101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 42



Setibanya di butik ....


"Thanks ya, Mr. Brewok," ucap Quin.


"Ck ..." decaknya sekaligus protes. "Jangan panggi Mr. Brewok lagi dong."


"Nggak mau," canda Quin lalu terkekeh. "Kan nggak sering, hanya sesekali saja. Anggap saja itu panggilan sayang dariku untukmu," kata Quin.


Damar mengulas senyum lalu mengacak puncak kepalanya.


"Damar! Kamu membuat rambutku berantakan," protesnya lalu membuka pintu mobil. "Ya sudah, kamu hati-hati ya. Semoga harimu menyenangkan hari ini my Boss," ucapnya lalu melambaikan tangannya.


Damar hanya mengangguk lalu tersenyum, setelah itu ia kembali melajukan kendaraannya menuju kantornya.


Baru saja Quin berbalik, Al sudah berdiri di belakangnya sambil bersedekap tangan di dada menatapnya dengan penuh selidik.


"What? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Quin lalu menoyor kepala sahabatnya itu.


Al langsung terkekeh. "Kamu berhutang penjelasan padaku, Quin," jawabnya sambil melangkah pelan bersama gadis blasteran itu.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Quin sesaat setelah keduanya duduk di sofa.


"Apa lagi jika bukan karena dirimu menghilang tiba-tiba," Al balik bertanya padanya. "Mobilmu ada di parkiran, tapi kok kamu nggak ada? Apa semalam kamu ke sini?"


Quin hanya menghela nafasnya dengan kasar lalu memejamkan matanya sejenak.


"Ya ... aku ke sini semalam. Aku menghilang selama tiga hari kemarin karena aku pergi menenangkan diri, hati dan pikiranku yang sedang berkecamuk."


"What happened Quin?"


"Seperti kejadian sebulan yang lalu, aku kembali memergoki pria brengsek itu sedang menggagahi perempuan murahan itu."


"Quin," lirih Al menatap iba sahabatnya yang kini terlihat lebih tegar.


"Tapi sudahlah, akhirnya aku bisa terlepas dari pria bajingan itu. Aku sudah memutuskan pertunangan kami," jelas Quin sambil memijat pangkal hidungnya.


"Oh ya, Al ... jika dia datang mencariku, katakan saja aku nggak ada di butik. Aku sudah nggak mau bertemu dengannya," pesannya. "Pria menjijikkan."


"Baiklah ... yang sabar ya Quin," kata Al seraya mengelus lengan sahabatnya itu."


"Tenanglah Al, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja," ucapnya. "Aku ke atas dulu," pamitnya lalu beranjak dari tempat duduknya menuju anak tangga.


*******


Kantor Damar ....


"Tuan," sapa Adrian ketika akan masuk ke ruang kerjanya.


"Hmm ... ada apa?" tanyanya lalu membuka pintu ruangannya.


"Nggak apa-apa, Tuan. saya hanya ingin mengantar berkas ini dari Nadif," kata Adrian lalu menunjukkan berkas itu.


"Ayo, letakkan saja di atas meja kerjaku," suruhnya. "Apa masih ada?" tanya Damar lagi.


"Nggak ada Tuan, hanya itu."


"Baiklah. Oh ya Adrian, apa kamu tahu ke mana saja Quin kemarin?"


Adrian hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, nggak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu," pungkasnya dan dijawab dengan anggukan kepala lalu meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Adrian, Damar memutar kursi kerjanya menghadap kaca kantor sambil mengetuk-ngetuk telunjuknya di atas meja.


Ia masih saja penasaran ke mana Quin pergi selama tiga kemarin. Ia bahkan merasa belum puas dengan jawaban gadis itu semalam. Terdengar masih mengambang.


Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan benda pipih tersebut lalu menggeser layarnya. Ia tersenyum menatap foto yang ia ambil semalam bersama gadis itu.


"Apa kamu tahu? Kamu sangat menggemaskan," gumamnya sambil mengelus wajah gadis itu di layar ponselnya.


"Son ... kelihatannya kamu lagi bahagia banget," kata pak Alatas yang terlihat sedang menghampirinya.


Damar langsung memutar kursi kerjanya lalu mengarahkan pandangannya pada sosok sang ayah.


"Papa?" lirihnya.


Pak Alatas terlihat mengulas senyum menatap putra sulungnya itu.


"Mau share sesuatu dengan papa?" tanya pak Alatas seraya meninju pelan lengan kekar putranya.


Damar hanya terkekeh mendengar ucapan papanya. Papa sekaligus teman curhat, sahabat dan satu hobi dengannya. Sama-sama menyukai dunia balapan.


