101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 19



"Sayang ... kamu mau pesan apa?" tanya Angga lalu memberikan buku menu.


"Sebenarnya aku sudah kenyang, tapi jika sudah berada di restoran ini ... honestly aku nggak bisa nolak," akunya lalu terkekeh.


"Nggak sia-sia aku mengajaknya ke sini," gumam Angga dalam hatinya dengan senyum tipis.


"Seperti biasa ... aku pesan makanan favoritku, ramen dan yakitori terus minumnya mugicha. Boleh ya, Sayang."


"Tentu saja boleh. Whatever you want," kata Angga dengan seulas senyum.


"Lalu, kamu mau pesan apa?" tanya Quin.


"Samaan saja Sayang, tapi aku minumnya soda melon," pesan Angga.


"Ok ... Mbak, kami pesan dua porsi ramen, yakitori dan minumannya soda melon dan mugicha," pinta Quin pada waiter.


"Baik, Mbak. Sebentar ya ditunggu pesanannya," kata waiters.


"Ok, thank you," ucap Quin dengan seulas senyum.


Sepeninggal waiters, Quin melirik Angga lalu bertanya, "Sayang bagaimana jika aku gendut?" tanya Quin.


"Ya nggak apa-apa, aku tetap mencintaimu," jawab Angga lalu menggenggam jemari Quin.


Quin hanya mengangguk lalu menatap jemarinya dan Angga yang saling bertautan.


"Please cincin ini jangan di lepas lagi," bisik Angga lalu mengecup kening Quin. Namun Quin tidak menyahut melainkan hanya mengangguk.


Sekalipun kamu tidak ingin, tapi aku lah penentunya. Kita lihat saja nanti.


Tak lama berselang, waiters membuka pintu membawakan pesanan makanan mereka berdua lalu menatanya dengan rapi lalu mempersilakan Quin dan Angga mencicipi makanan mereka.


"Sayang ... ayo kita santap," kata Quin. Keduanya pun mulai menyantap makanannya dengan lahap.


Sedangkan Kinara yang sejak tadi masih berada di butik Quin merasa sangat kesal dan geram. Ia mengira jika Angga akan memarahi Quin dan memilih memutuskan hubungan namun ia salah.


Dengan perasaan dongkol ia terpaksa melanjutkan niatnya mencari salah satu gaun di galery itu. Setelah mendapat apa yang ia inginkan, ia pun membawa gaun itu ke meja kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.


"Loh, Mbak Kinar, sejak kapan Mbak di sini?" tanya Jihan.


"Sejak kalian keluar makan siang!" jawabnya dengan ketus. "Sudah, cepetan bungkus! Aku masih ada pemotretan," desaknya.


Jihan hanya menurut. "Belagu banget sih," gerutu Jihan dalam hatinya.


Ia pun melipat gaun itu lalu memasukkan ke dalam paper bag lalu menyerahkan pada Kinar.


"Ini ... terima kasih sudah berbelanja di butik QA Design," ucap Jihan.


Bukannya membalas, Kinar langsung meninggalkan butik itu dengan perasaan kesal.


*******


Kantor Damar ....


"Rian, jika kita bersama Quin, jangan panggil aku Tuan, Pak saja. Aku nggak mau dia curiga. Satu lagi, masukkan nama Quin ke daftar tamu penting di bagian resepsionis. Sekalian jelaskan pada resepsionis biar mereka mengerti," perintah Damar.


"Baik, Tuan.


"Oh ya, tolong siapkan aku satu ruang kerja sederhana sebagai wakil CEO. Kita nggak akan tahu sewaktu-waktu Quin akan kemari. Jika Quin bertanya siapa nama CEO perusahaan ini bilang saja Khalid Alatas."


"Tapi bagaimana jika Nona Quin curiga. Apalagi nama depan Tuan inisial D. Walaupun saya tahu sejak dulu Anda menggunakan nama Khalid dalam setiap pertemuan dan rapat penting baik dalam maupun luar negeri."


"Quin nggak bakal tahu. Sebaiknya aku nggak hadir di HUT perusahaan papa, apalagi Quin sudah tahu wajah mama. Sehari sebelum acara itu sebaiknya kita ke Jepang," usul Damar.


"Lalu Nona Quin?"


"Aku akan membujuknya supaya mau ikut."


"What!!" Adrian tercengang mendengar usulan sang CEO.


"Jangan terkejut begitu, Rian. Kamu tahu kan, dia itu sudah terikat kontrak selama 101 hari. So ... dia tidak boleh menolak," tegas Damar dengan senyum penuh arti.


