
Di tengah perjalanan, ponsel Quin kembali bergetar. Ia pun menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan lalu meraih ponselnya.
"Papa," lirihnya. Ia pun memasang headset lalu menjawab panggilan dari sang papa.
"Ya, hallo pa," jawab Quin.
"Sayang, mampirlah sebentar ke rumah. Papa ingin bicara."
"Besok saja pa, lagian aku capek baru pulang dari butik," bohongnya.
"Sayang, bisa nggak, sekali saja jangan membantah papa," kata pak Pranata.
Bagaimana aku nggak membantah jika papa hanya mementingkan diri sendiri.
"Sayang, apa kamu masih mendengar papa?"
"Ya ... baik lah, aku ke rumah papa sekarang."
Dengan terpaksa Quin memutar balik mobilnya menuju kediaman papanya.
.
.
.
Setibanya ia di kediaman papanya, Quin menghela nafasnya dengan kasar.
Ketika ia menuju ruang tamu, Angga sudah berada di ruangan itu.
"Sayang, kemari lah, Nak," pinta bu Fitri yang ingin memeluknya.
Bukannya menyambut, Quin malah mengabaikan keinginan wanita paruh baya itu dengan memutar bola matanya malas.
"Jangan pernah memanggil ku, Nak. Because i'm not your daughter," ketus Quin.
"Sayang, jangan bersikap tidak sopan pada Mama mu," tegur pak Pranata.
"What?! Mama? Noooo ... dia bukan mamaku melainkan orang asing," ketus Quin lalu duduk di samping Angga.
Pak Pranata hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan tidak bersahabat dari putri bungsunya itu.
Sedangkan bu Fitri, merasa sangat kesal mendengar ucapan Quin. Bukan tanpa alasan, baik Quin dan Arjuna keduanya tidak menyukai ibu sambungnya itu.
"So ... ada apa Papa memanggilku kemari," tanya Quin to the poin.
"Sayang, kata Angga, kamu ingin menunda pernikahan kalian hingga tahun depan. Apa itu benar?" tanya papanya.
"Iya, Pah. Aku merasa belum siap saja," tegas Quin.
"Sayang, sudah dua kali kamu menunda pernikahanmu. Jangan sampai ujung-ujungnya kamu malah membatalkannya," timpal bu Fitri.
"Jika pun terjadi, itu artinya aku dan Angga nggak berjodoh," tegas Quin dengan santainya.
"Sayang, kamu ngomong apa sih?!" kesal Angga.
"Nggak, itu kan, hanya berandai-andai saja, Sayang," ucap Quin dengan seulas senyum. "Oh ya, Kinara mana ya? Tumben nggak kelihatan," tanya Quin.
"Mungkin sebentar lagi dia pulang," jawab bu Fitri.
"Gitu ya. Jika sudah tidak ada yang ingin di bahas, aku mau pulang," kata Quin.
"Sayang, apa nggak sebaiknya kamu menginap saja di sini?" tawar pak Pranata.
"Next time saja, Pah," tolak Quin. Ia melirik Angga. "Sayang aku duluan ya," pamitnya.
"Kita bareng saja," usulnya.
"Ok."
Quin menghampiri papanya lalu menyalaminya. Setelah itu, ia berlalu begitu saja mengabaikan tangan bu Fitri.
Lagi-lagi penolakan Quin membuatnya jengkel.
Anak ini, benar-benar ya, semakin hari semakin membuatku kesal.
"Om, Tante, aku dan Quin pulang dulu ya," pamit Angga.
"Baik lah, kalian hati-hati ya, Nak. Om titip Quin padamu," pesan pak Pranata.
"Iya, Om."
Sedangkan Quin saat ia berada di ambang pintu, ia berpapasan dengan Kinara yang baru saja akan masuk.
"Loh Quin, udah mau pulang?"
"Menurutmu?" ucap Quin lalu meninggalkannya.
"Angga?" sapa Kinara dengan sembringah.
Namun Angga tidak membalas sapaannya melainkan mempercepat langkahnya, ditambah lagi mobil Quin yang sudah menjauh.
"Cih! Ngeselin banget sih!!" kesalnya sambil menghentakkan kakinya.
.
.
.
Setibanya Quin di apartemennya, ia langsung masuk ke kamarnya lalu merebahkan dirinya yang terasa lelah.
"Lord ... i'm so tired," lirihnya sambil memejamkan matanya.
