
Setibanya di rumah sakit, Adrian membantu Damar mendorong kursi rodanya demi mempercepat langkah mereka menuju ke ruangan Dokter Fahry.
Tok .... tok ... tok ...
Mendengar suara ketukan pintu, dokter Fahry mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Tak lama berselang Damar dan Adrian muncul dari balik pintu lalu mengulas senyum.
Tahu jika yang datang adalah temannya, dokter Fahry langsung beranjak dari kursi kerjanya.
"Damar, Rian ..." sapanya dengan seulas senyum.
"Apa kabar, Bro. Long time no see you," sapa Fahry lalu meninju kecil dada berotot temannya itu.
Damar hanya terkekeh. "Yes ... aku hanya menenangkan pikiranku sejenak di luar negeri dan memutuskan kembali ke kota ini setelah dua tahun vakum dari pekerjaanku," Jelas Damar.
"Bagaimana dengan perkembangan kaki mu?" tanya Fahry.
"Sudah ada sedikit perubahan, aku sudah bisa melangkah dengan berpegangan. Tadi pagi aku menjalani terapi sekitar beberapa menit dan aku bisa melangkah tanpa harus berpegangan meski hanya beberapa langkah," jelasnya lagi.
"Wow ... terus lah berlatih Damar aku yakin satu atau dua bulan kedepan aku yakin kamu pasti sudah bisa berjalan tanpa harus menggunakan kursi roda lagi," pungkas Fahry.
Kok prediksinya sama dengan Quin.
Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Mar ... are you okay?" tanya Fahry.
"Ya," jawabnya. Sedangkan Adrian hanya geleng-geleng kepala.
"Oh ya, jika kamu mau, kamu bisa melatih otot kakimu di sana," tunjuk Fahry seraya mengarahkan dagunya ke besi penyangga. "Aku sekalian akan resepkan obat untukmu."
Damar hanya mengangguk setuju lalu memberi kode pada Adrian untuk membantunya. Dengan berpegangan pada Adrian, Damar terus melangkah pelan meski agak lamban.
Sedangkan Fahry, ia hanya menjadi pengamat dan tetap mendampingi Damar. Hampir sejam lamanya Damar dan Adrian berada di ruangan Fahry.
"Mar ... jika kamu sering berlatih seperti tadi, aku yakin kakimu akan kembali berfungsi dengan baik. By the way ... aku melihatmu sangat berbeda dari sebelumnya. Maksudku brewok tebal, berkaca mata dan rambut gondrong mu itu membuat kamu sedikit berantakan," aku Fahry lalu tertawa.
"Aku sengaja, biar nggak ada yang mengenaliku hingga aku merasa bosan," imbuhnya.
"Apapun itu, semoga kamu cepat sembuh, Bro. Aku kangen kita balapan lagi seperti dulu," harap Fahry seraya menepuk pundak temannya itu.
.
.
.
Siang harinya ketika jam istirahat makan siang, Quin berpamitan pada Al, Gisha dan Jihan.
Tujuannya adalah ingin menyambangi kantor Damar sekalian ingin membawakan makan siang. Namun saat akan menghubungi pria brewok itu, ponselnya malah tidak ada di dalam tasnya.
"Damn!!! Habislah aku jika si nenek peyot atau si perawat low attitude itu menemukan ponselku. Bisa gagal rencanaku. Lord ... semoga benda pipih itu tetap di tempat," gumamnya dengan harap.
Di tengah kalutnya perasaannya memikirkan ponselnya, ia hanya menghela nafasnya lalu menepuk-nepuk jidatnya. Mau tidak mau akhirnya ia kembali membuka pintu mobilnya kemudian kembali ke butik dengan perasaan dongkol.
Ini semua gara-gara si low attitude itu. Nyebelin banget sih?!
Al, Gisha dan Jihan yang sedang duduk, menatap heran sang owner butik lalu tertawa.
"Loh Quin, katanya mau cari makan di luar? Kok kembali lagi, plus dengan wajah kusut pula," ledek Al lalu tertawa lucu.
"Ck ... nggak jadi," decaknya lalu ikut duduk di kursi. "Kalian duluan saja, aku nanti saja sambil nunggu Angga," sarannya. "Oh ya, sekalian beliin aku es boba coklat."
"Ok ... baik lah," sahut Al, lalu mengajak Jihan dan Gisha.
"Oh ya Al, ini kunci mobil," ucapnya lalu memberikan kunci mobilnya pada Al.
Ia hanya bisa menatap teman-temannya yang sudah menjauh. Karena sudah malas naik ke lantai dua, ia memutuskan ke ruang fitting untuk memeriksa hasil jahitan.
"Hmm ... good, ternyata kalian benar-benar bisa di andalkan," gumamnya dengan seulas senyum. setelah itu, ia kembali lagi ke meja kerja lalu menatap gambar-gambar design-nya.
