
Satu bulan kemudian ...
Setelah menghabiskan waktu berliburnya selama tiga hari di negara singa, Quin dan Al kembali lagi ke kota J dan bekerja seperti biasanya.
Hubungan Angga dan Quin pun, tidak banyak berubah karena Quin benar-benar merasa muak dengan tunangannya itu. Di tambah lagi beberapa kali Quin sempat memergoki keduanya sedang berduaan di ruang kerja Angga.
Namun sosok Damar dan Al lah yang selalu menjadi pelipur laranya. Namun begitu, ia juga selalu di buat kesal dengan sosok Bi Yuni dan Naira yang selalu menghasut Nyonya Zahirah. Sehingga wanita paruh baya itu semakin tidak menyukainya.
Akibat dari aduan yang tak beralasan dan dirinya yang selalu difitnah, Quin sempat ingin menyerah namun karena masih terikat kontrak, ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk berhenti menjadi asisten pribadi Damar.
Tanpa terasa, sudah satu bulan lebih Quin menjadi asisten pribadi Damar. Sosoknya yang hangat dan perhatian terhadap Damar, semakin membuat pria brewok itu terobsesi padanya.
Dan selama satu bulan lebih itu jugalah, Quin tetap setia menemaninya menjalani terapi di rumah sakit tempat Fahry bekerja. Alasannya Damar merasa risih dengan kelakuan Naira yang sering menggodanya.
Bukannya senang, Damar malah merasa jijik dengan gadis itu. Beda halnya jika ia bersama Quin. Gadis itu terlihat tulus dan selalu membuat hatinya menghangat.
Selama rutin menjalani terapi di rumah sakit, perlahan tapi pasti, akhirnya Damar sudah tidak menggunakan kursi rodanya lagi dan bisa berjalan normal seperti biasa.
Saat ini, Quin terlihat masih sibuk dengan pensil dan buku gambarnya. Setelah menggambar, ia meletakkan pensilnya lalu merenggangkan sendi-sendi jarinya lalu ototnya.
"Lord ... capek banget," lirihnya lalu memijat tengkuknya. "Sudah jam berapa ini," desisnya lalu beranjak dari kursi kerjanya berpindah ke sofa.
Ia berbaring dan meluruskan pinggangnya yang terasa sedikit pegal. Baru saja ia akan memejamkan matanya, Al menegurnya.
"Quin, sudah jam 12.45, kami cari makan dulu," izin Al bersama Gisha dan Jihan.
"Hmmm ... jangan lupa beliin aku boba coklat," pesannya dengan mata terpejam. "Kunci mobil ada di dalam tas," lanjutnya.
"Siap Bu boss," kata Al.
Sepeninggal Al, Gisha dan Jihan, Quin malah tertidur di sofa. Beberapa menit berlalu, dari ambang pintu butik, seseorang terus menatapnya dengan senyum sambil menenteng paper bag dari salah satu restoran mewah.
Perlahan ia melangkah menghampiri Quin lalu melepas jas-nya kemudian menutupi pahanya. Ia berjongkok sembari mengelus wajah cantik nan manis gadis itu.
"Quin," desisnya, namun gadis itu hanya bergeming tak merespon.
"Pasti dia kelelahan," gumam Damar lalu berdiri. Damar memilih duduk di kursi sambil melihat hasil gambar yang baru saja selesai Quin selesaikan.
Tak lama berselang, ponsel Quin bergetar. Damar hanya melirik benda pipih milik gadis itu dan membiarkannya saja.
"By the Way, kemana Al, Gisha dan Jihan?" Ia bertanya-tanya sendiri. Ia kembali melirik Quin dan menatap lama wajahnya.
Perlahan ia kembali beranjak dari tempat duduknya dan berjongkok, mengelus kepala lalu mendaratkan satu kecupan di kening Quin.
Sejenak ia terusik dan menggeliat kecil karena brewok yang mengenai wajahnya.
"Damar," desisnya dan perlahan membuka matanya. "Again? Kamu mencuri satu ciuman," protes Quin.
Damar hanya terkekeh lalu membetulkan kaca matanya. "Jika nggak begitu kamu nggak mau bangun," kata Damar.
"Modus," balas Quin lalu mendudukkan dirinya dan meraih jas Damar kemudian meletakkannya di bahu sofa. "Damar, i'm so tired," keluhnya lalu memeluk pria brewok itu demi menghilangkan sedikit lelahnya.
Damar hanya tersenyum dan mengelus punggungnya. "Apa kamu merasa nyaman seperti ini?"
"Hmm ... sedikit," bisik Quin lalu mengurai pelukannya. "Sudah lama? Apa kamu sendiri saja? kenapa nggak mengajak Adrian?" cecarnya.
"Seperti yang kamu lihat," balas Damar. Aku membawa makan siang. Yuk kita makan dulu," tawar Damar dan Quin hanya mengangguk.
