
Sepeninggal Angga, Quin kembali mendudukkan dirinya di sofa lalu tersenyum sinis.
"Hanya menunggu bom waktu meledak," ucap Quin.
.
.
Kediaman Pak Pranata ....
"Mah, tumben Quin menginjakkan kakinya ke rumah? Bareng Angga pula?" tanya Kinara seolah tidak suka.
"Itu karena papa yang memaksa. Apalagi Angga merasa khawatir karena Quin menunda pernikahan mereka," jelas bu Fitri.
Kinara tampak tersenyum penuh arti.
"Bagus dong, jika perlu sekalian saja Quin batalkan pernikahan mereka," gumam Kinara dalam hatinya.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya bu Fitri.
"Nggak apa-apa, Ma. Udah lah, aku mau ke kamar dulu," kata Kinara lalu meninggalkan mamanya.
Bu Fitri hanya mengangguk sembari memperhatikan Kinara .
"Jika Quin sampai membatalkan pernikahannya dengan Angga, bagus dong. Itu artinya aku bisa menjodohkan Kinara dengan Angga. Jika bisa, aku ingin sekali memberi pelajaran pada anak itu," geram bu Fitri.
Tak lama berselang pak Pranata menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
"Mah, ada apa? Kok kamu terlihat kesal?" tanya pak Pranata.
"Nggak, mama hanya memikirkan Quin saja."
"Maafkan sikap Quin tadi. Beri dia waktu, lama-lama juga dia pasti bisa menerima dirimu. Papa juga berharap kalian saling akur," kata pak Pranata.
Bela aja terus tuh anak. Bagaimana mau akur jika dia selalu saja menyindirku. Menjengkelkan.
"Sampai kapan, Pah? Dari dulu, dia tetap saja bersikap dingin dan selalu berbicara ketus padaku," sahut bu Fitri dengan pesimis.
"Maklumi saja, Mah. Quin masih labil, apalagi sejak mamanya meninggal dia seolah semakin menyalahkan diriku," lirih pak Pranata. "Sudah lah, papa ingin beristirahat, soalnya besok papa ada meeting," jelas pak Pranata lalu ke kamarnya.
.
.
.
Keesokan harinya ....
Ponsel Quin terus bergetar. Sedangkan sang empunya benda pipih tersebut masih saja memejamkan matanya.
Adrian yang sejak tadi berada di depan pintu apartemen masih berusaha menghubungi gadis itu dan sesekali memencet bel pintunya.
"Apa Nona Quin, sudah berangkat kerja ya?" gumam Adrian.
Ia pun kembali menghubungi gadis itu. Namun lagi-lagi Quin tak di jawab. Karena panggilannya tak kunjung di jawab, akhirnya Adrian kembali lagi ke parkiran.
Beberapa menit kemudian ....
Quin menggeliat lalu membuka matanya.
"Astaga!!!" pekiknya lalu mendudukkan dirinya. "Sudah jam berapa ini?" Ia meraih ponselnya yang ada di meja nakas.
Matanya membulat sempurna saat menatap layar ponselnya.
"What!! Oh my God!!" pekiknya lagi dan langsung beranjak dari tempat tidurnya. "Bisa-bisanya aku sampai kesiangan begini," gumamnya.
Ia pun langsung menghubungi nomor baru yang masuk di ponselnya. Hanya di deringan pertama, panggilan darinya langsung dijawab.
"Hallo, Nona Quin?" jawab Adrian.
"Maaf, aku lupa jika hari ini kamu akan menjemputku?" sesal Quin. "Aku malah kesiangan. Sekali lagi aku minta maaf ya," ucap Quin.
"Nggak apa-apa, Nona Quin."
"Gimana jika kalian mampir aja ke butik saat makan siang nanti?" usul Quin.
"Nanti saya tanyakan dulu pada Tuan Damar."
"Baik lah, kabari aku aja ya," pesan Quin.
"Siap, Nona Quin," kata Adrian lalu memutuskan panggilan.
Quin menepuk-nepuk jidatnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya aku siapkan dulu baju yang akan aku bawa. Ya Ampun ... jadi asisten pribadi? Quin kamu benar-benar sudah gila," gumam Quin lalu terkekeh.
********
"Finally ... semuanya sudah beres. Well ... waktunya bermain-main Angga ... Kinara," desis Quin dengan seringai penuh arti.
