101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 20



Bu Meilan merasa sedikit keheranan dengan gelagat temannya itu karena sejak tadi ia terus saja memperhatikan Quin dan Angga.


"Zah, ada apa? Ayo kita samperin calon istrinya Angga. Sekalian aku kenalin," ajak Bu Meilan.


Keduanya pun menghampiri Quin dan Angga yang tampak sedang asik mengobrol dan sesekali melempar senyum.


"Sayang," sapa Bu Meilan.


"Mah," sahut Angga dan Quin serentak. Namun Quin sangat terkejut saat menatap Nyonya Zahirah. Ia pun bersikap setenang mungkin.


Ia takut kalau-kalau mamanya Damar akan membongkar jika ia tinggal di rumahnya Damar dan menjadi asisten pribadi putranya.


"Tante," sapa Angga lalu mencium punggung tangan Nyonya Zahirah.


"Sayang, Mama ingin kenalin kamu dengan teman dekat Mama. Siapa tahu kalian bisa jadi teman bisnis," cetus Bu Meilan.


Quin hanya mengangguk dengan senyum getir.


"Zah, ini Quin. Sayang ini Bu Zahirah," kata Bu Meilan memperkenalkan keduanya.


"Nyonya ..." sapa Quin lalu sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat lalu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Nyonya Zahirah.


Sebenarnya anak ini sopan, good attitude dan ramah. Tapi entah mengapa aku nggak suka dan sedikit ragu dengannya.


Nyonya Zahirah membatin. Ia pun menyambut uluran tangan Quin namun tetap saja dengan wajah yang datar.


"Tante, Mah, kami tinggal dulu ya. Aku dan Quin masuk ke dalam dulu," izin Angga seraya menautkan jemarinya dengan Quin.


Lagi-lagi Nyonya Zahirah terus menatap Quin dan Angga yang sudah menjauh.


"Mei apa Quin dan Angga sudah lama bertunangan?" tanya nyonya Zahirah. "Kok kamu nggak undang aku sih?"


"Iya sudah satu tahun. Sebenarnya bulan ini mereka harusnya sudah menikah, tapi Quin minta di undur lagi hingga tahun depan. Alasannya dia masih belum siap dan takut jika pernikahannya gagal seperti almarhum ibunya," jelas Bu Meilan. " Aku mengundang kok, tapi kalian sekeluarga lagi di luar negeri saat itu."


Nyonya Zahirah hanya bergeming mendengar penjelasan temannya itu. Sedetik kemudian ia menyahut, "Iya, kamu benar. Soalnya Damar masih menjalani perawatan saat itu dan baru saja pulang sebulan yang lalu," tuturnya.


Waktu terus berputar tepatnya di jam sembilan malam pesta itu semakin meriah, namun Quin sudah terlihat gelisah ingin segera pulang.


Sesekali ia melirik Al yang tengah asik mengobrol dengan Altaf di ruang tamu sambil cekikikan. Sedangkan ia dan Angga berada dekat kolam renang.


"Sayang, ayo kita ke rooftop sebentar," ajak Angga.


"Baik lah ..." Quin hanya menurut lalu mengikuti langkah Angga yang terus menggenggam tangannya menuju rooftop.


Setibanya di rooftop rumah, Angga sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Namun entah mengapa perasaan Quin langsung tidak enak. "Kok perasaanku jadi nggak enak begini ya? Apa Angga merencanakan sesuatu? Duuuh ... aku harus gimana ini?"


Quin membatin kalut lalu melirik Angga yang terus tersenyum padanya. "Sayang ... ayo kita makan dulu," cetusnya dengan senyum penuh arti.


Menatap senyum penuh arti dari sang tunangan, Quin semakin merasa gelisah. Tapi mau tidak mau ia hanya menurut dan duduk di kursi yang telah disiapkan.


Calm down, Quin. Semuanya akan baik-baik saja.


Dengan terpaksa ia menyantap makanan yang telah tersaji dan terlihat benar-benar mengunggah selera. Namun saat matanya terarah ke arah wine, ia jadi curiga jika minuman itu mungkin saja sudah dibubuhi obat tidur atau obat perangsang dosis tinggi.


Begitu selesai menyantap makanannya, Quin memilih meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya dan hanya menyisakan sedikit.


"Sayang, apa kamu nggak ingin mencoba wine-nya?" tanya Angga.


Quin bergeming lalu mengusap bibirnya dengan serbet makan.


