101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 54



Angga kembali melirik Quin, entah mengapa ia seakan tidak rela jika ex tunangannya itu benar-benar melabuhkan cintanya pada Damar.


"Sayang ..." belum sempat ia melanjutkan ucapannya Quin langsung memprotes.


"Aku kan sudah bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. I hate to hear it."


Angga tersenyum sinis merasa miris dengan penolakan Quin.


"Jadi kamu lebih memilih Damar, si pria player itu?!" kesalnya. "Apa jangan-jangan kamu juga menjalin hubungan dengannya di belakangku?" tuduhnya.


Quin langsung menatapnya dengan sinis. "Jika iya, kenapa? Bukankah kita sama-sama impas?" sindir Quin.


"So ... video kiriman saat kamu dan Damar di butik waktu itu, benar?" tebak Angga.


Seketika alis Quin bertaut dan tampak bingung.


"Video? Maksudnya saat aku dan Damar di butik ... apa jangan-jangan ..." Quin membatin sambil mengingat-ingat. "Aku ingat. Mungkin Kinar yang merekam kami saat itu diam-diam. Apalagi, saat itu Angga tiba-tiba saja marah tanpa alasan yang jelas." Sedetik kemudian ia malah tersenyum dan sengaja membenarkan ucapan Angga.


"Menurutmu? Jika kamu sudah tahu lalu kenapa bertanya? Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama dengan ja*lang mu itu," sinis Quin.


"Jadi, kamu lebih memilih pria player sepertinya?! Apa kamu nggak takut jika dia menyakitimu?!" cecar Angga dengan begitu kesalnya.


Lagi-lagi Quin tersenyum sinis seolah mengejek lalu menatapnya.


"Listen to me, Angga. Jika aku di suruh memilih di antara pria player dan pria baik-baik, aku lebih memilih pria player," tegasnya.


Angga cukup terkejut mendengar ungkapan Quin lalu mengetatkan rahangnya.


"Kamu mau tahu alasannya kenapa?" tanya Quin dan Angga hanya bergeming menatapnya.


"Karena aku sudah tahu dianya memang seperti itu. Setidaknya pria player tidak munafik seperti dirimu. Karena yang mereka cari hanya kepuasan hasrat semata. Mereka tidak pernah mau berkomitmen karena mereka berjiwa bebas dan nggak suka diatur," jelas Quin. "Sedangkan pria baik-baik." Quin terlihat menghela nafasnya lalu tersenyum sinis. "Mereka belum tentu setia dan terlihat memang baik, tapi penuh dengan misteri dan kepalsuan. Bahkan lebih munafik daripada seorang player yang notabene sudah terlihat jelas karakternya," pungkas Quin lalu kembali mengalihkan pandangannya dari Angga.


Lagi-lagi Angga terpekur, tertunduk lesu, bahkan lidahnya keluh mendengar ungkapan bernada sindiran pedas dari gadis berdarah Jepang itu. Ia cukup tertohok dan merasa dikuliti.


"Tapi, satu hal yang perlu kamu ketahui tentang sisi lain seorang pria player. Jika mereka menemukan pasangan yang cocok di hati mereka, maka mereka akan berkomitmen hanya pada satu wanita itu saja. Intinya mereka akan menjadi pria yang sangat setia dan posesif pada pasangannya," tegas Quin.


"Ah sudahlah, hari sudah mulai gelap, sebaiknya kamu pulang saja. Lagian aku juga harus bersiap-siap karena harus menghadiri undangan dari kak Altaf," imbuhnya lalu berdiri kemudian berbalik.


Betapa terkejutnya ia saat mendapati Damar sedang berdiri di belakangnya sambil menatapnya dengan senyum manisnya.


"Damar," lirih Quin. "Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya.


"Baru saja," bohongnya. Padahal sejak tadi ia sudah berada di taman itu, namun ia tak langsung menyapa karena mendengar perdebatan Quin dan Angga.


Ada secercah harapan baginya, karena secara tak langsung Quin lebih membelanya daripada Angga.


Mendengar suara Damar, Angga juga berdiri lalu berbalik menatapnya dengan tatapan menghunus tajam. Tangannya langsung terkepal dengan rahang mengetat menahan amarah.


