
"Sayang ... kita tunggu Al dulu ya. Soalnya mereka lagi cari makan siang. Lagian nggak ada yang jaga butik," jelas Quin.
"Hmm," sahut Angga.
Keduanya kini duduk di sofa.
"Sayang ... apa semalam pestamu berjalan lancar?" tanya Quin.
"Ya ... tapi tetap saja aku merasa ada yang kurang, karena kamu nggak mendampingiku," aku Angga.
Bullshit dengan omonganmu itu. Bukankah ada Kinara yang menemanimu?
"Really?"
"Yes."
Quin menatap lekat wajah Angga lalu tersenyum semanis mungkin lalu duduk di pangkuan sang tunangan.
"Sayang ... apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Quin menatap manik Angga dalam-dalam.
Pertanyaan yang terucap tiba-tiba dari bibir Quin, sontak saja membuat Angga kaget.
"Sayang, tentu saja aku mencintaimu," jawab Angga.
"Benarkah? Apa hanya aku? Ataukah mungkin ada yang lain? Who knows?" sindir Quin.
Alis Angga saling bertaut. "Sayang, kamu ngomong apa sih? Tentu saja hanya kamu satu-satunya yang ada di hatiku," jawab Angga tanpa dosa.
Quin tersenyum sinis. "Bagus lah kalau begitu, jadi aku bisa tenang," kata Quin.
Ck ... Al mana sih? Lama banget tuh anak!
Saat Quin ingin beranjak dari pangkuannya, Angga menahannya. "Sebenarnya kemarin kamu ke mana? Apa kamu nggak menyembunyikan sesuatu dariku?" selidik Angga.
"Untuk apa? Apa bukan sebaliknya?" selidiknya balik.
Hawa ruangan itu seketika berubah panas padahal di lengkapi dengan air conditioner.
"Oh ... come on, Darling. Jangan tegang begitu, biasa saja jika kamu nggak merasa melakukan kesalahan," celetuk Quin mencairkan suasana.
Tak lama berselang, Almira menghampiri keduanya.
"Ehem ... ehem ... romantis banget sih? Awas jangan sampai kebablasan," celetuk Al lalu terkekeh. "Quin, ini pesananmu."
"Thanks ya, Al," ucap Quin lalu meraih cup es boba favoritnya.
"Sama-sama Quin." Al pun segera meninggalkan keduanya.
"Mau nggak?" tawar Quin.
Angga mengulas senyum lalu menyedot minuman kesukaan Quin.
"Bagaimana, enak nggak?" tanya Quin lalu mengusap bibir Angga.
"Enak ..." jawab Angga. "Ayo kita berangkat sekarang," ajak Angga.
"Hmm."
Mudah-mudahan si pelakor peyot itu nggak ikut.
*****
Di sepanjang perjalanan, Quin hanya diam dan memilih memejamkan matanya sambil bersandar.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Angga.
"Hmm."
Tidak, bahkan aku ingin segera lepas darimu.
Angga meliriknya lalu menggenggam jemarinya.
"Angga ... aku ingin menunda pernikahan kita satu tahun lagi," cetus Quin dengan mata terpejam.
Ucapan Quin sontak saja membuat Angga mengerem mendadak.
"Awwww .... kamu apa-apaan sih?!" kesal Quin lalu mengusap jidatnya.
"Kamu yang apa-apaan?!" Angga tak kalah kesalnya. "Kenapa sih, kamu hari ini aneh banget?!" bentak Angga.
"Emang salah, jika aku ingin menunda pernikahan kita! Beri aku waktu karena aku belum siap menjadi istrimu!!" tegas Quin.
"Sayang, please!" bujuk Angga.
"Jangan memaksaku," ucap Quin lalu keluar dari mobil.
"Sayang! Kamu mau ke mana? Papa sudah menunggu kita!" ucapnya kelabakan.
Tak ingin kehilangan gadis itu, Angga ingin ikut keluar namun suara klakson mobil di belakangnya memaksanya maju.
"Aaarrgghh!!"
Saking kesalnya ia memukul setir mobilnya.
"Ada apa sih dengan Quin?!" Ia pun terpaksa ke restoran xxx itu sendiri dengan perasaan getir.
Sementara Quin, ia memilih ke restoran Jepang favoritnya lalu menghubungi Almira untuk mengantar mobilnya ke restoran itu.
.
.
.
Kantor Damar ...
"Tuan, apa Anda ingin saya pesankan makanan?" tanya Adrian.
"Nggak usah, kita ke restoran Jepang saja," jawab Damar.
Baik lah."
