
Meninggalkan Quin dan Damar, di salah satu cafe ternama di kota J terlihat Kinara dan Naira tampak sedang nongkrong di cafe itu.
"Nai, kamu nggak kerja?" tanya Kinar.
"Nggak, hari ini aku benar-benar kesal banget," cicitnya.
"Kenapa?"
"Gara-gara asisten pribadi Damar, aku dan mamaku di suruh kembali ke rumah utama," jelasnya dengan kesal.
"Damar?" Kinar tampak mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu Damar CEO Alatas Group?" tanyanya penasaran.
"Menurutmu?" kesal Naira
"Seriously?"
"Banget. Bahkan keduanya tampak sangat dekat.
Yang semakin membuatku kesal adalah, Damar sepertinya sangat tertarik dengan gadis itu."
Kinar tersenyum sinis. "Apa kamu menyukainya? Secara, siapa yang tidak mengenal pria itu? Palingan gadis itu cuma jadi pelampiasan hasratnya saja," tebak Kinar.
"Sejak dulu aku memang menyukainya. Tapi dia nggak pernah tertarik padaku. Bahkan saat aku menjadi terapisnya dia malah menolak dan lebih memilih asisten pribadinya itu," jelas Naira dengan perasaan dongkol.
Tak lama berselang tampak Angga dan Bram sedang memasuki cafe itu.
"Angga," lirihnya menatap pria itu bersama sang asisten.
"Oh ya, itu kan, boss mu?" tegur Naira saat matanya mengikuti pandangan mata Kinar.
"Dulu, sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah nggak bernaung di agensinya," jujurnya dengan senyum miris.
Ada perasaan kesal saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Hanya karena Quin, karirnya di agensi Angga langsung berantakan. Namun ia masih belum menyerah.
"Kita lihat saja nanti, sampai kapan kamu akan mengabaikan ku," batinnya dengan senyum sinis.
.
.
.
QA Boutique ...
Adrian masih betah berada di butik itu bahkan seolah tak ingin beranjak dari tempat duduknya.
"Al," tegurnya.
"Hmm ... ada apa?" tanya Al yang tampak sedang melanjutkan pekerjaannya.
"Apa Quin dan pak Angga sudah lama bertunangan?" tanya Adrian.
"Ya, tiga tahun. Tapi Quin memilih mengakhiri hubungan pertunangannya dengan pria brengsek itu," jelas Al dengan perasaan kesal.
"Gitu ya," desis Adrian.
"Ya begitulah. Quin benci dengan sebuah pengkhianatan. Daripada terus tersakiti, dia memilih mengakhiri pertunangannya. That's so sad for her," kata Al lalu menatap Adrian.
Mendapat tatapan dari Al, seketika membuat Adrian salah tingkah. "Apa," ia menaikkan alisnya.
"Tadi kamu bilang, Quin sedang berada di apartemennya," selidik Al.
"Lalu?"
"Tahu dari mana kamu, jika Quin sedang di sana?" tanya Al dengan rasa penasaran.
"Pak Damar yang memintaku melacak keberadaan nomor plat mobilnya," jelas Adrian.
"Oh ya, aku kembali ke kantor lagi ya," izinnya lalu beranjak dari sofa.
"Ok. Thanks ya untuk makanan siangnya," ucap Al dengan seulas senyum lalu mengantar Adrian sampai depan pintu butik.
"Sama-sama, Al," balasnya lalu menghampiri mobilnya. Setelah itu Adrian mulai meninggalkan parkiran menuju kantor.
.
.
.
Tampak keduanya masih duduk di satu sofa yang sama.
"Quin," maaf jika ucapan mamaku ..."
"Sudahlah, nggak usah di bahas. Sejak pertama kali bertemu, beliau memang tidak pernah menyukaiku," potongnya cepat meski hatinya sakit ketika wanita paruh baya itu secara tidak langsung menuduhnya sebagai bed partner sang putra.
"Kembalilah ke kantor," pintanya sambil menatap Damar.
"Tapi aku masih ingin di sini bersamamu," balasnya dan balas menatap manik hitam Quin.
