101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 44



Seperti kemarin sore, setelah Damar tiba di halaman parkir rumah, senyumnya langsung mengembang saat mendapati mobil Quin terparkir rapi di samping motornya.


"Sudah pulang rupanya," desisnya lalu membuka pintu mobil.


Sesaat setelah berada di dalam rumahnya, Damar langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tiga puluh menit kemudian ...


Ia keluar dari kamarnya lalu menghampiri kamar Quin lalu membuka pintunya. Hatinya langsung menghangat menatap wajah teduh gadis itu.


Sebelum menghampirinya, ia kembali menutup pintu lalu melangkah pelan ke arah Quin lalu duduk di sisi ranjang.


"Quin, kamu membuatku khawatir," desisnya seraya mengelus kepalanya. "Ke mana saja kamu tadi? Kenapa di saat ada masalah kamu memilih menjauh bahkan ponselmu nggak bisa dihubungi seperti tiga hari yang lalu," gumam Damar.


Sedetik kemudian ia ikut berbaring lalu membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Quin, aku ingin kamu menjadi ratu di hati dan hidupku," bisiknya lalu mengecup keningnya.


Biasanya Quin akan terusik dengan brewoknya. namun tidak kali ini. Ia malah seperti putri tidur dan tak merespon sama sekali.


Mungkin karena efek lelah bermain di wahana ekstrim tadi sore.


"Tumben, biasanya dia langsung merespon lalu protes," gumam Damar lalu terkekeh. Alih-alih melepasnya ia semakin mendekap erat tubuh gadis itu.


Tak lama berselang, pintu kamar di ketuk. Mau tidak mau Damar kembali melepas dekapannya. Dengan malas ia beranjak dari ranjang Quin lalu membuka pintu.


Seketika matanya langsung membulat menatap sang adik yang kini sedang berkacak pinggang menatap penuh selidik padanya.


"Sofia?"


"Hayooo ... ngapain kakak di kamar kak Quin?" cecar Sofia sambil menyipitkan matanya.


"Nggak ngapa-ngapain," jawabnya dengan santai lalu keluar dari kamar itu kemudian menutup pintunya.


Karena penasaran, Sofia mengikuti langkah sang kakak. Apalagi Damar hanya bertelanjang dada.


"Kak! Tungguin!" pekiknya dengan kesal.


Damar seolah menulikan telinganya dan terus melangkah menuju rooftop.


"Ck ... ngeselin banget sih, kak Damar," ocehnya.


Sesaat setelah berada di rooftop, Damar malah berbaring selonjoran di kursi santai dengan kedua tangannya di jadikan bantal.


"Kak ..." panggil Sofia lalu duduk di kursi satunya.


"Hmm ... ada apa sih?!"


"Kakak ngapain sih, di kamar kak Quin? Mana pamer otot lagi," ledek Sofia.


"Bocil nggak perlu tahu?" ledeknya balik.


"Iiiiihhhh ... aku bukan bocil tahu!!" kesal Sofia lalu mencubit perut kakaknya.


"Sssttt ... sakit tahu," ringis Damar. "Ada apa kamu kemari?"


"Nggak apa-apa? Aku hanya ingin bertemu kakak saja," kata Sofia. "Kebetulan aku lewat sini jadi sekalian mampir.


Damar hanya mengangguk. Sedetik kemudian ia mengajak adiknya itu turun ke lantai dasar.


Sedangkan Quin ... ia baru saja membuka matanya lalu menatap langit-langit kamar.


"Lord ... badanku pegal banget," lirihnya lalu merubah posisinya dengan tengkurap. "Cih!! Ngeselin banget," decihnya merasa kesal mengingat kejadian tadi siang.


Sedetik kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar ke teras balkon kamar.


"Rasanya aku pengen menyendiri saja tanpa ada yang tahu," lirihnya sambil memejamkan matanya.


Karena merasa bosan berada di kamar akhirnya Quin meraih tas kerjanya beserta buku gambar dan memutuskan naik ke rooftop.


Sesaat setelah berada di rooftop, Quin mengeluarkan laptopnya lalu mengecek email. Setelahnya ia mulai menggambar.


Tak lama berselang di saat ia sedang serius, ponselnya bergetar, saat melirik siapa yang memanggil senyumnya langsung terbit di bibirnya.


