
Angga menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan tampak berpikir. Hatinya mulai gundah dan seakan takut.
Jika benar seperti dugaan Dennis, ia pun tak akan tinggal diam.
"Apa benar yang di katakan Dennis? Tapi Quin, bukan lah tipe cewek yang mudah luluh. Jika iya pun quin dekat dengan cowok lain, itu hanya sebatas bisnis," gumam Angga.
Ia pun kembali dibuat bertanya-tanya, kenapa Quin merubah password pintu apartemennya. Bahkan gadis itu tidak menjawabnya tadi.
"Aku harus menemuinya besok setelah bertemu klien," gumamnya lagi.
.
.
.
Quin men*desah kasar, lalu kembali duduk di samping Damar. Sedetik kemudian ia menoleh ke arah damar.
"Kenapa?" tanya Damar sedikit salah tingkah.
"Wah ... sepertinya kamu ada sedikit kemajuan. Buktinya kamu sudah bias berpindah tempat dari kursi roda ke atas ranjang ini."
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku, jika aku harus semangat untuk sembuh. Jadi aku mencoba berusaha sendiri," jelas Damar lalu membetulkan kacamatanya.
"Ehem ... ehem ... ingaaat, cewek yang di samping kakak itu, tunangan orang," sindir Sofia.
Quin dan Damar terkekeh.
"Kenalin, aku Quin. Selama 101 hari kedepan aku akan menjadi asisten pribadi kakakmu."
"What!! Really?! Oh my God. Kakak, apa aku nggak salah dengar?"
"No, this is real," sahut Quin.
"Kakak, kalau asistennya seperti kak Quin aku juga mau kali," ucapnya sambil memeluk lengan Quin.
Kedekatan Quin, Sofia dan Damar semakin membuat bi Yuni tidak menyukai Quin. Ketiganya tidak menyadari jika sejak tadi wanita paruh baya itu sedang memperhatikan mereka di ambang pintu.
"Naira harus segera berada di rumah ini untuk menjadi terapis Nak Damar. Jika tidak, Nak Damar bisa-bisa jatuh cinta pada gadis itu," gumamnya dengan perasaan kesal lalu meninggalkan tempat itu.
"Apa itu artinya kak Quin akan tinggal di sini selama 101 hari?" tanya Sofia.
"Tepat sekali," jawab Quin.
"Kakak, aku ke sini ingin memberitahu kak Damar jika Minggu depan, perusahaan papa akan merayakan HUT perusahaan. Jangan lupa datang," pesan Sofia.
Damar melirik Quin yang masih duduk di sampingnya.
"Why?" tanya Quin. "Tenang saja, sebagai asisten pribadi yang baik, aku akan menemanimu."
"Really?"
"Hmm ..."
"How about your fiance?" tanya Damar.
"Itu masalah gampang diatur," jawab Quin santai lalu mengulas senyum.
"Ya sudah, aku mau sekalian pamit," kata Sofia.
"Ya, hati-hati. Katakan pada mama dan papa, aku akan hadir," balas Damar.
Sofia hanya mengangkat kedua jempolnya. Setelah itu, ia pun meninggalkan Damar dan Quin.
Begitu Sofia sampai di lantai dasar, bi Yuni menghampiri Sofia.
"Nak Sofia!" panggilnya.
"Bibi. Ada apa, Bi?"
"Apa gadis itu ...."
"Nona Quin," sahut Sofia cepat sekaligus memotong kalimat bi Yuni. "Dia asisten pribadi kak Damar. Jadi selama dia bekerja di sini perlakukan dia sebaik mungkin," tegas Sofia.
"Asisten pribadi?" batinnya.
"Nak Sofia, jika boleh bibi sarankan, bagaimana jika anak bibi Naira menjadi terapis untuk Nak Damar. Soalnya dia kan, perawat dan biasa menangani pasien lumpuh," usul bi Yuni.
"Itu bukan urusanku, Bi. Sebaiknya bibi langsung usulkan pada kak Damar atau mama," saran Sofia.
"Baiklah."
"Ya sudah, Bi. Aku pamit," kata Sofia lalu meninggalkan wanita paruh baya itu.
Sementara Quin dan Damar masih duduk di ranjang yang sama.
"Ayo ... aku bantu berdiri. Atau mau sekalian aku tuntun berjalan hingga sampai di kamarmu?" tawar Quin.
"Apa boleh?" tanya Damar. Namun hatinya bersorak girang.
"Tentu saja, Tuan," kelakar Quin. "Ayo ... berpeganglah," pinta Quin seraya merangkul pinggang Damar.
Walaupun merasa sedikit kesulitan, Damar tetap berusaha dan tetap mengikuti arahan Quin supaya tetap berpegang di bahunya.
Sambil menuntunnya, Quin terus mengajaknya berbicara dan membuatnya tertawa untuk mengalihkan keraguannya dalam melangkah karena merasa kesulitan.
Jika setiap hari Quin melatihku berjalan seperti ini, aku yakin, aku pasti cepat pulih dan bisa berjalan dengan normal lagi.
Damar membatin sembari menatap wajah Quin.
"Ayo Damar, sedikit lagi," bisik Quin.
Ia pun menuntun Damar hingga ke sisi ranjang lalu membantu mendudukkannya.
