101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 34



Sepeninggal Damar, Quin kembali ke butik dan memilih naik ke lantai dua. Sesaat setelah berada di ruang kerjanya ia mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya lalu memejamkan matanya.


Selang beberapa menit kemudian, Angga menyapanya sambil menenteng paper bag.


"Sayang ..."


Quin membuka matanya lalu mendesah kasar. Entah mengapa ia merasa jengah dengan kehadiran Angga.


"Ada apa!" ketusnya dan tetap bergeming di tempat.


"Kenapa nggak menjawab panggilan dariku?" cecarnya.


"Aku ketiduran tadi," jawab Quin dengan santai.


"Ketiduran atau asik berduaan dengan Damar?" selidik Angga tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan matanya pada Quin.


"Jika iya, kenapa? Apa kamu ingin marah? Atau sekalian memutuskan pertunangan kita? Silakan saja, i don't care," tantang Quin dengan senyum sinis.


"Sayang!!! Kamu apa-apaan sih?" bentak Angga dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Emosinya langsung terpancing mendengar ucapan Quin.


"Sudahlah, jika kamu ingin membahas hal yang nggak penting silakan tinggalkan butik ini. Lagian aku sibuk," usirnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Alih-alih meninggalkan Quin, Angga malah mendekapnya erat. "Maaf," bisiknya.


Quin hanya bergeming bahkan tak membalas dekapan erat sang tunangan.


"Sudah sering kali kamu mengatakan kata maaf itu, dan berulang kali pula kamu tetap melakukan hal yang sama. Aku berharap ini kata maaf yang terakhir. Setelah itu aku berharap hubungan toxic ini akan berakhir," ucap Quin dalam hatinya.


"Aku membawakan makan siang untukmu," bisiknya.


"Terima kasih, tapi aku sudah makan siang dengan anak-anak tadi," bohongnya lalu sedikit mendorong dada Angga supaya melepas dekapan.


"Temani aku makan," pintanya.


"Maaf, aku masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan," bohong Quin lagi dan ingin melangkah namun Angga menahan tangannya dan kembali memeluknya dari belakang.


"Sayang ... please!" mohonnya. "Tentang kejadian kemarin ..." Ucapan Angga tercekat saat Quin langsung menyahut.


"I don't want to talk about it. Apa yang terjadi kemarin, hanya kalian berdua yang tahu," potong Quin dengan cepat lalu berbalik menatap wajah Angga. "Jika kamu ingin makan, silakan saja tapi aku ingin melanjutkan pekerjaanku," pungkas Quin.


"Sayang ..." lirih Angga, namun Quin seolah tak peduli dan tetap meninggalkannya di ruang kerjanya, dan memilih turun ke lantai satu bergabung dengan karyawannya.


Sepeninggal Quin, Angga mengepalkan kedua tangannya dan mengetatkan rahangnya menahan emosi.


"What the fu*ck!!! Jika Damar terus-terusan mendekati Quin, bisa-bisa Quin akan jatuh ke dalam pelukannya. Apalagi saat ini, Damar sudah sembuh total," geramnya.


Kerasnya watak Quin semakin membuatnya gusar. Satu hal yang ia takutkan adalah, kehilangan gadis itu.


Merasa percuma berada di butik itu, akhirnya ia ikut menyusul Quin ke lantai satu lalu menghampirinya yang terlihat sibuk memasang beberapa baju ke manekin.


"Sayang ..." tegurnya. Quin berbalik lalu mengernyit.


"Ada apa? Sudah selesai makannya? Kok cepat banget," tanya Quin lalu menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Nggak, aku nggak nafsu makan soalnya kamu nggak menemaniku," aku-nya.


"Lalu?"


"Aku akan kembali ke kantor saja," imbuhnya.


"Hmm ..." Quin kembali melanjutkan aktifitasnya dan tak memperdulikan Angga.


Melihat sikap acuh tak acuh Quin padanya, Angga hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghela nafas kecewa.


"Sayang ... apa kamu nggak mau mengantarku sampai ke parkiran?" harapnya.


Quin menghela nafas pelan lalu berbalik. Ada sedikit rasa iba di hatinya karena sejak tadi ia mengacuhkan Angga. Mau tidak mau, ia memeluk lengannya lalu mengantarnya hingga ke parkiran.


"Sebelum ke kantor, singgahlah sebentar di restoran untuk mengisi perutmu. Kamu bisa sakit jika makanmu nggak teratur," kata Quin mengingatkannya.


