101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 60



Malam semakin larut dan arah jarum jam telah menunjukkan jam 01.15 dini hari. Setelah mengguncang ranjang dengan pergulatan panasnya dengan Hillary, Damar perlahan membuka matanya.


Dengan gerakan perlahan, ia memindahkan kepala Hillary yang berada di dadanya ke atas bantal.


Setelah itu, ia menyibak selimut lalu memungut semua pakaiannya yang tergeletak di lantai kemudian ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaannya dengan Hillary.


Lima belas menit kemudian, ia pun sudah terlihat rapi lalu melirik sekilas ke arah Hillary yang masih tertidur dengan pulas dalam keadaan polos.


Sebelum meninggalkan kamar itu, Damar meraih ponselnya di atas meja nakas lalu meninggalkan kamar itu.


"Maaf Hillary, aku hanya butuh menuntaskan hasratku," gumamnya dengan seringai kepuasan setelah menggempur tubuh gadis itu habis-habisan hingga membuatnya kewalahan dan tak berdaya.


Sesaat setelah berada di dalam mobilnya, ia pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan mulai mengendarai meninggalkan club' malam itu.


Tujuannya sudah pasti pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, benaknya terus membayangkan wajah Quin sambil senyum-senyum sendiri lalu mengusap bibirnya membayangkan gadis itu membalas luma*tan bibirnya.


"Ah, rasanya aku ingin memakanmu saja," desisnya.


Tak butuh waktu yang lama untuk tiba di kediamannya karena jalanan cukup senggang. Maka dengan bebasnya ia memacu kendaraannya itu dengan kecepatan tinggi layaknya ketika ia berada di sirkuit.


Begitu ia tiba di kediamannya, ia langsung menghampiri pintu lalu menekan password.


"My Quin ... sepertinya besok aku juga nggak masuk kantor. Aku memilih menunggumu sampai terbangun, lalu orang pertama yang kamu lihat adalah aku," gumamnya sambil tersenyum.


Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia langsung ke ruang ganti untuk melepas semua pakaiannya lalu meletakkan di tempat pakaian kotor.


Setelah itu, ia kembali menghampiri Quin yang sedang tertidur begitu pulasnya. Mendaratkan kecupan di keningnya lalu ke bibirnya.


"Jika dia tahu, aku mengambil kesempatan seperti ini, dia pasti akan mendumal kesal," desis Damar kemudian ikut berbaring di sampingnya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.


**********


Keesokkan harinya ...


Ketika Damar membuka matanya, sudut bibirnya langsung melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Bagaimana tidak, saat ini Quin sedang tertidur di atas tubuhnya.


"Waaaah ... mimpi apa Quin semalam, sampai-sampai ia tidur di atas tubuh ku," gumam Damar dalam hatinya sembari mengecup kening gadis itu yang berada di ceruk lehernya.


"Quin," desisnya lalu mengelus punggungnya dengan sayang.


Bukannya bangun Quin malah semakin memeluknya dan semakin menempelkan wajahnya di ceruk lehernya.


Tak ingin menganggu, Damar hanya membiarkannya saja dan malah menikmati pelukan gadis itu di atas tubuhnya.


Ia mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding dan langsung kaget karena arah jarum sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


"What?!" gumamnya lalu kembali menatap Quin. "Sudah jam 09.00 dan dia masih belum bangun?" gumamnya lagi. Dengan gerakan perlahan, Damar membalikkan tubuh Quin lalu memperbaiki posisi tidurnya.


Dalam kungkungannya, Damar kembali menatap lekat wajah Quin lalu tersenyum. "Kamu begitu menggemaskan," bisiknya lalu mengecup keningnya kemudian beranjak dan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian setelah membersihkan dirinya lalu mengenakan celana pendek rumahan, ia memilih ke pantry untuk membuat kopi.


*


*


*


Kantor Damar ...


Sejak tadi Adrian dibuat pusing karena Damar tidak menjawab panggilan darinya.


"Tuan ke mana sih? Apa dia lupa jika hari ini dia ada rapat penting?" dumalnya.


Ia kembali menghubungi nomor Damar dan berharap pria Casanova itu menjawab panggilannya.


"Semoga saja, tuan menjawab panggilanku ini," ucapnya penuh harap.


Dan benar saja, di deringan yang ketiga Damar menjawab panggilannya.


"Tuan, Anda lagi di mana? Ini sudah jam sembilan lewat tapi, Anda belum tiba di kantor," kata Adrian dengan perasaan getir.


"Di rumah, maaf Adrian hari ini aku nggak ngantor," jawabnya dengan santai.


