101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 100



Sudah beberapa jam berlalu sejak dipindahkan, Quin masih belum siuman. Sedangkan bayinya yang berada di ruangan khusus tampak sesekali bergerak.


Damar kembali meneteskan air matanya menatap sang putra dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuh mungilnya.


"Dady mohon, bertahanlah," desis Damar seolah tak ingin meninggalkan ruangan itu.


"Damar!" Angga menepuk punggungnya lalu berdiri di sampingnya kemudian menatap putra mungil sang rival. "Sebelumnya, selamat untukmu atas kelahiran putramu," ucapnya dengan tulus.


"Thanks, Angga. Jika saja kamu nggak cepat membawa Quin, aku pun nggak tahu apa yang akan terjadi. Ini semua salahku," sesal Damar lalu menyeka air matanya.


Hening sejenak ...


"Sebaiknya kamu usut tuntas masalah ini. Sepertinya ada yang sengaja ingin mencelakai Quin."


"Ya. Aku sudah meminta Adrian untuk cari tahu. Siapapun dia, aku nggak akan memberi ampun," tegas Damar.


Di kamar rawat Quin, tampak nyonya Zahirah, bu Fitri, pak Pranata dan tuan Alatas sedang duduk dan memperhatikan Quin.


"Pah, ini bahkan sudah hampir malam tapi Quin belum sadar juga," lirih nyonya zahira.


Bukan hanya dia yang khawatir tapi pak Pranata dan bu Fitri juga.


"Sayang, bangunlah, Nak. Apa kamu nggak ingin melihat putramu?" bisik pak Pranata sembari mengelus kepala putra bungsunya itu. "Papa mohon, bukalah matamu," bisik pak pranata lagi.


Namun Quin sama sekali tak merespon.


Selang beberapa menit kemudian, Damar dan Angga masuk ke kamar rawat.


"Mah, Pah, Bi, kalian pulanglah. Biar aku menemani Quin di sini. Minta Sofia membawakan pakaian ganti dan beberapa pakaian bayi untuk putraku," pesan Damar. Setelah itu ia menepuk pundak Angga. "Angga sebaiknya kamu juga pulang, sudah seharian kamu di sini menemaniku. Terima kasih sebelumnya," ucap Damar.


Angga hanya mengangguk lalu menatap Quin sekilas. Setelah itu ia berpamitan dan meninggalkan ruangan itu.


Sedangkan bi Atik, kedua orang tuanya dan mertuanya tak langsung pulang melainkan terlebih dulu ke ruangan khusus tempat sang cucu di rawat.


********


Beberapa jam kemudian pintu dibuka seseorang.


"Kak."


Damar menoleh. "Sofia?"


"Kak, mama titip makanan ini untuk kakak. Ini pakaian ganti untuk kakak dan kak Quin. Paper bag satunya pakaian untuk ponakan ku," jelas Sofia lalu melirik Quin. "Yang sabar ya, Kak."


Damar hanya mengangguk lalu balik menatap istrinya. Tangannya sejak tadi tak lepas menggenggam jemarinya.


"Kak, aku jenguk ponakanku dulu ya?"


"Hmm."


Baru saja Sofia akan membuka pintu, namun pintu itu sudah dibuka oleh seseorang dari luar.


"Rian?!" sebut Sofia lalu menatapnya dan Al.


"Sofia, sudah mau pulang?" tanya Adrian.


"Nggak aku ingin menjenguk baby boy di kamar bayi," jelas Sofia lalu sekalian pamit kemudian meninggalkan kamar itu.


Adrian dan Al menghampiri Damar yang masih duduk di samping bed pasien.


"Damar, kenapa ini bisa terjadi? Kamu ke mana saja sampai-sampai Quin celaka begini?" cecar Al dengan sedikit kesal.


Damar hanya menunduk sekaligus merasa bersalah. Wajar saja Al kesal karena ia memang lalai.


Melihat Al yang sedikit emosi, Adrian memegang bahunya lalu menggelengkan kepalanya. Al mendesah kasar.


"Tuan, kita perlu bicara. Ini mengenai kejadian di Mall tadi siang," kata Adrian.


"Apa kamu sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Damar lalu beranjak dari kursinya.


Adrian mengangguk lalu mengajaknya berpindah tempat di sofa. Sesaat setelah duduk, Adrian memberinya amplop besar.


