
"Damar!!!"
Sontak saja suara yang tiba-tiba menyapa gendang telinganya itu, membuatnya menoleh ke arah sumber suara.
"Mama," lirihnya dengan hela nafas.
Nyonya Zahirah menghampirinya dengan perasaan geram. Namun Damar hanya terlihat santai.
Tak lama berselang terlihat sang papa menyusul dari belakang. Sontak saja kehadiran sang papa membuatnya gelagapan lalu mengarahkan pandangannya ke lantai dua.
Bukan tanpa alasan, siapa yang tidak mengenal sosok Pak Alatas, pengusaha sukses di bidang otomotif baik di kota J dan Asia.
Seketika Damar menjadi ketar ketir.
"Damn!!! Habislah aku." Damar mengumpat dalam batinnya.
"Damar, apa mama nggak salah dengar tadi?" cecar sang mama dengan nada tak bersahabat.
"Menurut Mama?"
Sedangkan pak Alatas tampak kebingungan dengan ketegangan yang terjadi di antara istri dan putra sulungnya itu.
"Ada apa sih?!" tanya pak Alatas pada keduanya.
"Tanya saja pada putra kesayanganmu ini," kata nyonya Zahirah sambil menatap Damar.
"Son, what happened?"
Sebelum menjawab damar kembali melirik ke lantai dua lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah papanya.
"Begini Pah, aku hanya ingin bi Yuni kembali bekerja di rumah utama, pun begitu dengan Naira. Papa tahu sendiri kan, selama ini sebelum aku mengalami kecelakaan aku tinggal sendiri," jelas Damar. "Aku hanya nggak ingin membuat Bi Yuni repot lagi," lanjut damar.
"Apa ini ada kaitannya dengan asisten pribadimu?" geram nyonya Zahirah.
"Asisten pribadi?" timpal pak Alatas.
"Ya, asisten pribadi dan mungkin saja wanita bayaran teman tidur ranjangnya, Pah," sahut nyonya Zahirah. "Apa Papa lupa jika putra kesayanganmu ini susah diatur, lekat dengan dunia malam, wanita, suka foya-foya dan semua keinginannya," ungkap nyonya Zahirah dengan begitu kesalnya. "Mama tahu kenapa kamu ingin bi Yuni kembali bekerja di rumah utama, itu karena kamu ingin bebas bersama asisten pribadimu itu kan?!!!" tuduh nyonya Zahirah.
"Mah, Mama apa-apaan sih?! Quin memang asisten pribadiku, tapi apa yang Mama tuduhkan jika dia wanita bayaran teman tidurku itu sama sekali nggak benar," protes Damar dengan rahang mengetat.
"Jika bukan teman tidurmu, lalu apa? Sudah beberapa kali mama memergoki kalian bersama di kamarmu," sahut nyonya Zahirah dengan sinis.
"Itu tidak seperti yang Mama pikirkan," kesal Damar.
Pak Alatas, bi Yuni dan Naira hanya menjadi pendengar perdebatan keduanya. Ada kepuasan yang Naira rasakan karena berhasil membuat sang nyonya marah dan semakin tidak menyukai Quin.
Percakapan antara nyonya Zahirah dan Damar cukup membuat Quin terkejut. Di tambah lagi setelah tahu Damar adalah putra sulung pak Alatas.
Quin yang sejak tadi ingin menuruni anak tangga, terpaksa menahan langkahnya saat melihat pak Alatas dan nyonya Zahirah menghampiri Damar. Ia tetap bergeming di tempat, namun ungkapan nyonya Zahirah cukup membuatnya shock.
Berarti Damar CEO Alatas Corp, yang mengalami kecelakaan itu? Pria player dengan sejuta pesona, sekaligus pembalap. Pantasan saja ...
"Lord ... i am stuck here," gumamnya lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan bersikap sesantai mungkin lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Selamat pagi, Nyonya, Tuan," sapa Quin dengan seulas senyum sambil membungkukkan badannya sebagai rasa hormat.
"Quin," lirih Damar.
"Pagi juga," balas pak Alatas dengan senyum ramah namun tidak bagi nyonya Zahirah. Ia malah terlihat acuh.
"Maaf ... saya pamit berangkat duluan," izin Quin.
"Quin kita belum sarapan," kata Damar.
