101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 15



Setelah berada cukup lama di rooftop itu, Quin kembali membereskan peralatan kerjanya dan kembali ke kamarnya. Sambil berbaring, ia terfikir untuk mencari angin segar di luar sana sambil menikmati jajanan kaki lima.


Ia tampak berpikir dan ingin mengajak Damar namun ia urungkan lagi niatnya. Karena tidak mungkin Damar mau makan jajanan kaki lima sepertinya.


"Sebaiknya aku izin saja. Aku akan mengajak Al dan Gisha saja. Sekalian membahas baju yang akan mereka jahit besok," gumamnya.


Karena sudah malas mengganti setelan piyamanya, Quin menutupinya dengan jaket. Setelah itu ia mencari keberadaan Damar, karena pria itu sedang tidak ada di kamarnya.


"Ke mana si Mr. brewok itu," gumam Quin sambil celingak-celinguk.


Hingga matanya terarah ke satu ruangan dimana pintunya tampak terbuka. Ia pun menghampiri ruangan itu lalu mengulas senyum saat melihat Damar sedang berlatih berjalan di temani oleh Naira.


Quin mengetuk pintu dan tetap berdiri di bingkainya.


"Maaf, apa aku mengganggu?" tanya Quin.


"Nggak," jawab Damar lalu mengarahkan pandangannya pada Quin.


"Mr. Brewok, aku mau minta izin keluar sebentar. Boleh nggak? Aku pengen jajan jajanan kaki lima," cetusnya.


Damar tampak berpikir lalu memperhatikan Quin yang hanya mengenakan setelan piyama celana pendek dengan jaket crop levis.


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Quin menghela nafasnya dengan kasar lalu tersenyum kecut.


"I'ts OK ... aku ke bawah saja," pamitnya lalu meninggalkan ruangan itu.


Ia pun terpaksa melepas kembali jaketnya dan melemparnya begitu saja di atas ranjang. Setelah itu, ia turun ke bawah lalu ke pantry. Kebetulan ada bi Yuni yang sedang menata makanan. Namun ia sama sekali tidak berselera dengan makanan itu.


"Bi, apa ada mie instan di sini?" tanya Quin.


"Nggak ada. Nak Damar tidak suka memakan makanan seperti itu," jawab Bi Yuni dengan ketus.


Quin mencebikkan bibirnya dan merasa geram.


"Nyebelin banget sih! Di tanya baik-baik malah jawabnya ketus, dasar nenek peyot," ucap Quin dalam hatinya.


Ia pun membuka kulkas lalu mengambil air putih kemudian meneguknya. Setelah itu ia melangkah ke kolam renang lalu memesan makanan seperti yang ia inginkan.


Tak lama berselang, Damar dan Naira ikut menyusul.


"Bi, Quin ke mana?" tanya Damar.


"Sepertinya dia ke kolam renang," jawab Bi Yuni.


Tanpa pikir panjang Damar langsung mengarahkan tuas kursi rodanya ke arah kolam renang. Ia merasa sedikit bersalah karena enggan membiarkannya keluar rumah.


"Quin ..." tegurnya.


Quin menoleh sekilas dan kembali menatap langit karena ia sedang berbaring di kursi santai pinggir kolam.


"Sudah selesai terapinya?" tanya Quin.


"Ya."


"Bagus lah, besok sebelum ngantor kamu harus terapi lagi," saran Quin. "Jika kamu rajin berlatih seperti itu, aku yakin mungkin dalam jangka waktu satu atau dua bulan kamu pasti sudah bisa berjalan normal," jelas Quin.


"Aku juga berharap seperti itu," lirihnya. "Ayo masuk, kita makan malam bareng yuk," ajak Damar. Namun Quin menggelengkan kepalanya dan mengisyaratkan ia enggan.


"Aku nggak mau, lagian aku nggak berselera apalagi aku sudah pesan makanan dari luar," akunya.


Damar hanya diam menatapnya dan memikirkan cara supaya ia mau makan bersamanya. Sedetik kemudian ia menyeringai tipis.


"Aku pengen berdiri, bisa bantu aku nggak? Bawa aku berjalan hingga ke meja makan," pintanya.


"Ada Naira, kamu bisa meminta bantuannya," timpal Quin dengan santai karena memang ia lagi dalam mode malas.


"Beneran nggak mau?" tanya Damar seolah mengancam.


Entah mengapa Quin merasa kesal karena ia merasa Damar bersikap posesif padanya. Sedangkan Damar, lagi-lagi ia merasa kecewa karena Quin menolak membantunya.


