101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 3



Sesaat setelah ketiganya masuk ke area ballroom, mereka menuju ke salah satu meja yang telah di siapkan khusus untuk Damar.


"Pak Damar, terima kasih sudah mau hadir di hari spesialku ini," sambut Angga lalu menjabat tangan Damar.


"Sama-sama. Jangan formal begitu, panggil Damar saja," sahut Damar merendah.


Angga mengulas senyum sambil mengangguk.


"Oh ya, aku tinggal sebentar ya, silakan di cicipi makanannya," tawar Angga dengan ramah. Setelah itu ia berlalu keluar.


Angga sedikit menjauh dari keramaian lalu kembali mencoba menghubungi Quin. Namun perasaan kecewa semakin menyelimuti hati dan perasaannya karena yang menjawab hanya suara operator.


"Quin?! Apa kamu lebih mementingkan pekerjaanmu daripada menemani aku di sini?!" ucapnya pelan.


"Bro ... ada apa? Kok wajahmu kusut begitu? Harusnya kamu bahagia dong, apalagi ini hari spesialmu?" tanya Dennis.


"Masalahnya Quin nggak bisa hadir. Dia lagi di luar kota," jelas Angga dengan hela nafas kasar.


"What?!! Impossible. Tadi sore aku masih melihatnya di taman kota," jelas Dennis.


"Are you sure?"


"Hmm," jawab Dennis.


Angga terdiam dan tampak merenung ia kembali melirik temannya itu. Entah dia harus percaya atau tidak. Apalagi Dennis sering menjahilinya.


"Ayolah ... Angga, kali ini aku gak bohong. I swear," tegas Dennis dengan raut wajah serius seraya membentuk V dua jarinya.


Tak lama berselang Kinara menghampiri keduanya.


"Hai ... Dennis, Angga," sapanya.


Angga terlihat cuek sedangkan Dennis menatapnya dengan tatapan lapar.


"Oh ya, aku duluan ya," kata Angga dan berlalu begitu saja.


Sementara Damar dan Adrian terlihat berbincang-bincang dengan beberapa tamu undangan lainnya.


"Aku dengar-dengar, Pak Angga akan menikah tahun ini. Calonnya, kalau gak salah seorang desainer," celetuk Sofia tiba-tiba.


"Benarkah? Kok aku baru tahu?" tanya Damar.


"Hmm ... tapi kok, aku nggak melihatnya sejak tadi?"


"Apa kamu mengenal pacarnya?" tanya Damar lagi.


"Nggak terlalu sih kak. Setahuku orangnya baik, ramah dan berparas cantik. Kalau aku nggak salah, dia juga bekerjasama dengan beberapa perusahan yang bergerak di bidang fashion," jelas Sofia dengan semangat.


Damar hanya mencermati ucapan adiknya sambil mengelus brewoknya.


Tak lama berselang puncak acara pun di mulai. Mau tidak mau Angga merayakan pesta ulang tahunnya tanpa Quin. Tampak raut wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam dan ia seolah tak bersemangat.


Belum lagi rekan-rekan bisnisnya yang menanyakan keberadaan Quin yang tak mendampinginya.


Desas desus pun mulai menyapa gendang telinganya yang semakin membuatnya getir.


*****


Jauh dari keramaian pesta, Quin malah asik menggambar design baju untuk beberapa kliennya, di temani dengan secangkir teh hangat.


Setelah selesai menggambar, ia pun menghampiri kolam renang kemudian duduk di salah satu kursi santai sambil selonjoran. Ia menatap langit yang di penuhi bintang.


"Mama ... seandainya mama masih hidup, ingin rasanya aku menangis sepuasnya di pelukan mama. Setelah kepergian mama, papa lebih menyayangi istri barunya dan putri tirinya daripada aku. Bahkan Kak Juna lebih memilih menetap di Jepang ketimbang satu rumah dengan mereka," lirih Quin. Air matanya pun mulai mengalir. "Aku harus bagaimana sekarang?"


Quin menghapus air matanya lalu menegakkan badannya.


"Apa selama ini Angga dan Kinara menjalin hubungan diam-diam di belakangku ya?Lebih tepatnya mereka selingkuh. Ya Tuhan ... jika itu benar, aku gak akan tinggal diam," pikirnya. "Baiklah ... kalian yang mulai permainan ini. So ... we will see later," Quin tersenyum penuh arti.


