
Sambil menunggu, Quin menyeduh dua gelas kopi lalu meletakkannya di depan meja pantry, dan memilih ke ruang tamu.
Matanya langsung menyapu seluruh ruangan itu yang di dominasi dengan warna abu-abu dan putih. Namun ada yang begitu menarik perhatiannya.
Miniatur mobil dan motor yang berjejer rapi di kaca etalase. Quin menghampiri etalase itu lalu lalu mengulas senyum.
"Sepertinya si Mr. Brewok sangat menyukai otomotif," desisnya. Ia membuka etalase itu lalu meraih salah satu miniatur motor balap itu. "Bahkan miniatur ini harganya mahal banget." Ia kembali meletakkan benda itu ke tempatnya semula.
Lagi-lagi matanya tertuju ke arah salah satu frame foto Damar yang sedang mengenakan baju balap lengkap dengan helmnya. Baru saja ia akan meraih frame itu, Adrian menegurnya.
"Quin ..."
Quin langsung berbalik dan mengurungkan niatnya.
"Adrian ..."
"Kembali lah ke kamar dan siapkan pakaian pak Damar," pintanya sekaligus mengalihkan niat Quin yang terlihat penasaran dengan foto-foto yang berjejer di atas bufet.
"Baik lah. Oh ya, kopinya ada di meja pantry ya. Nikmati lah selagi hangat," tawar Quin.
"Thanks ya Quin," ucap Adrian. "Aku harus menyembunyikan semua foto-foto si boss. Jika nggak bisa ketahuan nanti," gumamnya dalam hati sembari menunggu Quin meninggalkan ruang tamu itu.
Sepeninggal Quin, ia langsung menghampiri bufet lalu meraih semua frame foto yang ada di atas bufet lalu menyimpannya ke dalam laci.
Sementara Quin yang kini ada di dalam kamar tampak sedang menghampiri wardrobe dan tampak memilih pakaian untuk Damar.
Setelah selesai menyiapkan pakaian untuk Damar, ia kembali menghampiri pria itu lalu tersenyum.
"Kemari lah, aku akan mengeringkan rambut mu dulu," pinta Quin yang kini sedang memegang hairdryer. "Mr. Brewok ... apa hairdryer ini milik pacarmu?" tanya Quin menebak lalu terkekeh.
"Bukan ... itu punya mama," bohongnya sambil menelan salivanya dengan susah payah, jika tebakan Quin memang benar adanya. Tapi itu dulu, sebelum Damar duduk di kursi roda.
"Oooo." Quin membulatkan mulutnya sambil mengangguk dan meminta Damar mendekat.
Tanpa pikir panjang, Damar hanya menurut dan mengikuti perintah gadis itu. Dengan telaten Quin mengeringkan rambut gondrong Damar dan mengajaknya mengobrol.
"Mr. Brewok ... sudah berapa tahun kamu pelihara rambutmu hingga sepanjang ini?"
"Dua tahun," jawabnya singkat.
"Sudah kek tarzan saja kamu. Hahahaha." Quin meledeknya lalu tertawa.
"Ledek saja terus ..." sahut Damar merasa gemas.
"Mau nggak jika aku cukur rambutmu ini?" tawar Quin. "Sekalian aku rapikan brewokmu biar kelihatan rapi dan kamu pasti akan terlihat lebih tampan," lanjut Quin lalu meletakkan hairdryer di atas meja kemudian membalikkan kursi roda Damar menghadapnya.
Damar hanya mengulas senyum sembari menatapnya lalu menggelengkan kepalanya.
"Why?" tanya Quin lalu meraih pakaian Damar kemudian memakaikannya.
"Aku ragu jika kamu bisa mencukur rapi rambutku dan mau merapikan brewokku," kata Damar meragukan Quin.
"Pppppffff ...hahahaha. So ... kamu meragukan ku ya?" tanya Quin sambil terbahak. "Mr. Brewok, listen to me ... seorang designer itu, bukan hanya bisa mendesign baju saja tapi kami juga bisa mencukur rambut dan bisa jadi MUA sekaligus," jelas Quin. "Intinya kami serba bisa."
Damar hanya bergeming dan terus menatap wajah Quin.
Tik ... tik ... tik ...
Quin menjentikkan jari tepat di depan wajah Damar. "Hei ... jangan menatapku begitu. Kamu bisa jatuh cinta nanti. Jika itu terjadi aku nggak mau bertanggungjawab," kelakar Quin seraya menyisir jari rambut Damar lalu mencepolnya.
Lagi-lagi Damar tersenyum mendengar ucapan Quin.
