101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 36



Malam semakin larut, namun Quin masih belum bisa memejamkan matanya. Bayangan sebulan yang lalu kembali bermain di benaknya.


Dan untuk yang kedua kalinya di tempat yang sama, ia kembali memergoki Angga dan Kinar di kamar itu.


"Oh Lord .... kenapa bernasib sama dengan mama? Sama-sama dikhianati pria brengsek dan wanita yang sedarah dengan perempuan laknat murahan itu? Miris banget." Quin tersenyum miris, mengejek pada dirinya sendiri.


"Tapi syukurlah, walaupun masih merasakan sakit, akhirnya aku bisa lepas juga dari pria brengsek itu," lirihnya lalu menatap jari manisnya yang kini hanya menyisakan bekas lingkaran.


Quin masih betah berada di balkon kamar sambil bersedekap dada. Hembusan angin yang menerpa, membuat rambutnya ikut melambai-lambai.


Memejamkan matanya dan mencoba untuk kuat. Kembali buliran kristal satu persatu jatuh dari ujung matanya tanpa bisa ia cegah.


Semakin lama buliran kristal itu semakin deras. Layaknya awan mendung yang seketika menurunkan hujan dengan derasnya.


Semakin lama tangisannya semakin terdengar pilu, hingga akhirnya ia benar-benar merasa puas, barulah ia berhenti, terdiam dan termenung.


Satu jam kemudian, tepatnya pukul 01.30 dini hari, Quin kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya.


Karena sudah merasakan kantuk akhirnya ia tertidur dan masuk ke alam mimpi.


********


Sementara di kediaman Damar, pria itu seperti terlihat mondar mandir merasa khawatir karena Quin belum pulang bahkan sejak tadi ia menghubungi nomor gadis itu, selalu di luar jangkauan.


"Quin ... jam segini belum pulang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia menginap? Lord ... jangan bilang Angga memberinya obat tidur seperti waktu itu dan ...."


Ia tidak melanjutkan kalimatnya bahkan membayangkan saja membuatnya ingin menghajar pria berdarah Tionghoa itu.


"Sh*it!!! No ... no ... please ... Lord lindungilah Quin," desis Damar merasa khawatir.


Karena merasa gelisah, akhirnya ia memutuskan naik ke rooftop untuk sekedar menenangkan pikirannya sejenak dan menyesap rokoknya.


"Besok pagi aku ke butiknya saja," gumamnya lalu menghembus asap rokoknya. Seketika ia teringat akan ucapan gadis itu siang tadi.


"Sepulang kantor, mau ya aku rapikan brewokmu ini sekaligus mencukur rambutmu. Kamu seperti Tarzan saja jika seperti ini."


Damar terkekeh mengingat ucapan gadis itu. Ia menghela nafas lalu kembali menyesap rokoknya.


Meninggalkan Damar yang lagi asik dengan pikirannya memikirkan Quin, beda halnya dengan Angga yang kini berada di club malam.


Sejak tadi, ia terus menenggak minuman keras. Pikirannya yang kacau, membuatnya seolah tak bisa berhenti meneguk minuman itu.


"Stop it!!" kata Denis sedikit merasa khawatir.


Namun Angga hanya bergeming tak peduli. Melihat temannya yang seolah tak peduli, Denis menghubungi Altaf supaya datang menjemput Angga.


Sambil menunggu, Denis menatap curiga pada temannya itu.


"Sebenarnya kamu kenapa? Kok kamu terlihat kacau banget," tanya Denis.


Lagi-lagi Angga hanya bergeming. Tidak mungkin ia menceritakan pada Denis apa sebenarnya yang terjadi.


"Ngga, apa kamu dan Quin bertengkar hebat?" selidiknya.


Angga bungkam seribu bahasa dan enggan menjawab bahkan memilih meneguk minumannya.


Dua puluh menit kemudian Altaf menepuk pundaknya dan menegurnya.


"Angga, ayo kita pulang," ajaknya lalu memapah sang adik yang mulai meracau tidak jelas dan terus menerus menyebut nama Quin.


Ketika dalam perjalanan pulang, Altaf mengerutkan alisnya, yang sesekali melirik adik bungsunya itu.


"Kenapa dia? Terlihat kacau banget. Apa dia bertengkar dengan Quin? Tapi kenapa?" Altaf bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


...----------------...


Sebelum lanjut, Author promosi novel dulu ya. Mohon dukunganya dengan gift jika berkenan, rate, vote, like dan ramaikan kolom komentar.


πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜˜



Ini sedikit cuplikan bab pertama, happy reading.


Bab 1: Syarat ...?


Azzura Azzura tampak menatap nanar ibunya yang sedang terbaring lemah di bed pasien.


Tangannya tak lepas terus menggenggam jemari ibunya yang tampak sedang tertidur dengan selang yang masih terpasang di hidungnya.


