
Sepeninggal Quin, Damar kembali menghubungi Adrian supaya membeli obat pereda nyeri kepala sekaligus membelikan mereka makanan.
Setelah itu ia meraih rokok beserta pemantiknya dan memilih naik ke rooftop hanya sekedar untuk bersantai sambil menyesap rokok.
Sedangkan Quin yang kini berada di kamarnya langsung mendaratkan bokongnya di sisi ranjang sambil memijat keningnya. Merasakan kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Ah ... Damn!!!" umpatnya dan perlahan melepas gaunnya kemudian kembali beranjak dan meraih handuk.
Setelah memungut gaunnya dan memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor, ia segera ke kamar mandi dan langsung ke bawah shower, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin lalu duduk di lantai sambil menikmati sensasi air dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.
"Sial!!! Kepalaku sakit banget!!" umpatnya. "Tapi lebih baik menderita sakit kepala daripada melampiaskan hasratku pada Damar. Pria player pemaksa itu, menyebalkan," gerutunya. "Tapi syukurlah dia nggak berbuat yang aneh-aneh padaku," gumam Quin lalu terkekeh.
Quin terus saja mengguyur tubuhnya di bawah shower demi meredakan sakit kepalanya. Sedangkan Damar sejak tadi ia masih betah berada di rooftop sambil menyesap rokoknya.
Satu jam berlalu ....
Barulah Quin keluar dari kamar mandi setelah merasakan tubuhnya menggigil. Setelah mengenakan pakaian rumahan, ia pun segera turun ke pantry untuk membuat kopi pahit.
"Ke mana si tuan pemaksa itu?" gumamnya sambil menunggu kopinya jadi, di mesin pembuat kopi otomatis. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya ia mengambil kopinya lalu membawa ke ruang santai.
Ia pun mendaratkan bokongnya ke sofa lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memijat kening.
Tak lama berselang, diam-diam Damar menghampirinya lalu tersenyum penuh arti. Melihat Quin sedang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam ia pun mendaratkan satu kecupan di kening gadis itu.
Dan ulahnya itu spontan membuat mata Quin terbuka dan mata keduanya bertemu.
"Damar," desisnya lalu mengangkat kedua tangan membentuk lingkaran ke punggung leher pria tampan itu.
"Apa kepalamu masih sakit," bisiknya sambil mengelus lengannya.
"Ya," balasnya lalu kembali menurunkan kedua tangannya.
"Sebentar lagi Adrian akan kemari, aku sudah menghubunginya tadi," kata Damar yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Damar, thanks ya untuk semalam," ucap Quin lalu menyeruput kopinya sekaligus menawari Damar. "Coffee? But without sugar," tawar Quin dengan seulas senyum.
"Bitter ..."
"Yes, but i like it," bisik Quin sambil menatapnya. "Damar, terkadang minuman yang manis belum tentu nikmat bagi sebagian orang," lanjut Quin dengan seulas senyum seraya mengelus rahangnya. "Layaknya suatu hubungan, nggak selamanya akan berakhir bahagia," lirihnya lalu kembali menyandarkan kepalanya di sandaran sofa kemudian memejamkan matanya.
Damar hanya bergeming menatapnya dalam diam.
"Contohnya aku dan Angga, setelah tiga tahun menjalani hubungan asmara, akhirnya hubungan kami berakhir miris," sambung Quin dengan suara lirih.
Lagi-lagi Damar hanya bergeming dan hanya menjadi pendengarnya.
"Damar ..."
"Yes ... i hear you," sahutnya.
"Bisakah kita akhiri saja kontrak ini?" desis Quin masih dengan mata terpejam.
"May i know your reason?" selidik Damar yang sejak tadi terus menatapnya.
"Aku ingin menjauh sejenak tanpa siapapun," akunya.
"No without me," tolak Damar dan seketika merasa gusar. Entah mengapa ia tidak ingin gadis itu menjauh darinya.
Quin membuka matanya lalu menatapnya menangkup wajah rupawan itu lalu perlahan memeluknya seraya berbisik, "Aku sudah sangat lelah dan aku ingin menepi sejenak dari segala aktifitas ku sebagai designer. Please ..."
