101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 26



Ostay Vermillion Namba, Pukul 19.20 waktu Osaka Jepang ...


"Haaaaah ...akhirnya aku bisa beristirahat juga," kata Al dan langsung menghempaskan dirinya di atas ranjang empuk.


Sedangkan Quin, ia hanya terkekeh melihat sahabatnya itu.


"Quin, please jangan ganggu aku ya. Aku masih jetlag," desisnya seolah tak ingin di ganggu.


"Hmm ... istirahat lah, besok saja kita jalan-jalan," jawab Quin yang sedang menonton sambil menyeruput teh hangat.


Tak lama berselang ponselnya bergetar.


"Ck ... siapa sih, ganggu kesenanganku saja," decak Quin sambil menggerutu kesal. Dengan malas ia beranjak lalu meraih ponselnya yang berada di atas kasur.


"Nomor baru? Tapi siapa? Yang tahu nomor ini cuman kak Juna dan kak Yura, Al dan Angga," gumamnya.


Karena tidak tahu siapa pemilik nomor itu, ia hanya membiarkan saja. Pikirnya mungkin orang salah nomor.


Ia kembali lanjut menonton. Lagi-lagi ponselnya bergetar dan ia hanya membiarkannya saja.


Sedangkan orang yang sedang menghubunginya hanya tersenyum penuh arti.


"Awaaas saja kamu ya," ucapnya dengan gemas lalu terkekeh dan memilih mengirim DM kepada gadis itu.


βœ‰οΈ : Cepat kemari, tepatnya di Apartemen Ostay Vermillion Namba lantai sembilan.


Quin yang sedang asik menonton kembali berdecak kesal dan beranjak dari tempat duduk menghampiri ranjang meraih ponselnya.


"Ini lagi! Pesan dari nomor yang tadi?" gumamnya lalu membuka pesan itu. Matanya langsung membulat saat membaca pesan itu.


Ia langsung menghubungi nomor itu dan benar saja hanya di deringan pertama Damar langsung menjawab panggilannya.


"Ya ... hallo Quin," jawabnya dengan hati yang berbunga-bunga.


"Apa kamu beneran ada di Jepang sekarang?" bisiknya bertanya seolah tak percaya.


"Menurutmu?"


"Apa?!!! Jangan bercanda kamu," kesal Quin.


Damar terkekeh lalu bergumam dalam hatinya. "Aku tidak sedang bercanda, Baby."


"Mr. Brewok!!!"


"Ya, i hear you Quin," jawabnya lalu terkekeh. "Cepetan kemari. Selama aku di sini kamu juga harus tinggal bersamaku."


"What!!! Yang benar saja kamu!! Apa kamu sudah gila? Al ada bersamaku," jawab Quin dengan kesal.


"Pokoknya aku nggak mau tahu. Urusan Al nanti kita atur. Apa kamu nggak mengingat kontrak kita 101 hari, jadi saat kemarin nggak kehitung."


Quin mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya.


"Baik lah, aku ke sana sekarang," jawabnya dengan malas lalu memutuskan panggilan secara sepihak.


Sedangkan Damar ia hanya terkekeh membayangkan wajah kesal gadis itu.


Tak lama berselang Adrian muncul membawa makanan. "Tuan, ini makan pesanan Anda," kata Adrian lalu meletakkan paper bag makanan di atas meja lesehan.


"Hmm ... Oh ya, Rian selama aku bersama Quin jangan panggil aku Tuan, tapi Pak saja. Ingat jangan sampai lupa," peringatnya.


"Baik Tuan. Kalau begitu, saya pamit," izinnya.


Damar hanya mengangguk. Adrian pun meninggalkanya lalu ke unitnya yang hanya bersebelahan dengan unit Damar.


Beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi. Bahkan tanpa jeda.


"Siapa sih!! Nggak sopan banget!" gerutu Damar lalu menghampiri pintu lalu membukanya.


Matanya langsung membulat menatap siapa yang menekan bel bertubi-tubi tanpa jeda.


"Quin," desisnya.


Sedangkan yang ditatap, sedang berkacak pinggang dengan menyipitkan matanya lalu mencebikkan bibirnya.


"Pakaian mu kok seperti itu?" tanya Damar dengan heran, karena Quin hanya mengenakan piyama celana pendek sepaha.


"Ini semua karena mu," kesalnya lalu melangkah masuk ke unit Damar lalu menutup pintu.


"Kenapa karena ku?" Damar terkekeh.


