
Keesokan harinya ...
Ketika Damar membuka matanya, yang pertama ada di benak adalah Quin. Ia mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang sambil membayangkan wajah gadis berparas cantik nan manis itu.
Tinggg .....
Bunyi khas notifikasi pesan terdengar dari meja nakasnya. Ia segera meraih ponselnya sambil menyugar rambut gondrongnya.
βοΈ : Morning Mr. Brewok π jangan lupa terapi ya. Setelah itu jangan lupa minta bantuan Naira untuk menyiapkan pakaianmu. Dan yang terakhir jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke kantor. π π.
Membaca pesan dari Quin senyumnya semakin melengkung sempurna.
"Never, aku nggak butuh bantuan Naira. Aku hanya butuh kamu, Baby," bisiknya dengan hati berbunga-bunga. "Tunggu aku di sana. Kita akan menghabiskan waktu kita selama seminggu kedepan," gumamnya lalu mulai menurunkan kakinya dan meraih kursi rodanya.
"Quin, aku merindukanmu," desisnya lalu mengarahkan tuas kursi rodanya ke arah pintu kamar mandi.
Satu jam kemudian tepatnya pukul 7.00 pagi, Damar terlihat sudah rapi dan sedang berada di ruang tamu menunggu Adrian.
"Nak, Damar, sarapan dulu," tawar bi Yuni.
"Nggak usah, Bi. Nanti saja," imbuhnya.
"Damar, sebaiknya kamu terapi dulu walau hanya sebentar," saran Naira.
"Nggak untuk hari ini Naira. Besok-besok saja. Oh ya, aku hampir lupa. Hari ini aku akan berangkat ke Jepang soalnya aku ada urusan bisnis dan minggu depan baru aku akan kembali. Jadi kalian bisa libur juga," jelas Damar.
"Lalu, asisten pribadimu?"
"Quin juga aku liburkan," bohong Damar lalu tersenyum.
Bi Yuni dan Naira hanya mengangguk.
"Oh ya, besok jangan lupa hadir di HUT perusahaan papa ya. Anggap saja kalian yang mewakili aku."
Lagi-lagi keduanya hanya mengangguk. Namun Naira begitu kecewa karena tidak bisa mendampingi Damar esok hari.
Sial!!! Rencana ku gagal untuk memenangkan hatinya. Ini semua gara-gara gadis itu.
Naira membatin kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tak lama berselang, Adrian muncul dari ambang pintu dan langsung menghampiri Damar.
"Tuan, pesawatnya sudah standby di bandara. Sebaiknya kita berangkat sekarang," jelas Adrian.
"Hmm ..."
Demi mempercepat langkah, Adrian membantu Damar mendorong kursi rodanya hingga berada di dekat pintu mobil.
Seperti biasanya, ia membantu Damar dan memastikan sang CEO dalam posisi yang baik, baru lah ia duduk di kursi kemudi.
"Adrian ..."
"Ya Tuan."
"Mobil ini nanti titip sama petugas bandara seperti biasanya," perintah Damar.
"Baik Tuan," sahut Adrian sambil fokus menyetir.
Sementara dalam perjalanan, Damar baru membalas pesan Quin.
Tak lama berselang Quin membalas pesannya. Pikir Quin, Damar hanya bercanda dan iseng mengiyakan keinginan pria brewok itu.
βοΈ : Baik lah Mr. Brewok. πππ.
Damar langsung tersenyum membaca balasan pesan Quin dan merasa gemas. Setiap kali gadis itu mengirim pesan pasti ia menyertakan emoji.
Sedangkan Adrian hanya menggelengkan kepalanya mendapati Damar terus tersenyum menatap layar ponselnya.
"Baru kali ini aku melihat si boss, terlihat serius dengan seorang wanita," gumamnya dalam hati.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di bandara. Dengan sigap Adrian kembali membantu Damar.
Sebelum menuju ke pesawat, Adrian menitipkan kunci mobil kepada petugas bandara seperti biasanya.
"Bro, seperti biasa, kami titip mobil padamu," kata Adrian.
"Siap Pak."
Setelah itu, Adrian membantu mendorong kursi roda Damar menuju pesawat yang sejak tadi menunggu keduanya.
Sesaat setelah berada di dalam pesawat, lagi-lagi Damar mengulas senyum membayangkan wajah Quin.
"Quin, tunggu aku di sana," desisnya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi pesawat. "Baru sehari tanpamu, aku merasa ada yang kurang," ucapnya dengan hela nafas.
Jika Damar dan Adrian sebentar lagi akan take off, beda lagi dengan Al yang baru saja tiba di bandara dan mempercepat langkahnya menuju pesawat.
Tinggg ....
Satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
βοΈ : Al, nanti langsung ke apartemen ya.
Al hanya tersenyum membaca pesan dari sahabatnya itu.
"Thanks, Quin. Tiap tahun kamu pasti mengajakku menikmati musim semi di sana," gumam Al.
Ia kembali mempercepat langkahnya, hingga benar-benar berada di dalam burung besi itu lalu duduk di kursinya.
.
.
Angga terlihat kesal, karena Quin tidak menjawab panggilannya lewat aplikasi medsos.
"Sayang, please jawab panggilan ku," desisnya sambil mondar mandir di kamarnya merasa gelisah.
Namun tetap saja Quin tidak menjawab. Sedangkan Quin yang saat ini berada di apartemennya hanya memutar bola matanya dengan malas menatap ponselnya yang terus bergetar sejak tadi.
"Teruslah menghubungi ku, hingga kamu lelah. Pria brengsek bisa-bisanya kamu ingin menjebakku. Kamu pikir aku bodoh apa?!" gerutu Quin lalu menuju pantry.
Ketika berada di pantry, seketika ia teringat DM dari damar.
"Bagaimana jika dia benar-benar kemari? Itu sama saja aku nggak bisa bersenang-senang dengan Al," desisnya. "Tapi nggak mungkinlah dia mau ke sini. Si brewok itu pasti lagi bercanda," desisnya lagi lalu terkekeh.
...****************...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπππ