101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 4



Setelah menyarankan Kinara pulang, Angga langsung meninggalkannya dan memilih mengambil langkah seribu menuju lift.


Tak ingin ketinggalan jejak, Kinara kembali mengekorinya dari belakang.


Sesaat setelah berada di dalam lift, Kinara langsung memeluknya. Sontak saja ulah Kinara membuat Angga dongkol.


"Kamu apa-apaan sih kinar?! Angga melepas kedua tangan gadis itu dan sedikit mendorongnya.


"Kenapa sih? Aku heran deh sama kamu! Kamu mencintai Quin tapi kamu melampiaskan hasratmu padaku. Apa itu adil!!" kesal Kinara.


"Aku ingatkan padamu sekali lagi, siapa dan siapa di sini yang sering memancing, hmm? Sebagai lelaki normal aku nggak akan bisa menahan hasratku jika terus-terusan digoda dengan wanita sepertimu," tegas Angga. "Antara dirimu dan Quin, perbedaan kalian sangat jauh. Quin wanita anggun, elegan, lembut dan tahu batasannya sebagai seorang wanita," tegas Angga lagi. "Aku ingin mengatakan satu hal padamu. Tanpa Quin menggodaku, hasratku bisa terpancing dengan sendirinya hanya menatap bibirnya lama-lama," jelas Angga.


Bersamaan dengan selesainya kalimat yang terlontar dari bibir Angga, pintu lift terbuka. Tanpa basa basi Angga langsung keluar dari benda itu meninggalkan Kinara yang tampak begitu kesal dan jengkel.


"Quin!! Quin!! Quin!! Terus lah memuji wanita kesayanganmu itu! Menyebalkan! Cantikkan juga aku," gerutu Kinara dengan perasaan dongkol sambil mengepalkan kedua tangannya.


.


.


.


Keesokan harinya .....


Sinar matahari mulai memancarkan cahayanya bahkan menembus tirai kamar Quin. Gadis berparas cantik dan manis itu terlihat menggeliat kecil.


"Hooooaaamm ... sudah pagi rupanya," gumamnya.


Ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya lalu ke balkon kamar menghadap matahari sembari memejamkan matanya.


Quin lupakan saja tentang kejadian kemarin. Anggap saja itu seperti sebuah blue film nggak bermutu.


"Syukurnya belum resmi menjadi suamiku," desis Quin lalu membuka matanya. "Mungkin ini lah cara Tuhan menegurku supaya jangan terlalu setia pada pria seperti Angga. Kelihatannya setia namun siapa yang menyangka dia bermain api di belakangku. Menjijikkan," ucap Quin pelan.


Senyum sinis terbit di sudut bibirnya. Quin tampak berpikir.


Daripada aku terus terjebak dengan hubungan toxic ini, bagaimana caranya agar aku bisa lepas? Anggap saja itu seperti sebuah blue film nggak bermutu.


Karena belum mendapat jawaban, akhirnya Quin memutuskan ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Satu jam kemudian .....


Quin terlihat sedang membuat sarapan dan sesekali menyeruput coklat hangat kesukaannya.


"Ta daaa ... siap di santaaap," kata Quin setelah selesai membuat nasi goreng.


Ia pun menyantap nasi gorengnya sendirian hingga selesai. Setelah itu, ia pun kembali bersiap-siap untuk beraktifitas.


"Waktunya kembali bekerja." Quin pun masuk ke mobilnya dan mulai meninggalkan villanya. "Thank you, mam. Gak ada yang tahu villa ini milik mama termasuk papa. Apa mama memang menyiapkannya villa ini jauh-jauh hari, untukku dan kak Juna?" lirih Quin.


.


.


.


Apartemen Angga ....


Ia kembali merasa frustasi karena ponsel Quin lagi-lagi di luar jangkauan.


"Ada apa denganmu Quin?! Tidak biasanya ponselmu di luar jangkauan, bahkan semalaman full!" kesal Angga.


Ia pun segera mengenakan pakaian kantornya.


****


Setibanya ia di ruang kerjanya, Angga langsung mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya dan tampak melamun.


Apa benar yang di katakan Dennis kemarin? Tapi jika di lihat-lihat, sepertinya anak itu nggak berbohong. Apa Quin sengaja mematikan ponselnya ya?


Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. "Sebaiknya aku ke butiknya saja saat jam makan siang," batinnya.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu ruangannya di ketuk. Tampak sang asisten sedang membawakannya beberapa berkas penting untuk ditandatangani.


"Selamat pagi, Pak," sapa Bram.


"Pagi juga Bram," sahutnya lalu mengulas senyum.