"Tuan pasti nggak percaya jika tahu pelakunya. Ini bukalah," kata Adrian.


Damar meraih amplop besar itu lalu mengeluarkan isinya. Matanya langsung membola menatap gambar-gambar itu.


Dengan perasaan geram ia langsung meremas gambar itu dengan rahang mengetat.


"Naira?! Gadis ini benar-benar ya!!" geramnya. "Sejak awal aku memang nggak pernah suka dengan gadis munafik ini. Perbuatannya itu sudah membahayakan Quin dan putraku. Bukan nggak mungkin jika ia akan mengulangi perbuatannya."


"Anda benar, Tuan. Jadi apa yang akan Anda lakukan?" tanya Adrian.


"Baik Tuan."


Adrian kembali beranjak dari tempat duduknya lalu berpamitan kemudian meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Adrian, Damar menghampiri Al lalu meminta maaf. Ia pun menjelaskan alasannya tidak bisa menemani istrinya.


"Sudahlah, namanya juga musibah kita nggak pernah tahu," jawab Al dengan hela nafas. "Yang penting Quin dan putra kalian baik-baik saja.


Hening sejenak ....


"Ssssttt ..."


Suara ringisan Quin seketika membuat keduanya langsung menatap Quin.


"Quin!"


"Honey."


Sebut keduanya.


"Ssssttt, ada di mana aku?!" desisnya.


"Honey, jangan banyak bergerak dulu," pinta Damar.


"Bayi? Bayiku?" tanyanya sambil mengelus perutnya yang sudah kempes.


"Bayi kita ada di kamar khusus bayi, Honey. Dia masih berada di dalam inkubator," jelas Damar.


Seketika air mata Quin langsung menetes. Tadinya ia ingin melahirkan normal dan ditemani suaminya. Namun semuanya tak sesuai harapan.


"Sudah jangan menangis," bisik Damar. "Nanti kita akan menjenguknya."


"Quin, Damar selamat ya. Walaupun melahirkan mendadak, jangan berkecil hati toh kalian lebih cepat bertemu dengan baby boy kalian," kelakar Al lalu terkekeh.


"Mendadak sih mendadak Al, tapi nggak begini juga kali," kesal Quin.


Selang beberapa menit kemudian dokter Emelie tampak memasuki kamar rawat itu.


"Selamat malam," ucap dokter Emelie lalu mengulas senyum. "Syukurlah nyonya sudah sadar."


"Dok, saya baru saja akan memanggil Anda," sahut Damar.


"Nggak apa-apa, kebetulan sebelum pulang saya memang harus memastikan kondisi istri Bapak," balas dokter Emelie dengan seulas senyum.


Ia pun mulai memeriksa Quin sekaligus menanyakan keluhannya. Setelah memastikan jika Quin baik-baik saja, dokter Emelie pun meninggalkan ketiganya.


Dua jam berlalu sejak Adrian meninggalkan rumah sakit.


Setelah melaporkan kasus itu ke polisi, tanpa pikir panjang, aparat yang bersangkutan langsung bergerak cepat.


Apalagi kasus itu bersangkutan dengan keluarga Alatas.


Tok ... tok ... tok ... Tok ... tok ... tok ...


Pintu rumah Naira diketuk.


"Siapa sih, yang bertamu malam-malam begini?" kesalnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Dengan malas ia menghampiri pintu lalu membukanya namun sekaligus terkejut.


"Siapa Nai ... ." Bi Yuni langsung terpaku di tempat saat mendapati tiga orang polisi dengan pakaian preman berada di ambang pintu bersama Adrian.


"Nak Adrian? Ada apa ini?"


"Maaf Bi, Naira harus ikut ke kantor polisi," sahut Adrian lalu menatap tajam pada Naira.


Bi Yuni langsung menghampiri putrinya. "Nai! Apa yang sudah kamu lakukan hingga harus berurusan dengan polisi?! tanyanya.


"Dia sudah membahayakan nyawa istri Tuan Damar, Bi?" kata Adrian.


"Apa?!!"


Naira hanya tertunduk dan tak bisa berkata-kata.


"Ayo ikut dengan kami. Kamu bisa menjelaskan semuanya di kantor," tegas pak polisi.


Mau tak mau akhirnya Naira hanya bisa pasrah dan menurut. Sedangkan bi Yuni hanya bisa menangis dan tak menyangka jika putrinya bisa senekat itu.


...----------------...