"Ya Allah ... aku harus bagaimana? Di mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi ibuku, termasuk perawatannya untuk kemo selanjutnya," lirihnya.


Air matanya mulai menetes memikirkan nasibnya dan ibunya.


"Gajiku sebagai barista nggak akan cukup untuk membiayai pengobatan ibu," isaknya dengan menatap wajah ibunya. "Bahkan uang pensiunan ibu dan almarhum ayah pun nggak bisa mencukupi," ucapnya dengan tersengal-sengal.


Zu melepas genggaman tangan ibunya, lalu mengecup kening wanita yang begitu ia sayangi itu.


"Bu, aku berangkat kerja dulu ya. Aku akan berusaha mencari pinjaman untuk biaya pengobatan ibu. Apapun itu, ibu harus sembuh supaya kita bisa bersama lagi," lirihnya.


Setelah itu Zu meninggalkan ibunya yang masih terbaring lemah dengan mata yang terus terpejam.


Dengan langkah gontai, Zu melangkah lunglai sambil memikirkan cara untuk mendapatkan pinjaman.


"Apa sebaiknya aku meminjam uang pada Nyonya saja ya? Walaupun harus menyicil membayarnya tidak masalah," desisnya.


Asik dengan pikirannya tiba-tiba ....


Bruuukk ....


Ia menabrak seseorang dan langkahnya terhenti lalu ia pun mendongak.


"Ah ... maaf Dok, saya nggak sengaja," sesalnya sambil menunduk lalu mengatupkan kedua tangannya di dada.


Sang dokter hanya mengulas senyum.


"Nggak apa-apa. Lain kali kalau jalan jangan melamun," pesan pak dokter lalu mengulas senyum.


Zu hanya mengangguk lalu berlalu meninggalkan pak dokter, menuju ke arah motornya di parkir.


*******


Sesaat setelah tiba di Cafe tempatnya bekerja, Zu menarik nafasnya dalam-dalam.


"Zu, semangat," ucapnya sambil mengangkat tangannya menyimbolkan semangat.


Ia pun melangkahkan kakinya memasuki cafe itu lalu langsung menyapa temannya yang lebih dulu tiba darinya.


"Aku mampir ke rumah sakit sebentar menjenguk ibuku," jawab Zu dengan seulas senyum.


"Bagaimana keadaan tante sekarang?"


Zu menghela nafas. "Ibu harus dioperasi, Nanda. Makanya saat ini aku lagi bingung cari pinjaman. Kamu tahu kan, biaya operasi kanker itu sangat mahal, belum lagi jika harus menjalani kemoterapi," jelas Zu dengan raut wajah sedih.


"Yang sabar ya, Zu. Nanti kami akan coba bantu dengan kumpul-kumpul uang," usul Nanda sambil mengelus punggung sahabatnya itu.


"Terima kasih ya, Nanda," ucapnya.


Keduanya kembali bekerja melayani pembeli yang sedang memesan minuman. Setiap hari cafe itu selalu ramai dikunjungi.


Setelah membuat minuman pesanan seseorang, Zu pun memanggil nama pemesan, namun sang pemesan tak kunjung menghampiri meja bartender cafe.


"Nan, ini yang mesan, orangnya mana sih?" tanya Zu. "Dari tadi aku panggil, orangnya tak kunjung kemari," kesalnya.


"Oh itu, gadis blasteran yang sedang duduk di sana," tunjuk Nanda mengarahkan telunjuknya ke arah gadis yang sedang memainkan ponselnya.


"Ngeselin banget sih? Nungguin sebentar saja nggak bisa," gerutunya lalu menghampiri Laura kekasih dari putra pemilik cafe tempatnya bekerja.


"Maaf ... permisi, Nona. Ini minuman pesanan Anda," ucap Zu lalu meletakkan cup minuman coklat pesanannya.


"Lama banget sih loe!" bentaknya dengan menatap tajam pada Zu.


"Maaf Nona Laura," ucap Zu mengalah.


"Segampang itu loe minta maaf, huh!! Apa kamu nggak tahu siapa aku?" bentaknya lagi dengan percaya diri.


"Tahu Nona Laura. Anda kekasihnya tuan Close," jawab Zu.


"Bukan cuma kekasih, tapi bakal jadi istrinya sekaligus calon menantu keluarga besar Kheil Brandon," ucapnya menyombongkan diri.


Zu hanya mengangguk.


"Huh!! Ngeselin banget! Jika saja kamu bukan kekasihnya Close, aku pasti sudah memakimu," gerutu Zu dalam hatinya lalu meninggalkan gadis blasteran itu.


********


Sore harinya ....


Dengan perasaan getir, Zu memberanikan diri melangkah ke arah ruang kerja sang nyonya besar.


Sebelum mengetuk pintu, ia menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaanya yang sedang getir lalu mengetuk pintu.


"Masuk," ucap suara dari dalam ruangan.


