
Karena gagal mengajak Quin makan siang, Angga tetap mampir ke butiknya.
Ketika tiba di parkiran, alisnya saling bertaut.
Loh ... katanya, dia lagi nggak di butik. Tapi mobilnya kok ada di parkiran?" desisnya lalu mengulas senyum. " Sudah pintar ya, kamu berbohong."
Angga pun segera turun dari mobilnya lalu masuk ke butik.
"Angga," sapa Al.
"Al, aku ke atas dulu," kata Angga.
"Tapi Quin, lagi nggak ada di atas. Sejak tadi dia keluar bertemu klien," jelas Al. "Tapi kalau kamu nggak percaya, naik saja. Nanti kamu pikir aku bohong lagi," sambung Al.
Angga pun naik ke lantai dua. Namun ia kecewa karena sang owner butik benar-benar tidak ada di galery butiknya.
"Aku mengira dia bohong," lirih Angga lalu mengusap wajahnya. Ia kembali ke lantai dasar.
"Al, apa kliennya yang langsung menjemputnya tadi?" tanya Angga.
"Ia, kunci mobilnya ada sama aku," jelas Almira.
"Begitu ya. Ya sudah aku, pamit," ucapnya.
Al hanya mengangguk lalu mengangkat jempolnya.
"Rasain ... emang enak dikibulin? Jadinya kamu ketar-ketir sendiri kan," gumam Al lalu terkekeh.
Sementara Angga, ia tampak berpikir. "Tidak seperti biasanya Quin mau di ajak sama klien. Biasanya dia sering menolak. Tapi kali ini, kok dia mau ya?" gumam Angga.
.
.
.
"Quin ... " tegur Damar.
"Hmm ...
"Apa kamu akan kembali ke butik setelah makan siang?" tanya Damar.
"Sepertinya nggak deh. Aku lanjutkan pekerjaan ku di sini saja," jawab Quin lalu mendorong kursi roda Damar ke lift.
"Terima kasih, Quin," ucap Damar.
"Sama-sama," ucap Quin lalu mengulas senyum.
Ia pun menuruni anak tangga hingga sampai di lantai dasar.
"Ayo, kita makan siang dulu," ajak Damar.
Quin hanya mengangguk lalu mengikutinya ke arah meja makan.
"Ngomong-ngomong, Adrian ke mana ya?" tanya Quin.
"Nak Adrian sudah kembali ke kantor," jawab bi Yuni yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
"Cih ... sejak kapan dia ada di belakangku. Tiba-tiba muncul lalu menjawab. Dasar nenek peyot," batin Quin.
"Really?" Quin menyeringai.
Sebaiknya aku bicara pake bahasa planet saja sama nenek peyot ini," batin Quin lagi.
Bi Yuni bergeming lalu menatap tidak suka pada Quin.
Namun Quin seolah tidak peduli. Ia pun mendekati Damar yang sudah berada di meja makan.
"Biar aku bantu ambilkan makanannya," tawar Quin.
Sikap sopan, perhatian dan lembut dalam bertutur kata, semakin membuat Damar kagum akan sosoknya.
"Andai saja aku yang lebih dulu mengenal Quin. Aku nggak akan menyia-nyiakan gadis sepertinya," batin Damar. Ia terus menatap Quin.
"Apa segini cukup?" tanya Quin lalu meletakkan piring yang telah ia isi dengan makanan.
Damar hanya mengangguk. Bi Yuni terus menatap keduanya yang tampak begitu dekat.
"Damar, apa bibi itu sudah lama bekerja di sini?" tanya Quin lalu melirik sekilas pada wanita paruh baya itu.
"Iya. Tapi di rumah mamaku. Dia baru sebulan menemani ku di sini, itupun mama yang memaksa," jelas Damar.
"Ooh. Tapi dari tatapan matanya, ia seolah tidak menyukaiku," aku Quin.
Damar bergeming lalu melirik Bi Yuni yang masih berada di tempat itu.
Merasa Damar menatapnya, ia pun menunduk lalu meninggalkan tempat itu menuju dapur.
"Maaf, aku nggak bermaksud memprovokasi, tapi entahlah, instingku mengatakan, bibi itu nggak menyukaiku," terang Quin.
Damar hanya bergeming mendengar ucapan Quin.
Setelah itu keduanya pun melanjutkan makan siang hingga selesai.
"Damar, aku ke kamar dulu ya. Jika kamu butuh bantuan, hubungi aku," kata Quin.
"Ok ..."
Setelah berada di kamar, Quin langsung merebahkan tubuhnya.