Setelah itu, ia malah menghempaskan tubuhnya di samping Damar yang sedang duduk.
Damar terkekeh menatapnya. Ia merasa gemas dengan kelakuan Quin.
"Haaaah ... ternyata kamu berat juga ya," celetuk Quin yang sedang berbaring.
"Lumayan," sahut Damar lalu terkekeh.
Sedetik kemudian ia pun bangkit lalu meninggalkan Damar untuk megambil kursi rodanya.
"Damar ... aku tinggal dulu ya. Ingat ... tetap semangat. Semangat supaya bisa berjalan lagi dan bergerak bebas tanpa terbatas," ucap Quin memberinya semangat.
Entah mengapa, setiap kata-kata yang terucap dari bibir gadis itu selalu membuat hatinya menghangat.
Pasti .... demi dirimu aku akan selalu semangat. Aku ingin secepatnya segera bergerak bebas. Ingin berjalan dan berlari bersamamu. Bahkan aku ingin merebut mu dari Angga.
Damar senyum-senyum sendiri menatap punggung Quin yang terlihat sudah menjauh.
"Aku merasa beruntung ke taman kota hari itu. Hingga bertemu dan berkenalan denganmu.
Beberapa jam kemudian ....
Setelah makan malam, Quin kembali berpamitan dan memilih melanjutkan pekerjaannya di rooftop. Sedangkan Damar, ia memilih ke ruang kerjanya.
.
.
.
Sementara itu, Angga memilih ke bar untuk menghibur dirinya.
Sedang asik-asiknya melamun memikirkan Quin. Satu tepukan di pundaknya.seketika membuyarkan lamunannya.
Ia pun menoleh. "Kinar? lirihnya lalu meneguk minumannya.
"Ada apa? Kenapa kamu melamun? Pasti lagi mikirin Quin kan?" cecarnya dengan senyum sinis.
"Memang kenapa? Wajar kan."
"Ngapain mikirin orang yang belum tentu memikirkanmu," sarkasnya. "Sedangkan aku ada di sampingmu dan siap melayani sepenuh hati."
Angga meliriknya dan kembali menenggak minumannya lalu menghisap rokoknya.
Ia tidak habis pikir dengan Kinara. Walaupun ia sudah tahu jika dirinya dan Quin sudah bertunangan dan akan menikah, namun gadis itu tetap saja mengincarnya.
"Kinar, aku sebenarnya heran denganmu. Kamu
dan Quin itu saudara. Tapi kenapa kamu tega pada Quin."
"Asal kamu tahu, aku dan Quin nggak ada hubungan darah! Kami hanya saudara tiri," paparnya.
Angga bergeming lalu menghembus asap
rokoknya.
Tak lama berselang Dennis ikut bergabung lalu menyeringai.
"Loh, Ngga ... kok kamu terdampar di sini? Nggak jadi ajak Quin dinner?" ledeknya.
Angga berdecak lalu menatapnya. "Menurutmu?"
"Ha ... ha ... ha ... aku bilang apa? Sebaiknya kamu harus hati-hati. Jika Quin terus-terusan menolak ajakanmu, fix ... pasti dia lagi dekat dengan pria lain," kompor Dennis memprovokasi.
"Den, jika kamu ke sini hanya untuk membuat pikiranku semakin kacau, mending kamu pulang saja," kesalnya.
"Oh ho ... come on, Bro. Calm down," kata Dennis dengan senyum tipis.
.
.
.
Quin masih betah berada di rooftop dan tampak begitu nyaman menggambar. Sesekali ia menatap layar laptopnya.
Setelah selesai menggambar ia pun menutup buku gambarnya.
"Finally ... selesai juga," desisnya lalu mengecek dan menyempurnakannya di designnya di laptopnya.
Saking seriusnya, ia tidak menyadari sejak tadi Damar memperhatikannya. Diam-diam ia semakin mengangumi gadis itu.
"Nak Damar ... ini tehnya." Bi Yuni meletakkan nampan di atas paha Damar.
"Hmm ... terima kasih, Bi," ucap Damar.
Bi Yuni ikut menatap Quin yang sedang sibuk mengutak atik laptopnya.
"Bi, bibi boleh tinggalkan aku sekarang," pintanya.
Mau tidak mau, bi Yuni meninggalkannya. Sepeninggal bi Yuni, Damar menggerakkan tuas kursi rodanya menghampiri Quin.
"Quin ..." tegurnya. "Aku bawakan teh untukmu," sambungnya.
"Maaf ... jadi merepotkanmu," sesalnya.
"Nggak apa-apa, aku di bantu bi Yuni," tuturnya lalu menyodorkan segelas teh hangat untuknya.
Quin mengulas senyum lalu meraih gelas dari tangan Damar lalu menyeruputnya.
"Terima kasih," ucapnya lalu meletakkan gelasnya di atas meja.
"Damar ... honestly aku suka banget tempat ini," jujurnya. "Jika ada waktu saat kamu sudah bisa berjalan aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," janjinya.
Alis Damar saling bertaut. Ia sedikit penasaran dengan ungkapan Quin. Untuk sesaat tempat itu kembali hening.
Keduanya tampak mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. Menatap kerlap kerlip lampu dari kejauhan.
...****************...