"Pak, ini ada beberapa berkas penting yang harus Bapak tandatangani," kata Bram.


"Baik lah." Angga terlihat meneliti dengan seksama berkas-berkas itu. Setelah merasa tidak ada kesalahan ia pun membubuhkan tanda tangannya.


"Pak, sebentar siang Bapak ada pertemuan dengan pak Pranata di restoran xxx," jelas Bram.


"Apa ini menyangkut tentang rencana pernikahanku dengan Quin?" tanya Angga dengan seulas senyum.


"Sepertinya memang seperti itu Pak," jawab Bram.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit." Bram kembali meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Bram, Angga beranjak dari kursi kerjanya lalu menghampiri kaca besar ruangannya.


"Sayang ... rasanya aku sudah tidak sabar menanti hari itu tiba. Hari di mana kita akan terikat dalam janji suci pernikahan. Maafkan aku.


Aku sudah tega mengkhianati dirimu. Tapi aku berjanji kemarin adalah yang terakhir. Aku sangat mencintaimu dan benar-benar takut kehilanganmu," gumamnya.


.


.


.


Boutique QA Design ....


"Good morning ..." sapa Quin dengan seulas senyum kepada karyawannya.


"Assalamu'alaikum ..." protes Al sang asisten.


El berdecak namun tetap menurut.


"Assalamu'alaikum semuanya ..." ulangnya.


"Waa'laikumsalam Quin ..." sahut mereka.


"Nah, kalau mengucap salam kan bagus dengarnya," ledek Al padahal ia tahu benar sang majikan seperti apa.


Quin hanya terkekeh mendengar ledekan sang asisten sekaligus sahabatnya itu.


"Baik lah, Mom. Aku akan mengingatnya," kelakar Quin. "Al, aku ke atas dulu ya. Jika kalian ingin sarapan, pesan aja nanti duitnya ambil di atas," pesan Quin.


"Siap, Nyonya Angga," celetuk Almira.


Mendengar Almira menyebut nama Angga, Quin mende*sah kasar lalu memutar bola matanya malas.


Soon it will only be a memory.


Ia pun menapaki anak tangga hingga sampai di ruangan kerjanya dan kembali bekerja seperti biasa.


*****


Menjelang makan siang, Quin menghentikan aktifitasnya sejenak sambil merenggangkan otot-ototnya.


"Quin ..." sapa Al.


"Al ...ada apa?"


"Kami ingin cari makan siang, apa kamu nggak ingin titip sesuatu?" tanya Almira.


"Aku titip es boba seperti biasa aja, Al. Ini duitnya sekalian buat bayar makanan anak-anak," kata El lalu memberikan beberapa lembar uang.


"Baik lah. Ya sudah, kami duluan ya," pamit Almira.


"Hmm ..."


Sepeninggal Almira, Quin beranjak dari tempat duduknya menuju galeri baju dan memperhatikan beberapa design baju yang sudah selesai dan akan diambil oleh sang empunya pemesan.


Asik mengecek baju dan gaun di galerynya, Quin terlonjak kaget ketika seseorang memeluknya.


Ia pun berbalik. "Angga?" lirihnya lalu melepas kedua tangan Angga.


Angga mengernyit dan menatapnya lalu ingin mendaratkan kecupan di bibirnya namun secepat kilat El menghindar lalu tersenyum tipis.


Tumben? Tidak biasanya Quin seperti ini. Biasanya dia akan membalas kecupanku dan memanggilku sayang. Tapi kenapa dia bersikap dingin?


"Sayang ... kenapa ponselmu nggak bisa dihubungi sejak kemarin bahkan sampai sekarang? Aku begitu mengkhawatirkan dirimu," tandas Angga.


"Lowbet ... astaga! Bahkan aku lupa menchargernya," ucapnya seolah-olah baru ingat.


Bukan lowbet tapi sengaja.


"Sayang ... aku ada janji dengan papa di restoran xxx. Aku sengaja mampir untuk menjemputmu," jelas Angga.


"Hmm ... baik lah ..." jawab Quin singkat.


Angga kembali memeluknya lalu berbisik, "Sayang, rasanya aku sudah gak sabar menantikan hari bahagia kita."


Quin hanya bergeming. "Aku juga sudah nggak sabar ingin segera lepas dari hubungan LAKNAT ini," gumam Quin dalam hatinya.


"Really?" tanya Quin setelah Angga mengurai dekapannya.


"Ya. Ya sudah ... ayo, papa pasti sudah menunggu. Sepertinya papa ingin membahas tentang rencana pernikahan kita."


Quin hanya mengangguk lalu mengulas senyum.


...****************...