101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 58



"Jika itu terjadi, maka aku akan langsung bertanggung jawab atas dirimu," bisik Damar.


"Tapi aku nggak mencintaimu," balas Quin.


"Cinta bisa datang dan tumbuh kapan saja Quin," ucap Damar meyakinkan.


"Nggak ... aku nggak mau," tegas Quin menolak dan semakin erat mendekapnya. "Aku nggak mau, lagian mamamu adalah orang pertama yang menantang hubungan kita," tegas Quin lagi.


"Quin ..."


"Please ..." mohon Quin kemudian mengurai dekapannya lalu menghampiri mobil Damar, membuka pintu lalu segera duduk di kursi mobil.


Karena merasakan hawa tubuhnya semakin panas dan membuat hasratnya kini sudah naik ke ubun-ubun, Quin menyalakan full AC mobil itu.


Sedetik kemudian Damar menyusul lalu meliriknya yang tampak membenamkan kepalanya di dashboard mobil.


"Damar, bisa cepat dikit nggak," desisnya sekaligus mendesak.


"Baiklah," pasrah Damar dan mulai melajukan kendaraannya.


"Damn!! Dingin banget," desis Damar dalam hatinya. Ia kembali melirik Quin lalu dengan susah payah menelan salivanya menatap paha putih nan mulus gadis itu yang terekspos begitu saja.


Sedangkan sang empunya kaki jenjang, sedikit pun tak memperdulikan dirinya. Karena yang ia butuhkan saat ini adalah obat bius. Agar hasratnya yang kini semakin bergelora cepat terhenti dengan obat berupa cairan tersebut.


Sedangkan Al dan Adrian hanya menatap mobil itu yang sudah mulai menjauh dari mereka berdua.


Adrian melirik Al dan menatap heran sahabat dari Quin itu. "Al, ada apa sebenarnya? Kenapa Quin terlihat gelisah begitu?" tanyanya dengan rasa penasaran tingkat tinggi.


Al hanya terkekeh lalu menggodanya. "Masa kamu nggak tahu sih?" Al balik bertanya.


"Cih! Dia ditanya malah balik bertanya. Gadis aneh," dumalnya.


"Hah ... sebaiknya kita pulang," ajak Al.


"Biar aku yang nyetir," tawar Adrian. "Kamu antar aku ke apartemen dulu, setelah itu kamu lanjut pulang."


"OK," kata Al.


********


Sedangkan Angga yang kini sedang menuju parkiran, tampak begitu kesalnya karena lagi-lagi rencananya gagal setelah mendapat info dari pelayan yang telah dibayarnya tadi untuk mengamati Quin.


Bagaimana tidak kesal jika yang kini bersama Quin adalah Damar. Ia malah sedang membayangkan Quin dan Damar sedang bergulat panas diatas ranjang.


"Arrrghh ... sh*it!!!" teriaknya yang kini sudah duduk di dalam mobilnya lalu memukul setir mobilnya.


Dengan perasaan kesal bercampur emosi, ia pun melajukan mobilnya ke arah club malam tempat biasa ia dan Dennis nongkrong setiap malam.


Lain halnya dengan Damar, kini ia menepikan kendaraannya sejenak tepat di depan sebuah apotik.


"Quin," tegur Damar lalu menggenggam jemarinya. "Tatap wajahku sebentar saja," pintanya, karena sejak tadi Quin terus membenamkan wajahnya di dashboard mobil.


Perlahan Quin mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Damar, tangannya terangkat mengelus rahang tegasnya lalu mengusap bibir tipisnya.


"Quin," bisik Damar lalu menahan jemari lentiknya di rahangnya. Menyatukan keningnya lalu perlahan melu*mat bibirnya. Merasa Quin tak menolak tapi membalas luma*tan bibirnya, Damar malah semakin menuntut.


Sedetik kemudian, Quin melepaskan tautan bibir mereka berdua lalu mendekapnya erat kemudian berbisik, "Jangan membuatku menggila. Kita bisa kebablasan nanti. Please ... beli obat bius itu sekarang dan langsung hirupkan padaku," pintanya dengan nafas memburu karena merasa terpancing oleh ulah Damar.