Quin kembali berbalik lalu tersenyum. "Aku sarapan di luar saja," sahutnya. "Sebaiknya kamu sarapan saja dengan Papa dan mamamu," saran Quin lalu menatap nyonya Zahirah dan pak Alatas. "Sekali lagi saya minta maaf jika sikap saya ini kurang sopan, Tuan, Nyonya. Saya permisi."
Sepeninggal Quin, pak Alatas mengulas senyum lalu mendekati Damar lalu merangkul bahunya.
"Jika papa nggak salah, gadis itu tunangannya Angga sekaligus putri bungsu pak Pranata," bisik sang papa. "Apa papa nggak salah? Kenapa bisa dia menjadi asisten pribadimu? Padahal jika dipikir dia itu nggak kekurangan apapun," bisik papa sekaligus menyelidik.
Melihat putra dan suaminya saling berbisik, lagi-lagi nyonya Zahirah semakin bertambah kesal.
"Bi, apa sarapannya sudah siap?" tanya nyonya Zahirah.
"Iya, Nyonya. Ayo silakan," tawar bi Yuni dan segera menuju ke meja makan.
"Naira, bergabunglah dengan kami," pinta nyonya Zahirah. Dengan senang hati Naira menurut.
Sedangkan Damar dan papanya masih di tempat.
"Damar, honestly papa cukup terkesima dengan attitude gadis siapa namanya ..." pak Alatas menggantung kalimatnya karena lupa nama Quin.
"Quin," sambung Damar.
"Ya, Quin." puji pak Alatas. "Papa lihat dari sorot matamu mengartikan sesuatu yang beda," tebaknya.
Baru saja Damar ingin menjawab, suara mamanya kembali menyapa gendang telinganya bahkan terdengar kesal.
"Damar, Pah! Apa kalian masih ingin di situ? Ayo, kita sarapan dulu," tegur nyonya Zahirah.
Mau tidak mau keduanya terpaksa bergabung. Namun Damar merasa aneh karena sepagi itu orang tuanya mendatanginya.
Sesaat setelah berada di meja makan, Damar bertanya, "Pah, Mah ... nggak seperti biasanya kalian datang sepagi ini? Ada apa?"
"Ah ... papa hampir lupa," jawab pak Alatas lalu melirik istrinya. "Karena perdebatan kalian papa hampir lupa ingin memberitahumu jika papa dan mama akan berangkat ke UEA hari ini. Sekitar satu jam lagi," jelasnya.
Damar mangut-mangut. "Apa Sofia akan ikut kalian?"
"Nggak, hanya papa dan mama saja. Kemungkinan kami agak lama di sana. So ... perusaan induk harus kamu tangani untuk sementara."
"Tapi Pah, kan ada Nadif, nanti aku akan memintanya meng-handle semua urusan perusahaan selama Papa di UEA," protes Damar.
"Kamu lebih kompeten. Lagian kamu penerus papa. So ... nggak ada alasan untuk mengatakan tidak Damar," tegas pak Alatas.
Damar hanya bisa menghela nafas. Selera makannya auto hilang. "Ya sudah ... aku sudah selesai, kalian lanjut saja sarapannya," kata Damar. "Oh ya, aku hampir lupa. Bi, Naira, kalian bisa kembali ke rumah mama setelah selesai sarapan nanti. Maaf, jika selama beberapa bulan ini aku sudah merepotkan kalian. Apapun itu terima kasih," ucap Damar lalu beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan.
.
.
.
Sementara Quin, ia tidak langsung ke butik melainkan ke danau buatan untuk menenangkan pikirannya.
Ia terlihat sedang berdiri dan menatap air danau di tempat itu. Hawa angin semilir pagi yang menerpanya terasa sejuk dan sedikit membuatnya tersenyum.
"Lord ... ternyata dia seorang Tuan Muda penerus Alatas Corp," gumam Quin. "Aku harus bagaimana? Aku merasa waktu berjalan sedikit melambat setelah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Damar," gumamnya lagi. "Kurang dari 70 hari lagi. Oh Lord ... aku ingin hari itu secepatnya berlalu."
Quin memejamkan matanya sejenak menghirup udara segar sebanyak mungkin lalu menghembusnya perlahan.
"Come on Quin, you can do it," desisnya.
.
.
πΏπΌπΌ------------πΌπΌπΏ
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