Mendengar ucapan santai dari sang boss, Adrian hanya bisa melongo tak percaya.


"What?! Tapi Tuan, satu jam lagi Anda ada rapat penting dengan klien," jelas Adrian.


"Batalkan saja rapat itu," balas Damar dengan santainya.


"Ta-tapi Tuan." Adrian terbata.


"Baik Tuan," balas Adrian dengan hela nafas pasrah lalu memutuskan panggilan telepon.


"Enak banget si boss, seenaknya saja membatalkan rapat. Yang kena imbasnya pasti aku," dumal Adrian.


********


Tiga puluh menit berlalu ...


"Sssssttttt ... kepalaku ..." desis Quin sambil meringis memijat keningnya. Ia pun membuka matanya lalu perlahan merubah posisinya menjadi duduk.


Ia belum menyadari jika ia sedang berada di dalam kamar Damar. "Sudah jam berapa ini?" gumamnya dengan kepala tertunduk memijat-mijat keningnya yang terasa begitu berat.


Clek ...


Ia mengarahkan pandangannya ke arah pintu dan tampak Damar sedang menghampirinya dengan seulas senyum.


"Sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Damar lalu duduk di sampingnya lalu mengelus pipinya.


"Nyenyak sih nyenyak, tapi efeknya bikin kepalaku serasa mau pecah," desisnya lalu membenamkan keningnya di dada telanjang Damar.


"Damar ..."


"Hmm ..."


"Kamu nggak berbuat macam-macam kan padaku semalam," bisik Quin.


Damar menautkan alisnya lalu menyeringai. "Apa dia nggak ingat kejadian di dalam mobil semalam? Jika iya, syukurlah."


Damar membatin sekaligus bersorak girang dan berharap Quin nggak mengingatnya. Apalagi semalam ia memang memanfaatkan keadaan untuk mencicipi bibir gadis itu.


"Menurutmu?" ia balik bertanya.


"Entahlah, aku nggak mengingat apapun," bisiknya lagi. "Tapi jika kamu melakukan sesuatu padaku, kamu harus siap nggak bertemu denganku selama sehari," desis Quin.


Damar terkekeh lalu mengelus rambutnya kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Damaaar," protes Quin lalu membalasnya dengan menggigit dadanya.


"Sssssttttt ... jangan menggodaku jika kamu nggak ingin membangunkannya," bisik Damar menggodanya.


"Isssshh ... dasar mesum," kesalnya lalu memeluknya dengan manja. "Kepalaku sakit banget. Apa kamu punya obat sakit kepala?" tanya Quin.


"Nggak ada, nanti aku akan meminta Adrian membelikannya untukmu. Sebaiknya kamu mandi dulu," pinta Damar sambil mengelus punggungnya.


"Hmm ..." Quin mengurai dekapannya lalu beranjak dari ranjang dan akan melangkah, namun ia urungkan karena baru menyadari jika ia ternyata berada di dalam kamar Damar.


Quin berkacak pinggang lalu menyipitkan matanya menatap Damar penuh selidik.


"Damaaaar!!" kesalnya. "Kamu nggak mengambil kesempatan dalam kesempitan kan padaku semalam?" selidiknya.


Damar kembali terkekeh namun merasa gemas.


"Jika aku mengambil kesempatan dalam kesempitan semalam, otomatis kamu bangun dalam keadaan polos," jelas Damar dan sedikit berbohong. "Tapi lihatlah dirimu, masih mengenakan gaun yang sama dan masih utuh di tubuhmu," sambungnya lalu merangkul pinggang rampingnya merapatkan dadanya dengan Quin.


Kembali ia menatap bibir tipis Quin yang membuat hasratnya terpancing semalam.


"Lepasin!" pinta Quin.


"Apa kamu nggak ingin memberiku satu ciuman sebagai ungkapan rasa terima kasih?" bisik Damar dengan senyum tipis.


"Apa itu semacam imbalan?" balas Quin lalu terkekeh.


"Hmm ..."


"Dasar modus ... mungkin lain kali saja," tolak Quin. "Ck, sudahlah aku mau mandi dulu. Kepalaku sakit banget," kata Quin.


"Baiklah, Honey," godanya.


Quin kembali terkekeh merasa lucu mendengar kata Honey.


"But your Honey, banyak di luaran sana, maksudku, your bed partner," ledek Quin lalu tertawa seraya meninggalkannya di kamar itu.


Sedangkan Damar hanya berdecak mendengar ledekan dari gadis itu.


"Bagiku hanya kamu my Honey," desis Damar.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