
Prok ... prok ... prok ...
Tepukan tangan Quin seketika menyadarkan dua insan yang kini polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh keduanya.
Di tengah nikmatnya mereka sedang merasakan surga dunia, terpaksa harus terhenti bahkan keduanya belum mencapai puncak pelepasan.
Menyadari jika yang berada di kamar saat ini adalah Quin, Angga dan Kinara langsung gelagapan dan mencari penutup untuk membalut tubuh mereka masing-masing.
"Sayang ..."
"Quin ..."
Quin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis dan menatap jijik keduanya.
"Kenapa kalian berhenti? Silakan lanjutkan saja," ucap Quin dengan santainya.
Angga ingin menghampirinya namun tangan Quin mengisyaratkan supaya ia tetap berada di tempatnya.
"Do not come close!" cegah Quin. "Bukankah tadi siang, kamu baru saja mengucapkan kata maaf?" sindir Quin lalu menatap Angga dan Kinar bergantian. "Oh Lord ... apa ini?" Sambil tersenyum mengejek. "So amazing ... kalian layak menjadi star of the blue film," lanjut Quin.
Baik Angga maupun Kinara keduanya hanya bungkam seribu bahasa mendengar ucapan Quin. Terdengar santai namun membuat hati keduanya menohok.
Quin menghampiri Kinara lalu menatapnya dari ujung kaki hingga kepala yang terlihat sedang menutupi tubuhnya dengan bed cover dan terlihat acak-acakan. Lagi-lagi Quin tersenyum sinis dan mengejek.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Setelah mamanya kini anaknya. Benar-benar bibit pelakor ulung. Mama dan anak sama-sama wanita murahan dan layak disebut pela*cur murahan. Ck.ck.ck ... disgusting, but congratulation to you Kinar, because you got it," ucap Quin lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Namun Kinar hanya mampu menatap jemari lentik Quin. Tertunduk lesu dan tak berani menatapnya.
Quin kembali mendekati Angga lalu menatap lekat wajahnya. "Haidar Anggara Wibowo, tunanganku," sebut Quin sambil tertawa miris. "Haaa ... bukan ... bukan tapi bakal menjadi ex tunanganku. Aku benar kan, Sayang?" kata Quin lalu perlahan melepas cincin yang sudah tiga tahun terakhir melingkar indah di jari manisnya, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya dari Angga.
"Kemarin aku memergoki kalian sedang asik berciuman panas bahkan hampir telanjang. Sekarang, kalian benar-benar melakukannya," geram Quin.
Sama halnya Kinara, Angga juga hanya bisa bungkam, bahkan lidahnya keluh tak bisa berkata-kata.
"Angga, Kinar ... honestly aku nggak tahu sejak kapan kalian affair dariku, dan aku nggak tahu apa alasan kalian bisa setega ini mengkhianatiku. Tapi ya sudah lah, silakan lanjutkan saja hubungan kalian. Because i don't care and thank you so much," ucap Quin.
"Mr. Haidar Anggara Wibowo, mulai malam ini, detik ini dan seterusnya, aku bukan tunanganmu lagi. You are free and do as you wan't," sambung Quin sambil menjatuhkan cincin tunangannya tepat di depan Angga.
"Upsss, sorry," ucapnya lalu menutup mulutnya.
Ketika Angga ingin meraih tangannya, Quin menggeleng lalu mengangkat kedua tangan sambil memundurkan langkahnya ke belakang.
"Pria brengsek sepertimu nggak layak menyentuhku lagi. Silakan lanjutkan pergulatan panas kalian dan silakan mendesah dan mengerang menikmati indahnya surga dunia kalian. And the last one, terima kasih karena sudah pernah menjadi bagian dari cintaku." Quin mengakhiri kalimatnya lalu segera meninggalkan kamar sekaligus meninggalkan apartemen itu.
Menyesal ....
Hampa ...
Kehilangan ....
Tiga hal yang kini menyelimuti diri Angga. Hal yang paling ia takutkan kini benar-benar terjadi. Ia mengepalkan kedua tangannya lalu menatap Kinara dengan tatapan menghunus tajam.