"Karena kamu mendesakku ke sini," omelnya.


"Alasan," ucapnya lalu menatap Damar.


Keduanya terdiam sejenak, sebelum akhirnya Quin menghampirinya lalu mendorong kursi rodanya ke arah meja lesehan ruang tamu apartement.


"Ayo, aku bantu berdiri dan duduk di sini," tawar Quin.


"Thanks," ucapnya dan matanya tak lepas menatap gadis itu.


"Ayo, pelan-pelan," bisik Quin menahan tubuh besar Damar hingga ia benar-benar duduk di lantai.


Quin kembali menatapnya lalu menggelitik telapak kaki pria brewok itu hingga membuatnya cekikikan.


"Ini hukuman, karena kamu sudah memaksaku ke sini dan terpaksa meninggalkan Al sendiri di bawah," jelasnya lalu berhenti menggelitik telapak kaki Damar.


"Maksudmu di bawah ..."


"Ya, karena kita berada di satu gedung apartemen yang sama. Jaraknya hanya 4 lantai dari sini."


"Really?"


"Hmm ... aku nggak menyangka jika kamu benar-benar berada di sini," kata Quin lalu duduk di sampingnya kemudian mengeluarkan makanan dari dalam paper bag lalu menatanya.


Damar hanya menatapnya dalam diam dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Hatinya kembali menghangat dengan perhatian kecil dari gadis itu.


Setelah selesai menata makanan, Quin menoleh lalu menaikkan kedua alisnya lalu bertanya,


"Why." Namun Damar hanya bergeming. Tangannya malah terulur menyentuh pipi gadis itu lalu mendekatkan wajahnya.


"Noooo ... stop!!" Quin menahan dada liat berotot pria tampan itu lalu menggelengkan kepalanya.


Quin merasa geli menatap brewok dan kumis lebat Damar. Ia mengatupkan bibirnya menahan tawa.


Damar gimana sih! Eeeewww ... geli banget jika brewok dan kumisnya menempel di bibir dan wajahku ini. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


"Quin apa yang kamu pikirkan?" batinnya.


"Ehemmm," Quin sengaja berdehem sekaligus membuyarkan tatapan lekat Damar padanya. "Sebentar, aku cepol dulu rambutmu ya. Setelah itu kita makan," saran Quin.


Damar hanya mengangguk lalu membiarkan Quin mencepol rambut gondrongnya.


"Sudah."


"Thanks," bisik Damar.


Quin mengangkat jari jempolnya. Setelah itu keduanya menyantap makanan mereka hingga tuntas.


Setelah selesai makan malam Quin dan Damar terlihat bersantai sejenak sebelum akhirnya Damar meminta Quin mengantarnya ke kamar.


Sesaat setelah berada di dalam kamar, Quin membantunya berpindah ke ranjang lalu duduk di sisinya.


"Damar istirahatlah, aku tahu kamu pasti lelah. Apalagi perjalanan dari kota J ke Jepang memakan waktu yang cukup lama."


"Tapi aku belum mengantuk. Temani aku sebentar sampai aku tertidur," pintanya dengan harap.


"Baik lah."


"Oh ya Quin. Besok kamu harus berada di sini selama seminggu kedepan," tegas Damar.


"Baik lah, Mr. Brewok. Aku pun nggak mau rugi jika gajiku di potong," kelakarnya lalu terkekeh. "Oh ya, besok kan, HUT perusahaan papa mu, kenapa kamu malah berlibur?"


"Ck ... biarkan saja," jawabnya dengan cuek lalu menyalakan tv.


Keduanya sama-sama menonton dan di selingi dengan obrolan kecil bahkan sesekali bercanda. Hingga satu jam kemudian suara Quin sudah tidak terdengar dan kepalanya malah perlahan jatuh ke pundak Damar.


"Quin ..."


"Hmm ... aku ngantuk," bisiknya lalu berbaring di samping Damar. "Please, kamu tidur di kamar satunya. Takutnya kamu khilaf," bisiknya lagi lalu terdiam.


Damar hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh menatap wajahnya.


"Tidur lah, aku nggak mungkin khilaf. Apalagi dengan kakiku yang belum berfungsi dengan baik," bisiknya lalu mengecup kening gadis itu.


"Damaaar," desisnya merasa terusik karena brewoknya yang mengenai wajahnya.


"Tidur lah ... have a nice dream, Baby," ucap Damar lalu menyelimutinya.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