
"Quin," bisik Damar seraya mengelus wajah gadis itu. Namun Quin sama sekali tidak bergeming.
Damar terus mengamati wajah teduh Quin dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada gadis yang saat ini sedang tertidur pulas di sampingnya. Bahkan tidak menyadari jika ia salah masuk kamar.
"Sepertinya Quin dalam pengaruh obat tidur. Lord ... bahkan heels-nya nggak di lepas. By the way, siapa yang mengantarnya pulang tadi?" gumam Damar.
Puas menatap wajah Quin, Damar perlahan berdiri lalu memegang sandaran ranjang kemudian beralih duduk ke kursi rodanya. Ia pun mengitari ranjangnya mendekati kaki Quin lalu melepas heelsnya. Setelahnya ia pun menyelimuti kaki jenjang Quin yang terekspos nyata di depan matanya.
Demi mendinginkan kepalanya, Damar menuju balkon kamarnya dan memilih menyesap rokoknya. Bukan tanpa alasan, pria normal sepertinya tidak mungkin bisa menahan hasratnya apalagi selamat dengan gadis seperti Quin.
Apalagi gadis seperti Quin yang nyata jelas tanpa sadar menggoda imannya. Gaun dengan belahan paha tinggi model V neck yang jelas nyata memperlihatkan belahan buah ranumnya dan kaki jenjang putih mulus. Sungguh benar-benar membangkitkan se*ks addicted seorang player seperti Damar.
"Damn!!!" umpatnya lalu menghembus asap rokoknya dengan kasar. Sebisa mungkin ia menahan hasratnya, bahkan miliknya sudah terasa sesak dan meronta ingin segera dikeluarkan. "Sial!!! kenapa harus sekarang!!!"
Meninggalkan Damar yang berusaha menahan hasratnya, lain pula dengan Angga yang masih setia menunggu sang tunangan di rooftop rumah mamanya.
Sudah hampir satu jam ia menunggu namun gadis yang sejak tadi di tunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Quin, mana sih? Apa jangan-jangan ia sudah tumbang di kamar ya?" gumamnya lalu tersenyum penuh arti. "Sebaiknya aku cek ke kamar saja."
Dengan perasaan berbunga-bunga ia pun segera turun lalu ke kamarnya. Ia mengernyit karena kamar itu kosong. Berharap jika Quin masih berada di pesta itu, ia pun menghampiri Altaf.
"Kak, lihat Quin nggak," tanyanya.
Alis Altaf saling bertaut menatap sang adik dengan heran. Altaf menyeringai.
"Loh ... apa dia nggak bilang sama kamu, jika dia mau pulang?" Altaf balik bertanya dengan seringai tipis.
"Sial!!! Ternyata dia membohongiku. Pasti Quin bakalan marah padaku besok. Rencana ku gagal total," geramnya sambil membatin.
Tanpa menyahut, Angga langsung meninggalkan sang kakak. Ia pun langsung menuju halaman parkir dan memilih meninggalkan acara sang mama dengan perasaan marah.
Tujuan selanjutnya adalah ke club malam.
Sesaat setelah tiba di tempat itu, ia langsung duduk di kursi bartender lalu memesan minuman.
Ingin melampiaskan semua kekesalannya.
Baru saja ia ingin meneguk minumannya, seseorang memeluknya lalu mengecup pipinya.
"Butuh teman minum, teman tidur atau keduanya sekaligus?" tanya wanita yang sedang memeluknya dengan nada menggoda.
"Kinar," desisnya lalu meneguk minumannya.
Angga menyeringai, lalu membawa Kinar duduk di pangkuannya.
"Ada apa? Wajahmu kok tertekuk begitu? Ada masalah lagi ya dengan Quin?" selidik Kinar.
"Seperti biasa, dia selalu menolak bahkan dirinya begitu peka," desisnya lalu mengelus paha mulus Kinar.
Karena nggak bisa menjebaknya, maka kamu yang harus memuaskanku malam ini Kinar.
Angga membatin. Ia ingin melampiaskan hasratnya mengingat Quin selalu saja menolak dan mencari-cari alasan. Bahkan yang paling membuat darahnya mendidih ketika kembali membayangkan kedekatan gadis itu dengan Damar.
Semakin ia membayangkan kejadian itu, ia terus menenggak minuman keras yang ada di hadapannya.
"Kinar, ayo kita pindah ke apartemen," ajaknya dengan suara serak menahan hasrat. Apalagi sejak tadi tangannya terus menggerayangi tubuh Kinar.
"Ayo ... siapa takut," bisik kinar lalu menji*lat dan menggigit kecil daun telinga Angga.
"Come on, aku ingin menghabiskan malam panjang ini bersamamu," godanya lalu membawa Kinar keluar dari bar itu.