"Baik lah, Tuan. Saya akan mengatur semuanya nanti," imbuhnya.


Mau bagaimana lagi, jika boss yang sudah memberi perintah. Si boss ada-ada saja.


Adrian hanya bisa membatin sambil menggeleng kepalanya.


********


Sementara Quin dan Angga, kini berada di salah satu toko perhiasan ternama di kota J. Quin tampak melihat-lihat dan memilih salah satu kalung untuk Bu Meilan.


"Sayang, bagaimana menurutmu?" tanya Quin lalu memperlihatkan sebuah kalung emas bermata berlian tunggal.


"Jika kamu yang memilih, mama pasti suka," sahut Angga.


"Ya sudah, aku ambil yang ini saja. Mbak, tolong bungkus serapi mungkin ya. Soalnya buat kado spesial," pinta Quin dengan ramah.


"Baik, Nyonya," kata karyawan toko.


Angga langsung tersenyum mendengar Quin di panggil dengan sebutan Nyonya.


"Lebih tepatnya Nyonya Angga," gumam Angga dalam hatinya.


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan Quin pun selesai dibungkus lalu di masukkan ke dalam paper bag mini. Saat akan melakukan transaksi, Angga langsung memberikan black card-nya pada karyawan.


"Sayang! Kamu," protes Quin lalu memasang wajah cemberut.


"Nggak apa-apa, Sayang. Ini kado kita berdua buat mama," bisiknya lalu mengecup pipi Quin tanpa rasa malu di depan karyawan.


"Sayang!" protesnya lagi.


"Jangan protes karena kamu milikku," bisik Angga lagi dengan gemas.


"Tuan, ini kartunya. Terima kasih Tuan, Nyonya sudah berbelanja di toko perhiasan kami," kata karyawan dengan senyum ramah.


"Sama-sama," ucap Quin dan Angga bergantian.


*


*


*


Jam enam sore, Quin berpamitan lebih awal untuk kembali ke apartemennya dan membawa sebuah gaun dari butiknya untuk dikenakannya malam nanti.


Setelah tiba di apartemennya, ia langsung menuju kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya.


"Lord ... i feel so tired," lirihnya lalu memejamkan matanya sejenak. Sedetik kemudian ia pun beranjak lalu ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Quin menatap dirinya di depan cermin lalu menarik nafasnya dalam-dalam. "Perfect," gumamnya lalu tersenyum.


Ia pun menenteng paper bag mini dan satunya memegang dompet pesta senada dengan warna gaunnya.


Tak lama berselang bel pintu apartemennya berbunyi.


"Itu pasti Al," gumamnya lalu cepat-cepat menghampiri pintunya.


Dan benar saja saat pintu terbuka Al langsung memekik, "Quin?! Kamu terlihat anggun banget."


"Ck, sudah. Ayo kita berangkat sekarang. Aku berharap kamu dapat jodoh di sana," ledek Quin lalu terkekeh. Keduanya pun masuk ke dalam lift.


"Tapi aku tertarik sama, pria yang bersamamu tadi di butik," kelakarnya


"Maksudmu majikanku atau asistennya? Adrian maksudku," cecar Quin. "Eh ... bagusnya sama majikanku saja," usul Quin.


"Ha.ha.ha .... aku hanya bercanda," kata Al dengan tawanya yang kembali pecah.


"Ck ... kamu ini," decak Quin.


Ting ....


Keduanya pun tersadar dan cepat-cepat keluar dari benda besi itu menuju mobil.


"Quin biar aku yang menyetir," tawar Al dan di jawab dengan anggukan kepala.


Ketika mereka mulai membelah jalan kota, lagi-lagi Al bertanya, "Quin ... jadi pria gondrong, brewok, berkacamata itu adalah majikanmu?"


"Ya, hanya 101 hari saja. Aku sengaja menerima tawarannya supaya aku bisa lepas dari Angga. Aku hanya menunggu bom waktu. So ... sewaktu-waktu jika aku memergokinya lagi, maka aku akan menjadikan itu alasan yang kuat untuk pisah dan berpura-pura mengakui jika Damar adalah calon suamiku," jelas Quin dengan senyum sinis.


"Hahh!! Beneran?! So ... namanya Damar ya?Tapi Quin, jika di perhatikan baik-baik sebenarnya dia itu ganteng loh," aku Al.


Quin terkekeh. "Buat kamu saja, ha.ha.ha. Aku nggak tertarik," celetuk Quin. "Maksudku bukan karena ia belum bisa berjalan atau penampilannya yang seperti itu. Tapi real, aku nggak punya perasaan apapun," tegas Quin.