"Ayolah," kata papa. "Apa ada rencana ingin mencoba trek baru akhir pekan ini?" tawar papa.


"Di mana?" sahutnya dengan sembringah.


"Daerah B. Medannya cukup menantang," kata papa dengan senyum.


"Ok ... papa juga akan ikut. Pokoknya akhir pekan ini, kita habiskan waktu di Medan itu," usul papa.


"Setuju," kata Damar


.


.


Siang harinya ...


Pak Pranata dan bu Fitri tampak menyambangi butik Quin.


"Tuan, Nyonya," sapa Al.


"Al, apa Quin ada di atas?" tanya pak Pranata.


"Ada, Tuan. Mau saya antar ke atas?" tawarnya.


"Nggak usah," tolak pak Pranata lalu mengajak Bu Fitri ke lantai dua.


"Baik, Tuan, Nyonya silakan," kata Al.


Baru saja mereka akan melangkah, Angga menyapa pak Pranata dan bu Fitri.


Sedangkan Al, ia merasa serba salah karena tidak mungkin melarang pria itu ikut naik ke atas.


"Pah, Tante," sapa Angga.


"Angga," sahut pak Pranata dan bu Fitri. "Ayo, kita bareng saja," ajak pak Pranata. Sedangkan Bu Fitri terlihat getir.


Ia sudah membayangkan wajah tak suka dari putri sambungnya itu. Ditambah lagi dengan kehadiran Angga.


Sesaat setelah berada di lantai dua, pak Pranata langsung ke galery butik karena tidak mendapati Quin ada di ruang kerjanya.


Dan benar saja, Quin terlihat sedang merapikan sebuah gaun pengantin di salah satu manekin dan tak menyadari kehadiran sang papa, bu Fitri dan Angga.


"Sayang," sapa papanya.


Quin menghentikan sejenak aktifitasnya karena merasa sangat mengenali suara itu. Ia pun berbalik.


Mau ngapain mereka ke sini? Pelakor murahan dan si pria brengsek. Cocok banget.


Quin mendesah kasar lalu memutar bola matanya dengan malas.


"Ada apa?" ketusnya lalu kembali menyibukkan dirinya seolah malas bertemu dengan papanya.


"Sayang, papa ingin mengajakmu makan siang di restoran favoritmu," cetus papanya.


"Aku belum lapar, lagian aku sudah janjian dengan anak-anak mau makan bareng nanti," tolaknya dengan nada ketus.


"Sayang, jangan menolak," sambung bu Fitri.


Quin langsung berbalik menatap nyalang bu Fitri.


"Jika aku nggak mau, jangan memaksa!!" bentaknya.


Bu Fitri terlonjak mendengar bentakan Quin.


"Sayang ....!!!" geram pak Pranata.


"Apa?! Papa ingin marah?" Mau menamparku lagi seperti waktu itu, hanya karena wanita murahan ini?! Ayo lakukan!!" tantangnya dengan rahang mengetat.


"Dan kamu," ia mengarahkan pandangannya pada Angga. "Pria bajingan dan brengsek!! Mau apa lagi kamu ke sini?!!" bentaknya dengan tangan terkepal.


"Sayang, maksudmu apa?" tanya pak Pranata.


"Jangan memanggilku, Sayang. Aku benci dengan sebutan laknat itu!! Stop and enough," tegasnya. "Dia dan Papa tidak jauh berbeda, sama-sama pria bajingan dan brengsek."


"Apa maksudmu?" Pak Pranata semakin dibuat bingung dengan umpatan sang putri.


"Tanyakan saja padanya," Quin mengarahkan dagunya ke arah Angga. "Termasuk wanita murahan ini. Aku rasa dia juga sudah tahu tapi hanya berpura-pura tidak tahu," geram Quin menatap benci ketiganya bergantian.


"Seperti Papa yang telah mengkhianati mama, seperti itulah juga yang terjadi padaku.Wanita ini mewariskan sifat pelakornya pada putrinya," sindirnya menatap mengejek pada bu Fitri dan Angga termasuk papanya.


"Satu hal yang harus Papa tahu, pernikahanku dan Angga nggak akan pernah berlangsung. Aku sudah memutuskan pertunangan dengannya," tegas Quin lalu meninggalkan ketiganya di galery butik.


Saat akan keluar dari galery butik, langkah Quin terhenti saat mendapati Damar berdiri tepat di hadapannya.


"Damar," lirihnya.


...****************...


Dukung terus karya ini ya readers terkasih. Mohon maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan dan kata-kata yang masih berantakan.🤭🙏😊


Terima kasih yang sudah mampir dan memberi likenya.🙏😘🥰