"Mau semarah apapun kamu padaku, kamu tetap saja perhatian padaku. Sikapmu inilah yang membuatku tidak bisa membuatku berpaling," batin Angga.


"Ya ... terima kasih Sayang," ucap Angga lalu memeluknya dan mendaratkan kecupan di kening dan bibir Quin.


Quin hanya mengangguk lalu mengulas senyum.


Sepeninggal Angga, Quin kembali melangkah masuk ke dalam butik dan langsung ke lantai dua.


Quin kembali duduk di kursi kerjanya dan menatap paper bag makanan berlogo dari salah satu restoran Jepang.


Quin mendesah kasar lalu menatap frame fotonya dan Angga kemudian menatap cincin berlian yang masih melingkar di jari manisnya.


"Entah sampai kapan kamu akan melingkar di jari ini," bisik Quin sambil memutar-mutar benda berbentuk lingkaran itu di jari manisnya.


"Sebaiknya makanan ini buat anak-anak saja, sayang banget jika nggak kemakan," lirihnya lalu meraih paper bag makanan itu dan membawanya ke lantai satu.


"Quin, kok makanannya masih utuh," cecar Al.


"Jika kalian mau, makan saja. Aku sudah kenyang. Lagian sayang tahu jika nggak kemakan," sahut Quin.


"Buat aku saja, Quin," timpal Gisha lalu terkekeh.


"Dasar kamu! Heran deh. Makannya kuat banget tapi badan tetap kek cacingan," ejek Jihan.


"Yeeeaa ... biarin," sahut Gisha.


"Ya sudah, makan saja, nggak usah berdebat. Kerjanya nanti saja," potong Quin mengakhiri silat lidah karyawannya itu.


.


.


Sore harinya menjelang magrib ...


"Quin, kami duluan ya," kata Al, Gisha dan Jihan.


"Ok," sahut Quin sambil melambaikan tangannya.


Tak lama berselang ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas lalu tersenyum.


"Mr. Brewok," desisnya lalu menggeser tombol hijau.


"Evening Mr. Brewok," jawab Quin lalu terkekeh.


"Evening too. Quin ... apa kamu masih di butik?" tanya Damar.


"Iya, bentar lagi mau pulang, tapi aku izin sebentar ya."


"Izin? Maksudmu?" Damar penasaran.


"Ya ... aku mau mampir sebentar ke apartemen Angga. Boleh ya. Mungkin aku pulangnya agak telat," pesannya.


"Ok ... baiklah."


"Ya sudah, aku tutup dulu," kata Quin lalu memutuskan panggilan telepon.


Damar hanya mengulas senyum. "Dia seperti seorang istri saja. Mau ke suatu tempat saja dia pasti meminta izin. Benar-benar istri idaman," gumam Damar. "Bodohnya Angga, wanita seperti Quin di selingkuhi. Aku nggak akan melepasnya dan memastikan dia akan menjadi milikku," tekadnya sambil membayangkan wajah gadis berparas cantik dan manis itu.


Kembali ke Quin. Ia baru saja masuk ke dalam mobilnya dan mulai membelah jalan kota. Ia terpaksa harus bersabar karena jalan mulai macet.


Beberapa menit kemudian, ia mampir ke salah satu restoran untuk memesan makanan. Setelah itu ia kembali melanjutkan perjalanannya ke gedung apartemen Angga.


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, akhirnya ia sampai juga dan bergegas menuju lift untuk mengantarnya ke unit apartemen Angga.


Tinggg ....


Pintu lift terbuka dan ia pun mulai melangkah menuju unit Angga. Setelah menekan password dan membuka pintu, ia menuju pantry lalu meletakkan paper bag makanan di atas meja makan.


Ketika kakinya menapaki anak tangga, keningnya mengernyit, ia merasa seperti dejavu mendengar suara-suara khas orang sedang berhubungan intim.


"Lord ... aku merasa seperti dejavu," lirihnya menahan sesak di dadanya bahkan jantungnya langsung berdetak kencang.


Begitu ia berada diambang pintu kamar Angga, suara desa*han bersahutan dengan erangan nikmat, semakin jelas terdengar di gendang telinganya.


Quin memejamkan matanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam lalu bergumam, "Calm down Quin. Walaupun sakit, tapi ini menjadi pertanda jika kamu akan terlepas dari hubungan LAKNAT ini."


Dengan tangan bergetar, perlahan Quin memutar handle pintu. Dan apa yang ia pikirkan dan ia bayangkan kembali terlihat nyata di depan matanya.


"For the second time ... fu*ck for this relationship."


Sebuah tontonan yang Quin anggap layaknya blue film tak berkualitas.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