
Setibanya di restoran, Altaf mengajak Quin dan Al masuk ke restoran itu lalu mencari salah satu meja yang kosong.
Ketika akan mendaratkan bokongnya, ekor matanya tak sengaja terarah ke salah satu meja di mana terlihat nyonya Zahirah dan beberapa teman sosialitanya.
"Quin, itu kan mamanya Damar," tanya Al lalu mencolek pinggangnya.
"Hmm.'' Ia mengangguk.
"Quin, Al, kalian ingin pesan apa?" tanya Altaf.
"Aku pesan yang ringan-ringan saja, spaghetti lalu minumnya verse munt thee" jawabnya dengan cepat.
"Aku samaan saja dengan Quin," timpal Al.
"Baiklah," sahut Altaf lalu mengangkat tangannya meminta waiters menghampiri meja mereka. "Mas, kami pesan dua porsi spaghetti dan satu steak daging. Minumnya verse munt thee dua dan satu aperetivo," kata Altaf sambil menunjukkan menu pesanannya.
"Baik, Tuan," balas waiters.
Setelah itu, waiters pun meninggalkan mereka. Sambil menunggu ketiganya berbincang-bincang kecil dan kembali membahas apa saja yang akan mereka lakukan di Singapura nantinya.
Dari meja nyonya Zahirah, wanita cantik paruh baya itu sejak tadi memperhatikan Quin, Al dan Altaf. Terlihat sekali jika nyonya Zahirah tak menyukai Quin.
"Sebenarnya apa pekerjaan gadis itu? Setelah Angga dan Damar, kini Altaf. Bahkan pria-pria yang sering bersamanya semuanya terlihat orang-orang berkelas. Apa dia wanita panggilan?"
Nyonya Zahirah hanya bisa menebak-nebak dengan pandangan merendahkan.
"Jeng, ada apa sih?" tanya temannya karena melihat nyonya Zahirah tampak seperti memperhatikan seseorang.
"Ah, nggak apa-apa," sahutnya lalu mengalihkan pandangannya dari Quin yang terlihat sedang tersenyum menatap Altaf dan Al.
Tak lama berselang, makanan dan minuman pesanan mereka pun di antar oleh waiters. Setelah menyajikan makanan dan minuman itu, waiters mempersilahkan mereka menyantap makanan itu.
"Thanks ya," ucap Quin dengan ramah dan di balas dengan anggukan kepala.
Tak lama berselang ponselnya bergetar, Quin melirik sekilas benda pipih itu di samping piring makanannya.
"Damar," desisnya lalu meraih benda pipih itu.
"Siapa Quin?" tanya Al.
"Damar," sahutnya.
Alis Altaf langsung bertaut. "Damar?" tanyanya.
"Hmm ... aku jawab dulu ya," pintanya lalu menggeser tombol hijau.
"Ya hallo, ada apa?" jawab Quin.
"Apa kamu di butik?" tanya Damar.
"Nggak ... aku lagi di La Quartier, bareng Al dan Kak Altaf. Kami baru saja mau makan siang," jawab Quin.
"Kebetulan banget, aku dan Adrian sebentar lagi nyampe," jawabnya dengan sembringah.
Quin melirik sekilas ke arah meja nyonya Zahirah.
"Hmm ... mamamu juga ada di restoran ini," balas Quin lalu terkekeh.
"Ck ... biarin saja," decaknya dengan malas.
"Ya sudah, aku tutup dulu telfonnya," kata Quin.
"Hmm ... tunggu aku dan Rian di situ," pintanya. Setelah itu ia pun mengakhiri sambungan telfon.
Haaah ... setelah Angga kini Altaf, Denis dan Tista, bahkan Fahry. Banyak banget sainganku untuk meluluhkan hati gadis itu.
Damar membatin dengan hela nafas panjang. Sedangkan Adrian hanya mengulas senyum mendapati sang Boss yang terlihat gusar.
Sesaat setelah tiba di parkiran restoran, Damar dan Adrian segera memasuki restoran itu.
"Tuan, nyonya juga ada di sini," kata Adrian.
"Ck, biarkan saja," decaknya. "Lagian kita bukan mau bergabung dengan emak-emak rempong itu, tapi di sana." Damar mengarahkan dagunya ke arah Quin, Altaf dan Al. Bahkan tak memperdulikan tatapan tajam dari sang mama.
