
"What the hell!!!" Bagaimana dia tahu aku sedang di apartemen," desis Quin lalu kembali ke ruang tamu.
Tiga puluh menit sebelumnya.
Setelah memesan makanan di restoran, Adrian kembali melanjutkan perjalanannya menuju butik untuk makan siang bersama Al.
Sesaat setelah tiba di butik, ia langsung menghampiri Al yang tampak masih sibuk.
"Al," sapanya dengan seulas senyum.
"Woahhh, ada angin apa si kulkas dua pintu ini kemari," ledek Al lalu tertawa.
"Ck, apaan sih. Disambangi malah disambut dengan ledekan. Gimana sih?!" decak Adrian dengan perasaan kesal.
Lagi-lagi Al hanya tertawa menatap asistennya Damar.
"Aku bawa makan siang," kata Adrian sambil meletakkan paper bag makanan di atas meja. "Sepi banget sih, Al?" keluh Adrian.
"Hmm, Gisha, Jihan lagi keluar cari makan. Sedangkan Quin entah ke mana. Aku sempat memergoki dia dan Damar berdebat. Setelah itu ia langsung pergi," jelas Al lalu duduk di samping Adrian.
"Pantasan saja," gumam Adrian.
"Maksudmu?" tanya Al.
"Pak boss uring uringan memintaku melacak nomor plat mobilnya. Soalnya jika sudah begitu, Quin Sama sekali nggak bisa di temukan," jawab Adrian.
Tak lama berselang ponselny berbunyi menandakan adanya pesan masuk ke aplikasi WA-nya. Senyumnya langsung mengembang saat Luke mengirim kebenaran kendaraan Quin.
"Sukurlah," desis Adrian lalu melirik Al.
"Apa," tanya Al kebengonggan.
"Ternyata Quin ada di apartemennya," jelas Adrian sambil mengirimkan pesan Luke ke nomor Damar.
Sedangkan Damar yang masih berada di kantornya tampak sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap rokoknya.
Tak lama berselang, satu notif pesan masuk ke aplikasi WA-nya. Tanpa pikir panjang ia langsung mematikan api rokoknya lalu segera beranjak dari tempat duduknya.
Finally i got you," desis Damar sambil tersenyum.
**********
Dorrr .... dorrr ... dorrr ....
Damar terus menggedor pintu unit Quin.
"Quin!!! Please, open the door," desaknya. "Quin please jangan seperti ini," kata Damar masih sambil mengetuk pintu."
Quin hanya bergeming ditempat dan enggan membuka pintu.
"Teruslah mengetuk sampai kamu bosan," kesal Quin lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Quin please!!!" desaknya namun gadis itu hanya diam karena masih kesal.
"Ngapain juga dia bela-belain ke sini segala? Terus, tahu dari mana dia jika aku ada di apartemen ini," gumam Quin. "Oh Lord, aku merasa diriku seperti menjadi tawanan si Mr. Brewok itu."
Beberapa menit berlalu, suara gedoran dan ketukan pintu sudah tidak terdengar. Quin menghela nafas merasa tenang.
Pikirnya Damar sudah meninggalkan tempat itu.
"Baguslah dia sudah pergi," desisnya lalu beranjak dari sofa dan menghampiri pintu.
Demi memastikan pria brewok itu sudah meninggalkan unit apartemenya, Quin memutar handle pintu lalu membukanya.
Sedangkan Damar yang sedang bersembunyi di sebelah tembok langsung tersenyum saat mendengar pintu dibuka.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dengan secepat kilat ia langsung menahan pintu itu.
Bener-bener ya. Ternyata dia licik juga. Hish .... nyebelin!!!
Quin membatin kesal lalu membiarkan Damar masuk ke ruangannya tanpa menawari.
Melihat ekspresi wajah kesal gadis itu Damar hanya terkekeh. "So ... kamu memilih ke sini daripada menghabiskan waktu bersamaku? Haaa ... sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang menurutku lebih bagus daripada harus berkurung di sini," tutur Damar sambil menatapnya yang sedang duduk di dekat jendela kaca besar.
"Whatever but i'm not interested," jawab Quin dengan ketus tanpa mengalihkan pandangannya ke arah luar kaca.
Merasa Quin seolah tak peduli padanya, Damar beranjak dari sofa lalu menghampirinya.
"Apa kamu nggak ingin menawari tamumu ini minum?" cetus Damar yang kini sudah berdiri berhadapan dengan Quin, menyandarkan tubuhnya di kaca besar jendela sambil menatapnya.
Quin tak menjawab bahkan tak bergeming.
"Quin ... please jangan seperti ini..Aku mohon," lirih Damar.
"Jangan memohon karena kamu bukan siapa siapa-siapaku," celetuknya lalu menatap wajah Damar. "Ok baiklah Mr. Brewok, kamu ingin minum apa? Aku hanya punya, kopi dan coklat," kata Quin lalu memutar tubuhnya kemudian menghampiri pantry.
"Oh ya, apa kamu makan sekalian?" tawar Quin yang kini sudah mulai melunak.
Damar menautkan alisnya. "Secepat itu dia bisa langsung berubah sikap? Apa Quin memiliki kepribadian ganda?" tebaknya dalam hatinya.
"Boleh deh," sahutnya lalu menghampirinya yang terlihat sedang memasukkan makanan ke dalam microwave.
"Tunggu sebentar ya," pinta Quin. "Coffee or chocolate," tanya Quin.
"Coffee," jawab Damar dengan seulas senyum.
Quin meraih kopi sachet lalu menyeduhnya dengan air panas yang ada di dispenser. Setelah menyeduh kopi Quin menyodorkan padanya lalu duduk di kursi sebelahnya.
Hening sejenak hingga bunyi khas microwave terdengar di pantry itu. Quin kembali berdiri lalu menghampirinya microwave kemudian mengeluarkan sisa masakannya pagi tadi. Ia hanya membuat sop daging.
Dengan telaten ia menyiapkan makanan di meja makan pantry yang langsung berhadapan dengannya.
"Makanlah selagi hangat. Maaf jika sikap tadi sudah keterlaluan," ucapnya dengan nada lembut lalu mengulas senyum.
Sikapmu inilah yang membuatku sangat tertarik padamu. Kata maaf selalu saja terucap meski kamu tidak salah.
"Ayo, makanlah. Aku akan menemanimu. Apa kamu ingin disuap seperti anak bayi?" kelakarnya.
Damar langsung tertawa mendengar candaannya.
"Ck ... aku bisa sendiri," decaknya lalu mulai menyantap makanan yang telah Quin sajikan.
"Aku baru tahu jika kamu pintar masak," kata Damar setelah mencicipi sop daging buatan quin.
"Nggak pintar-pintar amat. Itu karena aku lagi ingin masak," balasnya.
Dua puluh menit berlalu ...
Kini keduanya sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Quin, soal tadi pagi ..β¦" ucapanya menggantung.
"Sudahlah jangan membahasnya, itu akan membuatku kesal," tegasnya. "Damar please jangan memaksaku dan jangan sekali-kali mengancamku. Aku nggak suka dipaksa apalagi diancam," tegas Quin lagi
Damar hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.
Sepertinya dia susah di taklukkan.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