Malam semakin larut, jarum jam terus berputar hingga tak terasa pagi hari kembali menyapa makhluk alam semesta.
Begitu pun dengan sepasang insan yang masih betah berada dalam satu selimut yang sama tanpa sehelai benang dengan tubuh yang sama-sama polos.
"Eugh ..." Kinar melenguh lalu menggeliat kecil. Ia tersenyum puas saat menatap wajah pria yang semalaman bersamanya berbagi kenikmatan surga dunia.
Ia semakin menempelkan wajahnya di dada bidang berotot Angga lalu mengelus wajah pria berdarah Tionghoa itu.
Mendengar Angga memanggil sayang, seketika membuatnya jengkel lalu melepas dekapan Angga.
"Apa yang ada di benakmu hanya Quin!!!" ucapnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
Angga langsung mengerjap lalu menatap Kinar.
"Kinar!!"
"Ah, sh*it!!! Again."
Angga langsung menyingkap selimut lalu menuju kamar mandi. Sedangkan Kinar merasa jengkel bukan kepalang.
Lagi dan lagi betapa bodohnya dirinya hanya menjadi pelampiasan hasrat sesaat dari seorang Haidar Anggara Wibowo. Pria tampan yang selalu membuat dirinya tak bisa berkutik bila sudah berurusan dengan ranjang.
Namun tetap saja, berkali-kali tersakiti, berkali-kali menjadi pelampiasan, tetap saja ia tidak bisa menolak pria itu.
Beda halnya lagi dengan Quin dan Damar yang berada dalam satu kamar dan tempat tidur yang sama.
Sejak tadi, Damar terus saja menatap wajah Quin tanpa ingin melewatinya. Perlahan ia mendaratkan satu kecupan di kening gadis itu hingga membuat ia sedikit terusik karena brewok yang mengenai wajahnya.
Damar terkekeh lalu menyugar rambut gondrongnya. Tak lama berselang, perlahan-lahan Quin membuka matanya lalu mengernyitkan keningnya.
Ia sedikit mendongak dan langsung membelalakkan matanya kemudian memperhatikan kamar itu.
"Oooh ... sh*it!!!" umpatnya sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit. "Brengsek!!!" kesalnya lalu mendudukkan dirinya di samping Damar.
"Quin, apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu semalam?" tanya Damar.
Bukannya menjawab, Quin malah memeluknya lalu menangis. Sontak saja ulahnya itu membuat Damar terkejut, dan degup jantungnya langsung berdetak dua kali lebih cepat.
"I hate him," lirihnya namun tidak ingin melanjutkan kata-katanya.
Damar hanya mengangguk lalu mengelus punggungnya.
"Damar, aku ingin meminta izin selama seminggu, healing ke kota Jepang," cetusnya lalu mengurai pelukannya dan menyeka air matanya. "Maaf aku nggak bisa menemanimu menghadiri HUT perusahaan papa-mu," sesal Quin.
Senyum penuh arti langsung terbit di wajah Damar.
"Suatu kebetulan, ini semakin menarik. Thanks Lord, so ... aku akan memiliki banyak waktu dengannya," gumam Damar dalam hatinya.
"Tentu saja aku mengizinkanmu. Nikmatilah healing mu," kata Damar seraya menangkup wajah Quin lalu mengulas senyum.
Karena aku juga akan ke sana.
"Terima kasih," ucap Quin. "Aku akan berangkat hari ini," jelasnya.
"Baik lah. Oh ya, ponselmu ada di meja nakas. Aku sengaja alihkan ke mode pesawat," jelas Damar.
"Terima kasih," ucap Quin. Sedetik kemudian ia tertawa lalu mengusap tengkuknya. "Kok bisanya aku terdampar di kamarmu? Bahkan setelah itu aku sudah tidak mengingat apapun," jelasnya.
"Aku siap-siap dulu ya. Mau aku bantu dulu ke kamar mandi?" tawar quin.
"Dengan senang hati," sahut Damar.
Quin mengangguk lalu membantunya ke kamar mandi. Setelah itu ia menyiapkan pakaian kantor Damar dan meletakannya di atas ranjang. Merasa sudah tidak ada yang kurang, Quin meraih ponsel dan dompetnya lalu terkekeh saat menatap heels-nya.
"Maaf Mr. Brewok. Aku sudah merepotkan mu semalam," gumamnya lalu duduk di sisi ranjang.
Beberapa menit kemudian, ia kembali membantu Damar.
"Mr. Brewok, aku tinggal ya. Sebentar lagi kamu harus terapi. Aku mau siap-siap dulu," ucapnya dengan senyum manis kemudian meninggalkan Damar di kamar itu.
Ketika membuka pintu, ia langsung terkejut saat mendapati Naira berada di ambang pintu, namun ia melewatinya begitu saja.
...****************...
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°πππ