101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 92



Jauh dari kota Osaka, di kediaman utama tuan Alatas tampak ia dan Sofia sedang duduk di ruang santai sambil bercanda tawa dengan putri bungsunya itu.


Tak lama berselang, sang istri ikut bergabung. Melihat wajah istrinya yang tampak tertekuk, alis tuan Alatas langsung bertaut.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tegur tuan Alatas.


"Iya, Mah. Ada apa?" timpal Sofia menatap bengong sang mama.


Nyonya Zahirah hanya diam seribu bahasa lalu sedikit tertunduk. Sedetik kemudian ia melirik suaminya lalu putrinya.


"Mama, kangen banget sama Damar," desisnya. "Sejak menikah dan memutuskan meninggalkan kota J, mama sudah nggak pernah bertemu lagi dengannya. Bahkan saat mama tahu dia ada di kota J mama selalu gagal bertemu dengannya," aku nyonya Zahirah.


Tuan Alatas dan Sofia saling berpandangan. Walaupun keduanya tahu saat ini Damar menetap di kota Osaka, namun anak dan bapak itu kompak enggan memberitahunya.


Bahkan saat ini, keduanya akan berangkat ke kota itu dengan alasan bisnis.


"Bukannya Damar nggak ingin bertemu dengan Mama. Dia hanya menghindar daripada harus berdebat dan membuatmu kecewa dan sakit hati," jelas tuan Alatas. "Kamu tahu sendiri kan watak putramu," jelas tuan Alatas lagi.


"Lagian kenapa sih, Mah? Mama nggak suka kak Damar menikah dengan kak Quin? Sekeras apapun Mama menolak, toh sekarang kak Quin tetap istrinya dan menantu di keluarga ini. Keluarga kak Quin juga bukan orang sembarangan," timpal Sofia dengan hela nafas.


Mendengar penuturan dari sang putri dan suami, nyonya Zahirah kembali tertunduk dan hanya diam.


Ruangan itu hening sejenak, sebelum akhirnya tuan Alatas kembali membuka suara.


"Mah ... Damar nggak berharap banyak. Hanya satu yang ia inginkan. Pengakuan untuk Quin sebagai menantumu di rumah ini. Hanya itu," kata tuan Alatas. "Sepertinya Mama terlalu terhasut dengan bi Yuni dan Naira. Honestly ... sejak dulu papa nggak suka dengan keduanya," pungkas tuan Alatas.


Setelah itu ia beranjak dari sofa sekalian pamit ke ruang kerjanya. Sedangkan Sofia sejak tadi sudah ke kamarnya.


Sepeninggal suaminya, nyonya Zahirah tampak merenung memikirkan ucapan suaminya barusan. Jika dipikir-pikir selama ini, ia tak pernah mendengar berita atau gosip buruk tentang Quin. Apalagi gadis itu terlahir dari keluarga yang terpandang.


Hanya saja karena selalu mendengar hasutan dan fitnah dari bi Yuni dan Naira yang terus memojokkan Quin akhirnya ia membenci gadis itu.


"Aku harus bagaimana sekarang? Jika suami dan putriku saja sangat menerima dan menyayangi Quin, masa aku tidak? Sepertinya aku harus cari tahu kenapa bi Yuni dan Naira membenci gadis itu bahkan sampai menjelek-jelekkannya?" gumamnya.


.


.


.


Pagi harinya, pukul 08:00 pagi waktu kota J ...


Setelah selesai sarapan, tuan Alatas dan Sofia berpamitan untuk ke kantor. Sepeninggal suami dan putrinya, ia pun langsung ke kamarnya.


Ia pun menghubungi seseorang untuk mencari tahu apa yang membuat kepala pelayan rumahnya itu beserta putrinya membenci Quin.


Setelah selesai menghubungi orang kepercayaannya itu, ia pun duduk di sisi ranjang sambil termenung.


Memikirkan putra sulungnya yang sudah lima bulan terakhir tak bertemu.


"Maafkan mama. Papa benar, mungkin aku terlalu terhasut oleh mereka berdua. Dan bodohnya diriku nggak mencari tahu sejak awal," sesal nyonya Zahirah.


Sementara Sofia dan tuan Alatas yang saat ini berada dalam satu mobil yang sama, tampak mengobrol.


"Pah, kita jadi kan ke Jepang Minggu depan?" cecar Sofia.


"Jadi dong, Sayang," jawab tuan Alatas sembari mengelus rambut Sofia.


