
Ditengah galaunya Adrian karena Damar belum juga menampakkan batang hidungnya, ia memilih keluar ke teras balkon lalu menghubungi boss-nya itu.
Damar yang baru saja tiba dan sedang membuka helmnya, segera merogoh saku celananya.
"Rian?" desisnya lalu menggeser tombol hijau lalu menjawab panggilan asistennya itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tuan sudah di mana?"
"Aku sudah di parkiran," jawab Damar lalu terkekeh kemudian melangkah pelan sembari menenteng helmnya.
"Oh God ... sukurlah," sahut Rian dengan hela nafas lega. Setelah itu ia memutuskan panggilan.
Damar terkekeh membayangkan kecemasan sang asisten yang sejak dulu sangat kaku bahkan terkesan dingin.
Sesaat setelah berada diambang pintu, Damar langsung menekan password lalu membukanya.
"Apa aku bisa bergabung?" tanya Damar dengan basa basi sambil mengedipkan matanya ke arah Quin.
"Tentu saja," sahut Al lalu melirik Quin yang terlihat mencebikkan bibirnya menatap Damar. "Aku dan Rian yang memintanya kemari," jelas Al lalu terkekeh.
"Ck ... kalian ini," decak Quin lalu duduk di samping Gisha dan Jihan. "Ya sudah, ayo kita mulai saja makan-makannya," cetus Quin.
Mereka mengangguk setuju. Setelah itu Quin meminta Al memanggil Rian yang masih berada di balkon untuk bergabung.
Ruangan itu seketika menjadi riuh dengan kehadiran sahabat dan karyawannya yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Ditambah lagi dengan kehadiran Damar dan Adrian.
Ada kebahagiaan dan kehangatan tersendiri yang Quin rasakan dengan kehadiran orang-orang terdekatnya itu. Di tengah asiknya mereka mengobrol dan saling bercanda tawa, tiba-tiba bel pintu berbunyi.
"Apa kita melewatkan tamu lain?" tanya Quin sembari meneguk air putihnya.
"Nggak," jawab Al dan Rian. Sedangkan Gisha dan Jihan menggedikkan bahunya.
"Sebentar, biar aku saja yang buka pintunya," cetus Quin lalu berdiri kemudian menghampiri pintu dan membukanya. "Angga," sebutnya.
Sontak saja mereka yang ada di ruang tamu menoleh ke arah mereka berdua. Sedangkan Angga langsung mengerutkan keningnya.
"Apa aku bisa bergabung? Sepertinya kalian lagi ada acara spesial," tebak Angga dan di jawab dengan gelengan kepala Quin.
Baru saja Quin ingin menjawab, Damar langsung mengeluarkan suaranya.
"Tentu saja kamu bisa bergabung, lagian ini acara kita-kita menyambut kedatangan Quin," sarkas Damar.
Damarrrr ... ck ... ada apa sih dengannya? Selalu saja ingin memancing emosi si pria bermata sipit ini. Quin membatin kesal. "Ayo bergabunglah," ajak Quin dengan seulas senyum.
Dengan senang hati Angga mengikutinya lalu meletakkan paper bag makanan dan minuman favorit Quin. Ia mengira jika Quin hanya sendiri di apartemennya. Namun harapannya harus sirna karena kehadiran orang-orang terdekatnya.
Di tambah lagi dengan kehadiran Damar, ia semakin berspekulasi jika keduanya memang memiliki hubungan spesial. Hatinya mencelos dan seakan kesempatan itu sudah tidak ada untuknya.
Quin, apa kamu lebih memilih pria Casanova ini daripada aku? Dia baru mengenalimu dan nggak banyak tahu tentangmu. Sedangkan aku sangat mengenali dan tahu banyak tentangmu.
Angga membatin pilu menatapnya dan Damar. Berharap ex tunangannya itu mau kembali padanya dan mau memberinya kesempatan terakhir.
"Oh ya, bagaimana jika kita lanjut ke club' malam saja," cetus Angga.
Damar melirik Quin dan teman-temannya dan Adrian.
"Sepertinya aku nggak bisa, jujur saja aku capek banget," aku Quin sambil mengelus tengkuknya. "Nggak apa-apa kalian saja yang lanjut ke club," sambungnya.
"Sayang sekali," balas Angga dengan hela nafas kecewa.