"Boleh," sahut Quin. Karena tidak ingin Angga curiga ia pun meraih gelas wine lalu menggoyang-goyang benda itu sebelum akhirnya ia meneguk setengah.


"Bagaimana? Wine itu mama pesan langsung dari luar negeri," jelas Angga.


"Baik lah, tapi jangan lama-lama," kata Angga lalu tersenyum menatap Quin.


"Kemari lah, sebentar," pinta Quin. Tanpa pikir panjang Angga mengitari meja lalu mendekat ke arah Quin.


"Sayang ... terima kasih untuk hidangan dan wine-nya aku suka banget," bisik Quin lalu mengecup pipi dan bibir Angga. "Jangan ke mana-mana tunggu aku di sini sampai aku kembali, aku masih ingin menikmati wine itu bersama mu," rayunya dengan nada sensual.


"Baik lah," balas Angga dengan senyum mengembang sempurna.


Setelah itu Quin meninggalkannya lalu mempercepat langkahnya menuruni anak tangga. Alih-alih ke kamar mandi ia malah langsung turun ke lantai bawah.


Damn it!!! Angga, kamu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kamu ingin menjebakku.


Quin menggerutu kesal dalam hatinya lalu menghampiri Al yang terlihat masih mengobrol dengan Altaf.


Ia pun menghampirinya lalu membisikkan sesuatu. "Al, ayo kita pulang sekarang dan segera antar aku ke rumah Damar. Aku merasa tidak baik-baik saja. Kepalaku semakin berat," bisiknya.


Al hanya mengangguk lalu menatap Altaf.


"Kak Altaf, aku dan Al pulang dulu ya," pamit Quin.


"Baik lah, kalian hati-hati ya," kata Altaf dengan seulas senyum.


Sedangkan Angga yang masih berada di rooftop terlihat terus tersenyum penuh arti dan seolah merasa puas.


Satu jam sebelumnya ia sudah meminta beberapa pelayan untuk menyiapkan makanan di tempat itu. Tak lupa juga ia meminta supaya minumannya di bubuhi obat tidur supaya Quin perlahan akan merasakan pusing dan mengantuk.


Idenya cukup brilian, karena bukan wine yang berisi bubuk obat tidur melainkan air putih. Quin pasti tidak akan curiga jika air putih itu lah yang sudah di campurkan obat tidur tapi bukan wine.


"Quin, malam ini kamu harus jadi milikku. Hanya dengan cara ini pernikahan kita akan di percepat. Aku nggak rela jika kamu mencintai Damar bahkan pria manapun," gumamnya.


Sedangkan Quin dan Al yang saat ini dalam perjalanan pulang tampak mengobrol kecil.


"Al antar aku ke Jalan xxxx no 36," lirih Quin sambil memijat kening dan pangkal hidungnya karena semakin merasakan pening. "Al, ngebut dikit bisa nggak sih?!" kesalnya.


"Ini sudah ngebut, kamu saja yang merasa lambat," ledek Al lalu terkekeh.


Quin berdecak sambil memejamkan matanya.


"Brengsek, dia pikir bisa mengelabuiku apa? Aku nggak sebodoh yang kamu pikirkan Angga," geramnya.


Tak lama berselang kendaraanya memasuki halaman parkir Damar.


"Al, thanks ya. Besok aku akan menghubungi mu sebelum menjemputku," pesan Quin lalu membuka pintu mobil.


"Ok ..."


Tanpa pikir panjang, Quin langsung melangkah cepat menghampiri pintu lalu membukanya. Tanpa menghiraukan Bi Yuni dan Naira ia terus mempercepat langkahnya menapaki anak tangga.


Yang ada di benaknya adalah ingin segera merebahkan kepalanya di bantal empuk.


Setibanya di lantai dua, ia langsung membuka pintu kamar dan kembali menguncinya. Bahkan dompet pestanya ia lempar begitu saja.


Karena sudah tidak sabaran, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tanpa melepas sepatu heels yang masih menempel di kakinya.


"Quin!" desis Damar. Ia pun menutup laptopnya lalu menatap lekat Quin dari ujung kaki hingga kepala.


"Sepertinya dia salah kamar," gumam Damar lalu terkekeh menatap wajah Quin dengan mata terpejam rapat bahkan sudah tak bergerak.


Ya, Quin berada di kamarnya Damar. Ia mengira kamar yang ia masuki adalah kamarnya tapi ia salah alamat.


...****************...


Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya 🀭☺️ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih ☺️πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™πŸ™