Quin terkekeh. "Mr. Brewok, kamu ini kenapa sih?"
"Nggak apa-apa, biarkan aku beristirahat sebentar di sini. Kepalaku sakit dengan berkas-berkas yang harus aku tandatangani di kantor."
"Ok baiklah. Karena kamu sudah terlanjur berada di apartemenku. Kamu harus menuruti semua keinginanku," kata Quin.
"No problem," kata Damar dengan seulas senyum.
"Come on follow me," pinta Quin lalu menarik lengan kekar pria brewok itu.
"Ke mana?"
"Pokoknya ikut saja," kata Quin sambil membawanya ke dalam kamarnya lalu memintanya duduk tepat di hadapan cermin meja riasnya.
"Quin, what do you wan't," tanya Damar penuh curiga. Apalagi Quin mulai melepaskan kacamatanya yang bertengger di hidung mancungnya.
"Sudah diam saja dan duduk dengan tenang. No protes," tegas Quin sambil terkekeh.
Setelah itu Quin membuka laci lalu meraih alat pencukur rambut dan juga gunting.
"Quin ... jangan bilang kamu akan mencukur rambutku," selidik Damar.
"Exactly right, Mr. Brewok. Soon ... panggilan Mr. Brewok akan berakhir setelah aku memangkas rambutmu dan juga brewok ini," kata Quin.
Damar hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan gadis cantik nan manis itu.
"Bagaimana dengan pakaianku Quin," protesnya ketika Quin sudah mencolokkan kabel alat pemangkas rambut di colokan listrik.
"Nggak usah khawatir, nanti aku akan meminta Al membawakanmu satu setel baju kantor ganti," pungkas Quin dengan seulas senyum dan mulai memangkas rambut gondrong Damar.
Lagi-lagi ia hanya bisa pasrah dan terus menatap Quin lewat kaca meja rias gadis itu. Senyum terus mengembang.
Kurang lebih dua puluh menit Quin memangkas dan merapikan rambut Damar dan membuat model rambut Damar dengan model klimis.
Qiun tersenyum menatapnya dan merasa puas setelah mengubah rambut pria brewok itu menjadi klimis.
"See ... you look different," bisik Quin. "Now ... aku akan merapikan brewokmu ini," sambungnya.
Quin terlebih dulu mengganti pisau cukur pada alat pemangkas rambut. Setelah itu ia mulai mencukur bulu-bulu lebat yang menghiasi wajah Damar.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencukur brewoknya. Untuk menambahkan kesan macho, Quin tidak mencukur habis brewok Damar melainkan hanya menipiskan bulu-bulu lebat itu hingga membuat Damar terlihat bak seorang pangeran timur tengah.
Untuk seketika, Quin sempat tertegun menatap wajah tampan pria yang memang berdarah indo dan timur tengah itu. Apalagi saat ia tersenyum otomatis kedua lesung pipinya langsung terbentuk.
"Sudah," bisik Quin dengan seulas senyum. "See ... you look so perfect like a prince," sambung Quin menatap kagum.
"Really? And you the princess," sahut Damar.
"Nooo ... hahahaha." Quin langsung tertawa setelah itu ia meminta Damar masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Damar hanya menurut patuh. Sambil menunggu Damar, Quin langsung menghubungi Al supaya membawa satu setel jas seperti permintaannya yang ada di galery ke apartemennya.
Sontak saja permintaan dari Quin itu mambuat Al shock. Otaknya langsung traveling ke mana-mana. Apalagi saat ini mereka hanya berdua di apartemen itu.
Begitu selesai menghubungi Al, Quin kembali membersihkan sisa-sisa potongan rambut Damar di kamar itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah.
Setelah itu ia memilih ke ruang tamu dan duduk di dekat kaca besar sambil menunggu Damar.
"Buseeeet .... bagaimana para gadis nggak tergoda dengan pria sepertinya. Wajahnya nyaris sempurna dan bergelimang harta," gumam Quin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi tetap saja, aku nggak tertarik dengan pria sepertinya," gumamnya lagi lalu mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