Acara mereka terus berlanjut hingga mereka tak menyadari arah jarum jam kini telah menunjukkan pukul 22.30. Sadar jika mereka sudah terlalu lama di apartemen Quin.
Bahkan sang pemilik unit, tampak sudah tertidur di sofa ruang tamu itu tanpa menghiraukan obrolan mereka.
Mungkin karena memang lelah atau bawaan janinnya, Quin tampak begitu nyenyak.
Merasa seperti ada yang memanggil dan pipinya di tepuk, perlahan Quin membuka matanya.
"Apa kalian sudah selesai?" lirihnya sambil mengusap kedua matanya. "Jika kalian sudah selesai pulanglah, soalnya aku ngantuk banget," lirihnya lagi lalu beranjak dari sofa kemudian menuju kamarnya tanpa menghiraukan mereka yang masih berada di ruang tamu itu.
"Sebaiknya kita pulang, lagian ini sudah larut. Biarkan Quin istirahat," kata Damar lalu segera beranjak dari tempat duduknya. Ia pun berpamitan lalu segera meninggalkan tempat itu.
Sesaat setelah berada di luar ruangan, ia langsung mempercepat langkahnya. Sebenarnya ia tidaklah benar-benar ingin pulang melainkan hanya alasan supaya Angga, Jihan, Gisha segera meninggalkan tempat itu.
Ia pun mengirim DM ke Adrian.
βοΈ: Kabari aku jika mereka semua sudah pulang.
Adrian hanya mengulas senyum sambil geleng-geleng kepala membaca pesan dari boss-nya itu.
Dua puluh menit kemudian setelah menunggu, akhirnya Damar bisa bernafas lega setelah Adrian mengabari jika mereka sudah selesai membereskan ruangan Quin dan kini sudah berada di parkiran.
"Finally," desisnya lalu kembali melangkah kecil menuju unit apartemen Quin.
Sesaat setelah berada di dalam ruangan yang sudah bersi dan rapi itu, ia meletakkan helmnya di atas meja sofa lalu menuju kamar Quin.
"Honey ..." bisiknya sembari mengelus pipinya dengan sayang. Sedetik kemudian ia terkekeh. "Quin," bisiknya lagi.
Merasa seperti ada yang memangil namanya, Quin kembali membuka matanya. "Damar," desisnya seraya memegang tangan yang mengelus pipinya.
Quin merubah posisinya menjadi duduk lalu menatap lekat wajah calon ayah dari bayinya itu.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Damar.
Bukannya menjawab, Quin langsung memeluknya dengan erat lalu menghirup dalam-dalam aroma maskulin pria itu.
"Damar ..."
"Hmm ..."
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Quin, seketika alisnya bertaut dan merasa heran. Untuk pertama kalinya Quin bertanya tentang hal itu.
"Bukan hanya sekedar cinta, tapi aku ingin menjadikanmu sebagai istriku," jawab Damar sembari mengelus punggungnya dengan sayang. "Menikahlah denganku, Quin," bisik Damar.
Dalam dekapan Damar, air matanya menetes perlahan. "Aku ingin Damar tapi aku nggak mau jika kita menikah tanpa restu dari mamamu. Apalagi dia nggak menyukaiku bahkan terkesan sangat membenciku tanpa tahu alasannya," lirih Quin dalam hatinya.
Merasa Quin hanya bergeming, Damar melonggarkan dekapannya lalu menangkup wajah gadis berparas cantik dan manis itu.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Damar lalu menyeka air matanya.
Quin hanya menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum tipis.
"Aku mengira kamu sudah ke club bersama mereka," kata Quin.
Damar menggelengkan kepalanya lalu menggenggam kedua tangannya.
"Sejak kamu meninggalkan aku ke Singapura saat itu hingga detik ini, aku sudah nggak pernah menginjakkan kakiku lagi ke tempat itu," jelas Damar. "Hingga kamu meninggalkanku, aku lebih fokus bekerja dan hanya memikirkan dirimu."
"Damar," lirih Quin lalu memeluknya sambil menangis.
Entah ia harus bagaimana. Jauh dalam sudut hatinya terasa berat jika harus pergi meninggalkan ayah dari bayi yang sedang ia kandung saat ini.
Namun tekadnya sudah bulat, ia akan tetap merahasiakan kehamilannya hingga saatnya tiba barulah ia akan berterus terang.
"Maafkan aku Damar. Aku nggak mau hubunganmu dan mamamu semakin memburuk karena diriku."
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