
Sudah satu jam-an Damar menunggu Quin di butiknya. Namun gadis yang sejak tadi ditunggu-tunggunya belum menampakkan batang hidungnya.
Ingin menghubungi ponselnya pun seolah percuma karena sejak dua bulan terakhir nomornya sudah tak pernah aktif.
Saat pikirannya lagi melayang memikirkan Quin, suara Al menyadarkannya.
"Damar, aku duluan ya," pamit Al sedangkan Jihan dan Gisha sejak tadi sudah pulang. "Nggak usah khawatir, Quin pasti datang," kata Al lalu mengulas senyum.
Damar hanya mengangguk. "Hati-hati ya, Al," kata Damar sembari mengantarnya sampai di depan pintu butik.
Setelah memastikan Al sudah menghilang dari pandangan matanya, ia pun kembali ke dalam butik.
Karena merasa bingung harus berbuat apa? Akhirnya ia membuka laptop yang biasa dipakai bekerja. Ia tersenyum saat melihat foto-foto Quin dan Al, Gisha juga Jihan. Senyumnya semakin sempurna saat mendapati foto mereka ketika berada di Jepang waktu itu.
Saking asiknya melihat-lihat foto di laptop, ia tak menyadari jika Quin sedang menghampirinya.
"Damar," sapanya.
Damar langsung mengarahkan pandangannya ke depan lalu mengulas senyum.
"Mendekatlah," pintanya sembari menepuk pahanya. Dengan patuh Quin hanya menurut lalu duduk di pangkuannya seraya mengalungkan kedua tangannya ke punggung lehernya.
"Ada apa?" tanya Quin.
Damar hanya menggelengkan kepalanya lalu menatapnya kemudian mengelus perutnya. Sontak saja ulahnya itu membuat Quin gugup.
"Pulang yuk," ajak Damar.
Quin tak menjawab, hanya mengulas senyum seraya mengelus rahangnya kemudian menyatukan keningnya dengan Damar.
Karena tak bisa menahan diri, Damar mencium bibirnya dan seolah menuntut.
Merasa Quin tak menolak bahkan membalas, ia sedikit merasa heran. Sedetik kemudian Quin melepas tautan bibirnya lalu mengusap bibir Damar.
Keduanya tak menyadari jika ulah mereka menjadi tontonan Angga. Sontak saja Angga merasa geram sekaligus cemburu.
"Ehem ... ehem ..."
Merasa ada yang berdehem Quin dan Damar langsung menoleh.
"Angga?!" sebut Damar dan tetap menahan Quin supaya tidak berdiri. Sengaja ia lakukan untuk membuat ex tunangan Quin itu kebakaran jenggot.
"Damar," bisik Quin sekaligus protes.
Damar kembali menatapnya lalu mengulas senyum. "Biarkan ... biar dia tahu jika kamu milikku," sahut Damar dengan percaya diri
Quin langsung mencubit perutnya. Ia bahkan belum pernah memberinya jawaban. Sedangkan Angga yang semakin menghampiri keduanya, tampak menautkan alisnya.
Bagaimana tidak, cincin bertahta batu zamrud yang melingkar di jari manis Quin, seketika membuat dirinya berspekulasi jika Quin dan Damar kini memiliki hubungan khusus.
"Quin, bisa bicara sebentar?" kata Angga.
"Sepertinya nggak ada yang perlu Quin bicarakan lagi denganmu," sahut Damar sekaligus mencegah Quin menjawab.
Mendengar sahutan dari Damar, Angga semakin kesal dan geram. Karena tak ingin keduanya terlibat adu mulut, Quin mengambil jalan tengah.
"Besok saja ya, soalnya aku mau pulang istirahat," kata Quin lalu menatap Damar sekilas. "Damar kamu juga pulang ya. Besok aku akan menyambangimu di kantor," bisiknya.
Setelah itu Quin berdiri lalu meminta Damar beranjak dari kursi. Ia pun memilih berada di tengah kedua pria yang sama-sama mencintainya itu, lalu menggandeng lengan Damar dan Angga di sisi kanan dan kirinya. Ia pun mengajak keduanya keluar sekaligus mengantar hingga ke parkiran.
"Kalian berdua pulanglah," pintanya dengan tegas lalu membuka pintu mobil Damar kemudian pintu mobil Angga.
