101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 49



Sementara itu, Quin yang saat ini sedang melajukan kendaraannya, memilih ke apartemennya. Kebetulan sudah lama ia meninggalkan apartemennya itu.


Setelah mengendarai selama kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya ia hampir sampai namun terlebih dulu ia singgah sebentar di supermarket yang tak jauh dari gedung apartemennya.


Begitu selesai berbelanja, ia pun kembali melajukan kendaraannya ke parkiran apartemen.


"Lebih baik seharian ini aku berkurung di unit ku saja. Dasar tuan pemaksa. Jangan panggil namaku Quin jika tidak memberontak," gerutunya lalu masuk ke dalam lift.


Semenit kemudian, pintu lift terbuka. Ia pun keluar dari kotak besi itu lalu melangkah menuju ke unitnya lalu menekan password pintunya.


"I'm coming. Haaaa ... sudah lama sekali aku meninggalkan tempat ini," desisnya lalu menaruh barang belanjaannya di atas meja pantry kemudian ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Begitu selesai berganti pakaian rumahan dengan setcel pendek seperti biasa ketika ia tak ingin bertemu dengan siapapun, lagi-lagi ponselnya ia alihkan ke mode pesawat.


Setelah itu ia kembali ke pantry untuk membuat coklat hangat sekaligus memasak.


"Daripada pusing mikirin kontrak itu, lebih baik aku masak setelah itu lanjut membersihkan apartemenku ini. Huh!! menyebalkan," dumalnya sambil mengolah bahan masakannya.


Meninggalkan Quin yang sedang mendumal kesal karena Damar, sebaliknya dengan pria itu yang tampak ketar ketir memikirkan gadis itu.


Ya, gadis yang kini membuatnya terobsesi untuk memilikinya.


"Again?!!! ponselnya nggak aktif?!" kesal Damar setelah puluhan kali menghubungi gadis itu namun lagi-lagi ponsel ponselnya di luar jangkauan.


"Apa aku terlalu menekannya? Di balik sikapnya yang lembut dan perhatian, ternyata dia juga gadis pemberontak. Bagaimana jika dia benar-benar meninggalkanku tanpa kabar? Itu pasti akan menyulitkanku untuk mengetahui keberadaannya," desis Damar lalu memukul setir mobilnya.


Karena belum bisa berpikir dengan tenang, akhirnya Damar melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya.


.


.


.


Siang harinya ...


Tok ... tok ... tok ...


Pintu ruangan kerja Damar diketuk kemudian dibuka.


"Adrian," lirihnya lalu memijat pangkal hidungnya.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Adrian.


"No," jawabnya.


"Apa Anda sakit? Mau saya antar ke rumah sakit atau langsung menghubungi dokter pribadi Anda?" lanjut Adrian lalu duduk berhadapan dengan boss-nya itu.


"No," jawabnya lagi.


Adrian merasa bingung mendengar jawaban singkat Damar.


Tak lama berselang Damar tersenyum penuh arti.


"Rian, tolong lacak nomor plat mobil Quin," pintanya.


Adrian menautkan alisnya menatap heran pada Damar.


"Dia pasti berada di butiknya, Tuan,"


"Jika dia ada di butiknya, nggak mungkin aku mau repot-repot memintamu melacak nomor platnya," tegas Damar. "Sudah, lakukan saja apa yang aku perintahkan."


"Baik, Tuan," kata Adrian dengan pasrah.


Setelah itu, ia beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Damar.


Sesaat setelah berada di luar ruangan itu, Adrian terlebih dulu menghubungi Al untuk memastikan.


Tak lama setelah ia menghubungi gadis itu, ia langsung tersambung.


"Hallo, Rian, ada apa?" tanyanya.


"Sejak pagi Quin sudah meninggalkan butiknya, bahkan saat Damar masih bersamanya," jelas Al.


"Hmm."


"Ada apa?" tanya Al.


"Nggak apa-apa. Ya sudah aku tutup dulu ya," kata Adrian.


"Ok," jawab Al.


Adrian kembali ke ruang kerjanya dan langsung menghubungi orang kepercayaannya seperti biasa.


Hanya di deringan pertama orang kepercayaannya itu langsung menjawab panggilannya.


"Ya hallo, Rian ada apa?" tanya Luke.


"I need your help," ucapanya to the poin.


Luke terkekeh dari seberang telepon.


"Apa? Katakan?" kata Luke.


"Tolong lacak nomor plat mobil ini." Adrian menyebut angkanya. "Jika kamu sudah tahu keberadaan mobil itu langsung WA aku," pesannya.


"Ok siap," balas Luke lalu memutuskan panggilan dan mulai melakukan tugasnya.


Sedangkan Adrian kembali beranjak dari tempat duduknya lalu segera meninggalkan ruang kerjanya untuk mencari makan siang.


Sesaat setelah berada di dalam mobilnya ia menggelengkan kepalanya mengingat sikap tidak biasa sang penerus Alatas Corp itu.


"Untuk apa dia menyuruhku melacak nomor plat mobil Quin," desis Adrian lalu mulai melajukan kendaraannya ke salah satu restoran. "Sebaiknya aku pesan makanan saja lalu membawa ke butik. Sudah lama aku nggak ngobrol bareng Al," gumamnya sambil tersenyum.


.


.


.


Apartemen Quin ...


Tampak gadis itu sedang bersantai dengan menonton drakor favoritnya di dalam kamar sambil rebahan.


"Kisah cinta di drakor tak seindah kisah cinta di dunia nyata. Haaaa ... menyebalkan banget," gerutu Quin lalu tersenyum lucu setelah selesai menonton.


Ia kembali ke pantry lalu mengambil air dingin dari dalam kulkas. Ia kembali meneliti ruangan apartemen itu yang sudah tampak rapi dan bersih setelah beberapa jam yang lalu ia berkutat membersihan unit ruangannya itu.


Semua frame foto dirinya dan Angga yang terpajang di dinding ia kumpulkan menjadi satu ke dalam kardus besar beserta semua barang-barang pemberian dari ex tunangannya itu.


Setelah itu ia menghubungi petugas kebersihan untuk membuang semua benda itu. Bahkan ia tak segan-segan meminta petugas kebersihan untuk memilah barang yang sekiranya masih bagus untuk diambilnya.


Kini dinding ruangan itu tampang kosong dan bersih. "Sebaiknya aku akan menggantinya dengan lukisan saja," gumam Quin.


Ia kembali ke ruang tamu sambil membawa camilan dan menyalakan TV. Ia terus mengganti-ganti channel karena tidak ada satupun siaran yang menurutnya bagus.


Akhirnya ia kembali mematikan TV dan memutuskan duduk di samping jendela besar ruang tamu sambil menatap kota J dari balik kaca besar itu sambil tersenyum.


Tiga puluh menit kemudian ...


Ting ... tong ... ting ... tong ...


"Siapa sih?!" desisnya lalu menghampiri pintu unitnya.


Ia pun membuka pintu dan seketika matanya langsung membelalak seolah ingin lepas dari cangkangnya.


Dengan secepat kilat Quin kembali mendorong pintunya.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