
Nyonya Zahirah yang kini sedang berada di kamarnya tampak menangis menyesali segala ucapan yang pernah ia lontarkan pada Quin.
Masih jelas dalam ingatannya saat itu, saat memaki Quin di kantor sang putra hingga menawari gadis itu dengan sejumlah uang.
Namun tak sedikitpun gadis itu balik melawannya melainkan hanya membalas dengan kata-kata seadanya.
Saat ia membutuhkan suaminya untuk berkeluh kesah, malah suami dan anaknya itu sedang tidak berada di tempat.
Sesekali ia menyeka air matanya mengingat putra dan menantu yang tak dianggapnya itu. Ia hanya mampu menangis, merenung dan menyesali sikap angkuhnya.
Sementara itu, bi Yuni dan Naira yang kini sedang menunggu taksi online, terlihat sedang melewati ruang tamu sambil membawa koper keduanya dengan kepala tertunduk malu.
Bagaimana tidak beberapa ART sedang menatap keduanya dengan tatapan mengejek. Namun ada perasaan lega karena akhirnya keduanya di usir dari mansion.
Selama menjadi kepala pelayan, bi Yuni seolah berkuasa di mansion itu dengan memerintah pelayan rumah dengan seenaknya. Begitupun dengan Naira. Ia marasa seolah sudah menjadi menantu keluarga Alatas.
"Makanya jangan berlagak sok menjadi nyonya. Rasain! Emang enak diusir?" sindir salah satu pelayan dengan senyum puas.
Lagi-lagi keduanya hanya diam karena malu. Tak lama berselang taksi yang dipesannya pun tiba. Tanpa membuang-buang waktu, bi Yuni dan Naira cepat-cepat menghampiri mobil.
Setelah koper keduanya dimasukkan ke bagasi mobil, keduanya pun meminta supir taksi untuk segera meninggalkan mansion dan meminta mengantar keduanya ke alamat rumah mereka.
.
.
.
"Honey," panggil Damar sesaat setelah kakinya menapak di lantai satu.
Ia menghampiri sang istri yang sedang duduk di ruang tamu. Senyumnya langsung mengembang saat mendapati secangkir kopi hangat kini tersedia di atas meja.
"Thanks," ucapnya lalu duduk di samping Quin. Ia meraih cangkir berisi kopi hangat itu lalu meneguknya sedikit demi sedikit.
"Honey ... besok siang kita ke rumah papa dulu ya," cetus Quin.
"Baiklah," sahut Damar. "So ... mau makan di mana kita?" tanyanya.
"Kita ke salah satu cafe yang nggak terlalu jauh dari villa ini?" cetus Quin.
"Hmmm." Damar terlihat mengangguk lalu kembali menyeruput kopinya.
Setelah menghabiskan kopinya, mereka akhirnya meninggalkan villa dan menuju ke cafe yang dimaksud.
Sesaat setelah berada di dalam cafe, mereka pun memesan makanan. Keduanya memilih lantai dua cafe tepatnya di ruangan terbuka. Udara segar seketika begitu terasa.
Sesekali Quin menatap langit memperhatikan ribuan bintang yang bertaburan di angkasa.
"Honey ... aku baru tahu jika disini ada cafe berkonsep ruangan terbuka seperti ini."
Quin terkekeh. "Makanya sekali-kali cari tempat makan tuh yang sedikit unik. Jangan restoran mewah melulu," ledek Quin.
"Hmmm, harus aku akui jika istriku ini memang berbeda dan unik," balas Damar lalu terkekeh.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya makanan pesanannya keduanya pun di antar lalu di sajikan.
"Honey ... yuk kita makan. Perutku memang sudah lapar banget," akunya lalu mulai menyantap makanannya.
Quin hanya mengangguk lalu mengulas senyum.
"Honey, besok kita berangkat pagi ya. Antar aku ke butik dulu. Setelah itu kamu lanjut ke kantor."
"Ok Honey, as you wan't."
Setelah itu ia kembali melanjutkan makannya.
.
.
.
Kediaman pak Pranata ...