"Haaaah ... nenek peyot itu, membuatku risih. Sepertinya dia tidak menyukaiku dekat-dekat dengan Damar. Tapi kenapa ya?" gumam Quin lalu menghela nafasnya.
Ia pun memejamkan matanya hingga rasa kantuk menyerangnya. Akhirnya ia pun tertidur.
.
.
.
.
Ia tampak tertawa menatap Angga yang tampak kebingungan.
"Apa kamu tidak mencurigai sesuatu, Angga? Maksudku ... bisa saja Quin sedang di dekati pria lain," tebak Dennis.
"Jangan ngaco kamu, Den," kesal Angga.
"Bukan ngaco, Angga. Tapi ini kenyataan. Siapa sih yang nggak tertarik dengan Quin? Bahkan aku termasuk," aku Dennis lalu menghisap rokoknya.
"Jangan gila kamu," sahutnya merasa kesal.
Merasa percuma berbicara dengan Dennis. Ia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Loh, Ngga, mau ke mana?" tanya Dennis.
"Pulang. Percuma berbicara denganmu. Bukannya memberi solusi malah membuat pikiranku tambah kacau," kesal Angga lalu membuka pintu.
"Bagaimana jika sebentar malam kita ke bar saja," usul Dennis.
"Nggak, aku ingin mengajak Quin dinner. Kamu saja," kata Angga lalu membuka pintu meninggalkan ruangan itu.
*******
Tak terasa langit mulai menggelap menandakan sebentar lagi malam akan tiba.
Saking nyenyaknya tidur Quin di kamar itu, ia tidak menyadari jika hari sudah gelap.
Bahkan ponselnya yang sejak tadi bergetar pun tidak ia sadari.
"Quin ..." Damar menepuk pipinya namun Quin hanya menggeliat dan melenguh.
Damar hanya tersenyum menatap wajah Quin lalu membelainya.
Merasa pipinya seperti di elus, Quin menahan tangan itu.
"Sayang," bisiknya. Ia mengira jika itu adalah Angga.
Ketika ia membuka matanya, ia terkejut saat mendapati Damar sedang duduk di sampingnya.
"Maaf ... aku mengira kamu ..."
"Angga?" sambungnya.
Quin menautkan alisnya. "Kok kamu tahu Angga ..."
"Tunanganmu?" sambung Damar lagi dengan seulas senyum.
Quin langsung men*desah kasar lalu mendudukkan dirinya di samping Damar.
"Entahlah seperti apa kelanjutan hubungan kami," lirih Quin lalu menatap Damar.
"Kenapa?" tanya Damar pura-pura tidak tahu.
"Nggak apa-apa," lirih Quin lagi. Ia pun menghampiri balkon kamar. "Astaga! Sudah malam?" imbuhnya.
Damar hanya terkekeh menatapnya.
Tak lama berselang suara seseorang mengagetkan keduanya.
"Kakak!" pekik Sofia menatap penuh curiga pada sang kakak dan Quin bergantian.
"Sofia," lirihnya.
"Jangan bilang kakak ...." ucapannya tergantung saat menyadari wajah Quin seperti tidak asing baginya.
Ia pun menghampirinya. "Kalau aku nggak salah, kamu tunangannya pak Angga ya?" selidik Sofia.
"Ya ..."
"Desainer itu kan?" tanya Sofia lagi.
"Hmm ..."
"Ya ampun ... aku seperti mimpi bisa bertemu langsung denganmu," kata Sofia.
"Benarkah?" tanya Quin.
"Beneran," jawab Sofia kegirangan.
Suara getaran ponsel Quin mengalihkan pandangannya ke arah benda pipih itu.
"Sebentar ya," izin Quin.
Quin meraih ponselnya di meja nakas menatap nama kontak yang sedang memanggil.
Baru saja Quin menggeser tombol hijau, suara Angga dari seberang langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Sayang, kamu di mana sih? Sejak tadi aku menghubungimu kamu nggak menjawab. Terus kenapa kamu mengganti password pintu apartemenmu?"
"Jangan panik begitu ... ada apa?" tanyanya dengan santai.
"Aku ingin mengajakmu dinner," kata Angga.
"Besok saja ya, Sayang. Soalnya aku harus menyelesaikan beberapa pesanan klien," bohong Quin.
Penolakan Quin kembali membuatnya kecewa. Quin semakin membuatnya uring-uringan.
Seketika benaknya kembali mengingat ucapan Dennis tadi siang.
.
.
.
...****************...