"Forget it ... ngapain terus berlarut-larut memikirkan orang yang sudah mengkhianatimu Quin," ucapnya pada dirinya sendiri. "Sebaiknya aku berpura-pura nggak tahu saja dan mengikuti permainan mereka berdua. Dasar menjijikkan," geram Quin.


*****


"Angga, kok Quin sejak tadi gak kelihatan? Apa kalian sedang bermasalah," tanya Kinara.


"Bisa nggak sih! Kamu jaga jarak?" kesal Angga. "Memangnya kenapa jika Quin nggak terlihat? Dia ada urusan mendadak di luar kota," jelas Angga.


Kinara tersenyum tipis. "Bagus dong ... jadi kita bisa menghabiskan malam ini berdua saja di apartemenmu," bisik Kinara dengan nada sensual.


Angga tersenyum sinis. "Sepertinya di sini, bukan aku yang maniak tapi dirimu," sindirnya.


"Tapi kamu sangat menikmati permainan panasku kan?" Kinara balik menyindirnya. "Pasti Quin nggak pernah melakukan hal yang sering kita lakukan berdua," pungkasnya.


"Karena Quin wanita yang sangat menjaga kehormatannya. Dia nggak seperti dirimu yang rela menyerahkan diri pada pria lain hanya untuk memuaskan hasrat sesaat," sahut Angga dengan seringai mengejek.


Ucapan menohok Angga seketika membuat Kinara geram.


Kedekatan keduanya seketika menjadi sorotan para tamu undangannya. Begitu pun dengan Damar.


"Sofia, apa itu pacarnya Angga?" tanya Damar.


"Bukan, Kak. Itu Kinara seorang seorang model, teman pak Angga juga," jelas Sofia. "Aku pun heran ya, sejak tadi pacarnya gak kelihatan."


"Kepo banget sih loe, Sof," sahut Adrian.


"Emang kenapa? Sewot loe," kesal Sofia lalu menjulurkan lidahnya.


Damar hanya menggelengkan kepalanya melihat adik dan asistennya itu berdebat.


"Sudah lah, sebaiknya kita pamit dulu sama Angga, kita pulang sekarang," ajak Damar.


Ketiganya pun menghampiri Angga dan Kinara lalu berpamitan.


"Angga, terima kasih ya, atas undangannya. Semoga kedepannya kita bisa menjalin kerjasama," kata Damar.


"Sama-sama, Damar. Satu kehormatan bagiku bisa menjalin kerjasama denganmu dan terima kasih kamu mau menghadiri pesta kecilku ini," balasnya.


Damar hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Setelah itu Damar, Adrian dan Sofia meninggalkannya.


Kinara menatap heran dan benaknya bertanya-tanya siapa pria berkursi roda itu bahkan tampak sangat di segani.


"Angga, siapa dia? Sepertinya dia bukan orang sembarangan, terlihat banget dia sangat di segani," tanya Kinara dengan rasa penasaran.


"Dia anaknya pak Alatas. Damar Khalid Alatas. CEO Alatas Grup. Kamu pasti tahu kan, Alatas Corp dan Alatas Grup?" jelas Angga.


"What?!! Bukankah dia CEO yang mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu akibat balapan mobil?"


"Yes ..."


Kinara seakan tak percaya, pria tampan yang dulunya dikenal dengan sejuta pesona, digilai banyak wanita dan gemar hura-hura kini tampak jauh berbeda. Bahkan nyaris tak di kenali.


"Kenapa dia baru muncul sekarang?"


"Dia menjalani perawatan di luar negeri," jelas Angga.


"Kasian banget, bahkan sekarang dia sepertinya lumpuh," lirih Kinara.


Bahkan aku salah satu wanita yang terpesona dengan ketampanannya. Bukan cuma tampan tapi tajir melintir.


Kinara masih mengingat jelas waktu itu, ketika berada di satu bar yang sama. "Pria yang malang, andai saja dia nggak lumpuh, aku akan mengejarnya," gumam Kinara dalam hatinya.


"Kinara, sebaiknya kamu pulang, ini sudah larut. Nanti orang tuamu khawatir," saran Angga lalu meninggalkannya.


.


.


.


...****************...