"Jika itu terjadi, aku ingin kamu bertanggung jawab. Siapa suruh sudah membuatku jatuh cinta padamu," balas Damar.
"Nggak mau," bisik Quin lalu terkekeh. "Sudah ah ... jangan di tanggapi serius. Aku hanya bercanda."
"Bagaimana jika aku serius," bisik Damar dengan wajah yang serius sambil menatap Quin.
Bukannya menjawab Quin langsung tertawa lalu menangkup rahang tegasnya dengan gemas.
"Damar!" bisiknya dengan alis yang saling bertaut. "Pppppfffff ..." Quin kembali tertawa.
"Peluk aku sebentar saja," pinta Damar.
"Kenapa?!"
"Please ... hanya sebentar," bisiknya dengan tatapan penuh harap.
Sambil terkekeh Quin memeluknya. Begitu Quin memeluknya ia memejamkan matanya lalu menghirup dalam-dalam aroma parfum Quin di ceruk leher gadis itu.
Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang merasakan pelukan hangat gadis itu.
"Aku seakan tidak ingin melepasmu. Maaf jika aku serakah ingin segera merebut mu dari Angga." Tentu saja kalimat itu hanya bisa ia ungkapkan di dalam hatinya.
Quin menggeliat gelisah, bulu-bulu lebat yang menempel di kulitnya membuatnya merasa geli dan meremang.
"Damar! Sudah ... geli sama brewokmu," desisnya lalu tertawa dan melonggarkan kedua tangannya dari leher Damar.
Damar hanya mengulas senyum lalu melepasnya.
Begitu Damar melepasnya Quin langsung berdiri lalu meraih celana pendek casual Damar dan membantu mengenakan celana itu.
Setelah selesai, Quin kembali duduk di sisi ranjang sambil berhadapan dengannya.
"Damar ..." sebut Quin. "Kamu kan bisa berdiri dan bisa menggerakkan kakimu. Jika aku boleh sarankan gimana jika kamu menggunakan tongkat saja," saran Quin.
Damar langsung menjentikkan jarinya. "Kenapa aku nggak pernah terpikir sampai ke situ ya? Ide kamu boleh juga," kata Damar mengangguk setuju.
"Lalu, lokasi wisata pertama yang akan kita datangi hari ini, apa?" tanya Quin.
"Taman Kema Sakuranomiya, taman tepi sungai yang terkenal dengan kawasan pejalan kaki," jawab Damar.
"Quin langsung tersenyum. "Ok ... lumayan dan tidak terlalu buruk," desis Quin sambil manggut-manggut.
"Maksudnya," Damar mengerutkan keningnya.
"Maksudku tempatnya lumayanlah. Aku mengira, kamu akan mengajak ke Castle Park, tapi nggak apa-apa. Karena tempat itu tutup karena ini hari Senin. Baiklah, hari ini kita ke Kema Sakuranomiya tapi besok kita ke Castle Park," usul Quin.
"Baik lah, as you wan't," sahut Damar lalu terkekeh.
Tak lama berselang bel pintu berbunyi. Quin kembali menatap Damar. "Itu pasti Al. Aku memintanya ke sini jika dia merasa jenuh," aku Quin.
"Nggak apa-apa, ada Rian yang akan membuka pintu," kata Damar.
Quin hanya mengangguk lalu membantu Damar berdiri kemudian membantunya berjalan menuju pantry.
Sementara Adrian, sedang menghampiri pintu lalu membukanya.
"Apa Quin ada di dalam?" cecarnya dan langsung masuk ke dalam ruangan tanpa permisi.
Adrian memutar bola matanya malas sambil menggelengkan kepalanya mendapati sikap cuek Al. Bahkan tanpa permisi ia langsung menerobos masuk.
Matanya langsung menyapu seluruh ruangan itu yang tampak rapi dan bersih. Tak berselang lama, Quin dan Damar terlihat keluar dari kamar.
Melihat Quin sedang membantu Damar berjalan, Adrian langsung menghampiri keduanya dan membantu Damar berjalan ke arah pantry.
"Al, kemari lah," pinta Quin.
Al hanya menurut dan ikut bergabung.
"So ... hari ini, kita akan ke Kema Sakuranomiya Park," kata Damar sambil tersenyum. "Pokoknya selama seminggu kedepan, kita akan habiskan waktu kita ke tempat wisata. Lupakan sejenak tentang pekerjaan, kita butuh refreshing juga untuk mendinginkan kepala kita. Bukankah begitu?" pungkas Damar seraya menatap Quin, Al, dan Adrian.
...****************...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