
Malam semakin larut, Quin dan Damar yang kini sudah berada di kamar tampak sedang berbaring sambil sambil mengobrol.
Tangannya terus mengelus perut buncit Quin dan sesekali mengecupnya dengan gemas. Tak pelak ulahnya itu membuat Quin tertawa geli.
Sedetik kemudian ia membawa Quin masuk ke dalam pelukannya lalu berbisik,
"Apa boleh aku menjenguk baby boy?"
"Honey ..." Quin seolah enggan.
"Please ... aku akan pelan-pelan saja," melas Damar sembari mengelus pipi istrinya dengan sayang. "Sudah dua minggu aku puasa. Apa kamu nggak kasian padaku, hmm?" rayunya.
"Bagaimana jika besok saja di rumah kita," tawar Quin sambil terkekeh.
"Tapi aku menginginkan mu sekarang," protes Damar. "Boleh ya," rayunya bahkan tangannya mulai nakal meremas kedua buah ranum milik Quin. Melepas satu persatu kancing piyamanya. "Please .... aku sudah nggak bisa menahannya," rayunya lagi lalu dengan suara berat dan serak.
"Baiklah," bisik Quin mengizinkan.
Mendapat izin dari Quin, Damar langsung tersenyum. Mulailah ia melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya.
Memberi sengatan kenikmatan pada sang istri untuk meningkatkan ghairahnya. Tentu saja ulahnya itu membuat Quin langsung mende*sah.
Setelah puas barulah ia melakukan penyatuan. Ia melakukan dengan pelan mengingat Quin sedang hamil besar dan takut jika sampai baby-nya kenapa-kenapa.
Setelah keduanya mencapai puncak pelepasan, Damar mengecup lama kening istrinya lalu ke bibirnya. Mengusap keringat yang bercucuran lalu mengecup perut Quin dan mengelusnya.
"Thanks, Honey," bisiknya dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Quin dengan seulas senyum.
"Honey," panggil Quin dan menatapnya yang terus saja mengelus perutnya.
"Ada apa?" tanya Damar dengan seulas senyum lalu mengecup keningnya. "Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?"
"Terima kasih ... saat ini aku sudah nggak memikirkan apapun kecuali kita bertiga. Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu dan putra kita nantinya," desis Quin. "Tentang mamamu, walaupun dia nggak menganggapku, aku nggak masalah yang penting hubunganmu dengannya tetap baik," sambung Quin dengan lirih.
Damar terenyuh mendengar ucapan Quin. Ia mengangguk. Namun selagi itu tidak menyakiti Quin, ia akan menjaga hubungan baik dengan sang mama.
Tapi jika mamanya berbuat sesuatu yang bisa mengancam keselamatan Quin dan putranya ia pun tak akan tinggal diam.
"Tidurlah, besok kita akan kedatangan tamu," kata Damar.
"Tamu? Apa itu papa dan Sofia?" tanya Quin dengan sembringah.
"Bukan, tapi sahabatmu dan Rian," jelas Damar.
Seketika raut wajah Quin semakin berbinar bahagia.
"Beneran, Honey?" tanya Quin lagi dan Damar mengangguk lalu mengelus pipinya. "Dia pasti terkejut saat melihatku sudah hamil besar," kata Quin sambil terkekeh.
"Lagian kenapa kamu nggak memberitahunya jika kamu sedang hamil," protes Damar.
"Sengaja. Sekalian ingin memberinya surprise dengan kehadiran baby boy," kata Quin. "Ya sudah, kita tidur yuk. Ini sudah larut," cetus Quin.
Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk tidur dan akan bersiap menanti awal pagi yang cerah.
.
.
.
Keesokkan harinya pukul 08:15 pagi waktu Osaka ...
Setelah selesai sarapan bersama, Damar dan Quin akhirnya berpamitan pulang. Sedangkan Juna lanjut ke kantor setelah mengantar Ayumi ke sekolah dan Yura ke kampus untuk mengajar.
Setelah kurang lebih empat puluh lima menit mengendara, akhirnya Damar dan Quin tiba juga di rumah mereka.
Sesaat setelah keduanya duduk di sofa, Quin melirik sekilas.
"Honey, apa kamu nggak ngantor hari ini?" tanya Quin.
"Sepertinya nggak, besok saja," jawab Damar.
Tak lama berselang ponselnya bergetar. Ia langsung merogoh kantong celananya lalu mengulas senyum.
"Ya, Rian," ucapnya.
"Tuan, saya dan Al sebentar lagi akan take off," jelas Adrian dari seberang telepon.
"Ok, baiklah. Kabari saja jika kalian sudah tiba nantinya," pesan Damar.
"Baik, Tuan." Setelah itu Adrian memutuskan panggilan telfon.
Damar meletakkan ponselnya ke atas meja lalu menggenggam jemari istrinya.
"Honey."
"Hmm."
"Apa kamu nggak ingin jalan-jalan ke kota J lagi? Aku pengen banget ke villa ka ...."
"Kita," protes Quin. "Villa kita, Honey," tegasnya lalu membenamkan wajahnya di dada liat Damar. "Aku pengen tapi entah kapan. Aku lebih nyaman di sini," sambungnya dan semakin memeluknya dengan erat.
Sepanjang siang itu, keduanya hanya di rumah melakukan aktivitas sambil menunggu kedatangan asisten dan juga sahabatnya.