****
Saat Adrian mulai mengendarai mobilnya, Damar hanya menatap keluar dan tampak berpikir.
"Adrian, aku ingin kamu cari tahu tentang gadis yang bersamaku kemarin di taman kota," perintah Damar.
"Baik, Tuan."
"Entah mengapa aku tertarik dengan gadis itu, kenapa aku lupa menanyakan namanya kemarin?" gumam Damar dalam hatinya. Senyum tipis menghiasi sudut bibirnya.
"Tumben, Tuan Damar tersenyum? Apakah karena gadis itu? Jujur saja aku juga penasaran dengan gadis itu," batin Adrian.
Tak lama berselang, keduanya pun tiba di restoran itu. Seperti biasa Andrian dengan sigap membantu Damar.
Ketika Damar dan Adrian ingin duduk di salah satu meja, matanya terarah ke arah Quin yang terlihat sedang melamun.
"Itu kan cewek yang kemarin?" batin Damar.
Alis Damar kembali bertaut ketika Almira menghampiri Quin.
"Tuan," tegur Adrian. "Tuan mau duduk di meja mana?"
"Di sini saja," pintanya lalu kembali melirik ke arah Quin dan Al.
Sementara di meja Quin, Almira tampak keheranan.
"Quin? Perasaan kamu dan Angga baru saja jalan bareng. Kok kamu terdampar di sini sih?" tanya Almira.
"Lebih baik aku terdampar di sini daripada harus berdebat dengan Angga," ujar Quin lalu menyedot minumannya.
"Quin."
"Hmm."
"Sebenarnya kalian ada masalah apa? Apalagi semalam kamu nggak terlihat di pesta Angga bahkan ponselmu nggak aktif," tanya Almira penuh selidik.
"Al?" lirih Quin dengan mata berkaca-kaca.
Al beranjak dari tempat duduknya lalu duduk di samping Quin.
"Al, kemarin sore aku memergokinya dan Kinara sedang ..."
Quin tak sanggup melanjutkan ucapanya lalu memeluk sahabatnya itu sambil menangis.
"Maksudmu?"
Quin hanya bisa menangis dan memeluk Almira.
"Quin ... sudah ya," bisik Almira lalu mengurai pelukannya.
"Al, aku benci dengan pengkhianatan." Quin menyeka air matanya. "Aku masih memikirkan cara untuk lepas dari hubungan LAKNAT ini," geramnya.
Almira hanya bergeming mendengar ungkapan Quin.
"Sebaiknya kita kembali ke butik," usulnya.
"Baik lah."
Quin meninggalkan beberapa lembar uang lalu mengajak asistennya itu meninggalkan restoran.
Tanpa Quin sadari, diam-diam Adrian memotretnya lalu mengirimkan fotonya kepada seseorang untuk mencari tahu tentang dirinya.
.
.
.
Restoran xxx ...
Angga tampak serius berbincang dengan pak Pranata di temani oleh istrinya bu Fitri.
"Angga, apa kamu yakin ingin menunda pernikahan kalian?" tanya pak Pranata.
"Om, bukan inginku tapi Quin. Entah mengapa dia tiba-tiba berubah pikiran. Bahkan kami sempat bertengkar tadi sebelum ke sini," jelas Angga.
"Anak itu, selalu saja bikin alasan. Kemarin-kemarin dia minta ditunda sampai bulan ini. Terus malah berubah pikiran lagi. Maunya apa sih?!" kesal Bu Fitri.
"Nggak apa-apa, Tante," kata Angga.
******
Beberapa jam kemudian ....
Di kantor Damar ...
"Tuan," sapa Adrian.
"Adrian ... bagaimana, apa kamu sudah dapat informasi tentang gadis itu?" tanya Damar.
"Iya, Tuan. Namanya Quin Atalia Pranata. Seorang designer sekaligus QA Boutique Design," jelas Adrian. "Ini informasi lengkapnya Tuan." Adrian meletakkan amplop besar itu di atas meja kerja Damar.
Dengan rasa penasaran, Damar meraih amplop itu lalu membaca lembaran kertas itu satu persatu.
Senyum penuh arti terbit di sudut bibirnya. Damar menggelengkan kepalanya saat menatap foto Angga bersama Kinara.
Katanya mereka akan segera menikah, tapi apa ini? Angga malah selingkuh dengan gadis ini. Apa karena itu dia menangis?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Damar.
Sepertinya aku punya ide.
Damar meletakkan lembaran kertas yang di pegangnya.
"Bagaimana bisa, wanita selembut itu dan mempunyai good attitude di selingkuhi?" pikir Damar.
...****************...