Quin kembali menatap langit dan meletakkan satu tangannya di kepala lalu memejamkan matanya hingga lagi-lagi ia tertidur.


Tiga puluh menit berlalu, makanan pesanannya sejak tadi sudah diantar bahkan sudah dibayar oleh Damar. Namun ia masih belum membuka matanya.


Karena tak kunjung masuk ke dalam rumah, Naira yang merasa geram mendatanginya lalu menoyor kepalanya sehingga membuat Quin kaget dan ponselnya terjatuh.


"Damn!!! What the hell!!! What are you doing to me?!!" geram Quin dan langsung berdiri menatap tajam pada Naira. "Seperti inikah etika seorang perawat profesional huh? Setahuku seorang perawat itu memiliki sifat yang lembut, ramah dan santun, tapi aku tidak melihat itu ada di dirimu tapi justru sebaliknya," sindir Quin penuh penekanan lalu meninggalkan Naira.


Naira bergeming dan kaget mendengar ucapan Quin.


Rasa lapar Quin langsung lenyap seketika karena merasa sangat jengkel. Tanpa memperdulikan Damar yang sedang menatapnya, ia langsung naik ke kamarnya lalu mengunci pintu.


"Sial!!! Jika nggak mengingat aku masih terikat kontrak dengan Damar, satu tamparan pasti sudah mendarat di wajahnya," geram Quin dengan tangan terkepal.


Dari lantai bawah Damar, menatap nanar pintu kamar Quin yang tertutup rapat. Ia merasa bersalah pada gadis itu karena ulahnya.


Seandainya saja ia mengizinkan Quin keluar sebentar tentu kejadian tadi tidak akan terjadi.


"Maafkan aku, Quin. Ini salahku," lirihya lalu menghampiri kolam renang dan menyuruh Naira kembali ke kamarnya.


"Naira, kembali lah ke kamarmu, aku harap kamu jangan bersikap kasar lagi pada Quin," peringat Damar.


Naira hanya mengangguk namun tetap saja ia semakin membenci Quin karena secara tidak langsung Damar membelanya.


Sepeninggal Naira, Damar tampak termenung. Entah mengapa ia seakan tidak ingin jauh-jauh dari Quin dan merasa nyaman bersama gadis itu. Apalagi sikapnya yang lembut dan suka menghiburnya, padahal ia baru dua hari tinggal di rumahnya.


************


Pagi harinya ....


Quin kembali mengetuk pintu kamar Damar lalu membukanya perlahan.!


"Morning Mr. Brewok," ucap Quin lalu terkekeh menatap Damar yang sedang berdiri sambil berpegangan di dekat sandaran kepala ranjang.


"Morning too, Quin," balasnya.


Quin menghampirinya lalu meminta Damar memegang pundaknya. Lagi-lagi hatinya kembali menghangat menatap lekat wajah cantik nan manis Quin. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh Quin masuk ke dalam pelukannya karena merasa bersalah.


"Tentang semalam ... maafkan aku karena sudah bersikap tidak sopan padamu bahkan terkesan kasar," bisik Quin.


Harusnya aku yang minta maaf. Ucapan itu hanya mampu Damar ucapkan dalam hatinya. Karena tak bisa menahan keinginannya untuk memeluk Quin, secara spontan ia merengkuh tubuh gadis itu.


Alhasil, karena Quin tidak siap dan tidak bisa menahan berat tubuh besar pria itu akhirnya ...


Buuuukkk ....


"Da-Da-Damaaaar .... aaaaaakh," pekik Quin dan keduanya terjatuh ke atas ranjang empuk itu dengan posisi Damar menindih tubuhnya.


Keduanya langsung tertawa lucu. Sedetik kemudian Damar menatap lekat wajah Quin turun ke bibir gadis itu dan ingin menciumnya namun tersadar karena Quin menegurnya.


"Mr. Brewok ... kamu berat, tulangku bisa remuk jika kamu terus berada di atas tubuhku," bisik Quin.


"Maaf," bisiknya.


Baru saja Damar ingin bergerak, suara yang begitu tidak asing menyapa gendang telinganya dan Quin.


"Damar!!!!" Sedang apa kalian?!!!!"


...****************...


Jangan lupa dukungannya dengan meninggalkan jejak like, coment, vote dan gift jika berkenan 🤭🥰🙏 .... Dukungan dari kalian sangat berarti dan sangat berharga bagi author pemula sepertiku. 🙏🥰🥰