"Quin ... " lirih Damar karena merasakan pundaknya basah. "Hanya kurang tujuh puluh hari saja dan aku merasa waktu itu terasa begitu cepat berlalu bagiku," bisik Damar.
"Tapi nggak bagiku. Justru aku merasa menunggu kurang dari tujuh puluh hari itu sangat lama bagiku," balasnya dan semakin mendekapnya erat sambil menangis.
Damar membatin, merasa getir dan takut jika ia tidak bisa meraih gadis blasteran Jepang itu yang selalu membuat hatinya menghangat sekaligus membuat jantungnya berdebar kencang.
Perlahan Quin melepas dekapannya lalu menyeka air matanya. Ia kembali meraih cangkirnya lalu menyeruput kopinya.
"Baiklah, aku akan menunggu hingga kontrak kita selesai," lirih Quin menyetujuinya.
Tak lama berselang, Adrian dan Al menyapa keduanya.
"Quinnn," pekik Al dengan hebohnya tanpa memperdulikan Damar.
"Tuan, maaf aku sedikit terlambat karena harus menemui klien kita dulu sekaligus membatalkan rapat itu," jelas Adrian.
"Nggak apa-apa, Rian," kata Damar. "Apa kamu sekalian membawa obatnya," tanyanya.
"Iya, Tuan," jawab Adrian lalu menyerahkan obat pereda nyeri kepala.
"Kalau begitu ayo kita makan dulu," ajak Damar.
"Kalian duluan saja. Nanti aku dan Al menyusul," cetus Quin.
"Hmm ... baiklah," sahut Damar lalu mengajak Adrian ke meja makan.
Sepeninggal Damar dan Adrian, Al menatap lekat wajah Quin yang terlihat pucat.
"Are you okay, Quin," tanya Al.
"Hmm ... hanya saja kepalaku sakit banget gara-gara obat bius itu," jawabnya.
"Honestly, aku takut banget jika malam tadi Damar sampai menjamahmu," aku Al lalu terkekeh.
"Aku percaya, Damar nggak akan nekat meskipun dia seorang Casanova," bela Quin.
"Ya, kamu bener, Quin. Aku rasa semalam dia pasti melampiaskan hasratnya dengan salah satu gadis di club' malam semalam," celetuk Al.
"I don't care, Al. Yang penting jangan aku," imbuhnya. "By the way, kok kamu tahu?" cecar Quin.
"Ya, karena semalam aku dan Rian ke Bautista Club'. Tapi belum sempat masuk ke dalam karena mendapati mobil Damar ada di sana. Pikirku dan Rian dia membawamu ngamar," jelas Al.
"Lalu?"
"Aku dan Rian khawatir dan memilih pulang ke sini demi memastikan kamu ada di sini dan bukan di club itu. Syukurlah setelah kami mendapatimu tertidur dengan nyenyak di kamar Damar, kami merasa lega dan memilih langsung pulang," pungkas Al dengan hela nafas.
Quin terkekeh lalu menggodanya. "Aku rasa, jika kalian nggak ke sini bisa-bisa malah kalian yang kebablasan," ledek Quin sambil menaik turunkan alisnya.
"Cih ... mana mungkin si kulkas dua pintu itu berani. Orang dia kakunya minta ampun," decihnya sambil menggerutu kesal.
"Pppppffffff .... hahahahahaha ... ya dia baper," ledek Quin lagi sambil tertawa menggoda sahabatnya itu.
Tak lama berselang, Damar memanggil keduanya untuk menyantap makanan yang telah ia tata di atas meja.
Dengan patuh keduanya pun sama-sama menghampiri meja makan.
"Ternyata seorang Tuan Muda bisa juga ya menata makanan," puji Quin.
"Honestly, aku berbeda Quin dan aku nggak suka terlalu bergantung pada ART," aku Damar. "Sudahlah ... ayo kita makan, perutku sudah lapar," ajak Damar lalu mendudukkan dirinya di kursi yang kosong.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