101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 79



Setibanya di halaman parkir, Damar meminta karyawan restoran itu pulang dengan menggunakan mobilnya saja.


Meski sudah menolak dan merasa tidak pantas, namun karyawan itu akhirnya menurut. Tanpa memperdulikan ekspresi penuh kecemasan dari karyawan restoran, Damar segera turun dari mobil sambil memapah Quin yang sudah tidak bisa berjalan dengan seimbang.


"Aku kan, sudah bilang tadi, jangan minum banyak, tapi kamu nggak mendengarku," kesal Damar.


Quin terkekeh lalu memeluknya "For last tonight, you and me," bisik Quin


Karena merasakan kepalanya semakin berat, Damar melonggarkan pelukan Quin dan mengarahkan langkah mereka ke arah lift.


Sesaat setelah berada di lantai dua, Damar langsung membawanya ke kamar lalu menghempaskan tubuh keduanya di atas ranjang.


Keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar sambil tertawa, sedetik kemudian Damar membawanya masuk ke dalam pelukannya.


"Damaaar ... thanks for everything," bisik Quin. "Aku akan sangat merindukan dirimu nantinya. Besok aku akan ke Jepang," lirihnya.


"Apa kamu akan lama?" tanya Damar dengan suara berat.


"Yes, dan kemungkinan akan berlibur ke beberapa negara untuk menghilangkan semua kenangan tentang Angga," bisik Quin lalu perlahan mengusap rahang tegas Damar.


"How about me?" lirih Damar dan balas menatapnya bahkan semakin mendekatkan wajahnya lalu mengelus bibir Quin.


Quin hanya bergeming dan perlahan-lahan memejamkan matanya saat Damar mulai menautkan bibirnya dengannya.


Perlahan tapi pasti, Damar semakin memperdalam ciumannya bahkan tanpa ragu mengeksplor lidahnya masuk ke dalam mulut Quin. Saling membelit lidah, melu*mat bibir dan bertukar saliva.


Bahkan semakin turun lalu menyesap lehernya, tulang selangka, dada, semuanya nyaris tak ia lewatkan dengan meninggalkan jejak kepemilikkannya di tubuh mulus nan putih gadis itu.


Dan satu persatu pakaian keduanya mulai di lepas karena ghairah dan hasrat yang kian memuncak dan menggebu hingga keduanya sama-sama polos.


Tangan yang tadinya hanya menyentuh pipinya, mulai nakal, liar, menyentuh, meremas setiap inci lekuk tubuh Quin tanpa ada satupun yang ia lewatkan. Hingga membuat gadis itu meliukkan tubuhnya merasakan sensasi nikmat luar biasa yang di berikan Damar hingga ia mengeluarkan suara desa*hannya.


Akibat minuman yang memabukkan, tanpa sadar membawa Quin ikut terbuai mengikuti permainan Damar hingga berujung ke penyatuan diri mereka tanpa menghiraukan akibatnya dari perbuatan keduanya.


Kamar itu menjadi saksi bisu sepasang insan yang sedang di mabuk asmara melakukan penyatuan. Suara erangan, desa*han serta desissan saling bersahutan di kamar itu. Hingga kedua-nya sama-sama mencapai puncak pelepasan.


"Aarrghh ... " erang Damar setelah menumpahkan semua benihnya ke dalam rahim Quin.


Ia menatap wajah Quin yang berada di bawah kungkungannya, terkulai lemas sambil mengelus rahangnya dengan tatapan sendu. Bahkan masih terlihat sisa air matanya sebelum akhirnya gadis itu perlahan memejamkan matanya.


Perlahan Damar membenamkan bibirnya cukup lama di kening Quin, turun ke kedua matanya, hidung, pipi dan berakhir di bibirnya.


Setelah itu ia membaringkan dirinya di samping Quin lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya sebelum akhirnya ia ikut menyusul Quin ke alam mimpi.


Jika keduanya tersadar dari mimpi panjangnya esok hari, entah apa yang akan terjadi. Ditambah kini keduanya sama-sama polos dalam satu kamar, satu selimut dan di atas satu ranjang yang sama.


Meninggalkan Quin dan Damar yang kini sudah jauh memasuki alam mimpi, namun sebaliknya bagi Angga.


Ia terlihat termenung di depan meja bartender club malam sambil merokok dan sesekali meneguk minumannya.