"Tinggalkan aku sendiri," desis Angga dengan rahang mengetat. "Sebelum aku berbuat kasar padamu," ancamnya dengan wajah memerah menahan emosi. Namun Kinar masih bergeming.
"Cepat tinggalkan aku sekarang!!!" bentaknya dengan nada tinggi.
Mendengar bentakan Angga, seketika membuat Kinar terlonjak kaget dan segera memungut semua pakaiannya.
Langkahnya terhenti ketika Angga kembali membuka suara. "Mulai hari ini kamu aku pecat dari agensiku dan jangan berani lagi menampakkan wajahmu di hadapanku jika kamu tidak ingin aku permalukan," ancam Angga dengan nada dingin lalu menuju balkon kamar.
Angga berbalik lalu tertawa sinis. "Silakan saja, siapa yang akan percaya?! Apa kamu lupa siapa aku? Cukup dengan sekali jentikkan jari, semuanya bakal kelar," sindir Angga dengan sinis.
Kinar terdiam lalu segera masuk ke kamar mandi dan mengenakan pakaiannya. Setelah itu ia segera meninggalkan apartemen Angga dengan perasaan geram.
"Sial!! Aku nggak akan menyerah sebelum aku mendapatkan dirimu," tekadnya dengan tangan terkepal.
Sementara itu, Quin terus melajukan kendaraannya ke arah vila. Tempat ternyaman baginya untuk menenangkan pikiran.
"Apa salahku hingga kalian benar-benar tega melakukan ini padaku? Benar-benar menjijikkan," geram Quin.
Demi menenangkan sejenak perasaannya, Quin menghentikan mobilnya sejenak di bahu jalan lalu menangis terisak.
Bahkan ia tidak memperdulikan ponselnya yang sejak tadi terus bergetar. Beberapa menit kemudian setelah puas menumpahkan air matanya, Quin meraih benda pipih itu dan langsung mengalihkan ke mode pesawat.
"Damar ... maaf jika dalam beberapa hari ini aku ingin sendiri," lirihnya lalu menyeka air matanya dan kembali melanjutkan perjalanan menuju vila.
Satu jam kemudian, akhirnya ia tiba juga di vila itu.
Sedangkan Damar yang sejak tadi menghubungi Quin kembali dibuat heran karena ponsel gadis itu malah sudah tidak aktif.
"Quin ... kok ponselnya sudah nggak aktif," desisnya. "Apa dia baik-baik saja," ia terlihat khawatir.
Sedetik kemudian Damar melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"18.55. Sebaiknya aku pulang saja," gumamnya lalu menyambar jas-nya di gantungan khusus.
Ketika berada di dalam lift ia kembali tersenyum membayangkan wajah Quin. Gadis ceria, manja dan sedikit konyol namun selalu membuatnya tersenyum.
Kepribadiannya yang lembut, perhatian dan selalu berbicara sopan pada siapapun membuatnya semakin tak bisa ingin menjauh dari gadis itu.
"Quin ... rasanya aku ingin selalu berada di dekatmu," gumamnya sambil tersenyum.
Tinggg ....
Pintu lift terbuka.
Ia mempercepat langkahnya lalu menuju parkiran lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Sedetik kemudian ia terlihat mulai meninggalkan gedung kantornya menuju kediamannya.
Meninggalkan Damar yang kini sedang menuju rumahnya. Angga malah terlihat frustasi karena tidak bisa menghubungi Quin.
"Sial!!! Arrgghh!!! umpatnya lalu berteriak kesal kemudian melempar ponselnya ke atas kasur.
Matanya terarah ke benda yang baru saja Quin jatuhkan. perlahan ia menghampiri cincin itu lalu memungutnya.
"Quin, maafkan aku. Akan aku lakukan apapun untukmu agar hubungan kita kembali seperti dulu lagi. Kita akan memperbaikinya dan memulainya dari nol lagi," lirihnya dengan suara bergetar.
Ia menggenggam erat cincin itu lalu menangis dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Please ... beri aku kesempatan terakhir," lirihnya sambil membayangkan wajah Quin.
...****************...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author recehan seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