Ditambah lagi, melihat penampilan Damar yang sudah kembali seperti dulu. Pesona seorang player yang begitu lekat dengan dirinya kini semakin terpancar jelas.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya basa basi.


"Nggak, pembicaraan kami sudah selesai. Aku baru saja akan pulang," kata Quin lalu meraih tasnya dan tak sengaja ekor matanya melihat cup es boba satunya yang masih utuh.


"Oh ya, aku lupa memberikan ini padamu tadi," kata Quin lalu menyodorkan cup es boba itu pada Angga dengan senyum manisnya.


Setelah itu ia menghampiri Damar lalu memeluknya dengan gemas.


Lagi dan lagi, ulah dan panggilan spontan itu membuat dada Damar berdebar kencang. Ia malah berharap panggilan Honey itu akan berlanjut.


Sedangkan Angga kembali menatap kesal ketika Quin yang tanpa ragu mendekap erat tubuh Damar.


"Jangan membuatku dilema seperti ini Quin," bisiknya sambil mengelus punggung gadis itu.


"Jangan tanggapi serius, ini hanya akting saja," balas Quin.


"Kamu harus bertanggung jawab."


"Ck ... sudah ah! Ayo kita pulang," cetus Quin lalu mengurai pelukannya.


Damar kembali mengarahkan pandangannya kepada Angga lalu mengulas senyum.


"Bro, aku dan Quin duluan ya. Sampai bertemu di acaranya Altaf nanti," pesan Damar lalu menautkan jemarinya pada Quin.


Setelah itu, ia dan Quin melangkah kecil meninggalkan Angga yang masih berdiri di tempat dan hanya menjadi penonton keduanya.


Ia menatap cup es boba minuman favorit ex tunangannya itu dengan perasaan geram.


"Quin ... tersenyumlah semanis mungkin pada Damar. Kita lihat saja nanti, apakah kamu masih bisa bertahan untuknya atau kembali lagi ke dalam pelukanku," desisnya dengan seringai penuh arti.


Sedangkan Quin dan Damar yang kini sudah berada di parkiran terlihat sedang membicarakan sesuatu.


"Damar, sebaiknya kita ke butik dulu. Aku akan memilih setelan jas yang cocok untukmu untuk ke acara peluncuran produk baru kak Altaf," tawar Quin.


"Baiklah ... dengan senang hati," kata Damar dengan sembringah.


"Oh ya, apa kamu nggak mengajak Adrian?" tanya Quin.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu, tapi ini berhubung acaranya formal di tambah lagi perusahaanku salah satu yang menjadi sponsor, so ... dia harus ikut," jelas Damar.


Quin terkekeh mengerti maksud pria tampan itu.


"Tenang saja, aku juga menjadi tamu di acara itu. Kita akan bertemu di sana nanti. Aku bareng Al," timpal Quin.


"Hmm ... ya sudah, aku duluan ya," kata Damar dan dijawab dengan anggukan kepala Quin.


Begitu Damar meninggalkannya, Quin kembali menghampiri mobilnya. Sebelum membuka pintu mobilnya, ia menghela nafasnya mengingat ucapannya barusan.


"Haaah ...Quin ... mungkin kamu sudah gila lebih memilih pria player daripada pria baik-baik," desis Quin merasa lucu lalu terkekeh. "Tapi pada kenyataannya memang pria player nggak munafik karena mereka memang real melakukan seperti keinginannya mereka sendiri."


Setelah itu, Quin membuka pintu mobilnya lalu duduk di kursi kemudi. Lagi-lagi ia bersandar sejenak sambil tertawa, merasa lucu mengingat pembicaraannya dengan sahabatnya tadi siang.


"Nggak kebayang, sudah berapa banyak wanita yang menjadi pelampiasan hasratnya," gumam Quin. "Damar ... Damar, dasar pria pemaksa, menyebalkan," gumamnya lagi lalu mulai melajukan kendaraannya menuju butiknya.


Sambil menyetir, Quin teringat mama Meilan. Seketika perasaannya menjadi sedih membayangkan wajahnya.


"Mah ... maafkan aku. Bahkan sejak memutuskan pertunangan dengan Angga, kita belum bertemu sama sekali," lirih Quin.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