Lima belas menit berlalu, Quin di sapa seseorang yang tak lain adalah Kinara.
Quin hanya memutar bola matanya malas namun tetap membalas sapaan Kinara dengan singkat.
"Hmmm."
"Kok sepi?" tanya Kinara.
"Mereka lagi keluar makan siang. Ada apa kamu kemari?" cecarnya dengan ketus dan cuek sambil menatap layar laptopnya.
"Oh. Aku ingin membeli salah satu koleksi gaun di butik ini untuk acara HUT perusahaan Pak Alatas. Acaranya Minggu depan," jelas Kinar dengan menggebu-gebu.
"Kamu naik saja ke lantai dua. Aku lagi MAGER," tegasnya. "Di lantai dua banyak koleksi gaun dan model seperti apa yang kamu inginkan ada di sana."
Melihat Quin yang acuh tak acuh, bahkan terkesan dingin dan ketus, membuat Kinara sedikit geram. Bahkan gadis itu lebih memilih menatap layar laptop ketimbang dirinya.
Alhasil Kinara terpaksa ke lantai dua dengan perasaan dongkol sambi menggerutu kesal.
Baru saja ia menapaki dua anak tangga, langkah Kinara terhenti saat mendengar seseorang lagi-lagi menyapa Quin.
Alisnya saling bertaut dan matanya membulat lebar ketika Damar dan Adrian menghampiri Quin. Karena penasaran ia bersembunyi di balik manekin lalu memperhatikan gerak gerik mereka.
Waaahhh ... suatu kebetulan. Ini pasti menarik.
Kinara menyeringai penuh arti lalu mengeluarkan ponselnya. "Jackpot!!!" desisnya.
"Quin ..." sapa Damar lalu tersenyum menatap gadis blasteran Jepang itu.
"Damar, Adrian?" sahut Quin membalas senyuman Damar dan Adrian lalu mempersilakan keduanya bergabung.
"Quin ... aku bawa makan siang untukmu," kata Damar lalu meletakkan paper bag box makanan di atas meja.
"Thank yooou ... so sweet banget sih? Sebenarnya tadi, aku yang ingin ke kantormu membawakanmu makan siang, tapi ponselku nggak ada. Sepertinya jatuh di dekat kolam renang," jelas Quin sambil menata box makanan di atas meja sofa.
Damar langsung melirik Adrian dan mengisyaratkan sesuatu. Namun sang asisten sama sekali tidak mengerti.
Sepertinya aku harus menyiapkan ruangan khusus untuk dan berpura-pura menjadi wakil CEO. Jika Quin tahu siapa aku. Pasti dia akan menjauh.
"Damar, Adrian kalian kenapa sih? Seperti ada sesuatu? Ayo kita makan bareng," ajak Quin. "Berpeganglah, kita duduk di sofa saja biar makannya nyaman," kata Quin kemudian membantu Damar berdiri dengan memegang pinggangnya.
Jika di lihat sekilas keduanya seperti akan berpelukan namun kenyataannya tidak seperti itu.
Kini mereka bertiga duduk di satu sofa yang sama sambil menyantap makanan yang di bawa Damar. Sesekali mereka tampak bercanda dan tertawa.
Tanpa ke-tiganya sadari Kinara dengan niat terselubung diam-diam merekam gerak gerik mereka lalu mengirim video itu ke Angga.
Setelah itu ia pun kembali menapaki anak tangga menuju galery butik Quin.
Sesaat setelah berada di galery butik, Kinara tampak berpikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri perihal Quin, Damar dan Adrian. Mereka kenal di mana? Bahkan terlihat seperti sudah lama mengenal satu sama lain.
"Tunggu ... tunggu ... aku baru nggeh jika gaun dan jas yang dikenakan Damar warnanya senada dengan gaun Quin. Apa jangan-jangan ini alasan Quin menunda pernikahannya karena lagi dekat dengan Damar?"
Kinara tersenyum sinis dan berpikir akan terus memprovokasi Angga sehingga hubungan keduanya akan benar-benar kandas.
Di saat Quin, Damar dan Adrian tengah menyantap makan siang dan asik saling melempar canda, beda halnya dengan Angga.
Wajahnya seketika memerah menahan amarah saat menonton video yang barusan masuk ke aplikasi WhatsApp-nya.
"What the fu*ck!!!" umpatnya dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.
Seketika ia kembali teringat ucapan Dennis.
"Aaarrrggghhh ... sh*it!!! Nggak ... nggak bisa! Quin tetap milikku bukan dia," geramnya lalu segera meninggalkan ruangannya.
Tujuannya sudah pasti ke butik Quin. π π π
...****************...
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°ππππ