"Selamat sore Nyonya," sapa Zu dengan seulas senyum.


"Ah, Zu. Sore juga. Kemari lah," pinta sang Nyonya.


Zu mengangguk lalu duduk di kursi berhadapan dengan Nyonya Liodra.


"Ada apa, Zu?" tanya Nyonya Liodra dengan seulas senyum.


"Nyonya, saya ke sini ingin meminta bantuan Anda. Maksud saya .... eeemm ... saya ..."


Zu tampak ragu ingin mengutarakan niatnya.


"Katakan lah, jangan ragu," kata Nyonya Liodra.


"Nyonya, saya boleh nggak meminjam sejumlah uang pada Anda?" tanya Zu lalu menundukkan kepalanya.


"Meminjam uang? Tapi untuk apa Zu?" tanya Nyonya Liodra dengan alis yang saling bertaut.


"Untuk biaya operasi dan perawatan kemoterapi ibu saya, Nyonya. Ibu saya sakit kanker," lirihnya masih sambil menundukkan kepalanya. "Saya akan menyicil pembayarannya meski saya selamanya akan bekerja untuk Nyonya," sambungnya.


Senyum penuh arti terbit dari bibir tipis wanita cantik paruh baya itu.


"Zu, saya tidak akan meminjamkan kamu uang. Tapi saya akan membiayai semua perawatan ibumu selama dirawat. Tapi ada syaratnya," Nyonya Liodra menggantung ucapannya.


Zu langsung mendongak menatap sang Nyonya.


"Apa syaratnya, Nyonya? Saya akan menerima syarat itu demi melihat ibu saya bisa sembuh lagi," ucap Azzura.


"Menikahlah dengan putraku, Close, maka semua biaya pengobatan ibumu akan saya tanggung," tawar Nyonya Liodra.


Zu sangat terkejut dengan syarat yang di ajukan oleh Nyonya Liodra. Bukan tanpa alasan, dia tahu benar siapa Close. Pria angkuh, arogan, suka seenaknya terlebih ia sudah memiliki kekasih.


Azzura tampak menimbang-nimbang. Di satu sisi ia merasa takut namun di satu sisi lain ia sangat membutuhkan uang demi biaya operasi dan pengobatan lanjutan ibunya.


Namun demi kesembuhan ibunya, ia menerima syarat itu dengan terpaksa, walau sudah tahu resikonya seperti apa nantinya.


"Baik lah Nyonya, saya akan menerima syarat dari Anda," lirihnya. "Nyonya, izinkan saya tetap bekerja di cafe ini," pinta Zu dengan perasaan getir.


"Maafkan saya Zu. Semua ini saya lakukan karena saya tidak menyukai Close terus berhubungan dengan Laura. Entah mengapa saya tidak menyukai gadis itu," batin Nyonya Liodra. ia merasa bersalah pada gadis itu.


"Baik lah, jika hanya itu yang kamu inginkan," kata Nyonya Liodra.


Setelah itu, Zu berpamitan meninggalkan ruangan bu Liodra.


"Ya Allah ... Aku harus bagaimana? Sejak zaman kuliah, Close sangat membenciku bahkan tak segan-segan menghinaku. Apalagi jika dia tahu, wanita yang akan menjadi istrinya itu adalah aku dan bukan Nona Laura," lirihnya.


Zu terus melangkah hingga sampai di parkiran. Baru saja ia akan mengenakan helmnya, pria yang baru saja ada di benaknya itu melewatinya dengan tatapan benci. Entahlah apa yang membuat Close membencinya.


Hatinya semakin mencelos menatap punggung tegap putra sulung majikannya itu. Lagi-lagi ia menghela nafas kasar.


"Demi kesembuhan ibu, aku akan sekuat tenaga menghadapinya dengan lapang dada," lirihnya.


Ia pun menyalakan mesin motornya meninggalkan cafe itu menuju taman kota untuk sekedar menghibur dirinya.


******


Sesaat setelah berada di taman kota, Zu duduk bersandar di salah satu bangku taman. Ia mendongak, menatap langit yang mulai menggelap. Air matanya kembali menetes mengingat ibunya.


"Bu ... ibu harus sembuh. Jika ibu sembuh, aku janji akan mengajak ibu jalan-jalan ke puncak. Kita akan bernostalgia lagi mengenang semua kenangan kita dan ayah saat beliau masih hidup," lirihnya. "Bertahan lah bu. Jangan tinggalkan aku. Jika ibu meninggalkanku lalu aku sama siapa lagi nantinya," ucapnya dengan suara bergetar di sertai kristal bening yang jatuh dari kelopak matanya.


.


.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Mohon dukungannya ya, readers terkasih ....


Maaf author memaksa. Tanpa dukungan dari readers terkasih, siapalah author recehan seperti aku. Happy reading πŸ™πŸ˜ŠπŸ₯°πŸ˜˜