Baru saja ia akan mengeluarkan box makanan, ponselnya kembali bergetar. Ia berhenti sejenak lalu menghampiri meja kerja.
"Angga," lirihnya dengan hela nafas lalu memutar bola matanya dengan malas. Bukannya menjawab ia malah membiarkannya saja dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Kenapa nggak diangkat?"
"Biarkan saja, nanti berhenti dengan sendirinya. Sudah lah ... ayo kita makan, kebetulan perutku sudah lapar. By the way, thanks ya, Mr. Brewok," ucap Quin lalu terkekeh.
Damar hanya menggelengkan kepalanya dan ikut menyantap makanan yang telah Quin siapkan. Keduanya tampak sangat menikmati makanannya.
"Mar, mau aku buatkan kopi?" tawar Quin.
"Nggak usah, soalnya sebentar lagi aku akan kembali ke kantor," tolaknya.
"Baiklah." Quin menatapnya dengan seringai penuh arti. Quin melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancung pria brewok itu.
Damar mengernyit. "Ada apa? Bukankah kamu sering melihatku tanpa kacamata jika di rumah?" tanya Damar dengan heran.
Quin tak menjawab melainkan kembali mengelus brewok dan kumis tebal yang menutupi wajahnya, mengelus rambut gondrongnya lalu mengulas senyum.
Sontak saja ulah Quin itu, lagi-lagi membuatnya salah tingkah bahkan jantungnya kini berdetak kencang.
"Come on, Quin. Jangan seperti ini, aku nggak akan kuat," gumamnya dalam hati.
"Sepulang kantor, mau ya aku rapikan brewokmu ini sekaligus mencukur rambutmu," pinta Quin. "Kamu seperti Tarzan saja jika seperti ini," ledek Quin lalu terbahak menertawai Damar.
"Quiiiin ..." kesalnya. "Hmm, ledek saja terus," lanjutnya lalu ikut tertawa. "Beneran mau merapikan brewokku dan mencukur rambutku? Aku takut kamu akan jatuh cinta padaku," bisik Damar lalu menatap bibir Quin dan mendekatkan bibirnya namun lagi dan lagi Quin menahan bibir Damar dengan jarinya.
"Setelah memergoki Angga, aku merasa hatiku sudah mati rasa pada pria," bisik Quin. "Jatuh cinta? Bullshit dengan cinta. Aku takut jatuh ke lobang yang sama. Setelah lepas dari pria brengsek itu, aku ingin menjalani hari-hariku tanpa terikat dengan suatu hubungan apapun. You know? Aku merasa sendiri jauh lebih baik, bebas tanpa terikat dan nggak perlu memikirkan siapapun," jelas Quin lalu memeluk Damar dengan mata berkaca-kaca.
Ungkapan Quin tentu saja membuat Damar merasa kecewa. Namun ia sudah bertekad akan meluluhkan hati gadis itu.
"Damar," bisiknya.
"Yes, i hear you," jawabnya.
"Tetaplah menjadi temanku, tetaplah menjadi pendengar setiaku di saat aku berkeluh kesah dan tetaplah menjadi pelindungku, meski kita sudah tidak terikat kontrak nantinya," lirihnya. "Maaf jika aku sedikit memaksa. Saat berdua denganmu aku merasa seperti bersama kak Juna."
Damar hanya mengangguk sambil mengelus punggungnya dengan sayang.
"Aku tidak ingin menjadi sekedar teman, pendengar, dan kakakmu tapi lebih dari itu," batin Damar.
Hening sejenak ...
sebelum suara deheman Al menyadarkan keduanya.
"Ehemm .... wow ... terlihat seperti couple goals" sarkas Al lalu terkekeh.
Quin melepas pelukannya lalu terkekeh. "Couple goals dalam dunia Maya saja. Hahahaha."
"Beneran juga, nggak apa-apa kali Quin," timpal Jihan.
"Nih, es boba pesananmu," sambung Gisha lalu meletakkan cup es boba coklat di atas meja sofa.
"Terima kasih," ucap Quin lalu menatap Damar dengan seulas senyum. "Buat kamu dan bawa ke kantor saja," tawar Quin lalu meraih jas Damar dan mengajaknya berdiri.
Sesaat setelah berada di parkiran, Quin memakaikan jas itu ke tubuh pria bertubuh tinggi tegap nan atletis itu lalu kembali merapikannya.
"Sudah," desisnya.
"Thanks Quin sekaligus dengan es bobanya," ucap Damar lalu mengacak rambutnya.
"Damar," kesalnya lalu kembali merapikan rambutnya.
"Ya sudah, aku berangkat dulu," pamitnya.
"Hmm ... hati-hati. See you at home Mr.Brewok."
Tanpa keduanya sadari, dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan keduanya, bahkan wajahnya terlihat memerah menahan emosi.
...****************...
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