101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 32



Beberapa jam lamanya burung besi yang ditumpanginya mengudara, akhirnya Angga tiba juga di bandara Osaka.


Tanpa pikir panjang, ia langsung menuju ke salah satu taksi yang ada di bandara dan memintanya di antar ke alamat tujuan.


Sementara Damar yang saat ini berada di ruang tamu, tampak masih menunggu Quin. Bahkan ia merasa heran, sejak berpamitan siang tadi hingga sore, ia tidak muncul lagi. Ponselnya tidak aktif begitupun dengan Al.


Karena merasa penasaran, ia menghubungi Adrian supaya ke unit apartemen Quin dan El.


"Quin, kok ponselnya nggak aktif?" desis Damar.


Sementara Adrian yang kini berada di ambang pintu apartemen Quin terus memencet bel pintu.


"Quin dan Al kemana sih?!" dumalnya lalu menghubungi gadis itu namun tak aktif. Karena tak ada jawaban bahkan pintu tak kunjung dibuka, akhirnya Adrian menghubungi Damar.


Beberapa detik menanti, panggilannya langsung tersambung.


"Ya hallo, Rian."


"Tuan, sepertinya Quin dan Al nggak ada di apartemennya," jelas Adrian.


"Apa kamu bisa memastikannya?"


"Iya, Tuan. Sejak tadi aku memencet bel pintu nggak dibuka bahkan ponsel keduanya nggak aktif," jelasnya lagi.


Damar mengerutkan keningnya dan tampak berpikir.


"Coba kamu ke ruang control CCTV. Cari tahu di sana. Minta tolong pada petugas di sana," usul Damar. Ia curiga jika Quin dan Al mungkin saja sudah meninggalkan kota ini. Apalagi ia teringat ucapan Quin saat mereka makan siang tadi.


Seperti yang diperintahkan oleh Damar, Adrian hanya menurut dan menuju ke ruang control CCTV. Karena tidak bisa berbahasa Jepang, ia menggunakan google translate lalu menunjukkan ponselnya pada petugas supaya membantunya memeriksa kegiatan di lantai 5 siang tadi.


Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya rasa penasarannya dan Damar akhirnya terjawab. Sebelum meninggalkan ruang control CCTV, tak lupa ia berterima kasih dan kembali menuju ke unit Damar.


Setibanya ia di unit apartemen Damar, ia langsung menyapa Damar.


"Tuan, Quin dan Al terlihat sudah meninggalkan apartemennya. Bahkan Al membawa koper."


Damar hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Ia sedikit merasa menyesal karena gegabah memposting foto kebersamaan mereka.


"Hmm. Aku sudah menduganya," jawab Damar dan seperti sudah tidak bersemangat.


"Lalu apa rencana Anda selanjutnya," tanya Adrian.


"Siapkan tiket penerbangan pagi ke kota J. Kita pulang saja," perintah Damar.


"Baik, Tuan."


*********


Angga yang baru saja tiba di apartemen Quin langsung menekan password unit Quin lalu membuka pintu.


Alisnya saling bertautan saat mendapati ruangan apartemen Quin gelap. Ia pun menekan saklar lampu dan menyapu seluruh isi ruangan itu tanpa ada yang ia lewatkan.


"Ini kan, ponselnya khusus di kota ini?" desis Angga lalu mengepalkan kedua tangannya merasa geram.


Kedatangannya ke Jepang harus membuatnya kembali menelan kekecewaan. Niat hati ingin meminta maaf sekaligus berlibur bersama namun kerasnya watak Quin yang sulit di tebak membuatnya menelan pil pahit.


Ia tertunduk lesu sambil terduduk di sisi ranjang. Sedetik kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu sambil menatap langit-langit kamar.


"Lord ... bagaimana jika Quin benar-benar membatalkan pernikahan kami? Aku takut bahkan aku nggak bisa menerima," desisnya lalu memejamkan matanya.


Jauh dari kota Osaka Jepang, Quin dan Al malah sudah tertidur pulas di salah satu hotel, setelah menempuh perjalanan udara selama berjam-jam lamanya.


Rencananya Quin dan Al akan berlibur ke kota singa itu selama tiga hari. Sedangkan Damar dan Adrian kembali memutuskan kembali ke kota J besok dan menunggu Quin kembali ke kediamannya.


*************


Pagi harinya pukul 9.00 pagi waktu Osaka.


Damar dan Adrian kini sudah berada di dalam pesawat yang mereka tumpangi saat dari kota J.


