kamu?" tanya Damar lalu kembali menatap wajah dan bibir Quin.


"No ... jangan berharap atau memiliki perasaan apapun padaku. Karena aku tidak ingin kamu terluka," tutur Quin sambil mengelus rahang tegasnya. "Cukuplah kamu menjadi pelindungku, kakak sekaligus sahabatku juga menjadi pendengar saat aku berkeluh kesah," sambung Quin sekaligus menolak.


Damar bergeming menatapnya. Lagi dan lagi ucapan Quin membuatnya kecewa.


"Damar," tegurnya.


"Hmm."


"Kamu duluan saja ke bawah, aku ke kamar dulu ingin mengambil tas kerjaku," kata Quin.


"Baiklah, aku akan menunggumu di meja makan," balas Damar dengan perasaan kecewa. Keduanya pun sama-sama keluar dari kamar itu. Damar langsung ke lantai satu sedangkan Quin terlebih dulu ke kamarnya mengambil tas kerjanya dan tas tangannya.


Sesaat setelah berada di meja makan, ia pun ikut sarapan bersama Damar dan sesekali menggodanya dengan candaan.


Sontak saja ulah Quin membuatnya tergelak merasa lucu dan membuat suasana di ruangan itu riuh. Begitu selesai sarapan Quin kembali membereskan sekaligus mencuci wadah bekas mereka.


Sedangkan Damar terus memperhatikannya sambil menyeruput kopinya. Namun tiba-tiba saja seseorang menegurnya.


"Damar!"


"Mama," lirihnya. "Ada apa, Mah? Kok pagi banget Mama ke sini? Ada urusan apa?" tanyanya dengan ketus.


Tak lama berselang Quin menghampiri keduanya sambil membawa tas kerja dan tas tangannya.


"Nyonya," sapanya dengan hormat. Namun sapaannya tidak digubris dan malah mendapat tatapan sinis dari wanita paruh baya itu.


Seakan tak mau ambil pusing, ia pun melirik ke arah Damar. "Damar, aku berangkat duluan ya," pamitnya.


"Baiklah, jangan lupa hubungi aku jika kamu ingin berkunjung ke kantor," pesannya lalu mengecup pipi Quin di depan sang mama.


"Damar! Are you crazy?" bisik Quin.


"Biarin," balasnya dengan santai. Ia sengaja melakukannya karena memang ingin membuat sang mama kesal.


Sedetik kemudian Quin kembali berpamitan sekaligus meninggalkan keduanya yang tampak bersitegang.


Sepeninggal Quin, Damar langsung menuju sofa ruang tamu lalu mendaratkan bokongnya.


"Ada apa, Mah?" tanyanya lagi.


"Mama ingin mengajakmu makan siang nanti. Mama ingin mengenalkanmu dengan putri teman mama," jelas mama.


Seketika alis Damar bertaut lalu mengepalkan kedua tangannya merasa geram.


"Bilang saja Mama ingin menjodohkanku dengan putri teman Mama itu. Iya kan?" tebaknya dengan senyum sinis.


Sang mama hanya bergeming sekaligus merasa geram mendengar jawabannya.


"Dengar, Mah. Jangan pernah menjodoh-jodohkan aku dengan siapapun," tegasnya sekaligus menolak. "Biarkan aku sendiri yang memilih? Hanya aku yang berhak menentukan gadis pilihanku sendiri," tegas Damar lagi lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Damar!!!" bentak sang mama. "Sejak gadis itu tinggal bersamamu kamu semakin berubah, suka membantah dan menjadi pemberontak. Gadis itu hanya membawa pengaruh buruk padamu," sentak mama lagi.


Damar menghentikan langkahnya seolah tak terima dengan ucapan mama.


"Quin, Mah. Namanya Quin," sahutnya dengan perasaan dongkol. "Bukan Quin yang membawa pengaruh buruk bagiku," kata Damar. "Tapi kedua pembantu kepercayaan mama itu. Bi Yuni dan Naira. Mama pikir aku nggak tahu jika merekalah yang sudah memberi pengaruh buruk pada Mama. Mereka berdualah yang sering menjelek-jelekan Quin supaya Mama membencinya," geram Damar.


Damar berbalik lalu menatap mamanya.


"Sekeras apapun Mama membenci Quin maka sekeras itu pula aku akan membelanya," tegas Damar. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya.


Nyonya Zahirah hanya bergeming namun terlihat begitu geram.


"Entah seperti apa gadis itu mempengaruhi putraku," geramnya.


Setelah itu, ia pun menyusul kemudian menghampiri mobilnya. Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia pun meminta sopirnya mengantarnya ke kantor suaminya.


*


*


*


Setibanya di butik, Quin langsung menapaki anak tangga menuju ruang kerjanya. Begitu bokongnya mendarat di kursi kerjanya ia langsung bersandar sambil memejamkan matanya.


"Kenapa sih, mamanya Damar sangat membenciku?" gumamnya.


"Siapalah gadis malang yang akan menjadi menantunya," desis Quin lalu terkekeh.


Tak lama berselang ponselnya bergetar. Dengan malas ia merogoh tasnya lalu meraih benda pipih itu.


"Papa?!" lirihnya.


"Ya ... hallo Pah. Ada apa?"


"Sayang, sebentar siang papa ingin mengajakmu makan bareng," cetus papa.


"Maaf Pah, seperti aku nggak bisa. Lain kali saja, lagian aku harus bertemu klien," bohongnya.


Dari seberang telefon, Pak Pranata hanya bisa menghela nafas kecewa. Lagi-lagi putrinya itu menolak ajakannya.


"Ya sudah, nggak apa-apa," balas papa lalu memutuskan sambungan telepon.


Begitu sambungan telepon terputus, Quin kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Rasanya aku lelah banget seperti ini," desisnya.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