101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 14



Beberapa jam kemudian, Quin merasa pipinya seperti dielus dan spontan ia menahan tangan itu di pipinya dengan mata yang masih terpejam.


"Sayang ..." desisnya dan perlahan membuka matanya.


Lagi-lagi ia terkejut saat mendapati Damar duduk di sisinya.


"Ehem ... maaf ..." ucap Quin lalu mendudukkan dirinya bersisian dengan Damar.


Aku berharap saat aku menyentuh pipimu lagi, kamu menyebut namaku.


"Nggak apa-apa," sahut Damar dengan senyum kecut.


"Apa kamu butuh sesuatu?"


Damar hanya menggelengkan kepalanya. Lalu menatap Quin yang sedang meraih sesuatu di meja nakasnya.


Ia terlihat duduk di lantai lalu meraih sepasang kaki Damar kemudian memijatnya dengan lembut. Dari telapak kaki hingga naik ke betisnya dan sesekali mendongak menatapnya dengan senyum tulusnya.


"Ternyata kamu bisa pijat juga ya," kata Damar lalu terkekeh.


"Lumayanlah ... belajar dari YouTube," sahutnya. "Mudah-mudahan ini sedikit membantu," kata Quin lalu menggelitik telapak kaki Damar dengan gemas.


"Quin ... geli ... ha.ha.ha .... Quin ... please, cukup. Geli ... ha.ha.ha ..."


Suara tawa Damar kembali bergema mengisi kamar Quin. Quin hanya terkekeh mendengarnya.


"Damar."


"Hmm."


"Besok sebelum ke kantor, kamu harus terapi dulu dengan terapis itu. Begitu juga saat kamu pulang kantor, setidaknya kamu harus menjalani terapi paling tidak 30 menit untuk melatih otot-otot kaki dan syaraf kamu," saran Quin.


Damar hanya mengulas senyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Tapi aku merasa kamu lebih cocok menjadi terapisku," bisiknya.


Quin mendongak dan wajah keduanya begitu dekat hanya berjarak beberapa senti. Sedetik kemudian Quin tersenyum.


"Nggak boleh gitu, lagian dia lebih ahli," bisik Quin. Keduanya kembali tertawa.


Keduanya tak menyadari sejak tadi Naira memperhatikan gelagat mereka berdua. Perasaan cemburu seketika merasuki dirinya.


"Ehem ... ehem ..." ia sengaja berdehem.


Quin dan Damar langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Naira ... ada apa?" tanya Damar.


"Nggak apa-apa," jawab Naira lalu menghampiri Damar dan menatap tak suka pada Quin.


Ada apa dengannya? Seolah-olah aku ini seorang kriminal.


Quin membatin lalu berdiri. Sementara Damar sudah berpindah duduk ke kursi rodanya.


"Biar aku bantu," tawar Naira, namun Damar menolak.


Naira hanya bisa menghela nafas lalu ikut meninggalkan kamar Quin.


Di kamar mandi, Quin menggerutu kesal.


"Huh! Aku mengira tinggal di sini bakal bikin aku agak tenang, tau-tau nya ketemu dengan nenek sihir dan putri sihir menyebalkan."


Setelah itu, Quin menyalakan shower lalu membasahi tubuhnya.


Beberapa menit kemudian ia pun tampak sudah rapi dan memilih naik ke rooftop sambil menenteng laptop dan buku gambarnya.


*


*


*


Mansion Wibowo


Setelah mendapat panggilan telfon dari sang mama, Angga memutuskan pulang ke mansion orang tuanya.


Kini mereka sedang duduk di ruang tamu dan tampak berbincang-bincang.


"Angga, besok anniversary pernikahan mama dan papa. Jangan lupa ajak Quin menghadiri pesta mama besok," pesan mama.


Bu Meilan, tampak berpikir. "Tapi Nak, mama sangat berharap Quin bisa hadir," harapnya.


"Baik lah, Mah. Ngomong-ngomong papa mana ya?" tanya Angga.


"Papa belum pulang, katanya masih ada urusan di luar," jelas mama.


"Gitu ya. Kak Altaf dan kak Karin?"


"Altaf mungkin sebentar lagi pulang sedangkan Karin sudah pulang tadi sore dijemput suaminya," jelas mama.


Angga hanya mengangguk. "Aku ke kamar dulu Mah, malam ini aku menginap saja," kata Angga.


Ia pun beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya di lantai dua. Sesaat setelah berada di kamarnya, ia langsung menghempas tubuhnya.


Senyumnya kembali terbit mengingat perlakuan lembut Quin padanya tadi siang.


"Sayang ... aku nggak habis pikir kenapa kamu tiba-tiba saja menunda pernikahan kita."


Tak lama berselang ponselnya bergetar. Saat menatap kontak yang memanggil ia hanya membiarkan saja.


Ponselnya terus bergetar, namun ia seakan tak peduli.


Sedangkan orang yang menghubunginya terlihat begitu kesal dan jengkel.


"Ih ... ngeselin banget sih?" gerutu Kinar yang saat ini berada di depan pintu apartemen Angga.


Ia pun memutuskan pulang dengan perasaan dongkol.


*


*


*


Sedangkan Quin, ia masih terlihat serius menatap layar laptopnya. Sedetik kemudian ia pun menutup benda itu lalu merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.


"Eugh ... akhirnya selesai juga. Besok tinggal di eksekusi," gumam Quin lalu terkekeh.


Ia pun berdiri lalu menghampiri pagar kaca sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Aku pasti merindukan tempat ini nanti.


Quin bergumam dalam hati lalu mengulas senyum.


Tak lama berselang seseorang, seseorang menghampirinya.


"Heh ... sedang apa kamu di sini?!


Quin mengerutkan keningnya lalu berbalik.


"Namaku bukan heh, tapi Quin," ucapnya sambil bersedekap tangan. "Kamu nggak lihat aku lagi ngapain?" Quin balik bertanya.


Naira memutar bola matanya malas lalu mendorong bahu Quin. "Jangan pernah ambil kesempatan ke atas diri Damar."


"Maksudmu? Perasaan ... aku nggak pernah ambil kesempatan tuh. Aku dan Damar baru kenal dan dia langsung menawariku perkerjaan untuk menjadi asisten pribadinya," jelas Quin dengan ketus.


"Asisten pribadi, tapi nggak harus sedekat itu juga," protes Naira tidak suka.


Lagi-lagi alis Quin saling bertaut. Ia menyipitkan matanya lalu tersenyum sinis.


"Bukankah asisten pribadi itu yang harus melayani semua kebutuhan majikannya? So jika sekedar dekat toh tidak masalah. Bagiku itu sah-sah saja atau ...."


Quin tak melanjutkan ucapannya namun menatap penuh selidik pada Naira.


"Aku jadi curiga jika kamu suka sama Damar," tebak Quin dengan senyum sinis.


Tebakan Quin seketika membuatnya gugup dan salah tingkah.


Huh! Dari gelagatnya, anaknya si nenek peyot ini sepertinya menyukai Damar. Mendingan aku comblangin saja si Damar dengan Al.


Quin kembali tersenyum mengingat temannya itu. Sedangkan Naira, ia memilih meninggalkan Quin.


...****************...


Jangan lupa jempol like, coment n vote nya akak...😅😘😘