"Kak Juna," lirihnya lalu meraih benda pipihnya.


"Ya hallo, Kak," jawabnya.


"Quin, bagaimana kabarmu?"


Arjuna terkekeh mendengar pertanyaan sang adik lewat benda pipih itu.


"Ya, kami baik dan sehat-sehat saja di sini. Kapan kamu akan kemari lagi? Apa di musim gugur nanti?"


"Entahlah kak. Rasanya aku pengen tinggal di Jepang saja. Sayangnya pekerjaanku sangat menuntut di sini," keluhnya.


Arjuna mengerutkan keningnya.


"Quin, apa kamu sedang ada masalah?" cecar sang kakak.


"Nggak kak," bohongnya. "Hanya saja aku sangat merindukan kota Osaka. Oh ya, Kak ... sudah dulu ya. Soalnya aku masih ada pekerjaan. Salam untuk kak Yura dan Ayumi."


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, jangan lupa kabari kakak jika hari H mu akan digelar," pesan Juna.


"Siap kak," balasnya lalu memutuskan panggilan.


Quin hanya bisa menghela nafas lalu menengadah menatap langit yang bertabur bintang.


"Andai kak Juna tahu yang sebenarnya, aku yakin kakak pasti akan menghajar pria brengsek itu. Maaf kak, pernikahanku nggak akan pernah terjadi dan berlangsung dengan pria bajingan itu. Persetan dengannya!!" geram Quin sambil menggenggam ponselnya.


Sementara di meja makan, Sofia dan Damar tampak sedang menikmati makan malamnya. Sesekali ia melirik ke arah pintu kamar Quin yang masih tertutup rapat.


Ia mengira jika gadis itu masih tertidur namun nyatanya ia kini sedang berada di rooftop rumah.


Beberapa menit kemudian setelah selesai makan, akhirnya Sofia berpamitan.


"Kak, aku pulang dulu," izinnya, setelah keduanya berada di halaman parkir.


"Hmm ... hati-hati. Langsung pulang ya, jangan singgah-singgah lagi," pesan Damar.


Sofia hanya mengangkat kedua jempol tangannya.


Setelah memastikan kendaraan adiknya mulai menjauh, Damar kembali menapaki anak tangga menuju kamar Quin.


"Kok nggak ada," lirihnya setelah membuka pintu. "Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya. "Apa di rooftop ya," tebaknya lalu menyusul ke atas.


Tebakannya benar saat mendapati Quin tampak masih berdiri di pagar kaca pembatas. Dengan langkah kecil ia menghampiri Quin.


"Quin ..." sapanya dengan seulas senyum.


Quin berbalik lalu menatanya sambil menggelengkan kepala.


"Mr. Brewok, nggak dingin apa?" tanya Quin. "Nggak takut masuk angin?" ia terkekeh.


"Nggak," jawabnya singkat lalu merangkul pinggangnya merapatkan tubuhnya.


"Ck ... apa-apaan sih kamu?" protes Quin.


"Mau memelukku?" tawarnya dan Quin bergeming menatapnya.


"Ke mana saja kamu tadi siang? Aku khawatir karena kehilangan jejakmu. Maaf, aku nggak sengaja mendengar pembicaraan kalian di butik tadi," aku Damar. "Apa kamu nggak ingin share sesuatu padaku," cetus Damar seraya mengelus pipi mulus Quin dengan sayang.


"Apa yang harus aku share jika kamu sudah mendengar semuanya tadi," lirih Quin.


"Mengenai tiga hari yang lalu," bisik Damar yang tampak masih penasaran.


Seketika mata Quin mulai berkaca-kaca. Sebenarnya ia benci mengingat kejadian itu. Ia mendekap erat tubuh pria brewok itu lalu berbisik,


"Aku membenci keduanya."


"Maksudmu?"


"Angga dan wanita ja"lang itu," lirih Quin. "Aku kembali memergoki mereka."


"Quin ..." desis Damar.


"Aku nggak tahu kenapa mereka tega mengkhianatiku," lirihnya lagi.


Damar hanya bergeming namun ada senyum tipis di bibirnya.


The game will start. Angga ... kamu sudah membuang sebuah berlian. Akan aku pastikan kamu menyesalinya.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