101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 16



"Damar!!!!" Sedang apa kalian?!!!!" pekik suara itu yang tak lain adalah Nyonya Zahirah.


"Mama?" desis Damar lalu perlahan melentangkan tubuhnya di samping Quin. Sedangkan Quin, ia mendudukkan dirinya lalu membantu Damar duduk.


Nyonya Zahira menghampiri keduanya dengan tatapan penuh selidik. "Apa yang kamu lakukan di kamar anak saya hah!!" bentak Nyonya Zahirah pada Quin.


Quin hanya menunduk. "Maaf, Nyonya. Saya hanya ingin membantu Mr. Bre ... ah, maksud saya Damar. Tapi saya tidak bisa menahan tubuhnya yang berat lalu kami jatuh di ranjang ini. Percayalah Nyonya, kami nggak berbuat macam-macam," jelas Quin lalu menatap Nyonya Zahirah.


Buseeeet ... galak juga Mama si Mr. Brewok ini.


"Ya sudah! Keluar sana!" pinta Nyonya Zahira dengan ketus.


"Baik Nyonya," ucap Quin dengan patuh, lalu sedikit membungkuk kemudian meninggalkan kamar itu.


Saat berada di ambang pintu, Quin berpapasan dengan Naira yang sedang tersenyum sinis menatapnya.


Ya, semua karena ulah Naira yang meminta Nyonya Zahirah menyambangi rumah Damar karena ia tak terima Quin membentaknya bahkan gadis itu tak segan-segan menyindirnya.


"Damar, siapa gadis itu?" cecar Nyoya Zahirah.


"Quin, asisten pribadiku," jawab Damar sambil senyum-senyum.


"Apa asisten pribadi harus sedekat itu dengan majikannya?" cecar Nyonya Zahirah lagi.


"Sebenarnya Mama ini kenapa sih?! kesal Damar. "Lagian tumben Mama datang sepagi ini?" tanya Damar lalu mengarahkan tatapannya pada Naira yang kini berada di hadapannya.


Apa ini ulahnya Naira? Aku jadi curiga jika dia sudah mempengaruhi Mama.


"Damar, Mama hanya nggak mau gadis itu mengambil kesempatan atas dirimu."


Damar tersenyum sinis dibarengi dengan gelengan kepalanya menatap mama dan sang terapis bergantian.


"Untuk apa Quin mengambil kesempatan ke atas diriku sedangkan dia ...." ucapannya tergantung saat Quin mengetuk pintu dan sudah terlihat rapi dengan dress yang sering melekat ditubuhnya.


Selalu terlihat anggun, elegan dan berkelas walaupun hanya berdandan alakadarnya.


"Maaf Nyonya jika saya lancang. Sebelum berangkat ke tempat kerja, saya harus menyiapkan pakaian kantor Damar dulu," jelasnya lalu masuk ke walk in closet untuk menyiapkan setelan jas kerja Damar.


Karena hari ini Quin mengenakan dress berwarna lavender, terbersit niatnya ingin membuat Naira kesal dengan memilih setelan jas senada dengan warna gaunnya.


Ia terkekeh saat meraih jas itu. Matanya tertuju ke etalase bros berlian berbentuk tapal kuda lalu menyematkan di sisi sebelah kiri jas.


Setelah selesai, ia pun membawa setelan jas kantor Damar beserta arlojinya lalu meletakkan di atas ranjang Damar.


"Damar, ini pakaian kantor kamu hari ini, lengkap dengan sepatu yang sudah aku pilihkan untukmu," kata Quin dengan seulas senyum.


"Thanks, Quin," ucapnya. Quin hanya mengangguk.


Ia pun kembali berdiri tegak lalu sedikit membungkuk sebagai tanda hormat pada Nyonya Zahirah lalu berpamitan.


"Saya permisi Nyonya," pamit Quin lalu meninggalkan kamar Damar dan kembali sejenak ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya dan tas tangannya. Setelah itu ia pun buru-buru ke lantai bawah.


"Quin, kamu nggak sarapan dulu?" tanya Bi Yuni.


"Nggak ... soalnya aku nggak selera," ketus Quin tanpa menoleh dengan langkah cepat.


Celetukkannya jelas saja membuat Bi Yuni kesal.


"Anak itu benar-benar ya," geramnya.


Sesaat setelah berada di dalam mobilnya, Quin langsung meninggalkan halaman parkir dan segera melajukan kendaraannya ke butiknya.


Sedangkan Damar, yang masih berada di dalam kamar menatap setelan jas yang telah Quin siapkan untuknya sambil senyum-senyum.


Namun senyumnya langsung sirna saat Naira menegurnya.


"Damar, ayo. Kamu harus terapi dulu selama beberapa menit," kata Naira.


"Hmm, baiklah," sahutnya lalu berpindah duduk ke kursi rodanya.