Sebelum benar-benar meninggalkan apartemennya, Quin terlebih dulu mengganti password pintunya.
"Huh ... jangan sampai apartemenku di jadikan tempat mesum mereka berdua. Cih! Menjijikkan."
.
.
.
Baru saja ia tiba di butiknya, ponselnya kembali bergetar.
"Nomor baru? Apa klien baru ya?" pikirnya.
"Ya ... hallo. Maaf ini dengan siapa ya?" tanya Quin.
Seketika tawa Quin pecah.
"Damar? Tinggal bilang Damar aja susah amat. Si amat aja nggak susah tuh," kelakar Quin
Damar mengulas senyum mendengar ocehan Quin.
"Damar ... Maaf ya, aku kesiangan. Apa gajiku akan dipotong? Secara, hari pertama aja aku telat?" tanya Quin.
Lagi-lagi senyum Damar terbit di wajahnya.
"Nggak, jika siang ini kamu mau di jemput oleh Adrian," jawab Damar.
"Benarkah? Baik lah," kata Quin.
"Ya ... aku menunggumu," balas Damar.
Setelah itu ia pun memutuskan panggilan.
Kok aku jadi nurut sama dia ya? Aneh tapi nyata.
Quin geleng-geleng kepala lalu masuk ke dalam butiknya.
"Quin, tumben kamu kesiangan. Nggak seperti biasanya?" tanya Almira.
"Entah lah, sepertinya aku kelelahan," jawab Quin.
Almira menyipitkan matanya menatap curiga pada sahabatnya itu.
"Kamu kenapa sih Al? Lihatnya biasa aja kali. Aku seperti buronan aja," pungkasnya.
Almira terkekeh. "Kali aja kamu buronan. Buronan cinta," ujar Almira.
"Ck ... udah ah, kerja gih. Jangan lupa antar tiga pasang setelan jas si pria resek ke kantornya nanti," pesan Quin.
"Maksudmu Denis?" tanya Almira.
"Menurut mu?"
Al terkekeh menatap wajah kesal sang owner butik.
.
.
.
Siang harinya ...
"Selamat siang ... apa saya bisa bertemu dengan Nona Quin?" tanya Adrian.
Al dan Gisha langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Hmm ... pria mana lagi ini? Coba sekali-kali aku yang di cari," gumam Almira dalam hatinya lalu terkekeh.
"Quin ada di lantai dua," terang Al. "Mari, saya antar ke atas Pak," ajak Al.
"Hmm ..."
Ck ... ini manusia apa kulkas sih?! Dingin banget jadi cowok.
Ketika sampai di lantai dua, Almira mengajak Adrian ke galery baju Quin.
"Sebentar ya, Pak, saya panggil Quin dulu."
Adrian hanya mengangguk lalu memperhatikan galery itu.
"Aku baru tahu, jika Nona Quin adalah owner dari Boutique QA Design. Padahal sudah lama Tuan mempercayakan dirinya menjadi designer khusus pakaiannya," gumam Adrian. "Harus aku akui, hasil tangan dinginnya memang sangat rapi dan elegan."
Almira menghampiri Quin yang sedang memasang sebuah gaun ke manekin.
"Quin ... ada yang mencarimu," tegur Almira.
"Siapa?"
"Seorang pria ganteng," bisiknya. "Coba aku kek yang dicari. Ini setiap ada pria yang datang pasti yang ditanya itu, kamu," kata Al.
Quin langsung tertawa mendengar kalimat asistennya itu.
Ia pun menghampiri Adrian. "Adrian," sapanya.
"Nona Quin, saya diminta Tuan Damar untuk menjemput Anda," ucapnya.
Almira menatap curiga Quin dan Adrian bergantian.
"Al, kamu kenapa sih?" tanya Quin. "Oh ya, Adrian. Kenalin, ini Almira sahabatku sekaligus assistenku. Al, ini Adrian," jelas Quin memperkenalkan keduanya.
Almira dan Adrian pun saling berjabatan tangan.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Quin berpamitan.
"Al, aku titip butik ya. Jika Angga ke sini, katakan saja padanya aku ada meeting dengan klien," pesan Quin.
"Ok."
Sesaat setelah berada di parkiran, Adrian membantu Quin memindahkan kopernya ke bagasi mobilnya.
"Nona Quin, saya akan mengantar Anda ke kediaman Tuan Damar," kata Adrian.
"Baik lah," sahut Quin dengan seulas senyum.
...***************...