"Oh Sh*it!!! Sepertinya aku harus mencari mangsa malam ini. Akh ... Quin ... kamu membuat hasratku terpancing," gerutunya dalam hati sambil melangkah menuju apotik.


"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya apoteker ketika Damar sudah berada di dalam apotik.


"Ya, saya butuh obat bius hirup, dosis tinggi," jawab Damar.


Sang apoteker langsung mengerutkan keningnya sekaligus penasaran.


"Please, saya butuh secepatnya," pinta Damar dengan mimik wajah serius.


"Baik, Tuan. Tunggu sebentar," balas apoteker lalu ke salah satu etalase khusus untuk mengambil obat bius yang Damar inginkan. "Tuan, ini obat bius yang Anda butuhkan," kata apoteker lalu menyerahkan obat itu pada Damar.


"Ok ..." Damar langsung membayarnya dengan sejumlah uang tanpa bertanya harganya. Setelah itu, ia pun kembali menghampiri mobilnya.


Sang apoteker hanya bisa melongo menatap uang pecahan berwarna merah itu. Ia seperti baru saja kejatuhan durian runtuh. "Mimpi apa aku semalam?" gumamnya yang masih tampak tak percaya sambil menatap uang itu di atas lemari etalase obat.


Sedangkan Damar yang kini sudah berada di dalam mobil kembali menatap Quin dan obat bius yang sedang dipegangnya.


"Damar, jangan menatapku seperti itu," protesnya. "Ayo, cepetan buka obat itu lalu taruh di tissu kemudian hirupkan ke aku," pinta Quin.


"Tapi Quin ..."


"Please, Damar," desis Quin. "Jika kamu nggak sanggup melakukannya, biar aku saja. Aku benar-benar bisa menggila detik ini juga," aku Quin yang tampak semakin gelisah.


"Baiklah," pasrah Damar lalu membuka botol kecil itu lalu menuang ke atas tissu. "Satu ciuman lagi sebelum kamu benar-benar tertidur," tawar Damar seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitan memanfaatkan keadaan Quin.


Pikirnya kapan lagi bisa merasakan bibir gadis itu jika ia dalam keadaan normal.


"Damaaar," desisnya lalu menggigit kecil leher pria tampan itu karena kesal.


"Ssssttt ... Quin," desisnya.


"Ayo cepat lakukan, setelah itu tempelkan tissu itu secepatnya," bisik Quin dengan nada menggoda apalagi hasratnya kini semakin bergelora bahkan ia mulai meliukkan tubuhnya.


Damar kembali melu*mat bibir gadis itu dengan lembut, menyesap pelan, bahkan mengeksplor lidahnya masuk ke dalam mulut mungil Quin. Saling membelit lidah bahkan tangan besar Damar ikut menyentuh setiap inci lekuk tubuh Quin dengan bebasnya.


Merasa pasokan nafas keduanya hampir habis barulah ia melepas tautan bibirnya lalu kembali menyatukan keningnya dengan nafas yang sama-sama memburu.


"Pejamkanlah matamu sekarang," bisik Damar lalu mengecup keningnya dengan sayang. Setelah itu ia menempelkan tissu yang telah ia bubuhkan obat bius ke indra penciuman Quin.


Tak butuh waktu yang lama akhirnya Quin tak sadarkan diri. Damar menatapnya sejenak seraya mengelus pipinya lalu mengusap bibirnya kemudian mengulas senyum.


sebelum menjalankan mobilnya, Damar terlebih dulu menyetel kursi Quin. Setelah itu ia mengurangi suhu AC mobil lalu melepas jasnya menutupi paha gadis itu.


"Ternyata kamu sangat lihai juga dalam hal perang bibir," gumamnya. Otaknya langsung traveling ke mana-mana. "Akh ... Damar ... apa yang sedang kamu pikirkan?!" desisnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama berselang, ia pun kembali melajukan kendaraannya menuju kediamannya. Saat dalam perjalanan, sesekali ia melirik Quin yang terlihat tertidur begitu nyenyaknya.


"Quin, jika gadis lain, mereka nggak sampai kepikiran untuk menggunakan obat bius," gumam Damar dan kembali fokus menyetir. "Entah sampai jam berapa kamu akan sadarkan diri besok," gumamnya lagi lalu terkekeh.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