Hingga di sore hari, tepatnya jam 18:30, Quin mulai menggerutu kesal karena orang yang ditunggu-tunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ia pun menuju ruang kerja suaminya lalu menghampirinya yang masih saja sibuk dengan laptopnya.
"Honey," panggilnya.
Damar langsung mendongak. Namun alisnya langsung bertaut karena wajah sang istri terlihat cemberut.
"Ada apa, hmm? Kenapa wajahmu cemberut begini?"
"Ini sudah hampir jam tujuh malam, tapi Al dan Rian belum juga tampak. Aturannya mereka sudah tiba beberapa jam yang lalu," sungut Quin yang kini duduk di pangkuan suaminya.
"Mungkin mereka ke apartemen," bisik Damar. "Mereka pasti lelah jadi butuh istirahat juga."
"Hmm," dehem Quin dengan hela nafas.
Dua jam kemudian ...
Saat Quin tengah menyiapkan makan malam, bel pintu berbunyi. Ia hanya membiarkan saja karena ada Damar yang akan membuka pintu.
Tak lama berselang setelah selesai menata makanan, ia pun duduk di kursi meja makan sambil meneguk susu coklat.
Baru saja ia akan berangkat dari tempat duduknya, suara nyaring Al langsung menyapa gendang telinganya.
"Quin!!!" pekik Al sambil berlari kecil ke arahnya. Namun saat ia sudah mendekat, Al berhenti lalu menatapnya lekat. "Quin, are you pregnant? Sudah berada bulan? Kenapa kamu nggak memberitahu kami?" Al memberondongnya dengan pertanyaan lalu memeluknya.
"Congratulation ... aku turut berbahagia, Quin."
Quin hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu.
Sedangkan Adrian dan Damar tampak sedang berada di ruang tamu.
"Rian, aku perhatikan kamu dan Al semakin dekat," goda Damar. "Jika aku boleh sarankan, sebaiknya kamu cepat-cepat melamarnya."
Rian tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ucapan boss-nya itu ada benarnya juga menurutnya.
"Doakan saja, Tuan. Saya berencana melamarnya setelah nona Quin melahirkan."
Damar mengangguk setuju lalu menepuk pundak sang asisten itu.
"Ayo ... sebaiknya kita ke meja makan. Quin sudah menyiapkan makan malam," ajak Damar. "Haah ... gara-gara kalian dia sempat menggerutu kesal tadi."
"Maaf, Tuan. Tadi kami langsung ke apartemen beristirahat. Soalnya kami nggak ingin merepotkan Tuan dan nona Quin."
"Nggak apa-apa Rian. Yang penting kalian berdua sudah ada di sini."
Keduanya kini duduk di kursi meja makan.
"Sebaiknya kita makan dulu. Setelah selesai makan kita lanjut ngobrol sambil ngopi-ngopi," cetus Quin.
Mereka hanya mengangguk. Namun benak Al masih saja dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Ia masih saja penasaran.
Sedangkan Quin ia kembali terkekeh menatap sahabatnya itu. Ia tahu apa yang Al pikirkan saat ini. Ia pun menegur sahabatnya itu dengan berbisik,
"Nanti saja aku jelaskan. Sepertinya kamu penasaran banget." Quin pun duduk di sampingnya.
Setelah itu mereka lanjut menyantap makan malam. Selang tiga puluh menit kemudian setelah selesai makan, Al membantu Quin membereskan wadah bekas makan lalu mencucinya.
Sedangkan Quin tampak membuat kopi di mesin kopi otomatis. Begitu kopinya jadi, ia pun mengajak Al mengantar kopi itu ke ruang santai lalu mengajaknya ke rooftop.
"Beautiful view," gumam Al sesaat setelah berada di rooftop itu. "Quin ... nggak lama lagi musim gugur kan?" tanya Al.
"Hmm," jawabnya dengan seulas senyum.
"Quin kamu belum menjelaskan padaku?"
"Tentang kehamilanku?" tebak Quin dan dibalas dengan anggukan kepala Al. "Aku hamil duluan," akunya.
"What?!! Serius?" pekiknya dengan mata membulat seolah tak percaya.
"Ya ... kami sama-sama mabuk malam itu dan tak bisa menahan hasrat. So ... akhirnya membuahkan calon baby boy," jelasnya dengan santai. "Apa kamu masih ingat lima bulan yang lalu saat aku baru tiba ke kota J? Ternyata aku sudah hamil dua bulan dan aku nggak menyadarinya," jelas Quin.
Al hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan sang sahabat. Sedetik kemudian ia mengelus perut Quin.
"Baby boy," sebutnya. "Aku nggak bisa bayangkan setampan apa putramu Quin," desis Al. "Kamu dan Damar sama-sama blasteran."
Quin terkekeh. "Jika anakmu cewek, aku akan menjodohkan mereka nantinya," cetus Quin. "Kapan kamu dan Rian akan menikah?" cecar Quin. "Seperti janjiku saat itu. Jika kamu dan Rian menikah, aku yang akan meriasmu dan mendesign langsung baju pengantin kalian," janji Quin.
"Ck ... masih lama, lagian aku belum siap," elak Al lalu terkekeh.
Keduanya sama-sama terkekeh merasa lucu.
"Al, thanks ya. Selama ini kamu sudah banyak membantuku. Semoga persahabatan kita ini berlanjut ke anak-anak kita nantinya."
"Sama-sama Quin," balas Al lalu merangkul bahu sahabatnya itu.
...----------------...