Setelah tahu Quin akan menjemputnya, rona bahagia begitu tampak jelas di wajah bi Atik. Sambil menatap foto almarhum mama dari Quin itu ia berbisik,
"Nyonya, aku akan tetap menjaga putrimu itu. Aku senang dia akan membawaku tinggal bersamanya di Jepang nantinya. Aku juga sudah nggak sabar ingin bertemu dengan nak Arjuna."
"Bi?"
"Tuan." Ia melirik sang majikan.
"Maaf, jika selama ini aku sudah membuat Bibi kecewa."
"Tidak, Tuan." Bi Atik menggelengkan kepalanya lalu meletakkan frame foto yang dipegangnya. "Tuan, saya ikut bahagia karena sebentar lagi Quin akan menjadi seorang ibu."
Pak Pranata mengangguk lalu mengulas senyum sambil membayangkan wajah putri bungsunya itu.
Sayang, papa juga sudah nggak sabar ingin menggendong cucu papa.
Arah jarum jam terus berputar dan menandakan malam semakin larut. Ditempat yang berbeda dari kediaman pak Pranata, kini Quin dan Damar sudah berada di villa.
Setelah mengganti baju rumahan, Quin duduk berselonjoran di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Belum tidur?" Damar duduk ikut naik ke atas ranjang lalu meletakkan kaki sang istri di atas pahanya.
Quin mengulas senyum lalu menggeleng. Sedangkan Damar memijat pelan betisnya dan sesekali menggodanya.
"Ini nggak gratis, harus bayar dengan ..." Damar menatapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck ... dasar maniak." Quin memutar bola matanya dengan malas lalu melemparnya dengan bantal.
Sontak saja Damar langsung tertawa dan merasa gemas. Ia pun merangkak lalu menempelkan wajahnya di perut istrinya sembari mengelus dan mengecup berulang ulang.
"Honey ... apa sebaiknya kamu melahirkan di sini saja?"
"Nggak, aku ingin melahirkan di Jepang saja. Aku merasa di sana lebih baik."
"Baiklah." Setelah itu Damar berbaring di sampingnya. "Berbaringlah, sebaiknya kita tidur. Ini sudah larut."
Quin hanya mengangguk lalu meletakkan ponselnya di meja nakas dan ikut berbaring. Ia mengulas senyum seraya mengelus rahang tegas suaminya.
"Honey ... aku suka melihatmu saat tersenyum."
"Why?"
"Aku menyukai lesung pipi ini." Quin menyentuh lesung pipi suaminya. Sedetik kemudian ia membenamkan kepalanya di ceruk leher suaminya lalu memejamkan matanya.
"Tidurlah," bisik Damar sambil mengelus perutnya kemudian mengecup keningnya yang lama. Ia terus mengelus perut buncit Quin dan sesekali tersenyum saat merasa telapak tangannya di tendang.
Hingga beberapa menit kemudian, suara dengkuran halus Quin mulai terdengar.
"Have a nice dream, Honey."
Dengan gerakan perlahan, Damar meletakkan bantal guling di sisi kanan kirinya, kemudian bangkit dari tempat tidur.
Ia memilih ke balkon kamar untuk menyesap rokoknya.
"Tempat ini sangat menenangkan. Pantasan saja Quin memilih tempat ini untuk menenangkan pikirannya saat ia lagi punya masalah," gumamnya.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, ia kembali kamar lalu menggeser pintu kemudian menutupnya dengan tirai.
Ia pun kembali berbaring menghadap istrinya dan perlahan memejamkan matanya. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya ia ikut terbawa ke alam mimpi.
********
Pagi harinya pukul 09:30 pagi ...
Sebelum lanjut ke kantor, terlebih dulu Damar mengantar Quin ke butik. Begitu keduanya masuk, seketika Al, Gisha dan Jihan memekik lalu menghampirinya.
"Quin!!!!"
Melihat sahabat dan karyawannya begitu antusias menyambutnya, senyumnya langsung mengembang. Ia pun memeluk mereka satu persatu.
"Honey ... aku lanjut ke kantor ya," kata Damar.
"Baiklah, hati-hati. Aku akan menghubungimu jika akan ke kantor."
Damar mengangguk kemudian berpamitan pada teman-teman Quin itu. setelah itu ia pun meninggalkan butik.
...----------------...