Ucapan Quin tadi siang seolah benar-benar memukul telak dirinya. Rasa bersalah dan penyesalan kini menyelimuti dirinya. Di tambah lagi dengan kehadiran Damar yang ternyata selama ini berada di sisi gadis itu.


Angga hanya bisa bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri dengan perasaan gundah. Selama setahun terakhir akibat diam-diam menjalin hubungan dengan Kinara, hanya karena menjadikan gadis itu sebagai pemuasnya, akhirnya berujung dengan berakhirnya hubungannya dengan Quin.


Gadis yang hampir ia genggam dan menjadi pendamping hidupnya, harus terlepas kembali dari genggamannya.


Kini yang ada hanya sebuah penyesalan mendalam. Semakin ia memikirkan Quin, semakin banyak pula minuman yang di teguknya hingga membuatnya sedikit mabuk.


Mungkin karena sudah lelah dan mulai merasakan pusing, akhirnya ia meninggalkan club' malam itu sambil berjalan sempoyongan hingga dirinya menabrak seseorang.


Seketika yang di tabrak hampir terjengkal namun gadis itu masih bisa menahan dirinya.


"Angga?!!" sebut Gisha dengan alis berkerut. Karena merasa kasihan akhirnya ia berinisiatif membantu Angga berjalan sambil memapah tubuh besarnya hingga ke parkiran.


Sesaat setelah berada di dekat mobil Angga ia menatap sejenak, ex tunangan boss-nya itu.


"Sepertinya kamu mabuk berat,” kata Gisha. "Sini kunci mobilnya biar aku yang mengantarmu pulang,” sambung Gisha karena sedikit khawatir.


Angga hanya menurut lalu merogoh saku celananya lalu memberikan kunci mobilnya pada Gisha.


Setelah memastikan Angga duduk di kursi dan memasangkan seat beltnya, Gisha mulai melajukan kendaraan Angga menuju apartemen pria berdarah Tionghoa itu.


Di sepanjang perjalanan Angga terus meracau menyebut nama Quin dan sesekali menangis tampak begitu menyesali perbuatannya.


Gisha hanya bisa geleng-geleng kepala dan tak menghiraukannya. Pikirnya karena pria itu dalam pengaruh minuman.


Makanya jangan selingkuh. Lagian apa sih kurangnya Quin. Dasar pria bego. Jika dibandingkan dengan si pelakor itu, Quin malah lebih dari segalanya nggak kek si buaya betina nggak tahu diri itu. Quin benar anak dan mama sama saja.


Gisha hanya bisa mengumpat kesal dalam hatinya sekaligus geram dengan pria yang kini berada dalam satu mobil dengannya.


Setelah kurang lebih empat puluh lima menit mengendara, akhirnya keduanya pun tiba di apartemen Angga.


Sesaat setelah berada di depan pintu unitnya, Angga memasukkan password pintunya. Begitu pintu terbuka Gisha terpaksa ikut masuk ke dalam ruangan mewah itu, sambil memapah Angga menuju ke kamarnya di lantai dua.


Dengan susah payah Gisha memapah dan menahan tubuh Angga hingga akhirnya ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Sebelum meninggalkan kamar, Gisha terlebih dulu melepas sepatunya lalu memperbaiki posisinya.


"Tidurlah, aku juga ingin pulang," desis Gisha lalu ingin melangkah. Namun ia terkejut saat Angga menggenggam tangannya.


"Sayang, please ... apakah kita akan benar-benar berakhir seperti ini? Please, beri aku kesempatan terakhir. Aku janji akan memperbaiki semua kesalahanku padamu. Aku mencintaimu Quin. Please jangan tinggalkan aku," lirihnya dengan mata terpejam bahkan air matanya turut menetes.


Gisha hanya bisa bergeming dan mendengar ucapan lirih Angga. Kasihan sekaligus geram. Ingin rasanya ia memukul kepala pria itu namun tak berani ia lakukan.


Dengan gerakan pelan ia melepas tangan Angga lalu memperhatikan setiap sudut ruangan kamar itu. Foto-foto kebersamaannya dengan Quin masih mendominasi.


"Dasar pria bodoh!" umpat Gisha. "Jika kamu mencintai Quin kenapa kamu tega mengkhianati dia. Ya Tuhan ... semoga kamu tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya kelak," desisnya lalu meninggalkan kamar Angga.


...****************...