101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 87



Damar terus menatap foto USG dan alat tespek itu. Ia pun mengingat-ingat kembali kejadian dua bulan yang lalu.


"Jika dihitung-hitung sejak terakhir one night stand dengan Quin, itu artinya kandungannya sudah berusia dua bulan," desisnya lalu menyesap rokoknya dalam-dalam.


Sedangkan Quin yang berada di dalam kamar terlihat membuka matanya dan sedikit meringis karena tiba-tiba merasakan pusing.


"Damar?" desisnya saat mendapati jaket pria itu tergeletak tak jauh dari tempatnya berbaring.


Ia pun merubah posisinya menjadi duduk sambil memijat keningnya. "Ssssttt .... kepalaku kok tiba-tiba sakit begini ya?" desisnya.


"Quin ... are you okay?" tanya Damar yang baru saja masuk lalu menghampirinya.


"Kepalaku pusing ... rasanya aku pengen makan sesuatu yang rasanya asam," celetuknya.


Damar mengulas senyum lalu memeluknya dengan erat lalu berbisik, "Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


Quin menautkan alisnya lalu perlahan melepas pelukannya. "Menyembunyikan sesuatu? Maksudmu?" Quin balik bertanya.


"Tolong jelaskan semua ini?" Damar memperlihatkan tespek dan foto USG milik Quin. "Ayo ... bicara lah dan jelaskan. Dia anakku kan?" tanya Damar lagi. "Please ... jangan diam saja," desak Damar lalu menangkup wajah Quin kemudian menyatukan keningnya.


"Dan tiket itu? Apa kamu akan meninggalkanku lagi tanpa kabar? Apa kamu tega memisahkan aku dengan anakku?" cecar Damar dengan suara tercekat.


Quin bergeming namun sedetik kemudian ia langsung memeluk Damar lalu menangis.


"Quin, aku tahu apa yang ada di pikiranmu," bisik Damar sambil mengelus rambut gadis itu. "Mamaku kan? Aku nggak peduli dengan mamaku, Quin. Biarkan saja. Toh yang menjalani kita berdua, bukan mamaku atau siapapun itu," tegas Damar.


Air mata Quin semakin mengalir deras mendengar ucapan Damar. "Apa kamu sudah siap menerima semua konsekuensinya jika semua hakmu dicabut oleh mamamu," bisik Quin dengan tersengal.


"Quin, dengarkan aku. Ini tentang perasaan, cinta dan tentang kebahagiaan. So ... apapun itu, aku sudah siap," tegas Damar lagi. "Aku nggak peduli jika aku kehilangan semua fasilitas kemewahan yang aku miliki saat ini, yang penting aku hanya ingin menikah dan hidup bahagia denganmu. Untuk apa aku memiliki harta yang banyak jika nggak ada kebahagiaan," jelas Damar sungguh-sungguh.


"Damar," lirih Quin dengan derai air mata yang terus mengalir.


"Aku bisa merintis dari nol lagi. Lagian kita punya basic yang sama. Apa kamu lupa jika perusahaan yang aku pimpin bergerak di segala bidang, termasuk fashion seperti yang kamu geluti saat ini," jelas Damar lagi. "Please ... jangan tinggalkan aku lagi," mohon Damar lalu melonggarkan pelukannya.


Ia kembali mengecup kening dan bibir Quin lalu mulai mengelus perut Quin yang masih tampak rata. Ia pun mendaratkan kecupannya berkali-kali di perut Quin.


.


.


.


Bautista Club ...


Al, Gisha dan Jihan tampak sedang berada di salah satu meja sambil menikmati hentakan musik yang bergema di club malam itu.


Saat sedang asiknya mengobrol, sang owner menghampiri ketiganya.


"Hi girls ..." sapa Tista, mengangkat tangannya lalu tersenyum.


"Tista," pekik Al lalu meninju lengan kekar pria blasteran itu.


"Quin mana ya?" tanyanya lalu ikut duduk bergabung.


Al terkekeh menatapnya. "Bro, kamu telat." Al berucap dengan mengambang dan membuat pria tampan itu menautkan alisnya.


"Maksudnya?"


Al, Jihan dan Gisha kembali menertawai dirinya. Bukan tanpa alasan, sejak dulu pria itu mengejar cinta Quin. Bahkan saat tahu gadis itu memutuskan pertunangannya dengan Angga, Tista gencar mengejar cinta gadis itu.


Namun selalu tak berhasil dan malah kalah cepat dari Damar sang teman.


"Damar baru saja melamarnya tadi siang, bahkan di depan pak Pranata. Kami saksinya," jelas Jihan sambil terkekeh.


Seketika raut wajahnya tampak sangat kecewa. Lagi-lagi ia kalah dari Damar.


"Again?!" desisnya sambil tertunduk.


"Ayo lah ... Tista, jangan sedih begitu. Apa kamu nggak tertarik denganku?" goda Jihan dengan maksud bercanda. "Daripada kamu memikirkan Quin yang mungkin saja lagi bersama Damar, mending kita ke dance floor," ajaknya lalu terkekeh.