"Rasanya papa sudah nggak sabar menggendong cucu papa," desisnya dengan senyum tipis.


Sofia terkekeh lalu melirik sang papa. "Bukan Papa saja, aku juga," kata sofia. "Haaah, semoga mama bisa luluh dengan kehadiran calon bayi kak Damar dan kak Quin," harap Sofia.


"Ucup," panggil tuan Alatas.


"Ya, Tuan."


"Tolong kamu tetap rahasiakan ini pada ibu ya," pesan tuan Alatas pada supirnya.


"Baik, Tuan."


Setelah kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan akhirnya mereka tiba juga di kantor.


.


.


.


Sedangkan Damar dan Adrian sejak tadi sudah berada di kantor.


"Rian, bagaimana dengan perkembangan perusahaan di kota J? Apa kamu dan Nadif ada kendala selama aku di sini?"


"Nggak, Tuan. Semuanya berjalan lancar. Itu juga berkat Tuan," jawab Rian.


"Bagaimana dengan mama?"


Adrian sedikit tertunduk antara ingin memberitahu ataupun tidak.


"Tuan ... ehh ...." Adrian tampak ragu.


"Katakan saja, nggak perlu ragu," sambung Damar.


"Sebenarnya, sejak Tuan dan nona Quin menetap di sini, nyonya terus memantau butik nona Quin lewat orang suruhannya," jelas Adrian.


"For what?!"


"Entahlah, Tuan. Bahkan kemarin ia sempat berdebat dengan Al karena menanyakan keberadaan nona Quin," jelas Adrian lagi.


Damar langsung terkekeh. "Berani juga si Al menantang mama," kekehnya menatap sang asisten. "By the way, berapa lama kamu dan Al di sini?" tanya Damar.


"Sampai lusa, Tuan."


Damar mengangguk setuju. Tak lama berselang pintu ruangan itu diketuk. Keduanya langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


Saat tahu itu adalah istrinya dan Al Damar langsung mengulas senyum.


"Honey," sapanya.


Quin dan Al menghampiri keduanya dengan membawa makanan.


"Tadi kami habis belanja sekalian mampir ke sini, soalnya sudah hampir jam makan siang," jelas Quin lalu duduk di sampingnya.


"Thanks ya," ucapnya seraya mengelus perutnya.


"Yuk, kita makan bareng," tawarnya sambil mengeluarkan makanan itu dari paper bag kemudian menatanya di atas meja sofa.


"Sudah lama kita nggak makan bareng seperti ini," timpal Al. "Terakhir kali saat di apartemen Quin," sambung Al lagi sambil terkekeh.


Setelah itu mereka mulai menyantap makanan itu hingga tuntas. Setelah selesai makan siang, Al dan Adrian pun berpamitan karena ingin lanjut jalan-jalan di kota Osaka.


Sepeninggal Al dan Adrian, kini Damar dan Quin tampak duduk bersantai. Sesekali Damar mengelus dan mengecup perut buncitnya sambil mengajak sang jabang bayi mengobrol.


Seolah tahu jika sedang diajak bicara, sesekali tendangan kecil begitu terasa menyentuh telapak tangannya.


Quin hanya tertekeh menatap tingkah absurb suaminya sambil mengelus rambutnya.


Setelah puas, barulah Damar berhenti lalu mengecup bibir istrinya, mengelus pipinya lalu menyandarkan kepala istrinya itu di dadanya.


"Honey, Al dan Rian hanya sampai lusa di sini?"


"Ya, aku sudah tahu," balas Quin. "Itupun Al sudah senang banget," sambung Quin. "Honey."


"Hmm."


"Tadi Al sempat cerita jika mamamu ...."


"Berdebat dengannya?" kata Damar menyambung kalimat istrinya lalu terkekeh.


"Kok, kamu tahu?"


"Rian sudah cerita ini padaku," jelasnya. "Ternyata sahabatmu itu bar-bar juga ya. Berani banget dia menantang mama," lanjut Damar. Ia semakin terkekeh sambil membayangkan wajah kesal sang mama.


Karena tak bisa menahan, akhirnya Quin ikut tertawa. Ia sudah tak heran dengan sifat sahabatnya itu. Bahkan tak jarang ia juga biasa menantang bu Fitri jika sudah terlanjur kesal.


"Sepertinya Mama mendapat lawan yang sepadan," bisik Damar.


"Mamer galak," balas Quin disertai tawa.


Keduanya kembali tertawa sekaligus merasa lucu mengingat wanita paruh baya itu.


...----------------...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