Mau tidak mau, Angga dan Damar hanya menurut. Keduanya pun akhirnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sama-sama kecewa.
Sepeninggal Damar dan Angga, Quin menghampiri pintu butik lalu menutupnya. Tujuan selanjutnya ke apartemennya untuk beristirahat.
Beberapa jam berlalu tepatnya pukul 20.00 ...
Adrian yang kini berada di apartemen Al, tampak sedang menunggu gadis itu. Tujuan keduanya adalah ke apartemen Quin.
Setelah memastikan sudah tidak ada lagi yang ia lupa, Al kemudian mengajak Rian meninggalkan unitnya.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia melirik Al sekilas lalu mengulas senyum.
"Si boss pasti lagi happy banget," tebaknya lalu mulai melajukan kendaraannya itu.
"Pastinya, bahkan tadi dia rela menunggu hingga berjam-jam di butik. Ternyata pria Casanova sepertinya bisa takluk juga sama Quin," celetuk Al lalu terkekeh.
Adrian ikut terkekeh. "Apa kamu sudah memberitahunya dan Quin, jika kita akan ke apartemennya?" tanya Adrian.
"Belum, nanti saja," kata Al. "Lagian aku, Jihan dan Gisha memang ingin memberinya surprise dengan datang ke apartemennya. Nanti kamu saja yang hubungi Damar," cetus Al dan dijawab dengan anggukan.
Tak ingin berlama-lama, Adrian langsung menghubungi Damar jika ia dan Al juga Gisha dan Jihan akan ke apartemen Quin.
Suatu kebetulan, Damar yang sejak tadi memikirkan cara dan alasan karena ingin ke apartemen Quin, seolah mendapat angin segar. Tanpa pikir panjang ia langsung meluncur dengan pakaian seadanya menunggangi kuda besinya menuju ke apartemen gadis itu.
Apartemen Quin ...
Ia sedang duduk di dekat jendela besar kaca, sambil mengamati kesibukan kota J yang masih tampak sibuk.
"Sayang untuk beberapa hari kedepan, nggak apa-apa kita menghabiskan waktu bersama dengan daddy ya," desis Quin sambil mengelus perutnya.
Walaupun berat ia terpaksa meninggalkan Damar karena ia tidak ingin mama pria itu semakin membencinya.
Quin kembali larut dengan pikirannya, hingga suara Al yang menyapa langsung membuyarkan lamunannya.
"Quin," sapa Al lalu menghampiri sahabatnya itu. "Long time no see you. Kamu sangat merindukanmu, Quin," lirih Al lalu memeluknya. "Jihan dan Gisha sebentar lagi akan menyusul."
Quin mengulas senyum lalu berbisik, "Wah ... apa kamu dan Rian sudah jadian?" tanya Quin sambil melirik Adrian yang tampak sedang memperhatikannya dan Al.
"Ck ... nggak usah di bahas," elak Al lalu terkekeh.
"Loh kenapa? Kan bagus. Lagian Rian pria yang baik hanya saja dia sedikit kaku dan dingin. But believe me, biasanya pria seperti itu tipe pria yang penyayang dan setia," jelas Quin. "Jika aku amati dari sorot matanya ketika menatapmu, dia sepertinya sangat menyukaimu," pungkas Quin lalu tersenyum.
Al terkekeh lalu melirik ke arah Adrian. Setelah itu ia dan Quin menghampirinya. Tak berselang lama, bel pintu berbunyi.
"Sebentar, itu pasti Gisha dan Jihan," kata Al lalu menghampiri pintu. Dan benar saja tebakannya. Saat membuka pintu kedua gadis itu langsung tersenyum lebar sambil membawa makanan kesukaan sang majikan dan beberapa minuman ringan.
"Quin ... kami sengaja ke sini dan membawakan makanan kesukaanmu. Sudah lama kita nggak ngumpul seperti ini," kata Jihan.
"Wah ... thanks ya," ucap Quin dengan sembringah.
Sedangkan Adrian yang sedang duduk di sofa terlihat agak canggung karena hanya dia pria satu-satunya di ruangan itu.
"Ck ... tuan mana sih?! Kok lama banget! Aku jadi nggak enak sendiri di sini," gerutu Adrian dalam hatinya.
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