Al hanya geleng-geleng kepala mendengar celetukkan sahabatnya itu.


"Hati-hati loh dengan omonganmu Quin. Kita nggak akan pernah tahu cinta seseorang itu akan berlabuh pada hati siapa," peringat Al.


Namun Quin terlihat cuek seolah tak menghiraukan celetukkan sahabatnya itu.


Tak lama berselang, keduanya pun tiba di halaman parkir. Sederet mobil mewah telah berjejer rapi di halaman parkir rumah mewah itu.


Quin pun mengajak Al langsung ke taman belakang rumah tempat di selenggarakan pestanya.


Dari kejauhan Bu Meilan langsung melambaikan tangannya ke arah Quin dengan senyum bahagia.


"Quin, camer ..."


"Ralat camer, tapi bakal ex camer," potong Quin lalu terkekeh.


"Ck.ck.ck ... sepertinya kamu sudah nggak sabaran ya lepas dari Angga?"


"Hmm."


Langkah kaki Quin dan Al terhenti tepat di depan Bu Meilan dan Pak Wibowo.


"Mah, Pah ... happy wedding anniversary," ucap Quin lalu memeluk keduanya bergantian.


"Terima kasih, Sayang. Mama mengira Angga gagal membujukmu," ucap Bu Meilan seraya mengelus punggungnya dengan sayang.


"Terima kasih, Nak," timpal Pak Wibowo lalu tersenyum.


"Mah, ini untuk Mama." Quin memberikan kadonya pada Bu Meilan.


"Sayang, Mama nggak berharap kamu memberikan kado. Kehadiran mu di sini saja sudah cukup membuat Mama dan Papa bahagia," papar Bu Meilan.


"Tante, Om ... selamat ya," ucap Al lalu menyalami keduanya.


"Terima kasih ya, Nak Al," ucap keduanya bergantian.


Setelah itu, Quin dan Al berpamitan dan bergabung dengan Karin dan Altaf.


"Kak Karin, Kak Altaf," sapa Quin.


"Quin, Al ..." sahutnya keduanya dengan seulas senyum.


"Kak Altaf, aku punya sesuatu buat kakak," bisik Quin dengan menaik turunkan alisnya.


"Apa?"


"Jodoh buat kakak," bisik Quin. "Al maksudku. Nama kakak pun awalanya sama. Sama-sama Al. itu berarti kalian jodoh," sambung Quin.


"Sok tahu kamu," kesal Altaf lalu menyentil jidat Quin.


Quin hanya terkekeh lalu mengusap jidatnya yang barusan di sentil, kemudian menatap wajah kesal putra sulung Pak Wibowo itu. "Oh ya Kak, Angga mana ya? Kok dia nggak kelihatan?" tanya Quin.


"Aku di sini Sayang," bisiknya lalu memeluk Quin dari belakang bahkan mendaratkan kecupan singkat di ceruk lehernya.


"Ehem ... ehem ..." Altaf berdehem. "Jangan pamer kemesraan di sini Ngga," protes Altaf.


"Makanya kakak cepat-cepat cari pasangan," ledek Angga lalu terkekeh.


"Nggak usah jauh-jauh Kak, Al cocok kok dijadikan istri," timpal Quin. "Bagaimana jika kalian jadian saja," usul Quin.


Al membulatkan matanya lalu mencebikkan bibirnya merasa kesal dengan sahabatnya itu. Altaf dan Al saling berpandangan.


"Kak, Al sebaiknya kalian ngobrol di tempat lain saja daripada kalian berdua di ledek terus dengan pasangan somplak ini," saran Karin.


"Bener juga ya," gumam Al lalu mengajak Altaf pindah tempat. sedangkan Karin memilih menghampiri suaminya.


Tak jauh dari tempat Quin dan Angga berdiri sejak tadi Nyonya Zahirah terus memperhatikan Quin dan Angga. Ia pun bertanya pada Bu Meilan apa hubungan Angga dan Quin?


"Mei, ada hubungan apa gadis itu dengan Angga?" tanyanya penasaran.


Bu Meilan mengarahkan pandangannya ke arah yang di maksud. Ia hanya tersenyum saat melihat Angga terus memeluk Quin.


"Itu calon mantu saya, tunangannya Angga," jelas Bu Meilan dengan bangga.


Lalu kenapa dia mau jadi asisten pribadinya Damar? Nggak bisa dibiarkan ini.


Nyonya Zahirah membatin kesal.


...****************...


Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya 🀭☺️ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih ☺️πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™πŸ™