Al dan Gisha menahan lengan temannya itu lalu berbisik. "Hati-hati Jihan ... takutnya kamu jatuh dalam pesonanya," peringat Al.


"Ckckck ... never," bisik Jihan.


Al dan Gisha hanya menggedikkan bahunya lalu geleng-geleng kepala.


"Aku rasa, Jihan sudah nggak waras. Berani-beraninya dia mengajak Tista," kata Gisha dengan gelengan kepala.


Selang beberapa menit kemudian Dennis dan Angga terlihat memasuki club malam itu, tak lama kemudian Adrian juga terlihat.


"Al," panggilnya sesaat setelah ia berada tepat di belakang gadis itu.


"Rian? Sendiri saja?"


"Hmm ..." jawabnya singkat lalu duduk di kursi yang kosong.


Tak lama berselang Dennis dan Angga memutuskan bergabung di satu meja yang sama.


"Dennis, Angga," sapa Rian. Dennis dan Angga mengulas senyum lalu duduk di kursi yang kosong.


Setelah itu mereka kembali memesan minuman di barengi dengan obrolan santai. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan obrolan mereka.


Hanya saja Gisha sedikit khawatir karena Angga terus menenggak minumannya. Bukan tanpa alasan ia cukup kerepotan jika Angga mabuk.


"Angga, hentikan," cegah Gisha sambil menahan tangan Angga yang akan kembali ingin menebus minumannya.


"Ini yang terakhir," desisnya.


Gisha kembali melepas tangannya lalu menatap Dennis.


"Dennis, jika Angga mabuk tolong urus dia," pinta Gisha.


"Why me?" protes Dennis.


"Ck ..." decak Gisha. "Kamu kan temannya, lagian aku nggak kuat harus kembali memapah tubuh besarnya itu," gerutu Gisha.


"Pppppffff .... hahahaha ...." Tawa Al langsung pecah mendengar nada kesal ucapan temannya itu. "So ... selama ini kamu yang membantunya Gisha?" tanya Al masih sambil tertawa.


"Menurutmu?!" kesalnya lalu memutar bola matanya dengan malas.


Sedangkan Dennis dan Adrian hanya menjadi pendengar dan sesekali mengulas senyum merasa lucu.


Lain halnya dengan Jihan dan Tista yang saat ini lagi asik bergoyang di dance floor. Keduanya tampak sangat menikmati kebersamaannya.


Setidaknya rasa kecewa yang menyelimuti hati Tista karena gagal untuk yang ketiga kalinya untuk menaklukkan Quin, bisa sedikit terobati dengan kehadiran Jihan.


Apa lebih baik aku membuka hatiku untuk Jihan saja ya? Lagian nggak mungkin aku bisa menang darinya.


Tista bergumam dalam hatinya, setelah itu ia mengajak Jihan ke meja bartender. Ingin mengenal lebih jauh dengan gadis itu.


.


.


.


Kembali ke Quin dan Damar ...


"Quin," panggil Damar lalu menghampirinya yang sedang berdiri di kaca penyekat menatap keluar jendela besar.


Quin menoleh sembari menatapnya. Damar langsung memeluknya lalu berbisik, "Aku ingin kita menikah secepatnya."


Quin mendongak lalu mengulas senyum. "Are you sure?"


"Tidak ada alasan untuk mengatakan tidak yakin," bisik Damar lagi lalu menyatukan keningnya. "Besok juga bisa," celetuknya.


"What?!! Are you crazy?!!" pekik Quin sekaligus gemas.


Damar terkekeh. "Satu Minggu dari sekarang. Aku akan mempersiapkan segalanya. Setelah itu kita pindah ke Jepang," tegas Damar dengan raut wajah serius. "Forget about my mom. Ada papa dan Sofia yang akan mendukung kita termasuk papamu sekaligus mertuaku," sambungnya lagi.


"Cih," decih Quin lalu terbahak. "Calon ... belum jadi menantu," ledek Quin.


Lagi-lagi Damar terkekeh sedetik kemudian ia mengecup lama kening Quin kemudian membenamkan dagunya di puncak kepala wanitanya itu.


"Aku akan membahagiakanmu Quin. Meski mama menentang pernikahan kita dan nggak merestui. Tapi percayalah, suatu saat mama pasti akan menerimamu. Apalagi jika mama tahu ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahimmu," lirih Damar.


Mendengar ucapan penuh ketulusan dari Damar, Quin sangat terharu. Ia tak pernah menyangka jika hubungan mereka akan sejauh ini.


Bermula dengan sebuah pengkhianatan dari Angga, membawanya masuk ke kehidupan Damar. Menyetujui kontrak selama seratus satu hari menjadi asisten pribadi dan akan berakhir menjadi istri dari seorang Damar Khalid Alatas.


Sungguh cinta seseorang tak ada yang pernah tahu akan berlabuh di hati siapa. Yang jelas takdir lah yang bisa menjawab akhir dari penantian itu.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