Adrian melipat bibirnya menahan tawa.
Si boss bisa saja sih? Nggak takut kualat apa?
Adrian membatin dan mengekorinya dari belakang.
"Altaf, Quin, Al," sapanya lalu duduk di kursi berdampingan dengan Altaf lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Quin.
"Dasar genit," dumal Quin dalam hatinya lalu meneguk minumannya.
"Damar, Rian kalian sekalian pesan saja," tawar Altaf.
"Altaf, apa kalian memang janjian makan siang di sini?" selidiknya.
"Nggak, tadi kami habis meeting di kantor," jelas Altaf sambil mengiris steak-nya. "Memangnya kenapa?" tanyanya balik.
"Nggak apa-apa, aku mengira kalian memang janjian," sahutnya.
"Kepo," timpal Quin lalu terkekeh.
Damar menatap gemas padanya.
"Sepertinya penting," sahut Adrian.
"Banget," timpal Al.
"Oh ya?" sambung Damar.
"Ya, soalnya teamku harus memboyong Quin dan Al ke Singapura nantinya," jelas Altaf.
Damar mengerutkan keningnya menatap ketiga-nya bergantian.
Ck, jadwalku malah bertabrakan dengan Altaf. Padahal minggu depan aku akan mengajak Quin mengunjungi pabrik di kota M.
Tak lama berselang makanan pesanannya dan Adrian diantarkan lalu di sajikan. Mereka pun melanjutkan makan bersama. Sedangkan nyonya Zahirah dan teman-temannya tampak baru saja meninggalkan restoran itu.
Nyonya Zahirah begitu geram dengan kelakuan putra sulungnya itu. Bahkan tak menyapanya walaupun mereka berada di satu restoran yang sama.
Anak ini, dia lebih memilih langsung menyapa gadis itu daripada mamanya sendiri. Benar-benar keterlaluan!
Nyonya Zahirah membatin kesal lalu melanjutkan langkahnya. Sedangkan Quin, ia semakin merasa bersalah pada wanita paruh baya itu.
Satu jam berlalu ...
Setelah membayar bil makanan, Altaf kembali mengajak Quin dan Al meninggalkan restoran.
"Kami duluan ya," kata Altaf sesaat setelah berada di luar restoran.
"Apa kalian barengan?" tanya Damar.
"Iya, mobil kami tinggal di kantor kak Altaf," sahut Quin.
"Oh gitu ya," desisnya.
"Hmm," balas Quin. "Sudah sana! Kepo banget," gemes Quin lalu mendorong pelan punggungnya lalu terkekeh.
Altaf hanya memperhatikan keduanya dengan perasaan bengong.
"Sepertinya Quin dan Damar cukup dekat," batinnya. Namun sedikit getir karena ia juga masih berusaha mendekati gadis itu.
Setelah itu mereka pun meninggalkan restoran dan melanjutkan perjalanan menuju kantor Altaf untuk mengambil mobil dan akan melanjutkan perjalanan menuju butik.
Namun di pertengahan jalan, Quin meminta Al untuk mengantarnya ke apartemen. Setelah mengantar Quin di apartemennya, Al kembali melanjutkan perjalanannya ke butik.
"Haah ... hari ini benar-benar membuat perasaanku kacau," desis Quin sesaat setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
Ia meraih ponselnya lalu mengirimkan pesan untuk Damar.
βοΈ : Damar, malam ini aku pulang sedikit larut. Mungkin saja kita pulang bersamaan. Ingat malam ini jangan mabuk ya π€.
Setelah mengirim pesan, ia pun memejamkan matanya. Tak berselang lama, ia pun tertidur
*******
Malam harinya ...
Quin sudah tampak rapi dan sedang menunggu Al sambil menyeruput coklat hangatnya.
Ting ...
Satu notifikasi pesan masuk ke aplikasi WA-nya.
Ia mengulas senyum membaca pesan dari Al yang sudah menunggunya di depan gedung apartemen.
"Pokoknya malam ini, kita bersenang-senang," desisnya lalu meninggalkan unitnya menuju lift.
Sesaat setelah berada di loby, ia pun menghampiri mobil.
"Ayo, pokoknya malam ini kita bersenang-senang sepuasnya," kata Quin lalu terkekeh.
Al hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melajukan kendaraannya menuju Bautista Club'.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