Sedetik kemudian, ia bangkit lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak lama berselang, Angga yang baru saja tiba, meletakkan paper bag berisi box makanan di atas meja makan.
Ia pun melepas jasnya lalu meletakkan di atas sofa kemudian masuk ke kamar Quin.
"Sayang ..." bisiknya lalu mengecup kening dan bibir Quin.
Sontak saja kecupan itu membuat Quin perlahan membuka matanya.
"Sayang ..." lirihnya lalu memeluk Angga.
"Maaf, sudah membuatmu kesal dan marah," bisik Angga semakin membawa Quin masuk ke dalam pelukannya.
Quin hanya bergeming namun air matanya langsung lolos begitu saja.
"Sayang, awalnya aku begitu mencintaimu, menyayangimu bahkan sangat mempercayaimu, tapi kenapa kamu tega mengkhianatiku?" batin Quin.
"Sayang ... tell me your reason," bisik Angga lalu kembali mengecup puncak kepala Quin.
"Aku merasa belum siap saja," balas Quin
"Nggak apa-apa, aku akan tetap menunggu mu," kata Angga.
Menunggu lah semau yang kamu ingin.
.
.
.
Kediaman Damar .....
"Semua pria sama saja, belum lagi yang gemar gonta ganti pasangan hanya untuk memuaskan hasrat semata. Menjijikkan dan aku benci dengan sebuah pengkhianatan."
Ucapan menohok Quin, masih tergiang-ngiang di telinga Damar.
"Sepertinya dia tipe wanita yang setia," gumam Damar lalu mengulas senyum. "Boutique QA Design? Sepertinya setelan jas yang aku kenakan kemarin malam adalah designnya. Sepertinya aku harus menjalin kerjasama dengannya."
"Nak Damar, makan malamnya sudah saya siapkan," kata bi Yuni.
"Terima kasih, Bi," ucap Damar. "Oh ya, Bi, tolong rapikan kamar di sebelah kamar aku ya," pintanya.
"Apa akan ada tamu?'' tanya bi Yuni.
"Ya, Bi. Tamunya akan tinggal di sini selama 101 hari di sini," jelas Damar.
Walaupun sedikit penasaran namun bi Yuni tak berani menanyakan lebih lanjut.
"Baik lah, Nak. Bibi akan rapikan kamarnya sekarang," cetus bi Yuni.
"Oh ya, Bi. Aku mau selama tamuku tinggal di sini tolong perlakukan dirinya dengan baik dan layani dia sebaik mungkin," pinta Damar.
Bi Yuni kembali mengangguk lalu meninggalkan Damar.
Sepeninggal bi Yuni, lagi-lagi sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan.
Tak lama berselang Sofia menyapanya.
"Kak! Mikirin apa sih? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Sofia.
"Kepo," ucap Damar lalu menggerakkan tuas kursi rodanya.
"Kepo dikit nggak apa-apa kan," sahut Sofia sambil cengengesan.
"Besok juga kamu akan tahu? Oh ya, ada apa kamu ke sini?" tanya Damar.
"Nggak apa-apa, hanya ingin menjenguk kakak saja," imbuh Sofia.
"Sebaiknya kita makan, lagian aku sudah lapar," cetus Damar.
.
.
.
"Terima kasih sudah membawakan makan malam," ucap Quin.
"Sama-sama, Sayang," kata Angga.
Keduanya pun terlihat menyantap makan malam di selingi obrolan kecil. Setelah selesai menyantap makan malam, keduanya pun duduk di sofa.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Quin.
"Semuanya baik-baik saja. Sayang, aku ingin mengajakmu jalan-jalan akhir pekan ini."
"Kita lihat saja nanti. Soalnya minggu ini jadwalku benar-benar padat. Tapi nggak usah khawatir, aku akan kabari jika aku nggak sibuk," jelas Quin.
"Baik lah," kata Angga.
"Sayang, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Lagian kamu pasti sangat lelah," usul Quin.
"Aku ingin menginap, boleh ya, Sayang," bujuknya.
Quin mengulas senyum lalu menggeleng. "Nggak boleh, lain kali saja ya," tolak Quin.
Lagi-lagi Angga menghela nafas kecewa.
"Sayang, jangan cemberut begitu, senyum dong," pinta Quin. "Ayo aku antar sampai depan pintu."
"Nggak usah Sayang," bisik Angga lalu memeluknya dan mengecup bibirnya.
...****************...