Satu jam menunggu, akhirnya perlahan pesawat mulai meninggalkan bandara dan perlahan mengudara.


"Adrian, maaf sudah merepotkanmu," ucap Damar dan terlihat dingin.


"Nggak apa-apa, Tuan," sahut Adrian.


"Quin ... maaf jika aku sudah mengacaukan liburanmu," batinnya.


Sama halnya Damar, Angga juga terpaksa kembali ke kota J dengan pesawat lain. Harapannya untuk menghabiskan waktu dengan sang tunangan terpaksa ia kubur dalam-dalam.


Sedangkan Quin dan Al keduanya mulai memulai petualangan mereka menjelajahi tempat-tempat wisata favorit di kota itu dari satu tempat ke tempat wisata yang lain.


Tak lupa keduanya mengabadikan momen mereka dengan mendokumentasikan video dan foto-foto mereka menggunakan kamera khusus yang selalu Quin bawa saat berlibur.


Saat ini Quin dan Al sedang berada di Haw Par Villa, salah satu taman yang sangat cocok untuk menenangkan pikiran.


Sambil berjalan, keduanya tampak mengobrol.


"Al, sebentar malam kita ke Bugis Street ya. Kita bisa menikmati aneka jajanan di sana nantinya. Besok, kita lanjut ke Universal Studios dan hari terakhir kita ke Sentosa Island," usul Quin.


"Aku ikut kamu saja, soalnya kamu boss-nya," sahut Al lalu terkekeh.


Setelah puas menyusuri taman itu keduanya singgah untuk membeli minuman. Setelah mendapat apa yang mereka inginkan, keduanya kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak karena sejak pagi mereka mereka terus menjelajahi tempat-tempat wisata menarik.


********


Di hotel ....


"Quin ... aku jadi kepikiran Damar dan Adrian." Al membuka suara.


"Ck ... mereka mah gampang. Nanti akan aku usulkan supaya Damar mau berlibur di Lombok or Bali. Yang penting sekarang ini kita puas-puasin tanpa ada yang menggangu termasuk mereka berdua," kata Quin dengan santai.


"Benar juga ya," desis Al.


"Sudah ah, aku mau istirahat dulu. Entar malam kita jalan-jalan lagi."


"Siap ..."


********


Kantor Angga ...


"Bram, apa Angga ada di ruangannya," tanya Altaf.


"Maaf Pak. Pak Angga lagi ke Jepang," jawab Bram.


"Kapan dia berangkat? Kok nggak kasih kabar."


"Kemarin sore Pak. Sepertinya dia buru-buru," jelas Bram.


"Hmm. Terima kasih. Aku keruangan dulu," pamit Altaf dan maju beberapa langkah menuju ruangan sang adik.


Sesaat setelah berada di ruangan Angga, Altaf langsung duduk di kursi kerja Angga lalu memperhatikan ruangan itu.


Ketika matanya terarah ke foto Quin, ia langsung meraih frame itu lalu mengelus wajah Quin yang tampak sedang tersenyum.


"Quin ... jika saja bukan Angga, aku nggak akan mengalah. Tapi perasaan ini harus aku pendam demi adikku sendiri. Aku mengalah demi dia," lirihnya.


Sedang asik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja ia tersentak kaget saat pintu dibuka tanpa di ketuk.


Saat tahu siapa pelakunya, Altaf menyunggingkan senyum sinis seolah tak suka dengan gadis yang saat ini berada di ruangan sang adik.


"Well ... kamu lagi? Apa kamu nggak punya sopan santun dan etika ketika masuk ke ruangan atasan mu?" sindir Altaf dengan tatapan menghunus tajam sambil tersenyum mengejek.


Kinara menundukkan wajahnya dan merasa seperti di kuliti. Ucapan Altaf selalu sukses membuatnya bungkam dan mati kutu.


"Satu lagi, jika niatmu ingin bekerja serius di perusahaan ini, aku sangat mengapresiasi tapi jika niatmu hanya ingin menggoda dengan sering memperlihatkan lekuk tubuhmu dan berpakaian minim bahan seperti ini, tempatnya bukan di sini tapi di pub and bar," tegas Altaf dengan nada dingin dan menatap jijik pada Kinara.


Bughhhh ....


Dadanya seketika sakit seperti terkena hantaman batu.


Ucapan bernada dingin yang terlontar dari mulut Altaf, membuat hatinya menohok. Tanpa sepatah kata pun Kinara langsung meninggalkan ruangan Angga dengan perasaan mendongkol.


"Dasar gadis murahan," desis Altaf merasa geram.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