"Nyonya, saya bawa Damar ke ruang terapis dulu ya," izin Naira dan hanya di jawab dengan anggukan sang Nyoya.


Sepeninggal Damar dan Naira, Nyonya Zahirah tampak termenung lalu menatap setelan kantor putranya yang barusan disiapkan oleh Quin.


Ada senyum tipis terukir di bibir wanita paruh baya itu.


Ia pun kembali ke lantai dasar menemui Bi Yuni.


"Bi, apa gadis itu sudah berangkat kerja?" tanyanya.


"Iya, Nyonya." jawab Bi Yuni. "Nyonya, hati-hati sama gadis itu, sepertinya dia bukan gadis baik-baik," kata Bi Yuni mempengaruhi sang Nyonya.


"Karena itu lah, saya meminta Naira mengawasinya," kata Nyoya Zahirah lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Sementara Damar dan Naira yang kini berada di ruang terapis. Tampak sedang mengawasi Damar dan sesekali membantunya.


Setelah beberapa menit, Damar mencoba berjalan beberapa langkah tanpa memegang besi penyangga dan membayangkan jika yang ada di hadapannya adalah Quin.


God ... aku ingin secepatnya bisa berjalan lagi.


Damar membatin dan ia bisa melangkah beberapa langkah sebelum akhirnya ia kembali memegang besi penyangga ketika merasa ia akan terjatuh.


******""


Satu jam kemudian, ia pun tampak sudah rapi. Bibirnya kembali membentuk sebuah lengkungan sempurna.


"Quin bisa saja. Sempat-sempatnya dia menyematkan bros ini. Seperti akan memimpin rapat penting saja aku dibuatnya," gumam Damar.


Ia pun menuju lift untuk membawa dirinya turun ke lantai bawah.


"Damar, kamu nggak sarapan dulu Nak?" tanya Nyonya Zahirah.


"Nanti di kantor saja, Mah. Soalnya aku sudah terlambat," sahut Damar. "Adrian ayo berangkat sekarang," perintahnya.


"Baik, Tuan."


*********


Ketika dalam perjalanan, Damar terus tersenyum bahkan memegang dadanya yang sejak tadi terus saja berdebar-debar. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya walaupun ia sering bergonta ganti pasangan.


Sedangkan Adrian yang sedang mengemudi, merasa heran dengan sikap tak biasa boss-nya itu.


"Adrian, putar arah tujuan. Antar aku ke rumah sakit. Lebih tepatnya ke dokter Fahry," perintahnya.


"Baik Tuan."


Coba dari kemarin-kemarin kek boss. Jika saja Tuan menurut, Tuan pasti sudah bisa berjalan saat ini.


Tentu saja ucapan itu mampu Adrian ucapkan dalam hatinya.


********


"Al, apa semua bahan pesanan yang aku pesan sudah diantar? Maksudku kain seperti permintaan klien kita?" tanya Quin.


"Iya, aku dan Gisha sudah meletakkan di ruangan fitting. Tinggal kita eksekusi," jawab Al lalu terkekeh.


"Good," gumam Quin lalu menyeruput coklat hangatnya kemudian lanjut menatap layar laptopnya memperhatikan design baju agar tidak terjadi kesalahan.


Saking seriusnya ia dengan benda itu, ia tidak menyadari jika Angga sedang memperhatikannya seraya berjalan menghampirinya.


"Sibuk ya," bisiknya lalu membenamkan bibirnya di puncak kepala Quin.


"Sayang ..." Quin mendongak menatapnya lalu berdiri. "Kamu nggak ngantor?" sambung Quin sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Angga.


"Ngantor, tapi aku kangen, so ... aku mampir dulu sekalian ada yang ingin aku sampaikan padamu. Hari ini anniversary pernikahan mama dan papa. Mama sangat berharap kamu bisa menghadiri acaranya malam ini," jelas Angga dan ia pun sangat berharap jika Quin akan hadir di acara itu nanti malam.


"Baik lah, aku akan hadir," janji Quin.


"Terima kasih sayang. Aku akan menunggumu di rumah mama nanti malam," bisik Angga lalu memeluknya dan menghirup aroma parfum Quin di ceruk lehernya.


"Ehem ... masih pagi wooooi," tegur Al. "Kalian ini ya ... bikin aku iri saja. Nggak tahu apa, aku ini jomblo?" celetuk Al lalu duduk di kursi


Quin hanya cengengesan lalu mengurai dekapannya. "Sayang, aku perginya dengan Al ya. Siapa tahu nanti di sana dia bertemu jodohnya," usul Quin.


Angga hanya mengangguk. "Ya sudah aku berangkat ke kantor sekarang," pamit Angga lalu mengecup kening wanitanya. Setelah itu ia pun meninggalkannya dan Al.


...****************...


Jangan lupa dukungannya dengan meninggalkan jejak like, coment, vote dan gift jika berkenan 🤭🥰🙏 ....